Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cantik.
Pie terpukau dengan semua baju pengantin yang dikenakan Rum di acara resepsi pernikahannya. Gaun terakhir mengusung tema modern berwarna putih dengan model off shoulder berikut ekor yang tak terlalu panjang. Rum tampak sangat cantik ditunjang dengan wajah khas timur tengah.
"Apa kau lelah?" Jemmy berbisik pada Rum ketika menghampiri sahabatnya ke atas pelaminan.
"Sangat, tapi aku bahagia." senyuman yang tak pernah luntur dari bibir Rum.
"Apa Pie sudah pulang?" Rum mengedarkan pandangan mencari keberadaan rekan kerjanya yang pendiam.
"Dia sedang ke toilet. Kau ingin makan sesuatu? Biar aku ambilkan."
"Tidak perlu, kau duduk saja makan semua hidangan yang kusiapkan, Jem."
"Baiklah, kalau begitu aku akan turun."
Rum mengangguk. Semakin lama makeup Jemmy semakin menyatu dengan kulitnya, sangat cocok untuk sahabatnya itu. Jemmy pun tampak tak risih atau dia menahannya untuk Rum.
"Kau sudah pulang?"
"Sebentar lagi."
"Ingin bertemu tidak?"
"Dimana?"
"Kau ingin di mana?"
Pie berpikir sejenak tempat yang cocok untuk bertemu dengan Ato.
"Sepertinya aku langsung pulang."
"Kau tidak merindukanku?"
"Aku lelah."
"Sebentar saja, ayo. Atau aku yang menghampirimu ke pesta? Kirimkan alamatnya."
"Tidak, baiklah ayo bertemu sebentar."
"Ya."
"Jem, sepertinya aku harus pulang sekarang."
Jemmy yang sedang menatap Rum melakukan pemotretan dengan suaminya menoleh ke arah Pie.
"Huh? Ah, ya, ya. Oke. Ini sudah hampir sore ya." Jemmy melirik arlojinya.
"Aku akan berpamitan pada Rum."
"Aku akan menemanimu." Jemmy mengekor di belakang Pie yang menaiki pelaminan.
"Hai, Rum. Aku akan pulang, terima kasih banyak atas jamuannya hari ini. Selamat untukmu, sekali lagi semoga menjadi keluarga yang bahagia dan langgeng sampai maut memisahkan." Rum memeluk Pie dengan bahagia.
"Apa kau sudah puas memakan hidangan di pestaku? Aku tidak ingin teman-temanku kelaparan."
"Sudah. Aku sangat kenyang, terima kasih banyak."
Rum tersenyum senang.
"Kalau begitu, aku pulang ya."
"Terima kasih sudah datang, Pie."
"Ya."
"Eh! Tunggu, Pie!"
Pie menoleh menatap Rum.
"Ayo kita berfoto dulu sebelum kau pulang."
Pie tak menolak, ia mengambil posisi di sisi Rum, sedangkan Jemmy di sisi suami Rum.
"Kau sangat cantik dan wangi, Rum."
"Haha, terima kasih atas pujiannya."
"Bertemu di cafe O'nee."
"Ok, Otw, sayang."
Pie mengendarai motornya menuju cafe tempat dirinya dan Ato bertemu, tak jauh dari tempat resepsi pernikahan Rum, hanya memakan waktu sekitar 15menit Pie sudah sampai di parkiran cafe yang cukup ramai sore itu.
"Kak, pesan macchiato satu ya."
"Ada lagi kak? Cakenya ada yang best seller, kakak."
"Tidak, itu saja."
"Baik, Kakak."
Pie menyerahkan selembar uang berwarna biru pada kasir. Lalu menerima struk beserta kembalian.
"Mohon ditunggu sebentar ya, Kak."
Tak menunggu lama, pesanannya sudah selesai. Pie membawa satu cup kopi ke meja yang kosong.
Pie menyesap kopi miliknya sembari menatap area parkiran.
Ato memarkirkan sepeda motornya di parkiran, ia tak menyadari bahwa motornya bersisian dengan motor milik Pie. Pacarnya sedang memperhatikan gerak-geriknya dari dalam cafe.
Pakaian Pie sangat mencolok dari semua pengunjung cafe, ia masih mengenakan setelan kebaya berwarna grey. Kacamatanya bertengger indah di hidungnya, melengkapi makeup flawlessnya hari ini.
Ato segera menghampiri Pie dengan membawa nampan yang berisi kopi pesanannya dan camilan manis.
"Sayang, kau sudah lama?" Ato melirik sekilas kopi milik Pie yang sudah tersisa setengah cup. Itu menandakan Pie sudah lumayan lama menunggunya.
"Cukup lama, 15 menit aku menunggumu."
"Maaf, tadi aku membeli titipan ibuku terlebih dahulu sebelum kemari."
Pie mengangguk paham.
"Kau tidak pesan camilan?"
"Tidak, aku kenyang."
"Pesan sana." Ato memberikan dompetnya kepada Pie.
"Tidak perlu, lagi pula hanya sebentar."
"Kenapa buru-buru? Kita baru bertemu, aku baru saja duduk di sini."
"Kau bilang hanya sebentar?"
Ato terkadang gemas dengan sifat polos Pie.
"Santai dulu, nanti aku akan mengantarmu pulang."
Pie mengerjap tak percaya mendengar ucapan Ato.
"Kau ingin bertemu orang tuaku?"
"Tidak, maaf. Aku belum siap."
Raut wajah Pie kembali muram. Hal itu tertangkap oleh Ato.
"Maaf, sayang. Aku sedang mempersiapkan diri."
"Kau tidak serius pada hubungan kita, kan?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku serius!"
"Sikapmu mengatakan sebaliknya."
"Sayang, sabar. Oke?"
Pie hanya diam, ia memilih kembali menyesap kopi miliknya.
"Kau cantik, Pie."
Pie hanya melirik Ato yang tampak tersenyum padanya. Ia tak tahu harus menanggapinya bagaimana.
"Ada yang mengajakmu berkenalan di pesta?"
Pie menggeleng pelan.
"Tidak ada."
"Kenapa kau jutek?" Ato memegang tangan Pie yang ada di atas meja.
"Jutek? Aku begitu?"
"Ya. Kau tidak hangat seperti biasanya. Ada apa?"
"Mungkin karena lelah?"
"Kau ikut membantu di sana?"
"Tidak. Aku hanya duduk dan makan."
"Lalu, kenapa kau merasa lelah?"
Pie mengernyitkan kening menatap Ato.
"Duduk hampir seharian apa terasa mustahil merasa lelah?"
"Benar juga." Ato tersenyum mengusap pelan punggung tangan kiri Pie.
"Kenapa tidak diminum?"
"Ah, iya. Kau cantik membuatku lupa minumanku." Ato terkekeh pelan.
"Hari ini kau ke mana?"
"Sibuk, sayang."
"Iya, kau sibuk apa?"
"Ya, sibuk di rumah."
Pie mengangguk pelan.
"Kenapa kau seperti tak senang bertemu denganku?"
"Apa aku terlihat begitu?"
"Ya. Ada yang salah?"
"Aku hanya lelah."
"Bisakah kau menahannya dulu?"
"Aku sudah berusaha."
Ato diam wajahnya sedikit mencibir.
"Lihat, sudah kukatakan kita bertemu nanti saja. Aku tak bisa menahannya, semua jadi terlihat jelas di wajahku."
"Aku yang salah?"
"Lalu?"
"Kalau tidak mau bertemu, cukup katakan saja. Jangan terpaksa."
Pie cukup terperangah mendengarnya. Ia segera menghabiskan kopi miliknya.
"Sudah sore, aku ingin pulang."
"Kau tidak menghargaiku."
"Kau ingin apa? Kita sudah bertemu sesuai dengan permintaanmu. Lalu apa lagi?"
"Ah, sudahlah. Kau pulang saja sana, kita tidak perlu bertemu lagi!" Ato membanting garpu kecilnya, Pie jelas tak suka melihat perilaku Ato yang seperti itu.
"Aku pulang." Pie beranjak pergi membawa cup kosong miliknya lalu membuangnya ke tempat sampah yang ada di sisi pintu luar.
Ato berharap Pie kembali duduk, namun sepertinya kekasihnya itu benar-benar marah padanya.
"Sayang, jangan marah. Aku hanya rindu."
"Angkat teleponku, sayang."
Dua pesan dan satu panggilan tak terjawab tertera di layar. Usai mandi dan mengobrol sebentar dengan Mama, Pie tertidur di kamarnya.
Getaran ponsel di atas nakas membuat Pie terbangun dari tidurnya. Tangannya terjulur untuk meraih ponsel yang bergetar panjang.
"Halo?"
"Sayang, kenapa tidak balas dan menjawab teleponku? Kau benar-benar marah?"
Pie menatap layar ponselnya lalu menempelkannya kembali. Sudah pukul 10 malam ternyata.
"Aku tertidur sehabis mandi."
"Astaga, kau ingin begadang?"
"Tidak. Kau membangunkanku."
"Oh ya? Kalu begitu tidurlah lagi."
Ato menutup telepon tanpa mendengar respon Pie, membuat gadis itu berdecak sebal.