Calvin Arson hanyalah pemuda miskin yang hidup dari berjualan di pinggir jalan. Suatu hari, ia menemukan sebongkah batu giok aneh yang mengubah seluruh takdirnya. Dari situlah ia memperoleh kemampuan untuk melihat menembus segala hal, serta "bonus" tak terduga: seorang iblis wanita legendaris yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia tidak lagi memiliki rahasia di mata Calvin Arson.
Menilai batu giok? Cukup satu lirikan.
Membaca lawan dan kecantikan wanita? Tidak ada yang bisa disembunyikan.
Dari penjaja kaki lima, ia naik kelas menjadi pengawal para wanita bangsawan dan sosialita. Namun, di tengah kemewahan dan godaan, Calvin Arson tetap bersikap santai dan blak-blakan:
"Aku dibayar untuk melindungi, bukan untuk menjadi pelayan pribadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blue79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Raditya langsung tampak agak kesulitan. “Ini hanyalah penggaris penentu nasib yang kami, murid-murid Aliran Maron, gunakan untuk meramal dan membaca wajah. Kalau kau bukan peramal, apa gunanya mengambil benda ini?”
Calvin berkata, “Menurut maksudmu, ini hanya penggaris penentu nasib biasa. Kalian orang Maron masing-masing punya satu, bahkan dijual bebas. Kalau begitu, tidak perlu terlalu pelit, kan?”
Raditya tampak antara ingin tertawa dan menangis. Demi keselamatan nyawanya sendiri, pada akhirnya ia tetap mengeluarkan penggaris itu.
Calvin mengambilnya dan membolak-balik benda itu untuk diperiksa. Sekilas, itu memang hanya penggaris kayu, sedikit lebih tebal daripada penggaris biasa, berwarna hitam legam dengan ukiran beberapa tulisan aneh di atasnya. Namun, ia jelas bisa merasakan adanya gelombang energi spiritual yang cukup kuat. Hanya saja, ketika ia mencoba menyerapnya dengan Teknik Penyerap Roh, ternyata tidak ada reaksi sama sekali.
Aneh sekali. Teknik Penyerap Roh tidak bisa menyedotnya, lalu bagaimana benda ini bisa memancarkan energi spiritual?
Coba lihat dengan Mata Phoenix Abadi!
Energi spiritual mengalir, penglihatan tembus pandang pun diaktifkan. Dari jarak dekat, ia mendapati bahwa di dalam penggaris yang tampak biasa itu terdapat lapisan demi lapisan simbol jimat emas yang sangat rumit, tersusun seperti sebuah gambar. Benda semacam ini seolah pernah ia lihat sebelumnya. Setelah berpikir sejenak, ia tersadar.
Oh, iya! Di dalam informasi yang ditinggalkan Kakak Kemelut, ada sebuah buku diagram formasi yang memuat hal serupa. Ini seharusnya adalah sejenis formasi!
Hanya dengan metode khusus benda ini bisa diaktifkan, sehingga energi spiritual di dalamnya terpancar keluar. Metode itu jelas tidak akan diberitahukan oleh Raditya. Entah Kak Kemelut tahu atau tidak. Namun, karena saat ini Kemelut sedang tertidur dan tidak bisa dibangunkan, Calvin pun menyimpan penggaris itu ke dalam tasnya tanpa niat sedikit pun untuk mengembalikannya.
Taman Makam Langit dan Bumi
Anita dan Susan tiba di makam nomor 1309. Di samping mereka ada seorang polisi wanita, yakni polisi berdada montok, Valen Ardiansyah.
Kebetulan sekali, saat Anita dan putrinya pergi ke kantor polisi untuk menanyakan masalah ini, mereka bertemu dengan Valen. Setelah mengetahui bahwa mereka adalah kerabat Calvin, Valen membawa mereka ke makam Yuki dan menjelaskan kejadian secara singkat. Soal apakah Joni memaksa Yuki hingga bunuh diri, ia hanya menyebutkannya secara samar karena khawatir mereka akan mencari masalah dengan Keluarga Joko.
Ketika Anita melihat foto Yuki di batu nisan, ia sulit menerima kenyataan. Kesedihan mendalam langsung menyeruak hingga ia menangis dan pingsan. Susan pun meneteskan air mata. Ia sama sekali tidak menyangka sepupu-sepupunya akan mengalami perubahan nasib semacam ini.
“Nona Polisi, jadi adikku melarikan diri dari penjara? Bukankah itu berarti dia menjadi buronan?”
“Secara prinsip, memang begitu. Namun, kasus ini masih dalam penyelidikan, jadi surat buronan belum dikeluarkan. Tenang saja, aku akan menyelidiki kejadian ini dengan jelas,” kata Valen Ardiansyah. Dalam hati ia membatin, Jika aku mengungkap bahwa aku membantu Calvin kabur, entah bagaimana reaksi mereka nanti.
Saat memikirkan Calvin, ia kembali merasakan nyeri samar di dadanya. Bajingan kecil itu, lain kali jangan sampai jatuh ke tanganku.
“Kau mau ke mana?”
Di dalam kereta api, Raditya melihat Calvin melompat turun dari tempat tidur atas dan segera duduk sambil bertanya. Calvin melambaikan tangan. “Jangan tegang begitu. Kita ini cocok sejak pertama bertemu, mana mungkin aku meninggalkanmu di tengah jalan? Lagipula kau kan peramal Aliran Maron, tinggal meramal dengan jari saja pasti tahu aku mau ke mana, kan?”
Raditya benar-benar profesional. Ia mulai meramal dengan jari-jarinya, namun ekspresinya justru menjadi aneh. “Aku tidak bisa meramal ke mana kau pergi, tapi aku bisa melihat tanda jodoh di wajahmu. Hari ini sepertinya kau akan bertemu keberuntungan asmara.”
“Heh, terima kasih doanya.” Calvin tertawa kecil. Wajah Valen Ardiansyah tiba-tiba terlintas di benaknya, termasuk sepasang "gunung lembut" yang pernah ia remas dengan keras. Ia menggeleng pelan dan berjalan menuju toilet.
Namun, baru saja ia masuk dan hendak menutup pintu, tepat sebelum kunci terpasang, seorang wanita bertopi baseball mendorong pintu dengan keras dan masuk. Begitu masuk, ia langsung mengunci pintu.
Klik.
Calvin hanya sempat melihat punggungnya. Rambut panjang terurai di bawah topi kanvas, mengenakan kemeja putih yang menonjolkan pinggang, serta celana pendek ketat yang memperlihatkan betis putih halus yang jenjang.
Ini… jangan-jangan inilah yang disebut keberuntungan asmara? Calvin bergumam dalam hati, lalu berkata, “Ehm, Nona, kau sedang sangat ingin ke toilet? Jika begitu, silakan duluan, aku bisa keluar.”
Namun, wanita itu mengangkat satu jari ke bibirnya. “Sst, jangan bicara.” Ia lalu menempelkan telinganya ke pintu.
“Oh, jadi dia bukan mau ke toilet, tapi sedang menghindari seseorang.” Calvin akhirnya mengerti. Ia memandang wajah samping wanita itu; kulitnya halus seperti giok, hidungnya mancung, dan bibirnya merah alami. Entah kenapa terasa agak familier.
“Apa yang kau lakukan?” Wanita itu langsung menoleh. Saat mata mereka bertemu, Calvin tertegun sejenak lalu tersenyum. “Kakak cantik, ternyata kau!”
Wanita itu adalah gadis cantik yang pernah berurusan dengannya di pasar malam (pemilik liontin). Calvin sangat berterima kasih padanya karena liontin itulah yang mempertemukannya dengan Kak Kemelut.
“Kau kenal aku?” tanya wanita itu, Vivian, dengan mata berkedip.
Calvin tersenyum. “Kakak cantik, kau lupa? Waktu di pasar malam, kau pernah mencoba memeras aku dua ratus ribu.”
Vivian mengingat kata itu dalam hati. Dua detik kemudian, ia teringat. “Oh, jadi kau bocah tengik itu!”
Calvin merasa agak canggung. Tiba-tiba, terdengar suara gedoran keras di pintu toilet. “Buka pintunya! Buka!”
Vivian berbisik cemas di telinga Calvin, “Di luar itu kelompok pencopet. Tadi aku melihat mereka mencuri dompet orang. Aku berteriak mengingatkan, malah mereka mengincarku.”
Calvin mengaktifkan Mata Phoenix Abadi dan menembus pintu toilet. Ia melihat lima pria kekar berwajah sangar berdiri di luar bersama dua petugas kereta.
Calvin berkata, “Bersembunyi bukan solusi. Lebih baik kita keluar. Kak, kau sudah memberiku batu keberuntungan, aku pasti akan membantumu.”
Vivian berpikir sejenak lalu mengangguk. “Mereka ramai. Hati-hati.” Sambil berkata begitu, ia melepas sepasang sandal hak tinggi birunya. Satu digenggamnya sebagai senjata, satu lagi diserahkan kepada Calvin. Ia berdiri tanpa alas kaki di lantai toilet dengan raut wajah jijik.
Calvin tersenyum pahit. Dalam hati ia berpikir: Wanita dewasa yang cantik ini benar-benar terlalu menggemaskan.