Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Mau Kamu, Boleh?
Zara berdecak kesal.
“Kenapa?” tanya Reynan.
Zara pun memperlihatkan pesan itu ke Reynan.
“Siapa dia?” tanya Reynan.
“Danish,” jawab Zara. Meski nomor itu baru, tapi Zara bisa mengenali siapa pengirimnya dari pesan yang diketiknya.
“Datang aja,” ujar Reynan.
“Yang benar saja. Mungkin akan jadi perang ketiga,” ucap Zara. Besar kecilnya, di kafe itu kemungkinan akan ada yang mengenali mereka. Lalu membuat laporan pada Lea.
Oh … tidak. Zara tidak mau berurusan lagi dengan dua orang pengkhianat itu.
“Datang sama aku,” kata Reynan lagi.
“Jakarta ke Tangerang cukup jauh, belum dengan macetnya.”
“Setelah meeting, kita ke Tangerang.”
“Bukannya besok?” tanya Zara.
“Setelah dipikir-pikir, kasian kalo Hendri bolak balik Jakarta Tangerang setiap harinya. Jadi hari ini kamu pindah ke rumah Ayah ya. Bukan aku mengusir kamu, tapi—”
“Ya gak apa-apa, aku seneng.” Zara memotong ucapan Reynan.
Benar, Zara tidak merasa di usir sama sekali. Malahan ia senang bisa kembali bersama dengan orang tuanya.
Kini mereka tiba di salah satu kafe di Jakarta. “Ayo masuk, sepertinya beliau sudah tiba,” kata Reynan.
“Hallo Pak Juna, maaf saya terlambat,” kata Reynan setelah menemukan di mana kline-nya duduk.
“Hai juga Pak Rey. Tidak apa-apa, saya juga baru sampai,” balasnya. “Wah, siapa ini Pak? Asiaten baru?” tanyanya.
Reynan mengulum senyum. “Perkenalkan, ini istri saya Pak.”
“Oh … Istri. Kirain saya asisten baru anda, Pak,” ucapnya disertai senyuman. Matanya tidak lepas dari Zara.
Reynan pun tersenyum, begitu juga dengan Zara seraya menganggukan kepalanya. Meski Zara merasa kurang nyaman.
“Kok undangannya tidak sampai ke saya Pak?” tanyanya.
Reynan kembali tersenyum. “Memang keluarga saja, Pak. Untuk resepsi, nanti saya akan undang. Insya Allah.”
“Oh … belum resepsi?” tanya Juna.
“Belum. Kebetulan jadwal saya dan keluarga masih padat. Jadi kami masih mencari waktu yang longgar,” ucap Reynan.
“Oh … begitu. Jangan lupa undang saya, ya.”
“Siap, Pak. Ditunggu saja.”
Juna menganggukan kepalanya. “Kita mulai meeting-nya,” lanjut Pak Juna.
“Sebentar, Pak. Kita tunggu Rama dulu. Maaf sebelumnya, soalnya berkas ada di kantor. Karena ‘kan janji temu kita di hari senin,” kata Reynan.
Juna pun menganggukan kepalanya. “Iya. Saya juga minta maaf, karena saya memajukan janji temu ini.”
“Oh ya … tidak apa-apa, Pak.”
“Selamat pagi, maaf saya terlambat.” Rama datang dengan napas memburu, pakaiannya berantakan dan ada luka di dahi serta pipinya.
“Ram, kenapa kamu?” tanya Reynan dengan khawatir.
“Oh … gak apa-apa, Pak. Tadi ada kendala sedikit.”
“Ya ampun … kamu kecelakaan?” tanya Reynan lagi.
Rama tersenyum simpul.
“Duduk. Ram,” titahnya. Setelah itu, Reynan beranjak dari duduknua.
“Mau ke mana?” tanya Zara. Karen
“Mau ambil kotak P3K dulu di mobil,” jawab Reynan. “Kamu tunggu dulu di sini,” lanjutnya.
“Aku aja yang ambil, Mas.”
“K-kamu?” Reynan gugup, kala Zara memanggil dirinya dengan sebutan ‘Mas’.
“Iya … Aku aja,” kata Zara.
“Oh … y-ya sudah.” Reynan pun memberikan kunci mobilnya pada Zara.
“Kenapa bisa seperti ini?” tanya Reynan lagi pada Rama. Setelah Zara pergi.
“Em- Nanti saya jelaskan, Pak.”
Reynan pun menganggukan kepalanya.
“Maaf ya, Pak. Meetingnya kembali tertunda,” kata Reynan.
“Iya, gak apa-apa Pak Rey. Memang sebaiknya di obati dulu lukanya, supaya tidak infeksi,” jawab Juna.
Tidak berselang lama, Zara pun kembali dengan kotak P3K di tangannya.
“Ini.” Zara menyerahkan korak itu pada Reynan.
Reynan mengambilnya, lalu mulai mengobati luka Rama.
“Saya saja, Pak.”
“Diam. Kamu gak bakalan bisa,” ujarnya.
Rama hanya bisa pasrah. Sedangkan Zara merasa kagum.
Ternyata seorang Reynan, punya rasa pedulinya itu begitu tinggi.
Beberapa menit kemudian, meeting pun di mulai.
Karena merasa tidak ada kepentingan di situ, Zara pun izin untuk duduk di meja yang berbeda.
“Jangan yang jauh. Di situ aja,” kata Reynan seraya menunjuk pada meja yang tidak jauh darinya.
“Pesan makanan biar gak bosan,” ucapnya lagi.
Zara pun menganggukan kepalanya. Ia merasa begitu dihargai oleh Reynan.
Belum lama mengenal Reynan, tapi Zara sudah bisa merasakan bagaimana sosok pria itu.
Sungguh, jika di bandingkan dengan Danish. Jauh sekali.
Danish tidak ada apa-apanya, di banding dengan Reynan.
Ponselnya bergetar, nomor baru kembali muncul di sana. Kali ini, menelponnya.
“Ck. Mau apa lagi dia,” batin Zara.
Zara membiarkannya, tanpa ada niatan untuk menjawab.
Karena tidak di jawab, nomor baru itu kembali mengirim pesan.
(Za, aku rasa salah memilih menikah dengan Lea. Belum satu minggu, tapi aku udah capek dengan sikap dan sifat dia.)
Zara berdecak kala membaca pesan itu dari pop up.
(Masa dia minta dibeliin Mini Cooper. Kamu ‘kan tau, gaji aku berapa. Sungguh, Lea itu gak ngerti keadaan aku. Aku harus gimana, Za?)
Zara memutar malas bola matanya.
(Za … masih marah sama aku?)
(Za, aku mau ketemu.)
(Za, kasih aku solusi.)
(Di saat aku lagi dalam keadaan seperti ini, kamu selalu ada, Za. Kamu selalu memberikan aku solusi, ucapan kamu, solusi dari kamu, mampu membuat aku tenang, Za.)
(Qistina Zara … ayo kita ketemu.)
Deretan pesan yang dikirim Danish, membuat Zara merasa muak. Ia abaikan pesan dari seorang Danish itu.
***
Prang!
“Pokoknya aku mau Mas Rey!” Keysa menyapu semua barang miliknya di meja rias.
Terdengar suara pecahan, Sofi yang sedang di dapur pun, bergegas pergi ke kamar sang anak.
“Key … Key … tenangkan dirimu,” ucap sang Ibu, Sofi. Seraya memeluk tubuh sang anak.
“Ibu … Aku mau Mas Rey. Aku mau nikah sama Mas Rey. Hiks … hiks …”
“Key … Rey udah nikah.”
“Iya, tau. Tapi aku mau Mas Rey, Bu … hiks … hiks …”
“Masih banyak lelaki di luaran sana yang masih sendiri, Key.”
“Tapi … Bu. Aku cintanya sama Mas Rey.”
“Tenang … sabar ya. Daripada kita mencintai, lebih baik dicintai. Percaya sama Ibu,” kata Sofi.
“Hiks … apa kurangnya aku, Bu? Apa aku kurang cantik? Apa tubuhku kurang menarik? Sampai Mas Rey tidak mau melihat kearahku.”
Sofi mengelus rambut Keysa. “Tidak ada kurangnya dari kamu, Key. Kamu cantik, kamu baik, kamu pintar. Siapapun lelaki yang memilihmu, Ibu jamin, itu lelaki yang beruntung.”
“Tapi, kenapa Mas Rey tidak mau?”
Sofi diam sebentar.
“Em- karena perasaan itu tidak bisa di paksakan.”
“Jadi … Ibu berpihak pada Mas Rey?”
“Bukan begitu … coba kamu pikir, misalkan Ayah menjodohkanmu dengan seorang lelaki yang tidak kamu kenal. Kamu tidak punya perasaan apapun padanya, apa kamu akan menerima perjodogan itu?” tanya Sofi.
Keysa yang semula menangis, kini hanya isaknya saja. Mulutnya bungkam. Seolah ia tengah memikirkan apa yang di kata sang Ibu barusan.
“Nah … coba kamu renungkan dulu ya. Ibu mau kembali ke dapur,” kata Sofi. Sebelum pergi, Sofi menyempatkan mengelus kepala sang anak.
***
Meeting selesai, Reynan pun mengantarkan Rama pulang lebih dulu. Mengingat motor yang dikendarai Rama hancur.
“Berarti gara-gara oli tumpah?” tanya Reynan.
“Sepertinya begitu, Pak. Masih di selidiki oleh Polisi,” jawab Rama.
“Beruntung kamu selamat, Ram.”
“Iya, Pak. Alhamdulillah …”
“Terima kasih, Pak. Maaf sudah merepotkan,” kata Rama, setelah mobil Reynan terparkir di depan rumahnya.
“Sama-sama. Ya sudah, saya pergi ya.”
“Gak mampir dulu, Pak, Bu?”
“Lain kali saja, Ram. Saya mau ke Tangerang,” jawab Reynan.
“Oh … hati-hati Pak, Bu.”
Setelah mengiyakan, Reynan pun kembali melajukan mobilnya.
“Yang tadi itu, orang yang antar mobil kamu ke Tangerang bukan?” tanya Zara.
“Iya. Rama namanya, dia asisten aku.”
“Loh, pulang? bukannya mau ke Tangerang?” tanya Zara, kala mobil Reynan berbelok ke arah jalan pulang.
“Kita pulang dulu. Aku mau ganti pakaian sama ambil baju ganti.”
***
Di kamar, Reynan pun langsung membuka baju kemeja.
“Ish … di kamar mandi napa,” ucap Zara dengan sedikit kesal.
“Loh, kenapa? Cuma mau ganti doang,” jawab Reynan.
Zara berdecak.
Reynan tersenyum simpul. Ide jahilnya pun keluar.
Lekas Reynan berjalan menuju Zara yang sedang duduk di sofa. Setelah itu, ia pun menjatuhkan bokongnya di sana.
Zara melonjak kaget.
“Ish … apaan sih.”
Reynan nyengir kuda.
“Za …” panggilnya.
“Hem …”
“Liat sini,” kata Reynan, seraya memegang kepala Zara dan mengarahkan ke arahnya.
“Mau ngapain?” tanya Zara dengan penuh waspada.
“Mau ini. Boleh?” tanyanya seraya mengusap pelan bibir Zara dengan ibu jarinya.
“Em- m– mmpphhhttt …” Tanpa menunggu Zara menjawab, Reynan langsung membungkam mulut Zara dengan mulutnya.
Kentara sekali jika Zara terkejut, tubuhnya menegang.
“Rileks,” ucap Reynan disela kecupannya.
Setelah itu, Reynan kembali menempelkan bibirnya. Ia menyesap, ia melumat, lalu mengabsen deretan gigi Zara.
Zara diam, tidak ada perlawanan apapun.
Reynan mengambi tangan Zara. Lalu ia arahkan ke dada bidangnya.
Tangan Zara melonjak, ia terkejut. Dimana ia meraba, ada sedikit rambut halus di sana.
Reynan masih dengan ciumannya, kali ini tangan Zara ia arahkan ke perut sixpack-nya.
“Kamu merasakannya?” tanya Reynan. Kali ini tangan Zara berada di dada sebelah kiri Reynan.
Detak jantung Reynan cukup keras dan cepat.
Zara pun menganggukan kepalanya. “Aku mau kamu. Boleh?” Reynan bicara setengah berbisik di telinga Zara.