NovelToon NovelToon
Aku Menyerah!

Aku Menyerah!

Status: tamat
Genre:Pelakor jahat / CEO / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Brilliante Brillia

Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.

Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.

Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenikmatan Semu

Tak lama setelah Rayyan pergi, suara derap langkah terburu-buru terdengar dari lorong rumah sakit. Pintu kamar kembali terbuka, menampakkan sosok Elly dan Herman, ibu dan ayah mertua Ayra. Keduanya terlihat sangat lelah, maklumlah, dari luar kota langsung menuju rumah sakit tanpa istirahat terlebih dahulu.

“Ayra, apa yang terjadi sampai seperti ini?” tanya Elly yang segera menghambur ke sisi ranjang. Tatapannya menyapu wajah dan perut Ayra yang sudah rata. Lalu kembali ke wajah pucat menantunya.

“Sabar ya, Nak. Kami langsung berangkat ke Jakarta begitu Rayyan menelepon semalam,” ucap Herman yang berdiri di ujung ranjang dengan raut wajah berduka, sementara Elly masih berdiri di sisi Ayra. Tatapannya sulit diartikan. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

“Aku sudah kehilangan cucuku. Kenapa kamu tak bisa menjaganya? Padahal kamu tidak bekerja,” ucap Elly pelan tapi tajam di telinga Ayra. Lebih mirip seperti gerutuan.

“Bu, jangan menyalahkan Ayra. Ini bukan keinginan Ayra juga, dong. Lihat menantu kita, dia sudah sangat tertekan. Kehilangan ini memang berat, tapi Tuhan pasti punya rencana lain.” Herman menatap istrinya. Menasihatinya dengan suara yang lembut dan bijak.

Ayra pun hanya diam, mencoba memaksakan senyum kecil meski dadanya sesak. Ibu mertuanya tak pernah tahu, bagaimana ia menjalani kehamilannya selama lima bulan ini.

"Lalu Rayyan ke mana? Pasti kamu menyalahkan dia, kan? Makanya dia lebih baik pergi daripada bertengkar." Kata-kata Elly tetap menyudutkan. Nadanya sinis dan menyalahkan. Namun mendengar ucapan ibu mertuanya itu, Ayra hanya bisa menghela napas berat, lalu mengembuskannya perlahan.

"Bu, kenapa bicara seperti itu? Sudah seharusnya Rayyan ada di sini menjaga istrinya. Tapi sekarang dia mana? Malah membiarkan Ayra menanggung semuanya sendirian. Dasar anak tak tahu adat!"

Elly mendengus kesal mendengar ucapan suaminya. Lalu melangkah menuju sofa dan duduk di sana sambil menumpang kaki.

Ayah mertuanya memang orang yang tulus. Dia adalah orang baik yang selama ini selalu memperlakukannya seperti keluarga kandung. Berbeda dengan ibu dan adik-adiknya Rayyan. Di mata mereka Ayra layaknya hanya benalu yang numpang hidup pada putra dan kakak mereka. Namun, ada rasa sakit baru yang menyelinap, mereka sama sekali tidak tahu bahwa putra dan kakak kebanggaan mereka adalah penyebab dari semua kehancuran ini.

“Jangan terlalu larut dalam sedih ya, Nak. Kamu masih muda, masih punya peluang besar untuk bisa punya anak lagi,” hibur sang ayah mertua sambil membetulkan selimut Ayra di kakinya yang sedikit terbuka.

“Bu, lebih baik kita doakan anak-anak kita semoga lekas dipercaya lagi untuk mendapatkan momongan. Yang ini mungkin belum rezekinya. Tapi Bapak yakin, suatu saat nanti Ayra pasti akan mengandung lagi. Ayra dan Rayyan akan memberikan kita cucu yang lebih dari satu dan lucu-lucu,” kekeh Herman sambil melangkah ke arah sofa dan duduk di dekat istrinya.

“Iya tapi kapan? Itu kan pasti masih lama. Setahun, dua tahun? Kelamaan! Padahal Ibu sudah pengumuman sama teman-teman arisan, kalau beberapa bulan lagi Ibu akan punya cucu dari Rayyan. Tapi taunya, kayak gini.” Mulut Elly bersungut-sungut dengan wajah kesal.

"Percaya sama ketentuan Tuhan. Semua itu adalah rezeki dari Tuhan. Sudah, daripada Ibu terus ngomel-ngomel dan menyalahkan Ayra yang pasti perasaannya lebih terluka dari kita, lebih baik Ibu rawat Ayra saja biar lekas sembuh."

Mendengar kata-kata itu, hati Ayra terasa seperti diremas. Harapan mereka begitu besar, begitu murni, namun mereka tidak tahu bahwa pernikahan ini akan segera berakhir. Sudah berada di ambang kehancuran. Ayra ingin sekali berteriak, menceritakan bahwa Rayyan telah mengkhianatinya, bahwa tidak akan ada lagi kesempatan untuk mengandung anak dari pria itu.

Tapi melihat wajah ibu mertuanya yang tengah memendam kekesalan, lidah Ayra mendadak kelu. Ia juga tidak tega menghancurkan harapan ayah mertuanya, setidaknya tidak saat ia sendiri masih terbaring lemah di atas ranjang pesakitan.

Herman kemudian berdeham, menatap sekeliling kamar. “Sekarang di mana Rayyan? Kenapa dia belum datang juga?”

Ayra menelan ludah, mencoba mengatur suaranya agar tidak terdengar bergetar. “Mas Rayyan baru saja keluar sebentar, Pak. Ada urusan yang harus diselesaikan.”

Ayra memejamkan mata sesaat. Di dalam hatinya, ia sudah membuat keputusan. Dukungan dari mertuanya memang sangat berarti, namun itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa harga dirinya telah diinjak-injak oleh anak mereka.

***

Kepulangan Rayyan pada Liztha disambut dengan barang-barang yang melayang ke arahnya, serta pemandangan seisi kamar yang tak jauh berbeda dengan kapal pecah.

"Buat apa kamu pulang? Sana, kelonin saja istrimu!" teriak wanita itu sambil terus melempar barang-barang yang ada di dekatnya.

"Aku minta maaf, Liz, tapi kejadiannya tidak seperti yang kamu bayangkan. Ayra..."

"Cukup, aku tidak mau dengar alasan apa pun dari mulut kamu! Apa kamu tidak puas dengan pelayananku? Sehebat apa si Ayra di ranjang?"

Liztha meraih bantal dan melemparkannya pada Rayyan. Sigap, lelaki itu menangkapnya, lalu merangsek masuk ke dalam kamar.

Rayyan segera mencengkeram kedua pergelangan tangan Liztha, mengunci pergerakan wanita itu yang tengah dikuasai amarah. Napas Liztha memburu, matanya merah dan basah, menatap tajam ke arah Rayyan. Di tengah kekacauan itu, Rayyan justru menarik Liztha ke dalam pelukannya, berusaha meredam badai yang berkecamuk meski hatinya sendiri sedang terbagi. Ia berbisik lirih, menenangkan dengan kata-kata manis untuk menenangkan selingkuhannya itu.

"Ayra keguguran semalam Liz. Dia kehilangan bayinya dan aku tidak mungkin meninggalkan dia semalam." Ucap Rayyan dengan suara lemah. Tak dipungkiri, dia juga sangat merasa kehilangan calon anaknya, meski tak pernah memperhatikan Ayra selama kehamilannya.

Liztha merenggangkan pelukan Rayyan dan menatap lekat lelaki itu.

"Benarkah? Kamu tidak bohong, kan?"

Rayyan menggeleng lemah, matanya terlihat sendu.

"Bagaimana mungkin aku berbohong tentang hal ini." Nada suara Rayyan lemah. Tapi senyum senang terbit di bibir Liztha.

"Bagus dong, berarti sudah saatnya kalian berpisah. Kamu nggak usah khawatir, aku pasti akan memberi kamu anak yang lucu-lucu."

Rayyan tertegun sejenak melihat binar bahagia di mata Liztha. Ada rasa aneh yang mengganjal di hatinya, namun ia segera menepisnya. Baginya, pernikahan dengan Ayra hanyalah sebatas tuntutan sang Ayah yang harus ia jalani tanpa sedikit pun melibatkan perasaan. Ia tidak pernah mencintai Ayra, dan selama ini ia menutup mata pada setiap usaha Ayra yang mencoba menjadi istri sempurna dan berusaha mencintainya dengan tulus.

"Jangan bahas itu sekarang, Liz. Aku lelah," gumam Rayyan sambil membenamkan wajahnya di bahu Liztha. Ia merasa tempatnya adalah di sini. Bukan berusaha menjadi suami dari wanita yang tidak ia cintai.

Sementara Liztha semakin erat memeluknya, seolah tidak ingin memberikan ruang bagi Rayyan untuk memikirkan hal lain.

"Aku hanya tidak ingin kamu terikat lebih lama dengan wanita itu, Ray. Sekarang penghalangnya sudah tidak ada. Kamu cepat-cepat menceraikan Ayra, lalu kita segera menikah."

Rayyan hanya diam, membiarkan kata-kata Liztha meresap ke dalam benaknya. Ia tidak peduli bahwa di rumah sakit sana, Ayra mungkin sedang berjuang sendirian melawan rasa sakit dan kekecewaan. Baginya, Ayra hanyalah kewajiban yang dipaksakan, sedangkan Liztha adalah pilihannya sendiri. Ia merasa tidak perlu merasa bersalah atas kehilangan itu, karena sejak awal, ia memang tidak pernah mengharapkan kehadiran buah hati dari rahim wanita yang tidak ia inginkan.

Di dalam kamar yang berantakan itu, Rayyan akhirnya memilih untuk hanyut dalam buaian Liztha. Mereguk jerat kenikmatan semu duniawi yang ditawarkan Liztha. Membiarkan nuraninya mati perlahan. Mengabaikan fakta bahwa ia telah melepaskan berlian demi seonggok batu kali!

1
Yunita Sophi
hati hati Zavian... Marissa kerasukan iblis
Yunita Sophi
Marissa suka sama orang sampe segitu nekat nya
Yunita Sophi
Marisa jgn nekat kamu...
Lies Atikah
si marisa tetap menang banyak 😄
Lies Atikah
tumben Ayra pintar
Lies Atikah
cocok marisa jadi jahat berhasi mulu tak tersentuh hukum karna yang mengejar nya orang2 baik dan soleh yang selalu ngalah selamat marisa 👍
Yunita Sophi
semoga sebelum macam macam si Marissa tertangkap..
🌹🪴eiv🪴🌹
memang diri kita sendiri yg mampu membahagiakan harus berani mengambil keputusan
terimakasih untuk tulisan indah mu thor
Yunita Sophi
Marissa berbahaya seharus nya di masukan ke rumah sakit jawa...
Yunita Sophi
oh ternyata Marissa bukan anak kandung... knp orang seperti itu di pelihara pak... buang aja ke tempat nya
Yunita Sophi
Liztha kamu ini knp sih iri mulu liat orang bahagia...
Yunita Sophi
Liztha kamu ini so cantik banget ya...
Yunita Sophi
dasar mantan ibu mertua ug punya ukhlak... ibu udah tua knp marah ? apa ibu iri krn Ayra mendapat suami yg lebih hebat dari anak obu... kasian 🤣🤣🤣
Yunita Sophi
untuk Ayra dan Zavian semoga bahagia
Mo Xiao Lam
ya harus tegas dong dua duanya pisah, cerai atau rujuk
Mo Xiao Lam
awal cerita yang baik semoga kelanjutannya tidak berbelit belit kayak sinetron
🌹🪴eiv🪴🌹
muehehehehehehehe 👻👻
🌹🪴eiv🪴🌹
lah zavier pergi kemana,, kan mau ikut nyiksa Marissa belom nyampe udah di buang 🤣 si mar sama Alfian 🤧
itin
predator parah si marissa... layak dibuat cacat seumur hidup atau mati perlahan sih
itin
sekaya itukah marissa? tanpa pengawasan dari orangtua/keluarganya? kayak pengangguran pun marissa 🤭😄🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!