"Menikah denganku."
Risya Wicaksono, berusia 27 tahun.
Atau lebih di kenal dengan panggilan Icha, melotot terkejut, saat kalimat itu terlontar dari mulut lelaki yang sangat tidak ia sangka.
Arnold Adiguna.
Lelaki berusia 33 tahun. Yang juga masih merupakan salah satu kakak sepupunya.
Lelaki itu mengajaknya menikah. Semudah lelaki itu mengajak para sepupunya makan malam.
Icha tidak menyangka, jika lelaki itu akan nekat mendatanginya. Meminta menikah dengannya. Hanya karena permintaan omanya yang sudah berusia senja.
Dan yang lebih gilanya. Ia tidak diberikan kesempatan untuk menolak.
Bagaimanakah Icha menjalani pernikahan mereka yang sama sekali tidak terduga itu?
Mampukah ia bertahan hidup sebagai istri sang Adiguna? Lelaki yang dikenal sebagai CEO sekaligus Billionaire dingin nan kejam itu.
Mampukah mereka mengarungi pernikahan tanpa saling cinta?...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Hasibuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan
'Ting!'
Tong!'
Icha baru saja selesai mandi. Keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih berada di atas kepalanya. Membungkus rambut basah, ia menghela nafas kala mendengar bel apartemennya yang berbunyi.
Untung saja ia sudah mengenakan pakaiannya terlebih dahulu. Ia melangkah perlahan dengan tangan yang melepas handuk itu dari atas kepalanya.
Dengan gerakan yang masih mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Ia menuju pintu apartemennya. Membuka pintu apartement tersebut dan mendapati keberadaan Arnold di hadapannya.
Lelaki itu sepertinya telah pulang dan membersihkan diri. Terlihat dari pakaian yang dikenakan Arnold, telah berganti dengan lebih santai.
"Kamu tidak mengizinkanku masuk?"
Pertanyaan itu membuat Icha menghela napas. Ia menyingkir perlahan dan memberikan jalan untuk lelaki itu masuk.
"Tutup pintunya."
Usai berkata seperti itu, Icha melangkah dan berbalik meninggalkan Arnold.
Tentu saja Arnold menutup pintu, karena tidak ingin ada seseorang yang masuk ke apartemen Icha.
Ia mengikuti wanita itu. Memperhatikan sekitar apartemen Icha, yang menurutnya rapi dan bersih.
"Bukankah kita harus berbicara?"
Dengan santai Arnold memilih duduk di atas sofa, dan menyandarkan tubuhnya di sana. Memperhatikan Icha yang masih setia dengan kegiatannya mengeringkan rambut.
"Kita akan berbicara. Tapi aku akan mengeringkan rambutku terlebih dahulu." Icha menghela nafas.
Arnold hanya mengangguk dan tidak melarang Icha. Ia memperhatikan gadis itu yang melangkah kembali masuk ke dalam kamarnya. Mendengarkan suara hair dryer yang berbunyi sebagai Irama akan kesibukan Icha yang mengeringkan rambut.
Arnold memilih menyibukkan diri memeriksa ponselnya. Melihat beberapa email yang masuk ke dalam ponselnya, dan beberapa jadwal pekerjaan yang harus ia lakukan.
Ia memerintahkan asisten pribadinya, untuk mengatur ulang semua jadwalnya selama berada di negara ini. Pekerjaannya yang berada di luar negeri harus diundur untuk beberapa waktu. Paling tidak sebelum keadaan Oma Jasmine membaik.
Sibuk dengan pekerjaannya. Ia tidak menyadari jika Icha telah selesai mengeringkan rambut dan keluar dari kamar.
Wanita itu melihat bagaimana Arnold yang begitu sibuk dengan ponselnya.
"Kita bisa berbicara sekaran" Ia duduk di sofa. Berseberangan dengan Arnold.
Memilih bersedekap dengan kedua tangan yang dilipat di depan dadanya. Memperhatikan Arnold yang mengangkat wajah dari ponsel sekilas.
" Baiklah." Arnold mematikan ponsel dan meletakkannya di atas meja begitu saja.
"Seperti yang aku katakan kepada Oma Jasmine. Setelah keadaannya membaik, kita akan menikah."
Arnold mengulangi perkataannya di rumah sakit kepada Icha. Ia bahkan sudah siap jika akan disambut oleh emosi yang meledak-ledak dari Icha, seperti yang dilakukan oleh Vina.
Namun melihat senyuman di wajah Icha membuat Arnold tersentak. Sepertinya gadis itu tidak akan meledak-ledak seperti Vina. Dan itu sedikit membuat Arnold terusik.
Entah mengapa, ia merasa reaksi Icha tidak akan semudah reaksi Vina.
"Are you of your mind?" Icha tersenyum memperhatikan lelaki itu dengan tatapan menyidik.
Arnold tiba-tiba saja menghela nafas dengan berat. Sudah ia katakan bukan? Reaksi Icha tidak akan semudah reaksi Vina.
Ia selalu merasa, lebih mudah menghadapi reaksi Vina yang meledak-ledak. Dibanding reaksi Icha yang sangat tidak bisa ia tebak sama sekali.
"Aku serius dengan setiap ucapanku." Arnold kembali menekankan tujuannya.
"Dengan berbohong seperti itu kepada Oma. Kamu bukan hanya membuat pikiran oma semakin tertekan nantinya. Tapi ia akan merasa kecewa, karena cucu yang paling ia sayangi, tega membohonginya seperti ini." Icha masih mempertahankan senyumannya.
Ia benar-benar tidak habis pikir dengan maksud Arnold yang berkata akan menikah dengannya, kepada oma Jasmin.
"Aku tidak berbohong." Arnold meralat.
"Dan aku benar-benar akan menikahimu setelah oma keluar dari rumah sakit." Ia juga menegaskan.
Icha yang sejak tadi tidak percaya, dan menganggap ucapan Arnold hanyalah sebuah kebohongan semata seketika melotot. Menatap Arnold dengan tajam. Memperingatkan lelaki itu agar tidak melewati batas.
"Aku bukan dokter kejiwaan. Jika tidak aku sudah pasti memeriksamu. Apakah benar-benar kamu ini sudah gila atau tidak." Dengan sarkas, Icha kembali bersuara.
"Atau kamu mau aku carikan dokter kejiwaan yang terbaik?" Icha juga bertanya dengan nada manis yang di lebihkan.
Ucapan itu membuat Arnold merasa tersinggung. Sungguh, Icha tidak perlu mengeluarkan segala emosinya, untuk membuat seseorang merasa tersudut dan tersinggung.
Ia hanya perlu berkata dengan santai dan tatapannya yang tajam. Itu akan bisa membuat para sepupunya kicep di hadapannya.
Namun kali ini Arnold harus bisa mengambil persetujuan dari Icha. Karena hanya dengan begitu ia dibebaskan oleh semua tuntutan pernikahan dari setiap orang.
"Terserah kamu menganggap aku tidak waras atau gila sekalipun. Tapi aku tidak main-main dengan perkataanku Icha."
Arnold mengunci tatapannya kepada Icha. Menegakkan tubuhnya yang duduk di sofa. Sorot wajahnya begitu serius dan tidak terbantahkan.
"Kita akan menikah setelah oma Jasmine keluar dari rumah sakit." Sekali lagi ia menegaskan.
" Tidak!" Dengan cepat Icha menolak.
"Aku tidak mau menikah denganmu!" Ia juga menambahkan, saat melihat Arnold membuka mulut dan hendak bersuara.
Menurutnya ini adalah ide yang paling gila yang dilontarkan oleh Arnold. Bagaimana bisa kedua orang yang tidak saling mencintai akan menikah? Dengan alasan kesehatan seseorang?
Tentu saja ia tidak mau ikut tenggelam dalam permainan Arnold.
"Aku tidak meminta saranmu Icha. Dan seperti ucapanku, kita akan menikah." Sekali lagi Arnold kembali berkata.
"Lebih baik kamu mencari wanita lain di luar sana untuk menikah denganmu. Jangan melibatkan aku dalam setiap aksi gilamu ini!" Ia memicingkan mata dan melirik arnold semakin tajam.
"Apa kamu tidak bosan selalu ditunjuk oleh setiap orang untuk segera menikah? Belum lagi dari keluargamu di Semarang, yang ingin menjodohkan berulang kali dengan seseorang? Hanya karena mereka merasa, Jika kamu sudah pantas menikah." Arnold harus pandai memberikan alibi kepada Icha, agar wanita muda itu setuju dengannya.
"Aku juga sudah mulai bosan bolak-balik dituntut untuk segera menikah. Dan aku rasa ini adalah solusi yang tepat untuk kita berdua." Ia menyampaikan.
"Dengan kita berdua menikah. Tidak akan ada lagi tuntutan bagi kita untuk mencari pasangan dan segera menikah. Masalah kita akan selesai begitu kita berdua menikah." Arnold juga menyampaikan.
"Menikah itu bukan untuk satu hari atau sebulan." Icha membantah cepat.
"Aku tidak memaksamu untuk selalu bersama denganku selamanya Icha."
Arnold mulai merasa lelah memberikan penjelasan. Ia menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata untuk perlahan.
"Kamu bisa berkata terus terang kepadaku nantinya, jika kamu ingin bebas dan aku akan membebaskanmu." Ia juga memberikan solusi.
Ucapan itu bukan membuat Icha merasa senang, namun malah berdetak semakin kesal.
Apakah Arnold benar-benar mengira pernikahan adalah sebuah permainan? Ia menatap, seolah Arnold adalah orang yang memang benar-benar telah kehilangan kewarasannya.
"Aku tidak akan menahanmu selamanya bersama denganku. Jika kamu tidak bahagia dengan pernikahan itu nantinya. Dan jika kamu telah menemukan seorang laki-laki yang kamu cintai. Beritahu aku. Dan aku akan membebaskanmu Icha." Arnold mengubah strateginya meluluhkan hati Icha.
Ucapan itu membuat Icha sampai melotot dan menganga. Fix Arnold benar-benar sudah gila!
.............................
apa yg kamu lakukan ituu .... jahat buat babang Ar...
Sejauh ini ceritanya menarik