"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Naina hanya bisa bersabar, ia tak bisa melawan. Andai saja dulu ia tak termakan rayuan Ryan. Andai saja dulu ia bisa dengan tegas menolak ajakan Ryan. Jika sudah begini siapa yang di salahkan?
Tentu saja Naina. Naina terlalu polos, ia tak bisa membedakan mana jebakan dan mana yang tulus. Harusnya Naina tak mencari Ryan. Seharusnya Naina tak terperangkap jurang yang sama. Apakah emang dasarnya bodoh atau emang lugu?
Satu minggu telah berlalu. Ryan kembali ke aktivitas seperti biasa. Naina rindu masa-masa ia tak mengenal Ryan. Naina rindu tinggal di desa yang tenang dan damai. Tapi tempat satu-satunya itu telah di jual oleh pamannya yang serakah.
Jika Naina pergi dari sini, kemana lagi ia harus berteduh dan menumpahkan segala beban dalam hidupnya? Setidaknya di sini, meski sakit, tapi Naina tak perlu pusing mencari uang dan memikirkan keperluan lainnya.
Mungkin akan semakin bodoh bila Naina yang sebatang kara, miskin dan minim ilmu ini pergi dari hunian yang nyaman dan fasilitas yang lengkap. Soal hati dan perasaannya, biarkan saja. Toh lambat laun juga akan berbeda cerita.
"Kuncinya cuma satu, kamu harus manut, Naina." Ucap Naina pada dirinya sendiri.
Malam ini, Ryan tak juga pulang, sebuah pesan yang menyatakan bahwa ia pulang ke rumah orangtuanya.
Orangtua? Selama ini Naina tak tahu siapa orangtua Ryan. Bahkan Naina tak tahu dimana kediaman mereka. Sebenarnya Naina adalah istrinya atau barang selundupan?
Naina semakin bertanya-tanya dengan teka-teki kehidupan Ryan. Naina merasa ada yang ganjil. Naina putuskan untuk bertemu dengan kawan lamanya, yaitu Cecilia dan Chandra.
Sudah lama juga Naina tak mengunjungi mereka. Maka Naina putuskan untuk menemui mereka besok pagi.
Malam berlalu, pagi pun menyapa. Seperti biasa, Naina membereskan rumah. Di rasa semuanya sudah beres, Naina mulai bersiap-siap.
"Nay, ayo kita ke rumah Mama dan Papa Chandra."
Nayla yang mendengar hal itu pun girang bukan kepalang. Sudah satu tahun lebih mereka tak datang berkunjung.
Naina masih ingat dimana mereka tinggal. Hanya menunggu bus sesuai rute yang di inginkan. Naina menunggu bus di halte yang tak jauh dari apartemennya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam yang karena terhalang macet juga, akhirnya Naina sampai di halte yang tak jauh dari taman tempat biasa ia berjualan bakpao dulu.
Naina tersenyum mengenang masa-masa indah tanpa hadirnya Ryan. Harusnya tetap begitu, Naina tak datang menemui Ryan. Tapi nasi telah menjadi bubur. Percuma saja di sesali pun.
Tak terasa Naina sudah sampai di depan toko emas yang dulu menampung hidupnya.
"Cici, Abang." Seru Naina membuat mereka kaget.
"Naina?"
Cecilia langsung memeluk Naina erat. Terlihat bertapa rindunya Cecilia pada Naina. Tanpa basa basi Cecil mengajak Naina ke rumahnya. Menyerahkan toko pada karyawannya.
Naina di kenalkan dengan anggota baru mereka, yang cantik dan putih. Namanya Elora.
"Boleh aku gendong, Ci?" Ucap Naina selepas ia cuci tangan untuk menjaga kebersihan dirinya.
"Tentu saja,"
Naina mengambil bayi El yang mungil itu dengan hati-hati. Naina selalu salah mengucapkan nama Elora, maka dari itu Naina memanggil Elora dengan sebutan bayi El.
Nayla yang hanya duduk diam memperhatikan sekitar, semuanya sudah berbeda. Cecil pun mengajak Nayla untuk mendekatkan ke arahnya.
Cecilia memeluk Nayla dengan lembut dan mengecup kening Nayla berkali-kali.
"Nay adalah anak Mama juga, jadi jangan sungkan." Ucap Cecil pada Nayla.
"Iya, Ma."
Kehangatan menyelimuti hati Naina. Seperti inilah keluarga yang Naina inginkan. Hangat dan juga harmonis. Dalam senyum yang terlukis di wajahnya, ada rasa sedih dan pahit yang menyelimuti.
Cecilia yang peka langsung menyadari raut wajah Naina yang tiba-tiba kaku.
"Ada apa, Naina?" Ucap Cecil.
"Gak ada apa-apa, kok." Naina memaksakan senyumannya.
"Cerita lah, jangan sungkan. Bukankah aku ini keluarga mu?"
Naina terdiam sesaat, sebelum ia menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.
"Ci, suamiku selingkuh." Lirih Naina sukses membuat Cecilia naik darah dan seketika memaki-maki nama Ryan.
Naina menceritakan kronologi awal permasalahannya. Sampai ia pun rela hanya di datangi oleh Ryan saat ingin menyalurkan hasrat suaminya.
Naina hanya ingin semuanya baik-baik saja, demi Nayla. Namun pikiran Naina di bantah keras oleh Cecilia dan Chandra. Menurut mereka tindakan Naina itu bodoh.
Chandra menyarankan 2 pilihan untuk Naina. Gugat cerai atau minta bantuan dari pihak keluarga Ryan. Setidaknya jika pun bercerai Naina berhak meminta sedikit harta Ryan. Terlebih sebagai kompensasi karena tidak andil dalam merawat dan proses kelahiran.
Jika pun Ryan keukeuh ingin hak asuh Nayla, tuntut juga rasa sakit atas pengabaian Ryan selama 2 tahun pernikahan yang hilang tanpa jejak dan tak bertanggungjawab dengan anak dan istri.
"Tapi aku tidak punya uang untuk mengajukan gugatan." Lirih Naina.
"Aku yang nanggung semuanya." Cecilia mantap menjawab.
"Sekarang kamu coba datang ke rumah orang tua Ryan. Minta pertolongan pada mereka. Setidaknya kamu punya hak atas Nayla." Saran Chandra.
"Aku tidak tahu dimana alamatnya."
"Aku tahu."
Chandra menulis sebuah alamat di secarik kertas. Sebuah perumahan elit yang cukup jauh dari sini.
"Semangat, Naina." Cecilia menepuk pundak Naina lembut.
Naina menggenggam secarik kertas itu dengan harapan baru. Semoga ada keadilan dan jalan atas rumah tangganya ini. Naina hanya ingin mempertahankan bahteranya. Naina terlanjur jatuh hati pada Ryan.
Ia tak ingin melepaskan apa yang telah menjadi miliknya kini. Naina tak akan menjadi lemah seperti dulu. Setiap miliknya di ambil paksa oleh pamannya ia hanya terdiam pasrah. Naina kali ini harus bisa berjuang mempertahankan miliknya.
Benar, seperti yang di ucapkan Ryan dulu saat pertama kali mereka menikah. "Aku milikmu, dan kamu milikku."
...****************...
Sesampainya di apartemen, sepi dan dingin. Ryan belum pulang ternyata. Naina mengecek ponselnya, tak ada satu pesan pun dari Ryan.
Ada rasa khawatir, dan juga rindu. Apakah Naina meneleponnya dengan dalih Nayla rindu padanya? Setidaknya Ryan tak akan menolak jika itu tentang Nayla.
Naina mencoba menghubungi Ryan tapi tak ada jawaban. Ryan tak mengangkat panggilannya.
Naina mencoba mengirim pesan, dan itu pun sama, tak ada jawaban. Naina semakin gusar. Setidaknya beri satu pesan untuk dirinya agar tak menunggu dengan resah kepulangan Ryan.
"Ibu, ayo tidur." Nayla yang sudah siap-siap tidur itu mengajak Ibunya untuk tidur.
"Bacakan aku dongeng, Bu." Pintanya.
"Baiklah. Dahulu, ada seorang gadis cantik jelita dan baik hati. Hidupnya malang dan tersiksa bersama saudara tirinya, ㅡ"
Naina mendongeng cerita Cinderella yang sangat ia sukai dulu. Kisah yang hampir mirip dengannya, namun beda keberuntungan.
Cinderella yang malang menemukan pangeran yang gagah rupawan. Pangeran itu baik sekali dan memperlakukan Cinderella layaknya Ratu di istana pangeran. Sedangkan Naina? Ya, sama seperti Cinderella di awal cerita. Gadis malang yang tersiksa oleh saudara dari pihak Ayahnya. Sampai akhirnya bertemu pria gagah rupawan. Mereka menikah dan di karuniai seorang putri.
Tapi sayang, kehidupan Naina tak seindah Cinderella yang menjadi Ratu di istana pangeran. Naina hanya jadi tahanan di istana yang di buat oleh suaminya. Istana yang terpisah dari kehidupan asli suaminya.
Terkurung, terpisah, dan tak terjamah oleh pihak manapun. Lingkungan apartemen yang tak acuh dan sangat asing bagi Naina menambah kesan yang menyiksa.
"Aku tak bisa merelakan mu pada wanita lain yang menjadi alasan retaknya rumah tangga kita." Tangis Naina pecah saat Nayla telah lelap tertidur.