Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.
Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Draco berjalan menuju pintu. "Berikan jam tangan dan alat-alat itu pada mereka. Jika kemampuan mereka tidak berguna, kalian bisa menembak mereka."
Edward, Caesar, dan yang lain sontak terperangah, masih terdiam di tempat masing-masing.
Draco tiba-tiba berhenti berjalan, menoleh pada Edward. "Kau bisa menganggap tindakanku sebagai balas jasa atas sedikit kebaikanmu padaku di masa lalu, Edward."
Edward sontak terkejut, termenung cukup lama. "Dia mengenalku? Aku pernah mengenalnya di masa lalu? Siapa dia sebenarnya?”
Draco dan para pengawalnya meninggalkan ruangan, kecuali tiga anggota yang membantu Edward tempo hari.
Seorang anggota menarik rambut Edward, tertawa. "Aku tidak menduga Ketua mengenal sampah sepertimu, sialan! Pastikan kau menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin."
"Suara ini?" Edward menahan kesakitan dan teriakan. "Dia adalah pria botak yang menolongku dari jurang."
Anggota 0047 melempar delapan kotak ke lantai. "Ambil empat kotak itu dan pindai sidik jari kalian pada kotak merah itu.”
Edward, Caesar, dan yang lain melakukan seperti yang diperintahkan. Saat jari mereka sudah terhubung dengan kotak, kotak mendadak berubah menjadi sebuah seragam yang menempel di tubuh mereka.
Edward tersenyum, mengamati penampilannya. Ia mengambil pistol, mengamati beberapa tombol.
"Tekan tombol merah di telapak tangan kanan kalian. Semua informasi mengenai perlengkapan seragam kalian tersedia di sana. Kalian memiliki waktu lima belas menit untuk mempelajari seragam dan semua peralatan yang menempel di tubuh kalian sekarang. Setelah waktu habis, kami akan menguji kalian," ujar anggota 0046.
Anggota 0048 tertawa terbahak-bahak. “Jika kalian gagal, kami akan menghabisi kalian dan kalian tidak akan bisa membalas dendam pada Alexander."
Ketiga anggota itu meninggalkan ruangan begitu pintu terbuka.
"Apa kau mengenal pria yang dipanggil ketua, Edward?" tanya Caesar.
"Aku mungkin saja mengenal pria itu jika dia melepas topengnya, Ayah. Akan tetapi, aku tidak bisa mengingat suaranya. Dia mengatakan bahwa dia berasal dari masa lalu." Edward termenung, berusaha menggali ingatan.
Edward menampar pipi beberapa kali. "Ini bukan waktunya kita bertanya siapa mereka. Kita sudah melihat kemampuan mereka dan apa yang bisa mereka lakukan. Selama kita mengikuti perintah mereka dan berhati-hati, kita bisa menghabisi Alexander."
"Kenapa kau seyakin itu, Edward?" Leonel bertanya.
"Mereka adalah harapan kita untuk menghabisi Alexander. Mereka bahkan yang membawa kalian keluar dari kediaman Osvaldo Tolliver. Aku sudah pernah mengatakan jika ingatan kalian soal Alexander dan Osvaldo Tolliver berbeda denganku. Kemungkinan besar ingatan kalian sudah dimanipulasi. Buktinya, orang-orang itu mempercayai ingatanku."
"Edward benar." Leandro menyahut. "Kita harus menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Kita tidak mungkin bisa mendapatkan kesempatan ini berkali-kali. Selama kita bisa menghabisi Alexander, kita harus melakukannya."
Edward, Caesar, Franklin, dan yang lain mulai mempelajari informasi melalui layar hologram.
Edward mengingat hal serupa dari latihannya selama berada di kediaman Osvaldo Tolliver, sedangkan Caesar dan yang lain masih membutuhkan lebih banyak waktu.
Setelah lima belas berakhir, Edward dan yang lain memasuki ruangan lain. Mereka harus menghadapi berbagai robot.
Setelah para robot berhasil dikalahkan, ketiga anggota Galata kemudian menjadi lawan mereka.
Draco mengamati pertarungan di ruangannya, tersenyum. "Mereka sangat serius melawan ketiga anggotaku. Mereka benar-benar ingin menghabisimu, Xander."
Edward, Caesar, dan yang lain terbaring kelelahan di lantai setelah gagal mengalahkan satu anggota Galata.
"Baiklah, kalian lolos," ucap anggota 0046, "kalian akan ikut dalam penyerangan ke kediaman Alexander besok.”
"Apa?" Edward, Caesar, Franklin, Theron, Troy, Tyler, Leonel, dan Leandro sontak terkejut mendengar rencana tersebut. Mereka saling bertatapan sekilas, saling berbagi keterkejutan.
"Dasar bajingan! Apa kalian tidak mempercayai ucapan kami?" bentak anggota 0047, "aku sepertinya harus menghajar kalian agar kalian sepenuhnya sadar."
"Cukup!" Anggota 0046 menahan anggota 0047. "Kau hanya akan membuang-buang tenagamu sekarang. Kita harus menyimpan tenaga kita untuk menghabisi Alexander besok."
Anggota 0046 melirik Edward, Caesar, dan yang lain bergantian. Ia menekan tombol dan seketika saja layar mendadak muncul di dinding. "Lihatlah video ini baik-baik."
Edward, Caesar, Franklin, dan yang lain terperangah saat melihat sebuah video. Mereka melihat kondisi kediaman Xander, bahkan menyaksikan Xander dan keluarganya.
"Tunggu! Pria itu ... adalah Larson Serravia," ujar Leonel sembari mengamati Larson. "Kenapa dia berada di kediaman Alexander? Dia juga sangat akrab dengan anak kecil yang mirip dengan Alexander.”
Leandro menyahut, mengepalkan tangan erat-erat.
"Kau benar, Leonel."
"Pria bernama Larson itu adalah kakak sepupu istri Alexander yang bernama Lizzy. Ayahnya dan ayah Lizzy adalah saudara kembar yang terpisah sejak lama. Ayah Lizzy adalah salah satu anggota pasukan Samuel Ashcroft," jelas anggota 0046.
Edward, Caesar, dan yang lain masih tidak mengalihkan pandangan dari layar.
"Kalian harus bersiap untuk penyerangan besok. Kalian semua akan berada dalam pengawasanku. Jika kalian membuat kesalahan, aku dan dua rekanku akan menghabisi kalian detik itu juga."
Layar menghilang, dan ketiga anggota Galata itu berjalan menuju pintu yang baru saja terbuka. Suasana begitu hening karena keterkejutan yang masih Edward dan yang lain rasakan.
"Tunggu!" pinta Edward.
Ketiga anggota Galata itu seketika berhenti berjalan, melirik Edward sekilas.
Anggota 0048 berkata, "Apa kau ingin mati sekarang? Kau terlalu banyak bicara."
"Aku hanya bertanya keadaan putraku selama aku mengikuti penyerangan.”
"Ketua menjamin keamanan anakmu, sialan! Dia mengatakan jika itu hadiah lain karena kau memberikan sedikit bantuan padanya di masa lalu," ujar anggota 0047.
Ketiga anggota Galata itu meninggalkan ruangan.
Edward, Caesar, dan yang lain masih dalam kebingungan mengenai situasi yang terjadi. Akan tetapi, kesunyian itu lenyap saat Caesar mendadak tertawa.
"Kerja bagus, Edward." Caesar menepuk bahu Edward, berkali-kali. "Aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan di masa lalu, tetapi kau sudah memberikan kita semua kesempatan untuk membalaskan dendam kita pada Alexander."
"Aku benci mengatakannya, tetapi aku harus memuji tindakanmu. Kita mendapatkan sekutu yang sangat luar biasa. Aku bahkan menganggap bahwa mereka adalah sebuah kelompok khusus yang jauh dari jangkauan kita," ucap Theron.
Edward tersenyum tipis, mengepalkan tangan erat-erat. "Kita hanya perlu melakukan yang terbaik saat penyerangan. Kita harus bisa menghabisi Alexander besok."
Edward, Caesar, dan yang lain terkejut ketika ruangan mendadak berubah. Delapan kasur, sebuah sofa besar, meja, lemari, hingga toilet mendadak muncul dari dinding. Semua orang tampak sangat terkagum-kagum. Mereka semakin yakin jika orang-orang itu mampu membantu mereka menyingkirkan Xander dari dunia ini selamanya.
Edward, Caesar, dan yang lain segera beristirahat.
Edward mengelus rambut Edison. "Aku pastikan kau akan hidup bahagia, Edison. Dan aku memastikan anakmu mati di hadapanmu, Xander."
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍