NovelToon NovelToon
Bos Tampan Itu Kekasihku

Bos Tampan Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Fantasi Wanita
Popularitas:215
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gampang Sekali

Pesan misterius itu tidak memudar dari pikiran Arka. Sebagai putra seorang legenda properti, Arka dibesarkan dengan kewaspadaan tinggi. Ia segera melakukan pelacakan mandiri lewat keahlian digitalnya. Namun, pengirimnya menggunakan server terenkripsi dari London.

******

Di sebuah apartemen mewah di London, seorang pemuda seumuran Arka sedang menatap papan yang penuh dengan foto keluarga Aditama. Namanya Christian, putra tunggal Clarissa.

Jika Arka adalah matahari, Christian adalah badai yang tumbuh dalam kegelapan. Sejak kecil, ia dididik oleh Clarissa dengan narasi bahwa keluarga Aditama adalah pencuri harta dan kebahagiaan mereka.

"Lihat dia, Ma." gumam Christian sambil menunjuk foto Arka yang sedang mencetak angka di lapangan basket. "Dia punya segalanya. Nama, cinta dan masa depan. Aku akan mengambil semuanya satu per satu, mulai dari apa yang dia banggakan di kampusnya."

Clarissa yang kini tampak jauh lebih tua dengan gurat kebencian yang masih nyata, tersenyum tipis. "Hancurkan dia dari dalam, Christian. Buat Ryan merasakan bagaimana rasanya melihat dunianya runtuh melalui tangan anaknya sendiri."

Keesokan harinya di kampus, suasana terasa berbeda bagi Arka. Saat ia sedang berjalan di koridor Fakultas arsitektur, kerumunan mahasiswi seperti biasa mulai berbisik-bisik. Namun, perhatian Arka teralihkan oleh seseorang yang sedang kesulitan membawa maket bangunan berukuran besar.

Gadis itu tidak sengaja menyenggol bahu Arka karena maketnya yang terlalu lebar.

"Eh, Sorry! Bisa minggir dikit? Ini berat!" seru gadis itu tanpa menoleh.

Arka tertegun. Biasanya, setiap gadis yang menyenggolnya akan langsung meminta maaf dengan wajah memerah atau mencoba mencari perhatian. Tapi gadis ini? Dia bahkan tidak melihat wajah Arka.

"Perlu bantuan?" tanya Arka sambil mengulurkan tangan untuk memegang sisi maket yang miring.

Gadis itu berhenti, mendongak, dan menatap mata Arka. Namanya Alana. Rambutnya diikat asal, ada noda lem di pipinya, dan tatapan matanya sangat datar.

"Nggak usah, aku bisa sendiri. Lagian kamu menghalangi jalan," jawab Alana ketus. Ia menarik kembali maketnya dan berjalan mendahului Arka begitu saja.

Arka terpaku di tempat. Teman-teman basket Arka, Budi dan Satria yang melihat kejadian itu langsung menghampiri sambil tertawa.

"Wah, rekor pecah! Arka Aditama dikacangin!" ledek Satria. "Itu Alana. Anak baru pindahan dari Bandung. Dia juara kompetisi desain nasional kemarin. Kayaknya dia tipe cewek yang lebih cinta sama penggaris siku daripada sama cowok ganteng."

Kejutan bagi Arka belum berakhir. Saat kelas studio desain dimulai, dosen mengumumkan proyek kolaborasi besar.

"Untuk proyek High-Rise building kali ini, saya akan memasangkan dua mahasiswa terbaik. Arka Aditama dan Alana Putri," ujar sang dosen.

Arka menoleh kearah Alana yang duduk di sudut ruangan. Alana hanya menghela napas panjang seolah-olah berpasangan dengan Arka adalah sebuah beban berat.

Saat jam istirahat, Arka menghampiri meja Alana. "Kita perlu bagi tugas. Kapan kamu ada waktu untuk diskusi?"

Alana bahkan tidak mengangkat wajahnya dari sketsa yang sedang ia buat. "Kirim saja datanya lewat email. Aku yang urus strukturnya, kamu urus saja bagian presentasi. Bukannya kamu biasanya cuma modal tampang untuk bikin juri terkesan?"

Arka menarik kursi dan duduk di depan Alana, menatapnya tajam. "Dengar, Alana. Aku nggak tahu apa masalahmu, tapi di studio ini, aku bekerja dua kali lebih keras dari siapapun. Jangan menilai buku dari sampulnya."

Alana akhirnya meletakkan pensilnya dan menatap Arka balik. "Dan jangan mengira semua orang akan bertekuk lutut karena nama belakangmu. Bagiku, kamu cuma rekan satu tim yang merepotkan karena fansmu bikin berisik."

Di saat Arka sedang berusaha menaklukkan keras kepalanya Alana, ia tidak menyadari bahwa di kantin kampus, seorang mahasiswa baru berwajah blasteran sedang duduk sambil mengamati mereka dari jauh.

Christian telah tiba di Jakarta. Ia mendaftar di universitas yang sama dengan identitas palsu. Ia melihat interaksi antara Arka dan Alana dengan senyum licik.

"Menarik," gumam Christian. "Ternyata pangeran kita punya kelemahan pada gadis yang tidak menyukainya. Alana... kamu akan jadi pion yang sempurna untuk menghancurkan fokus sang matahari.

Christian kemudian mengirimkan pesan kedua ke ponsel Arka.

"Cantik, ya. Partner barumu? Hati-hati Arka. Terkadang apa yang paling sulit di dapatkan adalah yang paling mudah untuk di hancurkan."

Arka meremas ponselnya. Ia menatap Alana yang masih sibuk dengan sketsanya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin. Ia tahu, bayangan itu sudah tak lagi di London. Bayangan itu sudah ada di sini, di dekatnya.

Christian mulai permainannya dengan sangat halus. Menggunakan nama samaran Ian, ia masuk kelingkaran pertemanan fakultas sebagai mahasiswa pindahan dari London yang dermawan dan ramah.

Suatu sore saat alana sedang berjuang sendirian di perpustakaan dengan tumpukan buku referensi struktur beton, Ian (Christian) datang membawakan segelas kopi premium.

"Sepertinya kamu butuh kafein daripada teori ini," ujar Christian dengan aksen Inggris yang kental dan senyum menawan.

Alana mendongak. Berbeda dengan sikapnya pada Arka, Alana merasa pria di depannya ini tidak se-intimidasi pangeran kampus. "Oh, terima kasih. Kamu mahasiswa baru itu, ya?"

"Ian. Dan aku pengagum karyamu di mading fakultas kemarin. Desain brutalist itu... sangat bersni," puji Christian. Ia sengaja mempelajari minat Alana untuk menarik perhatiannya.

Arka yang baru saja selesai latihan basket, melewati perpustakaan dan melihat pemandangan itu melalui dinding kaca. Rahangnya mengeras. Ia melihat Alana - yang biasanya dingin dan ketus padanya- kini bisa tersenyum kecil saat mengobrol dengan pria asing itu.

Arka masuk ke dalam perpustakaan dengan langkah lebar, masih dengan keringat yang menetes di lehernya.

"Alana, kita ada janji asistensi jam empat, kenapa.masih ada di sini?" tanya Arka dengan nada yang lebih protektif dari biasanya.

Alana mengerutkan kening. "Janji? Bukannya jam lima?.Dan siapa yang mengajarimu bicara sekadar itu pada orang yang sedang mengobrol denganku?"

Christian berdiri dab mengulurkan tangan pada Arka dengan senyum penuh kemenangan yang tersembunyi. "Hai, kamu pasti Arka Aditama. Aku Ian. Alana bercerita banyak soal betapa.... 'Disiplinnya' kamu sebagai partner."

Arka tidak menyambut tangan itu. Ia hanya menatap Christian dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus kedok pria tersebut. "Ayo, Alana. Studio sudah siap." Kata Arka lagi.

Christian tidak menyerah. Dia hari-hari berikutnya, ia sengaja muncul dimana Arka dan Alana berada. Ia sering mengirimkan makan siang studio desain untuk Alana, atau memarkir mobil sportnya tepat di samping mobil Arka di parkiran kampus.

Puncaknya terjadi saat acara malam akrab fakultas. Christian mengajak Alana berdansa di bawah lampu temaram.

"Alana, kamu tahu? Terkadang orang yang merasa memiliki segalanya, seperti partner kerjamu itu, sebenarnya tidak tahu menghargai hal-hal kecil," bisik Christian sambil melirik Arka yang berdiri di pojok ruangan dengan gelas minuman yang dicengkeram kuat.

Arka tidak tahan lagi. Ia berjalan mendekat dan langsung menarik tangan Alana dari dekapan Christian.

"Cukuo Ian. Dia partner kerjaku, dan kami punya urusan yang lebih penting daripada berdansa denganmu," desis Arka.

"Masalmu apa sih, Arka?!" pekik Alana sambil melepaskan pegangan Arka. "Kamu bukan pacarku, bukan kakakku! Jangan bertingkah seolah kamu memilikiku hanya karena kita satu tim."

Alana pergi meninggalkan ruangan dengan penuh amarah. Arka hendak mengejarnya, namun Christian menghalangi jalannya. Saat tidak ada orang yang melihat, Christian mendekat ke telinga Arka membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat dingin.

"Gampang sekali memancing emosimu, matahari kecil. Kamu persis seperti Ryan Aditama saat kehilangan akal sehatnya karena wanita. Ini baru permulaan."

Bersambung......

1
mamayot
haiiiii aku mampir thor. semangat
Rachel Imelda: Makasih.....😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!