NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:940
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 23

pemandangan kaca yang memutih itu memberinya dorongan insting yang berbeda. Ada rasa ngeri yang merayap saat ia membayangkan apa yang sedang terjadi di balik pintu itu.

Dengan napas tertahan, Loen mendekati panel digital di samping pintu. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk terakhir kalinya sebelum menempelkan kartu akses miliknya dan mulai memasukkan kode darurat.

Ia tahu tindakannya ini adalah pengkhianatan langsung terhadap Pharma, tetapi rasa kemanusiaannya yang tersisa memaksa tangannya untuk mencoba membuka pintu yang sudah terkunci mati tersebut.

...****************...

Panel digital berkedip hijau, diikuti suara desis udara yang masuk secara paksa saat segel pintu baja itu terbuka. Loen menarik pintu itu dengan sekuat tenaga. Begitu pintu terbuka, hawa dingin yang menyesakkan menyembur keluar, membawa aroma kimia tajam dan kesunyian yang mengerikan.

Loen terbelalak melihat Paul yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai lab. Wajah detektif itu pucat pasi, membiru karena kekurangan oksigen ekstrem.

Tanpa pikir panjang, Loen menyeret tubuh Paul keluar dari ruangan maut itu ke lorong yang memiliki sirkulasi udara lebih baik.

Sambil mengatur napasnya yang memburu karena ketakutan, Loen menatap Paul dengan perasaan campur aduk. Ia sudah terlalu lama diam melihat kegilaan Pharma.

Selama ini, Loen bukan hanya saksi bisu, tapi juga korban; ia sering menjadi sasaran kemarahan dan kekerasan fisik Pharma setiap kali rencana "Sang Kepala Rumah Sakit" itu menemui kendala. Memar di balik seragamnya adalah bukti bahwa Pharma memperlakukannya tak lebih dari sekadar samsak.

Muak. Perasaan itu akhirnya mengalahkan rasa takutnya pada Pharma. Loen tahu jika ia membantu Paul, nyawanya sendiri berada di ujung tanduk, tapi melihat Paul yang hampir mati membuatnya sadar bahwa ia tidak bisa terus menjadi kaki tangan monster.

"Bangun, Detektif... Bangun!" bisik Loen dengan suara bergetar, sambil terus memompa dada Paul, berharap jantung pria itu belum berhenti berdetak sepenuhnya.

Paul terbatuk keras, paru-parunya terasa perih saat oksigen kembali masuk secara paksa ke sistem tubuhnya. Kesadarannya masih samar, namun instingnya sebagai polisi langsung bekerja saat melihat wajah Loen Watson yang panik di depannya.

"Pergi... Loen. Pergi dari sini sekarang," bisik Paul dengan suara parau dan lemah, sambil berusaha mendorong tangan Loen. Ia tahu betul Pharma adalah monster yang tidak akan segan menghabisi nyawa asistennya sendiri jika pengkhianatan ini ketahuan.

Namun, Loen tetap berlutut di samping Paul. Tangannya yang gemetar justru mencengkeram lengan jaket Paul lebih kuat. Ia menggelengkan kepala dengan sorot mata yang penuh ketakutan sekaligus kemuakan yang sudah mencapai puncaknya.

"Aku tidak akan pergi, Detektif," balas Loen dengan suara tertahan. "Kalau aku pergi sekarang, dia akan tahu aku yang membuka pintu ini. Lagipula, aku sudah muak menjadi samsaknya. Jika hari ini aku harus mati, setidaknya aku ingin melihatnya jatuh bersamamu."

Loen mengabaikan peringatan Paul dan justru membantu pria itu untuk berdiri, meskipun Paul masih limbung. Loen tahu bahwa di atas sana, Pharma mungkin saja sedang memeriksa ponselnya atau mendapatkan peringatan sistem.

Baginya, melarikan diri sendirian bukanlah pilihan lagi karena tidak ada tempat yang aman dari jangkauan Pharma kecuali mereka berhasil membawa bukti keluar dari Delphi malam ini.

...****************...

seseorang muncul dari balik kegelapan tikungan koridor. Jas tuxedo-nya masih terlihat sempurna, namun wajahnya tidak lagi menampilkan senyum ramah yang ia tunjukkan di pesta tadi.

Matanya berkilat dingin saat menangkap pemandangan di depannya: pintu Lab Steril yang terbuka, Paul yang bersandar lemas di dinding, dan asistennya sendiri, Loen, yang sedang membantu musuhnya.

"Aku sudah menduga kau adalah investasi yang buruk, Loen," suara Pharma memecah kesunyian, rendah dan sangat tajam.

"Tapi aku tidak menyangka kau cukup bodoh untuk menandatangani sertifikat kematianmu sendiri malam ini."

Loen berdiri dengan kaki gemetar, namun ia tetap memasang badan di depan Paul. Ia menatap Pharma dengan penuh kebencian, tidak lagi peduli dengan rasa sakit dari luka-luka lama yang pernah diberikan atasannya itu

Paul berusaha merogoh senjatanya di pinggang, namun otot-ototnya masih terlalu kaku karena hipoksia. Pandangannya masih berputar, melihat Pharma mendekat perlahan dengan tangan di saku celana, seolah-olah menguasai setiap inci udara di tempat itu.

"Kau pikir dengan mengeluarkan dia, segalanya akan berubah?" Pharma terkekeh sinis sambil berhenti beberapa langkah di depan mereka. "Di atas sana, semua orang masih memujaku. Ratchet sedang menunggu kabar baik, dan kau, Loen... kau hanya akan menjadi catatan kaki dalam sebuah 'kecelakaan tragis' laboratorium."

Loen, yang sudah mencapai batas kesabarannya, berteriak dan mencoba menerjang Pharma dengan sisa keberaniannya. Namun, gerakan Loen yang emosional terlalu mudah dibaca oleh seseorang seperti Pharma.

Pharma bergerak jauh lebih cepat, seolah sudah memprediksi serangan itu sejak awal. Dengan satu gerakan tangan yang efisien dan dingin, Pharma mengeluarkan pisau bedah yang selalu ia sembunyikan di balik lengan jasnya.

Srek!

Pisau bedah itu menghujam tepat ke arah perut Loen. Tubuh asisten itu seketika membeku, matanya terbelalak menatap wajah Pharma yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya—wajah yang tetap datar, seolah-olah ia baru saja melakukan prosedur medis rutin, bukan menikam manusia.

Pharma menarik kembali pisaunya dengan sentakan yang kasar, membuat Loen jatuh berlutut sambil memegangi lukanya. Darah segar mulai merembes keluar, menodai seragam putih yang ia banggakan.

"Kau lupa siapa yang mengajarimu anatomi, Loen," bisik Pharma sambil menyeka noda darah di pisau bedahnya dengan sapu tangan sutra.

"Aku tahu persis di mana harus menusuk agar kau tidak langsung mati, tapi cukup menderita untuk menyesali pengkhianatan ini."

Paul, yang masih bersandar di dinding, mencoba berteriak tapi suaranya hanya keluar sebagai bisikan parau. Ia melihat Loen terkapar di lantai, sementara Pharma kini mengalihkan pandangan tajamnya kembali kepada Paul.

"Sekarang, Paul... giliranmu. Dan kali ini, tidak akan ada asisten bodoh yang akan membukakan pintu untukmu."

Melihat Loen terkapar bersimbah darah, amarah membakar sisa oksigen di paru-paru Paul. Dengan sisa tenaga yang ada, Paul menerjang maju.

Serangannya serampangan karena kondisi fisiknya yang belum stabil, namun kemarahannya memberi kekuatan tambahan.

Paul berhasil mendaratkan satu pukulan keras tepat di rahang Pharma.

Kepala Pharma tersentak ke samping, dan darah merembes dari sudut bibirnya. Namun, Pharma hanya terhuyung satu langkah. Ia menegakkan lehernya kembali, menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap Paul dengan tatapan yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

"Pukulan yang bagus untuk orang yang hampir mati karena hipoksia," desis Pharma. "Tapi kau lupa, Paul... kau sedang bertarung melawan seorang ahli bedah yang tahu setiap titik lemah di tubuh manusia."

Pharma tidak menunggu Paul menyerang lagi. Dengan gerakan yang jauh lebih presisi, ia menghindari ayunan tangan Paul yang mulai melambat dan menghantamkan sikunya ke ulu hati Paul, membuat detektif itu jatuh berlutut sambil memuntahkan sisa udara di paru-parunya.

Situasi Semakin Kritis.

Loen mulai kehilangan kesadaran karena pendarahan hebat di perutnya.

Paul kini benar-benar terjepit, berada di bawah bayang-bayang Pharma yang masih memegang pisau bedah berdarah.

Pharma tampak siap memberikan serangan final untuk mengakhiri hidup Paul di tempat ini.

...****************...

Paul tersedak, udara yang tadinya susah payah ia hirup kini seolah dipukul keluar paksa dari tubuhnya.

Ia jatuh berlutut, kedua tangannya menekan ulu hati yang terasa panas membara. Rasa mual yang hebat menghantamnya, dan pandangannya mulai berputar—efek dari hipoksia dan serangan fisik Pharma yang begitu akurat.

Pharma berdiri tegak di atas Paul, bayangannya menutupi tubuh detektif yang sedang meringkuk itu. Ia tidak tampak seperti pria yang baru saja dipukul; sebaliknya, ia terlihat sangat tenang, hampir seperti sedang mengamati sebuah spesimen di atas meja bedah.

"Kau tahu, Paul," Pharma berbisik, ia berjongkok agar wajahnya sejajar dengan Paul. "Aku selalu mengagumi kegigihanmu. Itu kualitas genetik yang bagus, yang syukurnya juga dimiliki oleh Lyra. Tapi keberanian tanpa kekuatan hanyalah... bunuh diri."

Tangan Pharma yang terbungkus sarung tangan lateks tipis tiba-tiba mencengkeram rahang Paul dengan kuat, memaksa Paul untuk mendongak menatap matanya yang dingin dan tak berjiwa.

"Lihat asisten malang itu," Pharma melirik sekilas ke arah Loen yang masih terkapar diam di lantai. "Dia mengkhianatiku hanya untuk memberimu waktu beberapa detik ekstra. Dan sekarang? Dia sekarat, dan kau... kau masih di sini, berlutut di kakiku."

Pharma merogoh saku jas putihnya yang masih bersih tanpa noda darah, mengeluarkan sebuah scalpel (pisau bedah) kecil yang berkilau di bawah lampu neon laboratorium.

"Haruskah aku memotong tendon kakimu sekarang? Agar kau tidak bisa lari lagi?" tanya Pharma dengan nada bertanya yang sopan, seolah sedang mendiskusikan prosedur medis rutin.

"Atau haruskah aku membiarkanmu melihat bagaimana aku 'membereskan' Loen terlebih dahulu?"

Paul mencoba menggerakkan tangannya untuk meraih kaki Pharma, namun tubuhnya terasa seperti beban mati. Kesadarannya mulai di ambang batas.

Pharma tidak menunggu jawaban. Tatapannya berubah menjadi sangat dingin, tanpa ada lagi sisa kekaguman yang tadi ia tunjukkan. Ia menekan rahang Paul lebih keras hingga Paul terpaksa membuka mulutnya untuk sekadar mencari udara.

"Sepertinya kau memilih cara yang sulit," desis Pharma.

Ia mengarahkan ujung scalpel yang sangat tajam itu tepat ke sisi leher Paul, tepat di atas arteri karotis. Ujung pisau itu mulai menekan kulit Paul, menciptakan garis merah kecil yang mengeluarkan tetesan darah segar.

Pharma sengaja melakukannya perlahan, menikmati getaran ketakutan yang menjalar dari tubuh Paul ke tangannya.

"Kau sangat protektif terhadap Lyra, bukan? Begitu bangga menjadi kakaknya," Pharma berbisik tepat di telinga Paul, suaranya seperti desisan ular. "Bayangkan wajahnya ketika dia menemukan detektif kebanggaannya ini berakhir sebagai tumpukan organ yang tidak berguna di lab ini. Aku akan memastikan dia melihat setiap detailnya."

Pharma menaikkan tekanan pisaunya. Paul bisa merasakan dinginnya logam itu mulai merobek lapisan kulitnya. Di saat maut benar-benar berada di ujung kerongkongannya, Pharma tiba-tiba berhenti sejenak.

Ia sedikit memiringkan kepalanya, seolah sedang mendengarkan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada rintihan Paul.

"Ah... kau dengar itu, Paul? Sepertinya kita kedatangan tamu yang tidak sabaran."

Tepat saat ujung pisau Pharma hampir merobek arteri Paul, sebuah suara keras terdengar dari arah pintu samping—pintu akses untuk petugas kebersihan. Seorang pria paruh baya dengan seragam petugas cleaning service berdiri di sana, membeku dengan ember dan alat pel di tangannya.

Matanya melotot ngeri melihat pemandangan di depannya: Loen yang bersimbah darah, dan Pharma yang sedang bersiap menyembelih Paul di lantai laboratorium.

"Ya Tuhan... Dokter Pharma?" suara petugas itu bergetar hebat. Alat pelnya jatuh ke lantai dengan suara BRAK yang menggema.

Pharma tidak terkejut. Ia hanya menghela napas panjang, menunjukkan raut wajah yang lebih ke arah "terganggu" daripada takut tertangkap. Ia perlahan menjauhkan pisau dari leher Paul, namun tetap menahan tubuh Paul dengan lututnya.

"Ah,petugas kebersihan?," ucap Pharma dengan nada suara yang kembali ramah secara mengerikan.

"Kau datang di waktu yang sangat tidak tepat. Bukankah jadwal pembersihan lantai ini baru mulai satu jam lagi?"

"Sa-saya... saya lupa kunci saya tertinggal di sini, Dok..." Petugas itu mulai mundur selangkah, tangannya meraba saku mencari ponsel. "Saya harus... saya harus memanggil bantuan. Ini... ini pembunuhan!"

Begitu petugas itu menarik ponselnya, Pharma bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Ia melepaskan Paul dan meluncur ke arah pria itu. Sebelum si petugas sempat menekan tombol darurat, Pharma sudah berada di depannya.

Scalpel kecil itu bergerak secepat kilat.

SRET.

Darah menyembur ke dinding koridor yang tadinya bersih. Si petugas kebersihan itu bahkan tidak sempat berteriak; ia hanya memegang lehernya yang robek sambil menatap Pharma dengan tatapan tidak percaya sebelum akhirnya ambruk ke lantai, tewas seketika di atas genangan air pelnya sendiri.

Pharma berdiri tegak di samping mayat itu, memutar-mutar pisau bedahnya yang kini merah sepenuhnya. Ia menoleh kembali ke arah Paul yang masih berusaha bangkit.

"Lihat apa yang kau lakukan, Paul?" tanya Pharma, nadanya terdengar kecewa seolah Paul-lah yang bersalah.

"Sekarang aku harus menambah daftar laporanku malam ini. Satu polisi, satu asisten, dan sekarang... satu saksi yang tidak beruntung."

Pharma kini benar-benar sudah melakukan pembunuhan di depan mata Paul. Ia tidak akan membiarkan Paul hidup lagi setelah ini.

1
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!