Alana Xaviera merasa seperti sosok yang terasing ketika pacarnya, Zergan Alexander, selalu terjebak dalam kesibukan pekerjaan.
Kecewa dan lapar akan perhatian, dia membuat keputusan nekad yang akan mengubah segalanya - menjadikan Zen Regantara, pria berusia tiga tahun lebih muda yang dia temui karena insiden tidak sengaja sebagai pacar cadangan.
"Jadi, statusku ini apa?" tanya Zen.
"Pacar cadangan." jawab Alana, tegas.
Awalnya semua berjalan normal, hingga ketika konflik antara hati dan pikiran Alana memuncak, dia harus membuat pilihan sulit.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 : TCB
Padahal hanya melakukannya sekali, tapi tubuhnya seperti di amuk massa. Untuk jalan ke kamar mandi pun susah, miliknya seperti terasa bengkak.
"Kuat nggak? Apa perlu kita pergi ke dokter dulu sebelum pulang?" tanya Zen. Padahal semalam dia sudah melakukannya selembut mungkin, tapi tetap saja Alana merasakan sakit.
"Tidak usah, nanti juga sembuh sendiri," tolak Alana seraya melangkahkan kakinya mendekat. Siang ini dia sudah rapi dan sudah siap untuk pulang.
Zen meraih tangan Alana, dia duduk di sofa dan membimbing Alana untuk duduk di pangkuannya. "Tapi kamu kelihatan kesakitan. Takutnya pendarahan, nanti malah aku yang jadi tersangka utamanya."
"Ini tidak separah itu, Zen." cibir Alana, kemudian dia menghela napas dan termenung. "Tiba-tiba aku merasa tegang dan sedikit takut."
"Aku juga tegang." sahut Zen dengan senyuman nakalnya "Bagaimana kalau kita kembali ke kamar. Biar aku yang cek milikmu, siapa tahu ada yang lecet."
Alana menahan bahu Zen sebelum pria itu sempat bergerak. "Modus. Bilang saja kamu pengen lagi."
Zen tertawa, merasa gemas melihat ekspresi Alana. Bagaimana tidak ketagihan, ini adalah pengalaman pertamanya dan semalam miliknya serasa dijepit kuat-kuat oleh milik Alana yang membuatnya merasa nikmat.
"Berhentilah dari pikiran mesummu itu, Zen. Ayo kita pulang sekarang, aku harus membeli gaun dan pergi ke salon dulu." ajak Alana.
Alana berdiri lebih dulu dengan diikuti oleh Zen. Sebenarnya mereka berniat pulang tadi pagi, tapi Zen harus mencuci dulu sprei bekas percintaan mereka yang ada bercak darah keperawanan Alana yang dia bobol semalam. Setelahnya Zen juga menelfon seorang pelayan yang biasa datang membersihkan villa itu seminggu sekali untuk datang, memintanya untuk menyiapkan makanan dan mengangkat jemuran setelah mereka pergi nanti.
-
-
-
Terangnya sinar matahari kini telah digantikan oleh kegelapan malam. Didalam gedung yang megah, cahaya lilin dan lampu hias terpasang di dinding serta atap ruangan. Cahaya lampu neon yang melayang-layang di atas kepala para tamu undangan menciptakan bayangan yang sangat indah, membuat suasana semakin terlihat romantis dengan suara musik instrumental yang terdengar lembut.
Mata para tamu terarah ke panggung yang dihiasi oleh bunga mawar merah dan putih. Mereka sudah tidak sabar menunggu acara untuk segera dimulai.
"Zergan, acara sudah mau dimulai. Kamu sudah coba telefon Alana? Kenapa tidak kamu jemput saja dia?" tanya Imelda dengan wajah yang mulai panik.
"Sebelum aku kesini Alana sudah menelfonku lebih dulu, dia memintaku untuk langsung datang kesini karena dia akan datang dengan seseorang katanya," suara Zergan tak kalah paniknya, sudah hampir jam delapan tapi Alana belum juga datang.
Amara dan David saling menatap. Sebenarnya semalam Amara sempat ingin menelfon Jihan karena putrinya tak kunjung pulang, dia khawatir Alana pergi dengan Zen. Namun Zergan lebih dulu menelfonnya dan memberinya kabar jika Alana sudah menghubungi Zergan lebih dulu dan mengatakan jika putrinya itu sedang ingin menenangkan diri hingga Amara mengurungkan niatnya untuk menelfon Jihan.
Zergan berjalan sedikit menjauh dan mencoba menghubungi nomor Alana, tapi kekasihnya itu tak kunjung mengangkat telefon darinya.
Suara pintu yang terbuka membuat semua mata yang ada disana menoleh, termasuk Zergan. Alana sudah berdiri di depan pintu dengan gaun merah panjang. Rambutnya yang terurai dan sedikit bergelombang membuat penampilannya terlihat anggun dan menawan.
Senyuman cerah tergambar diwajah Alana, matanya menyapu sekitar dan berhenti di Zergan yang kini sudah berdiri di atas panggung bersama dengan orang tua mereka. Zergan begitu terpukau melihat penampilan Alana malam ini, matanya sampai tidak berkedip memandangnya.
Langkah Zergan tertahan saat dia akan menghampiri Alana, melihat seorang pria mengenakan jaket kulit hitam dengan dalaman kaos berwarna putih tiba-tiba muncul dibelakang kekasihnya.
"Zen?" lirih Zergan, ingatannya masih cukup jelas untuk mengingat siapa pria yang sedang berdiri di belakang Alana sekarang.
Bukan hanya Zergan, Imelda dan Amara pun terkejut melihat Alana yang datang bersama dengan Zen, begitupun dengan Jihan yang sudah duduk bersama suami dan para tamu undangan lain. Matanya membulat sempurna dengan mulut sedikit terbuka.
"Astaga, anak itu benar-benar sudah tidak waras. Apa yang dia lakukan disini bersama dengan Alana? Jangan bilang dia mau terang-terangan menikung Alana didepan calon suami dan dua keluarga besar mereka."
Sementara itu, Alana mulai melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri, tatapannnya tertuju ke atas panggung dimana Zergan dan orang tua mereka sudah menunggunya. Dibelakangnya, Zen berjalan mengikuti seperti seorang bodyguard yang menjaga nona mudanya.
"Maaf aku sedikit terlambat," ucap Alana saat sudah berdiri di atas panggung, menghadap Zergan dan orang tua mereka.
Amara menatap Zen yang berdiri di belakang Alana, kemudian menatap pada Alana. "Alana, apa-apaan ini?!"
Alana menundukkan pandangannya dan tersenyum, mengangkat kelopak matanya kembali dengan tatapan tertuju pada Zergan.
"Maaf, aku kemarin lupa bilang padamu jika pria yang menjadi pacar cadanganku adalah Zen." ucap Alana yang membuat semua orang tercengang kaget.
"Dan aku sudah memutuskan, aku akan bertunangan denganmu tapi aku juga akan tetap mempertahankan Zen sebagai pacar cadanganku. Aku harap kamu tidak keberatan dengan itu." suara Alana tetap terdengar tenang dan lembut.
"Alana, kamu jangan gila!" gertak Zergan, rahangnya mengeras dan tatapannya menajam.
"Kenapa aku harus gila?" Alana menyunggingkan senyum tipis, "Kamu saja bisa menjalin hubungan denganku dan memiliki anak dari wanita lain, kenapa aku tidak." ujarnya dengan satu alis terangkat.
Kata-kata itu seperti petir yang menggelar disekitar Zergan. Semua orang yang mendengar pun merasa terkejut, mereka saling melempar pandangan.
"Alana, apa yang kamu bicarakan? Ini acara pertunangan kita, tolong jangan buat keributan, Sayang. Jangan buat semua orang salah paham dengan sesuatu yang belum tentu benar," suara Zergan terdengar pelan, menatap Alana dengan tatapan lembut.
"Aku sudah jujur padamu jika aku memiliki pacar cadangan dan bahkan aku sempat dihantui perasaan bersalah karenanya. Lalu, apa kamu masih tetap tidak mau jujur tentang rahasia besar yang kamu sembunyikan selama ini, Zergan?" tanya Alana.
"Sudah saatnya kamu mengakui keberadaan mereka. Mereka butuh pengakuanmu, Zergan!" imbuhnya menegaskan.
"Alana, ada apa ini sebenarnya, Nak? Apa yang sedang kamu bicarakan? Mereka, mereka itu siapa?" Antoni yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
Alana menutup matanya sebentar untuk sekedar menghela napas, dia harus bisa mengontrol emosinya. "Om, Tante, sebaiknya kalian tanyakan saja pada putra kalian tentang apa yang dia tutupi selama ini."
Tatapan Antoni beralih pada Zergan, "Zergan, sebenarnya ada apa ini? Rahasia? Kamu punya rahasia apa?"
"Aku tidak punya rahasia apapun, Pa!" potong Zergan cepat, napasnya mulai terdengar berat.
"Ini pasti gara-gara kamu. Kamu yang sudah mempengaruhi Alana!" Zergan menunjuk Zen dengan jari telunjuknya, menatapnya dengan tajam.
"Cukup, Zergan! Apa kamu masih mau ngelak?!" bentak Alana. "Sudah saatnya kamu jujur dan mengakui keberadaan mereka. Akui keberadaan anak kandung kamu!"
Suasana diruangan itu semakin menegang dengan usaha pengelakkan yang terus Zergan lakukan. Begitupun dengan para tamu undangan yang memilih untuk diam dan menyaksikan, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing tentang apa yang baru saja mereka dengar dari bibir Alana.
Kedua tangan Zergan mengepal kuat, dia melangkahkan kakinya cepat kearah Zen dan menarik kuat kerah jaketnya, memberikan bogem mentahnya diwajah Zen.
Buuggh...
"Pasti kamu yang sudah mempengaruhi Alana dan mengatakan yang tidak-tidak. Kamu ingin memfitnahku agar kamu bisa memiliki Alana seutuhnya kan?!" Zergan bersiap melayangkan pukulan kembali, namun Alana memegangi lengannya dengan kuat.
"Sudah! Cukup, Zergan! Ini bukan salah Zen." suara Alana terdengar panik.
Zen menyentuh ujung bibirnya dengan tangan, tersenyum kecut saat melihat sedikit darah dijari tangannya. Tangan Zergan yang masih tergenggam dijaketnya dia turunkan dengan gerakan kasar.
"Aku tidak perlu mempengaruhi apapun pada Alana, tapi aku membawa buktinya langsung." Zen menyunggingkan senyum. Tangan kirinya terangkat tinggi kesamping, menunjuk ke arah pintu yang terbuka lebar dengan tatapan masih tertuju pada Zergan yang berdiri tepat dihadapannya. "Lihat, siapa yang berdiri disana,"
Zergan terkesiap, matanya mengerjap cepat. Kepalanya menoleh kesamping secara perlahan, melihat Karina dan Kayla yang sudah berdiri didepan pintu bersama dengan seorang pria yang ditugaskan oleh Zen untuk menjemput mereka.
"Papa...!"
-
-
-
Bersambung....
s moga zergan tidak cari keberadaan zen
POV setan 😈"lanjutkan, jangan berhenti"
Emang ada yang kamu lewatkan gan degan alias zergan.yaitu tentang kemungkinan terkecil dari setiap kejadian.harusnya,kamu pastiin mayat nya zen.kalo blm lihat dengan mata,kepala,pundak dan kaki.jangan lgsg menyimpulkan Zen udah end.
Akhirnya aku peluk-pelukan
Tak sadar aku dirayu setan
Tak sadar aku ku kebablasan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran tidurnya berduaan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran suka gelap-gelapan
Dangdutann dulu gaes..Ben tambah semangat goyangnya 💃🤣
Kini jadi kenyataan
Pertemuan yang kudambakan
Ternyata bukan khayalan
Sakit karena perpisahan
Kini telah terobati
Kebahagiaan yang hilang
Kini kembali lagi...nyanyi sek Ben nggak oleng wkwkwkwk
Di episode ini aku hawatir sama Karina well.serius, zergan kek psikopat.halalin semua cara buat dapetin keinginannya.