Kenneth memutuskan untuk mengasuh Keyra ketika gadis kecil itu ditinggal wafat ayahnya.
Seiring waktu, Keyra pun tumbuh dewasa, kebersamaannya dengan Kenneth ternyata memiliki arti yang special bagi Keyra dewasa.
Kenneth sang duda mapan itupun menyayangi Keyra dengan sepenuh hatinya.
Yuk simak perjalanan romantis mereka🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuKa Fortuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29. Susu Mix Eskrim Lezat
29
Rafael terduduk diam di balik kemudi mobilnya. Mesin sudah sempat nyala, namun ia matikan kembali, dan ia belum juga berniat menyalakannya kembali. Pandangannya kosong menembus kaca depan, seolah kampus yang tadi ramai kini tinggal bayangan yang perlahan memudar.
Ia mengingat langkah Keyra yang menjauh, ringan, terburu, dan penuh tujuan. Bukan ke arahnya. Melainkan ke arah pria lain.
Bukan sekali itu terjadi. Namun entah mengapa, hari ini terasa lebih berat.
Rafael menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Ada rasa pilu yang tidak meledak, tidak pula dramatis. Hanya mengendap, menekan dada dengan cara yang sunyi.
Ia tahu Ken akan selalu menjadi alasan.
Dan ia tahu, Keyra tidak pernah benar-benar ragu.
Bukan karena Keyra kejam. Justru karena Keyra jujur pada perasaannya dan kejujuran itu yang paling sulit diterima. Rafael menggenggam setir, jemarinya menguat sebentar, lalu melemah kembali.
“Aku udah berusaha,” gumamnya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Berusaha menjadi semuanya yang aku bisa. Tapi aku tetap kalah."
Ia teringat semua perannya, sahabat, pendengar, penjaga, semuanya. Ia ada di saat Keyra sakit, di saat rindu itu menumpuk tanpa tujuan. Namun ketika Ken kembali, semua itu seakan menemukan pemiliknya yang sah.
Rafael tersenyum tipis, senyum yang pahit namun pasrah.
Ia tidak marah.
Ia hanya lelah berharap.
Setelah beberapa menit yang terasa jauh lebih lama dari seharusnya, Rafael menyalakan mesin. Namun belum meninggalkan parkiran, seakan tak rela meninggalkan satu perasaan yang belum selesai, dan satu nama yang akan selalu ia simpan dengan hati-hati.
Rafael masih menatap lurus ke depan ketika tiba-tiba satu sosok gadis cantik muncul. Rayya.
“Raf?”
Suara itu membuatnya tersentak ringan. Ia menoleh dan mendapati Rayya berdiri di sana, raut wajahnya penuh perhatian. Gadis itu tidak langsung masuk, seolah memberi Rafael pilihan untuk menolak. Namun Rafael lalu mematikan mesin, tidak membukakan pintu, hanya menggeser tubuhnya sedikit, isyarat diam-diam agar Rayya duduk.
“Kirain kamu udah pulang?” tanya Rayya pelan setelah pintu tertutup.
Rafael menggeleng. “Belum.” jawabnha singkat.
Rayya memperhatikannya sejenak. Ia mengenal ekspresi itu, wajah yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang baik-baik saja. Tatapan Rafael redup, bahunya sedikit turun, seolah menahan beban yang tak ingin ia ceritakan.
“Kamu kelihatan capek,” kata Rayya lembut.
Rafael tersenyum tipis. “Mungkin.”
Keheningan kembali turun. Rayya tidak memaksa dengan pertanyaan. Ia hanya duduk di sana, menemaninya dalam diam, sesuatu yang jarang dilakukan orang, dan justru itulah yang membuatnya berarti.
Perlahan, Rayya mengangkat tangannya. Ragu-ragu, namun penuh niat. Ujung jarinya menyentuh punggung tangan Rafael yang masih bertumpu di setir.
Sentuhan itu ringan. Hangat.
Rafael menoleh, sedikit terkejut. Namun ia tidak menarik tangannya. Untuk sesaat, ia hanya menatap Rayya, melihat ketulusan di mata gadis itu, keberanian kecil yang tidak disertai tuntutan apa pun.
“Aku cuma…” Rayya menarik napas kecil. “Aku nggak suka lihat kamu seperti ini.”
Rafael menelan ludah. Ada sesuatu yang mengendur di dadanya, bukan karena perasaan besar, tapi karena akhirnya ada seseorang yang memilih untuk tinggal, tanpa perlu dibandingkan.
“Terima kasih, Ray.” ucapnya lirih.
Rayya tersenyum. Ia tidak menggenggam lebih erat, tidak mendekat berlebihan. Ia hanya membiarkan tangannya tetap di sana, cukup untuk mengingatkan Rafael bahwa ia tidak sendirian.
Di dalam mobil yang hening itu, lamunan Rafael perlahan buyar. Bukan karena luka itu hilang, melainkan karena ada kehadiran yang bersedia menunggu, bahkan ketika hatinya masih belum sepenuhnya pulih.
Di keheningan itu, mungkin tidak terlalu salah jika Rafael mulai terbawa suasana. Jujur saja, ia mulai terfikirkan untuk melupakan Keyra, setidaknya perasaannya, bukan individunya.
Perlahan namun pasti, perasaan itu menyiksanya dalam diam.
Ia sudah mulai lelah.
"Raf..." Rayya memanggil pelan ketika Rafael tiba-tiba meraih tengkuknya.
Tentu saja Rayya gugup. Sebelumnya, ia tidak pernah melihat ada nyala api dalam tatapan Rafael. Tepatnya api asmara, atau mungkin hanya gairah.
Rayya hanya diam dan menunggu. Lalu menikmati dalam diam ketika bibirnya dilumat oleh Rafael, kekasihnya yang selama ini seolah tak menganggap keberadaannya.
**
"Uff...." Keyra meringis, tapi kemudian terkekeh.
"Sweetheart, dingin ya?" Ken terdengar khawatir.
Pria itu menghentikan kegiatannya mengoles eskrim pada salah satu aset kembar milik gadisnya.
"Gak apa-apa kok, Om. Aku cuma kaget sedikit." sanggah Keyra sambil melempar tatapan sendunya.
Ken meletakkan cup eskrim di dashboard, kemudian menunduk di depan dada Keyra yang basah dan menggoda. Bukan dengan gerakan pelan, ia terlihat begitu rakus saat menyantap eskrim di gundukan kenyal milik gadisnya.
"Aahhh..." Keyra mendesah cukup keras, tangannya mencengkeram rambut Ken.
"Sluurpp... Sluurpp...." suara yang diciptakan Ken terdengar nyaring, tak ubahnya seseorang yang baru menemukan oase di tengah gurun pasir.
Keyra tak bisa berkata-kata. Kenikmatan yang Ken berikan sungguh membuat dirinya mabuk kepayang.
Ia tidak begitu pasif, sebagai respon bahwa ia begitu menikmati, Keyra mengusap-usap punggung dan tengkuk Ken dengan lembut dan sesekali meremas pelan.
Ken sangat menyukai kegiatan itu. Terlebih ketika mendengar desahan gadisnya yang begitu syahdu. Mendorongnya untuk melakukan hal yang lebih. Apalagi ia merasakan tonggak gagah miliknya mulai menonjol di balik celana bahan yang ia kenakan.
"Stop, Ken. Setidaknya jangan disini..." Sebuah suara seolah membisik di telinga Ken. Meski sebenarnya itu adalah suara hatinya sendiri.
Ia mengangkat wajahnya dari dada gadisnya yang bersandar pasrah pada pintu mobil. Kedua gunung milik Keyra basah oleh ludah Ken. Terlihat lembab dan glowing dan makin menggairahkan bagi Ken.
Kadang, ia masih tak menyangka ia bisa bertindak demikian pada gadisnya. Hal yang selama ini selalu berusaha ia tahan meski ia sangat menginginkannya.
Keyra perlahan membuka mata di sisa-sisa kenikmatan yang membuat darahnya berdesir-desir. Ken merapikan kembali pakaian Keyra. Mengancingkan bajunya. Menghentikan kegiatan yang seharusnya sedang menuju puncak.
Senyuman Ken terbit, membuat Keyra tak jadi mengeluh.
"Kita masih di luar, lebih tepatnya di pinggir jalan." Ucap Ken membuat Keyra terkekeh geli.
"Makasih ya, Om. Om selalu buat aku bahagia." ucap Keyra jujur sambil mengusap pipi Ken dengan penuh rasa syukur.
Ken mendekat, lalu mengecup kening Keyra.
"Kuliah dulu yang bener ya. Om akan menunggu dan tidak akan kemana-mana." Ucap Ken kemudian. Sebuah janji tulus yang benar-benar terpatri dalam hati.
Seluruh hidupnya hanya akan ia dedikasikan untuk Keyra. Untuk Keyra saja.
"Om...." Panggil Keyra pelan, mirip bisikan.
"Ada apa sweetheart?" Tanya Ken.
Keyra tak menjawab, namun tatapannya tepat mengarah pada bagian bawah tubuh Ken.
"Oops... Sorry." Ken jadi salah tingkah, menggeser duduknya dan mengarahkan tubuhnya ke depan. Meski towernya yang masih mengacung tetap terlihat jelas oleh Keyra.
"Boleh... Aku lihat nggak, Om?" pinta Keyra malu-malu.
.
YuKa/ 211225
yuk lah gass ke penghulu