Amira wanita cantik itu, menatap suaminya dengan perasaan yang sulit di artikan. bagaimana tidak, dua tahun yang lalu, dia melepaskan kepergian Andika untuk bekerja ke kota, dengan harapan perekonomian rumah tangga mereka akan lebih mapan, keluar dari kemiskinan. tapi harapan itu hanyalah angan-angan kosong. suami yang begitu di cintanya, suami yang setiap malam selalu di ucapkan dalam sujudnya, telah mengkhianatinya, menusuknya tanpa berdarah. bagaimana Amira menghadapi pengkhianatan suaminya dengan seorang wanita yang tak lain adalah anak dari bos dimana tempat Andika bekerja? ikuti yuk lika-liku kehidupan Amira beserta buah hatinya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Baim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
POV Andika..
Di samping ku, Yanto masih betah duduk menemaniku.
"Yang sabar. Anggap saja ini ujian rumah tangga kalian. Sampai kapan kalian mampu menghadapi ujian ini. Hadapi semua dengan penuh keyakinan. Insya Allah, Allah akan merestui kalian. Kalian punya cinta, itu sudah lebih dari pada cukup untuk mempertahankan rumah tangga kalian. Berdo'a saja, semoga Ibu mu berubah, dan bisa menerima istri mu."Ucap Yanto, dapat menenangkan hati ku, walau sedikit.
"Ayo, kita keluar cari angin. Otak kamu perlu penyegaran. Jangan terus dipikirin santai saja. Kalau jodoh takkan kemana-mana. Dia akan tetap menjadi istri mu. Walau dunia menentangnya.."Lanjut Yanto.
Tangannya menepuk pundak ku perlahan. Lalu dia bangkit dari lantai.Kedua bola mata ku mengikuti pergerakan Yanto. Hingga pria itu menghilang di balik pintu kamar.
Benar juga kata Yanto. Kalau memang Amira jodoh ku, kami akan tetap menjadi suami istri. Walau Ibu menentangnya. Asal kan kami tidak durhaka padanya, Insya Allah, Allah akan merestui hubungan kami.
Dan aku juga harus menyegarkan pikiran ku. Kalau terus-terusan memikirkan Ibu dan pernikahan ku. Bisa setres aku lama-lama. Aku berdiri dari lantai. Bersiap-siap keluar bersama Yanto.
......................
Amira sampai di tempat kos-nya, berpapasan dengan suara adzan dari Masjid.
"Assalamu'alaikum."Salamnya saat dia berdiri di depan pintu kos Hesti.
"Calam.../ Wa'alaikumssalam."Hesti dan Alif menjawab salam Amira berbarengan.
"Ibu..."Alif berlari dengan langkah kecilnya, menghampiri Ibunya. Seharian tidak bertemu Ibunya, bocah itu, merasa rindu akan sosok sang Ibu. Tawa kecilnya, membuat Amira sedikit terhibur.
"Anak Soleh nya Ibu, udah pintar jawab salam ibu."
Amira, menghadiahkan beberapa kecupan kecil di wajah putranya. Tawa lucu Alif, tedengar di dalam kos-nya Hesti. Rasa lelahnya, beban berat yang dipikulnya seharian ini, terbayar lunas dengan tawa anaknya. Anak yang selalu menjadi penyemangatnya, anak yang menjadi penghiburannya, di saat-saat seperti sekarang ini.
Hesti yang melihat pemandangan itu, tersenyum bahagia.
"Anak pintar Ibu nggak nakal kan?"Tanya Amira, menghentikan kegiatannya.
"Nda, Aif pintal.."Jawabannya, dengan wajah polos. Tangannya di lambai, bersamaan dengan gelengan kepalanya.
Karena masih terdengar suara adzan, Amira dan Hesti cuma bisa tertawa sangat pelan.
"Makasih ya Hes...udah mau jagain Alif seharian ini."Amira berterima kasih pada sahabatnya itu.
"Nggak usah berterima kasih, kayak dengan siapa aja. Aku malah seneng kok, seharian bersama Alif. Anaknya juga enteng. Iya kan sayang?"
"Iya.."Anggukkan kepala dari Alif.
Amira dan Hesti kembali tertawa pelan. Tapi tidak dengan Alif. Bocah dua tahun itu, tertawa sangat kencang. Buru-buru Amira menutup mulut Alif dengan telapak tangannya.
"Husss..tertawanya jangan kencang-kencang sayang, tuh denger ada lagi adzan. Nggak boleh ya?"
Alif menganggukkan kepalanya, seperti mengerti dengan ucapan sang Ibu.
......................
Selesai Sholat Isya dan makan malam, Amira kini sedang duduk di dalam kos-nya bersama Hesti. Alif sudah terlelap di kamar. Keduanya bersandar pada dinding. Menikmati siaran TV, yang suaranya sengaja dikecilkan.
"Sekarang jelaskan, kenapa kamu harus mampir ke rumah Ibu mertua mu. Bukan aku mau mencampuri urusan rumah tangga kamu, tapi aku juga gondok dengan Ibu mertua mu itu. Apa yang terjadi di sana Mir?"
Amira menoleh pada Hesti. Menatap sahabatnya itu sebentar saja. Lalu kembali fokusnya pada layar TV yang menampilkan siaran film animasi kembaran punya tetangga.
"Amira, kamu denger sih, kalau aku nanya?"Hesti sedikit jengkel dengan Amira. Dirinya seperti di acuhkan.
Amira menoleh. Raut wajahnya terlihat sedikit kesal.
"Kamu kenapa sih? Aku denger kok, kamu pikir aku tuli apa, jangan kenceng-kenceng suaranya nanti Alif bangun."
Pandangannya kembali pada layar TV.
"Makanya cerita."Dua jari Hesti, menjepit pinggang Amira.
"Mau cerita apa? Aku males Hes, ngomongin Ibu. Kayaknya aku harus jadi menantu jahat aja. Males baik-baik sama mertua, tapi nggak pernah di hargai. Terus di musuhi, di benci, nggak di restui sampai saat ini."Ujar Amira, tanpa berpaling dari layar TV.
Hesti menatap Amira dari samping. Kedua alisnya saling bertaut. Tanda dia tidak mengerti dengan maksud ucapan Amira.
"Amira.."
"Aku tuh capek. Dari ujung rambut sampai kaki. Dari luar sampai dalam, dari tubuh sampai hati, semuanya capek, lelah. Kayaknya aku sudah nggak sanggup lagi bertahan. Aku juga ingin bahagia. Bersama suami dan anak. Tapi kayaknya cuma hayalan. Sampai mati pun nggak akan menjadi kenyataan."
Hesti mendengar penuturan Amira. wanita yang hampir putus asa itu, tangannya terangkat menyeka pipinya. Punggung dan kepalanya menempel pada dinding. Tapi matanya masih tertuju pada acar TV.
"Kamu tau Hes...tadi di rumah Ibu, aku panggil Pak RT dan beberapa tetangga yang sedang ngobrol di warungnya Bu Endah, termasuk Bu Sinta untuk datang ke rumah Ibu."
Amira berhenti. Hesti juga tidak ingin mengganggu sahabatnya itu. Dia diam, menunggu Amira melanjutkan ucapannya.
"Aku panggil mereka untuk menjadi saksi atas kata talak dari Mas Dika."
Hening sejenak.
"Ibu, ingin Mas Dika menceraikan aku. Dan kamu tau Hes..."
Amira diam.
"Ibu ingin kembali menjodohkan Mas Dika dengan anak sahabatnya, yang dulu di tolak Mas Dika, karena Mas Dika lebih memilih aku menjadi istrinya."
"Perempuan itu sekarang sudah janda Hes..janda."Dari samping, Hesti bisa melihat ada sebuah senyum getir di bibir Amira. Tapi tidak ada air mata. Amira berusaha tegar.
"Ibu ingin aku menjadi janda, lalu mau menikahkan anaknya dengan seorang janda. Malang sekali nasibnya Mas Dika ya Hes?"
Amira tertawa. Hatinya benar-benar perih.
"Tega benar Ibu mertua kamu itu. Bisa-bisanya dia minta anaknya menceraikan isterinya. Mau menikahkan anaknya, dengan janda pula, benar-benar ya."Geram Hesti.
Amira langsung menoleh menatap Hesti. "Aku nanya sama kamu Hes."katanya sambil memutar badan menghadap Hesti.
"Hesti..menurut mu, aku sama Alif layak bahagia nggak?"
Hesti mengerutkan keningnya. Pertanyaan Amira dianggap aneh.
"Layak lah. Kata siapa kalian nggak layak bahagia. Semua orang berkeinginan bahagia. Kalau ada orang yang nggak ingin kita bahagia, orang itu memang nggak suka sama kita."
"Benar sekali kata mu Hes, Ibu memang sangat benci sama aku. Makanya dia nggak mau lihat aku sama anak ku bahagia."
"Amira, jawab pertanyaan ku. Apa suami mu udah ceraikan kamu?"
Amira menggelengkan kepalanya. "Mas Dika nggak mau cerai. Dan itu membuat Ibu murka."
"Mir..apa selama pernikahan kalian, suami mu memperlakukan kamu dengan buruk?"
"Nggak pernah..dia bahkan nggak pernah berkata kasar pada ku. Dia baik banget Hes, sangat mencintai aku, sangat perhatian. Kalau dia melihat aku di marahi Ibu, dia selalu membela aku, tanpa menghilangkan rasa hormatnya pada Ibu. Dia sosok suami, seorang anak, seorang Ayah yang sangat sempurna bagiku Hes..tapi sayang, walau punya suami yang sempurna seperti Mas Dika, itu nggak membuat hidupku bahagia Hes. Aku selalu tertekan. Setiap hari, bahkan setiap saat. Walau ada Mas Dika di samping ku, aku nggak merasa hidup ku bahagia. Kamu tau kenapa?"
Bersambung.....
Jd gmes bcanya bkin emosi
Thor jgn bkin amira jd org bego. Toh itu cm mertua bkn ibu kndungnya