Arshaka Beyazid Aksara, pemuda taat agama yang harus merelakan hatinya melepas Ning Nadheera Adzillatul Ilma, cinta pertamanya, calon istrinya, putri pimpinan pondok pesantren tempat ia menimba ilmu. Mengikhlaskan hati untuk menerima takdir yang digariskan olehNya. Berkali-kali merestock kesabaran yang luar biasa untuk mendidik Sandra, istri nakalnya tersebut yang kerap kali meminta cerai.
Prinsipnya yang berdiri tegak bahwa pernikahan adalah hal yang sakral, sekeras Sandra meminta cerai, sekeras dia mempertahankan pernikahannya.
Namun bagaimana jika Sandra sengaja menyeleweng dengan lelaki lain hanya untuk bercerai dengan Arshaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Flou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Silakan Pulang ke Rumah Orang Tuamu, Sandra
Tidak ingin mencari keributan di sana, Arshaka meraih tas Sandra di pundak Regan. Kemudian tanpa satu kata pun terucap dari bibirnya, ia menarik istrinya untuk keluar dari sana.
“Hei berengsek! Lepas! Di mana-mana kamu selalu ngatur aku, muak tau nggak sih!” teriak Sandra memberontak, berusaha melepaskan cekalan tangan Arshaka di pergelangan tangannya.
Semakin Sandra memberontak, semakin kuat Arshaka mencengkeram tangan Sandra sampai-sampai urat di punggung tangannya mencuat. “Berengsek! Lepasin gue, sialan!” maki Sandra.
Arshaka tidak mempedulikan caci maki Sandra untuknya. Ia tidak ingin terpancing emosi lebih dalam yang justru akan membuat Sandra terlihat semakin murahan. Apalagi saat ini atensi para pengunjung sangat menghujam keduanya.
Sementara Regan mengedikkan bahunya acuh. Pada awalnya dia tidak tahu jika yang datang adalah suami Sandra. Namun, setelah melihat sorot mata Arshaka saat Sandra menghinanya, ia bisa langsung menebak.
“Masuk!’ Arshaka membukakan pintu mobil.
“Nggak mau!” bentak Sandra menyentak tangan Arshaka. Cekalan tangan terlepas, Sandra ingin kabur tetapi Arshaka lebih dulu menangkapnya dan langsung membawa paksa Sandra masuk ke dalam mobil. “Kenapa selalu bertindak melewati batasan aku?!”
“Tidak ada batasan dalam hubungan suami istri!” Arshaka memutar setir saat mobil mulai melaju menjauh dari bar.
“Argh! Brengsek!” Sandra menendang jok kemudi yang Arshaka duduki dengan keras hingga Arshaka tersentak ke depan dan nyaris saja dia oleng jika saja ia tidak cepat mengendalikan stir dan gas mobil.
“Suami istri suami istri! Fucking trush! Tinggal ceraikan gue apa susahnya sih, hah?! Udah miskin kamu sampe nggak bisa ngurus perceraian? Mau aku yang ngurus ha?!”
“Jangan bertindak melebihi batas kesabaran saya, Sandra!” Kepala Arshaka benar-benar berisik dan penuh asap. Berperang antara hati dan pikiran untuk tidak bertindak kasar pada Sandra yang semakin lama semakin kelewatan.
“Kamu pikir aku peduli?!” Apapun yang terjadi, Sandra tetaplah Sandra. Ia mempertahankan kemerdekaan dirinya. Hidup tanpa aturan seperti di negara luar sana.
Arshaka semakin menambahkan kecepatan mobil, kepalanya benar-benar sakit menghadapi tingkah Sandra yang sangat menguji kesabaran. Sesak napas, dadanya kembang kempis, wajahnya yang bersembunyi di balik masker semakin merah padam. Arshaka gemetar menahan luapan emosi yang ingin meledak.
Sejenak ia memejamkan mata saat lampu merah menyala. Ia mengingat bagaimana ia mencoba membangun rumah tangga ini dengan sisa-sisa harga diri yang ia miliki. Arshaka memberikan perhatian, kesabaran, bahkan membiarkan dirinya dihina asalkan Sandra tetap berada dalam jangkauan perlindungannya. Namun, bagi Sandra, perlindungan itu adalah penjara.
Sampai di basement, Arshaka langsung membawa Sandra keluar. Sandra langsung mencoba membuka pintu ketika Arshaka mematikan mesin. Namun Arshaka lebih cepat mengunci sistem kendali pintu dari sisi pengemudi.
"Buka! Kamu mau apa lagi, hah?!" Sandra berteriak, suaranya menggema di ruang kabin yang sempit.
Arshaka menoleh. "Kita perlu bicara sebagai suami istri, di atas. Bukan di tempat sampah seperti tadi."
"Tempat sampah? Kamu yang sampah!" Sandra meludahi kata-kata itu tepat di depan wajah Arshaka.
Arshaka tidak membalas. Ia turun, memutari mobil, dan membuka pintu sisi Sandra. Dengan gerakan cepat, ia menarik lengan Sandra. Wanita itu memberontak hebat, sepatu hak tingginya berbunyi nyaring menyeret lantai beton. Arshaka tetap diam, menyeret beban berat di hatinya sekaligus tubuh istrinya menuju lift. Di dalam lift yang bergerak naik, Sandra terus memukuli bahu Arshaka, namun pria itu berdiri kokoh seperti karang, meski di dalamnya ia sedang hancur berkeping-keping.
“Lepasin!”
Dia kunci pintu apartemen, detik itu juga satu bogeman telak mendarat di dadanya. Sandra tampak sangat emosional, wajahnya merah sempurna, urat-urat kemarahan tampak jelas di sana. “Kamu maunya apa sih?!”
“Siapa saja yang berani menamparmu, hum? Katakan pada saya.” Arshaka bertanya dengan suara serak. Logika dan hatinya sangat tidak sinkron. Di satu sisi ia ingin mengamuk pada siapa pun yang menyentuh istrinya, di sisi lain ia sadar bahwa istrinya sendirilah yang mengundang luka itu.
Kecamuk itu begitu sulit untuk ia kuasai sampai-sampai Arshaka ingin menangis sendiri. “Katakan Sandra, katakan siapa yang berani menyakitimu?”
“Kamu! Kamu yang nyakitin aku! Kamu yang bikin aku tersiksa. Kamu yang bikin aku sakit sampe akhirnya aku dijauhi temen-temen dan itu semua karena kamu!” Sampai akhirnya Sandra pun menangis. Ia meluruh ke lantai, menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya dan menangis sesegukan.
Hitam mata Arshaka lantas memanas, dadanya sesak melihat Sandra terluka seperti ini. Ia menekuk kaki, turut meluruhkan tubuh di lantai dengan tubuh gemetar kecil.
Tatkala Arshaka mendekat guna mendekap Sandra, gadis itu mengangkat kepala dan mendorong kuat Arshaka dengan penuh emosi. “Pergi! Jangan deket deket!” teriak Sandra penuh letupan emosi.
Arshaka, yang tubuhnya memang sudah lemah karena kelelahan fisik dan batin, kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung ke belakang, pinggangnya menghantam sudut tajam meja marmer di ruang tamu. Di atas meja itu, sebuah guci keramik kecil—hasil lelang yang diperjuangkan Arvhi untuknya—tergoyang dan jatuh.
Prang!
Guci itu pecah menjadi ribuan serpihan tajam. Salah satu pecahannya menggores telapak tangan Arshaka saat ia mencoba menahan tubuhnya agar tidak jatuh sepenuhnya. Darah segar mulai merembes, namun rasa perih di tangannya tak sebanding dengan rasa hancur di dadanya.
Sandra terdiam sejenak melihat darah itu, namun egonya segera menutup rasa simpati yang sempat muncul. Ia kembali memalingkan wajah.
Arshaka melihat telapak tangannya yang terluka, lalu menatap serpihan guci di lantai. Ia melihat bayangan dirinya di sana—tercerai-berai, tak bernilai. Dengan sisa kekuatan yang ada, ia berdiri, membelakangi Sandra agar wanita itu tidak melihat air mata yang akhirnya jatuh membasahi maskernya.
“Pulang, Sandra. Pulang. Silakan pulang ke rumah orang tuamu, tenangkan dirimu tapi jangan harap saya menceraikanmu!”
Ini novel pertama saya, semoga kalian suka ya. Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, Sayangku🥰