“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 8
“Miranda!!!!” Suara melengking Ibu Rina menggelegar di pagi hari yang masih pucat.
Rina marah besar. Jam enam pagi, meja makan kosong tanpa makanan seperti biasanya. Piring dan gelas bekas semalam masih menumpuk di wastafel, tidak tersentuh. Tidak ada aroma nasi yang mengepul, tidak ada suara penggorengan, bahkan dengung mesin cuci yang biasanya berputar sejak subuh pun tak terdengar.
“Miranda!!!” teriaknya lagi, lebih keras dari sebelumnya. Namun rumah tetap sunyi. Tidak ada langkah tergesa, tidak ada jawaban patuh seperti hari-hari lalu.
Rina melangkah cepat ke pintu kamar Raka dengan napas memburu.
“Brak!”
“Brak!”
Pintu kamar Raka digedor bertubi-tubi hingga bergetar keras. Suaranya memantul ke seluruh sudut rumah yang masih tenggelam dalam kantuk.
Di dalam kamar, Raka terbangun dengan mata mengerjap bingung. Ia mengusap wajahnya, mencoba mengumpulkan kesadaran. Dengan langkah gontai ia berjalan ke pintu lalu membukanya.
“Mana Miranda?” hardik Rina tanpa basa-basi.
Raka menggosok matanya dengan punggung tangan lalu menguap panjang.
“Ibu lupa, ya?” ucapnya dengan suara datar.
“Apanya yang lupa?” tanya Rina ketus.
“Miranda sudah aku ceraikan,” jawab Raka pelan, namun jelas. “Dan ibu sendiri yang mengusirnya.”
Rina tertegun. Untuk beberapa detik ia hanya diam. Kebiasaannya memaki Miranda setiap pagi seolah telah menjadi rutinitas yang mendarah daging. Selalu ada alasan untuk marah, selalu ada kesalahan kecil yang dibesar-besarkan. Namun pagi ini tidak ada sosok yang bisa disalahkan.
Rina menarik napas berat.
“Ya sudah, kamu mandi sana. Ibu buatkan sarapan dulu,” katanya berusaha menutupi kegelisahan.
Raka mengangguk lalu masuk kembali ke kamarnya. Ia langsung menuju kamar mandi dengan langkah malas, masih setengah mengantuk.
Begitu membuka keran, ia tertegun. Air hangat yang biasa tersedia tidak ada. Tangannya refleks hampir memanggil Miranda.
Ia menghela napas panjang. “Dia sudah tidak ada,” gumamnya pelan. Tetapi entah mengapa perasaannya seperti Miranda masih berada di dekatnya, seolah kebiasaan sepuluh tahun tidak bisa hilang hanya dalam semalam.
Raka mandi dengan cepat. Setelah selesai, ia kembali hampir berteriak karena lupa membawa handuk.
“Sial, hanya karena handuk kenapa aku mengingat Miranda,” geramnya kesal.
Ia keluar tanpa sehelai pakaian mencari handuk, tetapi tidak juga ketemu. Matanya menyapu sekeliling kamar yang terasa asing. Akhirnya ada selimut di kursi yang ia pakai untuk mengeringkan badan.
“Miranda, mana bajuku?” Tanpa sadar kalimat itu meluncur begitu saja.
Raka menjenggut rambutnya sendiri. “Sial… Miranda, Miranda terus.”
Ia terpaksa memakai celana dalam kemarin karena tidak menemukan yang baru. Mulutnya kembali merutuki keadaan yang mendadak terasa merepotkan.
Raka melangkah ke lemari mencari baju seragam. Bagian atas diacak, isinya dilempar ke kasur. Bagian tengah dibongkar, tetap tidak ketemu. Napasnya mulai naik.
“Miranda, gimana sih kamu, di mana baju seragamku!” geramnya tanpa sadar.
Lalu matanya menangkap sesuatu di meja rias. Ternyata baju seragam sudah disediakan rapi, lengkap dengan celana dalam baru yang terlipat bersih.
Raka menghela napas panjang. Sejak tadi semua ada di dekatnya, tetapi kebiasaan dilayani Miranda membuatnya seperti orang bodoh yang kehilangan arah.
Ia duduk di tepi kasur dan mulai memakai celana serta baju seragam kerja. Pandangannya lalu jatuh ke arah kasur.
“Ah, kenapa berantakan sekali,” ucapnya pelan.
Celana dan baju berserakan di kasur dan lantai. Biasanya semua sudah rapi tanpa ia pikirkan. Dulu ia bahkan tidak pernah menyadari kapan Miranda membereskan semuanya.
Raka berkaca. Penampilannya sudah terlihat rapi, tetapi kepalanya terasa kacau, seperti ada bagian hidupnya yang mendadak hilang.
Ia keluar kamar dan melangkah ke dapur.
Dari arah sana terdengar benturan piring menimbulkan suara nyaring.
“Punya anak perempuan tidak ada yang bisa diandalkan,” gerutu Rina sambil membilas gelas dengan kasar.
Raka tertegun. Sepuluh tahun rumah ini tidak pernah sekacau ini. Miranda mencuci piring, mencuci baju, memasak, dan membereskan rumah dengan senyap. Semua berjalan seperti napas, tidak terlihat tetapi terasa.
Tidak pernah ada benturan piring sekeras ini.
“Prang!”
Sebuah gelas jatuh dan pecah di lantai. Pecahannya berserakan seperti menggambarkan suasana hati Rina.
“Segala pecah lagi. Sudah tua ingin hidup senang malah capek terus,” keluhnya.
Melihat itu Raka meradang. Ia melangkah cepat ke kamar Lela.
“Brak!”
“Brak!”
Raka menggedor kamar Lela dengan kasar.
“Lela, bangun lu!!!!!” teriaknya penuh emosi.
Karena tidak kunjung ada jawaban, Raka kembali menggedor hingga pintu bergetar.
Akhirnya pintu terbuka. Lela masih memakai baju tidur, matanya sepet penuh kantuk, rambutnya berantakan.
“Sudah siang masih tidur! Cepat bantuin ibu di dapur!” nada Raka meninggi.
Lela tampak kesal. Mukanya merengut.
“Emang Miranda ke mana, ha? Malas sekali dia, jam segini malah nggak ada.”
“Miranda, Miranda terus, ha!” bentak Raka.
“Kamu dan ibu paling ngotot agar Miranda keluar. Sekarang dia nggak ada, malah enak tiduran!”
Lela tampak marah.
“Ya sudah, kan biasanya juga ibu yang ngerjain masak dan bersih-bersih. Gue nggak bisa!”
Raka mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. Dadanya naik turun menahan emosi.
“Oke, kalau lu nggak mau bantuin ibu, gue akan bilang ke suami lu buat ngirimin uang, dan gue nggak akan ngasih jatah bulanan lagi.”
Lela terlonjak panik. Wajahnya langsung berubah.
“Jangan!” ucapnya cepat.
“Jangan ganggu Mas Rudi… dan jangan potong jatah bulanan gue.”
Lela masuk lagi ke kamar dengan langkah kesal.
“Ngapain masuk lagi lu! Bukannya ke dapur?” bentak Raka.
“Gue mau ganti baju, masa pakai daster!” jawab Lela tanpa menoleh.
Raka menghela napas lalu melangkah ke kamar Lusi dan menggedor pintunya.
“Lusi!!!!” teriak Raka.
Yang keluar justru Pak Budi dari kamar sebelah dengan wajah masih mengantuk.
“Nyari siapa kamu, Raka?” tanya Pak Budi.
“Lusi, Pak. Dia harus bangun bantuin ibu.”
Pak Budi melihat Raka dengan tatapan malas, seperti sedang menyaksikan lelucon pahit.
“Ternyata baru semalam tanpa Miranda kita sudah pikun, ya,” ucapnya pelan.
Raka menatap heran.
“Lusi kan semalam izin nginap di kontrakan Lina,” jelas Pak Budi.
Raka menghela napas panjang. Padahal semalam ia sendiri yang mengantar Lina bersama Lusi. Kepalanya benar-benar kacau.
Ia kembali ke kamar mencari ponsel. Kamar kembali diacak-acak, padahal ponsel ada di nakas samping ranjang.
Raka merasa kerepotan tanpa Miranda. Biasanya ia tak pernah memikirkan hal sepele, tetapi pagi ini semua terasa seperti pekerjaan berat.
Ia melihat ponselnya dalam keadaan mati.
“Sial, kenapa mati sih,” gumamnya kesal.
“Padahal setiap pagi ponselku selalu penuh.”
Ia baru ingat bahwa Miranda selalu mengisi daya ponselnya setiap malam tanpa pernah diminta.
Raka keluar kamar menuju dapur.
Matanya terbelalak. Dapur tampak seperti kapal pecah. Wajan menumpuk, air tumpah di lantai, bau gosong samar tercium. Lela duduk di kursi dengan wajah kesal, sementara Rina berdiri memegangi pinggang.
“Ada apa ini, Bu? Berantakan banget,” tanya Raka.
“Ini loh kakakmu. Umur hampir tiga puluh saja nggak bisa masak mi rebus,” ucap Rina kesal.
Lela merengut, merasa dipermalukan.
“Emang kenapa, Bu?”
“Ibu suruh dia bikin mi rebus pakai telur,” Rina menghela napas panjang.
“Masa mienya satu bungkus, telurnya sepuluh!”
Rina menunjuk panci yang meluap busa. Airnya berserakan ke lantai, kompor penuh cipratan minyak. Dapur benar-benar kacau seperti baru dilanda badai kecil.
“Kamu sarapan di luar saja, Raka,” ucap Rina menyerah.
Raka melihat ke arah Lela dengan tatapan kecewa lalu keluar dari dapur tanpa bicara lagi.
Di depan pintu ia terdiam sejenak. Suara berisik dari dalam rumah masih terdengar, tetapi hatinya justru terasa kosong. Baru semalam Miranda pergi, namun seluruh ritme rumah sudah runtuh seperti bangunan tanpa tiang.
Ia baru menyadari satu hal yang selama ini tak pernah ia pikirkan.
Kesimpulannya hanya satu.
Pagi pertama tanpa Miranda adalah pagi yang benar-benar berantakan.
gemes bgt baca ceeitanya