Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.
Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 3 - Kembali Ke Neraka
Alexa membuka kedua matanya. Dia menatap ke atas menyadari dirinya terbaring. Tak ada pergerakan dalam beberapa saat ketika pikirannya mencoba mencerna apa yang tengah di rasakan tubuhnya.
Tak ada rasa sakit sama sekali. Sampai dia berpikir dirinya telah mati.
Namun tiba – tiba kepala seorang laki - laki dengan topi dan masker yang menutupi sebagian wajahnya muncul di hadapannya. Alexa bisa melihat jelas matanya yang tertutup seolah sedang terlelap.
Dalam beberapa saat, Alexa membeku menatap buku mata lentik di hadapannya, kemudian tubuhnya yang awalnya mati rasa mulai bereaksi. Dia merasa hangat di bagian belakang kepalanya yang berbantal sesuatu yang cukup empuk. Kemudian matanya turun melihat perutnya yang seperti tertindih sesuatu.
Tangan laki – laki itu.
Seketika tubuhnya menegang.
“JANGAN SENTUH AKU!”
Alexa bangkit sambil menjerit. Tangannya menghantam dada laki – laki itu keras hingga pria itu terjungkal ke belakang. Dia membabi buta, kakinya menendang, tangannya menepis udara seolah ada sesuatu yang hendak merenggutnya, namun matanya terpejam.
Aroma alkohol dan asap rokok yang dirasakannya semalam, kembali menusuk hidungnya.
Tidak, lebih tepatnya, pikirannya yang membuatnya merasa aroma itu ada di sekitarnya. Tawa pria – pria bejat itu juga serasa menggema di telinganya.
“Hei, kenapa tiba – tiba menyerang?!” omel laki - laki itu.
Dia berusaha menghindari serangan Alexa masih dengan mata terkantuk – kantuk. Dia juga meringis kesakitan karena beberapa serangan Alexa mengenai tubuhnya.
Tapi Alexa tidak berhenti. Dia terus menendang dan memukul udara sampai akhirnya merasa seseorang menggenggam tangannya untuk menghentikan serangannya, dan matanya terbuka. Pandangannya langsung bertemu dengan iris mata yang sedikit keabu – abuan itu.
“Sakit tahu!” Laki - laki itu mendengus kesal.
Alexa berusaha menepis tangan laki – laki itu, tapi cengkeramannya cukup kuat untuk ukuran orang yang baru bangun dari tidur.
“L – lepas! Siapa kamu?! Mau apa kamu menyentuhku?!” teriak Alexa.
“Aku nggak melakukan apa pun. Aku yang menyelamatkan kamu semalam!” jawab laki – laki itu yang ikut menaikkan nada bicaranya.
Pandangan Alexa langsung mengelilingi sekitar berusaha memastikan keberadaannya saat ini karena tidak yakin. Dia juga memastikan pakaiannya masih lengkap.
Dan benar, ternyata dia masih ada di stasiun yang semalam. Bahkan sudah banyak orang di sana yang memandang ke arah mereka.
Pakaiannya juga utuh.
“Menyelamatkan aku?” gumamnya pelan.
Laki - laki itu melepas cengkeraman tangannya pada Alexa dan berkata, “Kamu masih hidup karena aku. Jadi, berterima kasihlah dan juga kamu harus minta maaf karena sudah memukulku.”
Namun Alexa tidak begitu mudah percaya. Dia menatap curiga pada laki – laki di hadapannya dengan reaksi tubuh yang penuh kewaspadaan.
“Tunjukin wajah kamu,” perintah Alexa.
Laki – laki itu langsung memegang maskernya kuat – kuat, menolak tanpa mengatakan apa pun.
“Kalau nggak mau, berarti kamu penjahat. Aku bakal teriak kalau – mmm...” Belum selesai Alexa bicara, tangan laki – laki itu sudah membungkam mulutnya.
“Aku tunjukin wajahku, tapi bukan di sini,” bisiknya.
Merasa kalau laki – laki itu memang memiliki niat buruk terhadapnya, Alexa langsung menarik masker dan melepas topi laki – laki itu, kemudian melemparnya cukup jauh membuat laki – laki itu sempat membeku.
“Itu… Steven ‘kan?”
Suara itu seperti pemantik. Dalam hitungan detik, kepala-kepala menoleh, mata membulat, dan teriakan mulai bersahutan.
“STEVEN!”
“Steven dari NOVA?!”
Kerumunan mendadak hidup. Ponsel terangkat. Kilatan kamera menyilaukan. Tangan-tangan asing menjulur ke arah mereka. Steven sempat menutupi wajahnya dengan tangannya tapi itu tidak membantu.
Alexa belum sempat mencerna apa pun ketika tubuhnya ditarik mendekat oleh Steven untuk dijadikan tamengnya.
“Kamu yang buka maskerku,” desis Steven di telinganya, “jadi kamu ikut tanggung jawab.”
“APA?”
Dorongan dari berbagai arah membuat Alexa kehilangan pijakan. Seseorang menarik lengannya, yang lain mencoba menjauhkannya dari Steven yang tetap menggenggam tangannya agar bisa menyembunyikan wajahnya.
“STEVEN, AYO FOTO DONG!”
“TANDA TANGAN!”
Steven tiba-tiba bergerak. Dengan satu tarikan kuat, dia menerobos kerumunan, menyeret Alexa berlari bersamanya.
Teriakan dan langkah kaki menggema di belakang mereka, pertanda semua orang itu mengejar. Situasi semakin gaduh.
“Kok mereka ngejar sih? Kamu pasti penjahat!” Alexa terengah.
“Kamu yakin ada penjahat se – tampan aku?” balas Steven, tanpa menoleh.
“Kok malah sombong sih!”
“Siapa nama kamu?” tanya Steven tak memedulikan rasa kesal Alexa.
“Alexa.”
“Aku Steven.”
Nafas Alexa mulai kacau. Kakinya terasa berat, tapi genggaman Steven tidak mengendur sampai mereka berhasil keluar dari area stasiun dan berbelok ke jalan sempit.
Di sana, suara-suara itu perlahan tertinggal.
“Kamu kalau mau lari, lari sendiri aja.” Alexa melepaskan tangannya dari Steven dan berhenti.
Dia berusaha mengatur nafasnya dan duduk di tanah, meluruskan kakinya yang rasanya tulang – tulangnya hampir rontok.
“Ayo cari tempat sembunyi! Bisa saja mereka masih mengejar.” Steven kembali meraih tangan Alexa, menariknya.
“Pergi saja. Aku tidak mau terlibat,” katanya.
“Penggemarku akan terus melibatkan kamu karena mereka melihat aku lagi sama kamu.”
Seketika Alexa memicingkan matanya sedikit aneh dengan kalimat ‘penggemar’ yang terlontar dari Steven.
“Penggemar? Kamu pikir kamu artis?” ledeknya.
“Kamu beneran nggak tahu aku?” Steven berjongkok menyamai tinggi posisi kepala Alexa.
Alexa menggeleng sebagai respons.
“Coba lihat baik – baik wajah ini.” Steven mendekatkan wajahnya pada Alexa hingga jarak wajah mereka hanya sekitar lima centimeter.
Refleks, Alexa menahan nafasnya – kemudian mendorong wajah itu menjauh darinya.
“Aku tidak mau tahu siapa kamu.”
Alexa benar – benar benci cara Steven membanggakan dirinya meski tidak salah.
“Kamu nggak ngerti tren,” timpal Steven sedikit kecewa karena di era popularitas group idol – nya, ada yang tidak mengenalnya sama sekali.
“HEI, STEVEN DI SINI!”
Steven kembali menarik tangan Alexa untuk kabur.
“Kita harus cari tempat aman!” ucap Steven.
Alexa mengikuti langkah Steven. Matanya tertuju ke sebuah gang kecil yang dia sangat tahu kalau itu adalah gang di mana dulu waktu kecil dia lewati untuk kembali ke rumah setelah main bersama teman – temannya.
“Tunggu dulu.” Alexa tiba – tiba menahan tangan Steven agar berhenti mendadak.
Tatapannya tak lepas dari gang sempit itu lama. Terlalu lama untuk orang yang sedang dikejar. Nafasnya masih tersengal, tenggorokannya juga terasa kering.
“Alexa, mereka semakin dekat!” Steven kelimpungan saat orang yang mengejarnya semakin dekat.
“Aku tahu jalan ini.” Alexa langsung menarik Steven masuk ke gang sempit itu.
Bau tanah basah dan dinding lembab mulai masuk ke hidung mereka, namun tak ada mengangkat suara Keduanya berjalan dalam diam. Pandangan Alexa lurus ke depan. Tepat di mana rumah biru berdiri sama seperti terakhir kali dia keluar dari sana.
Ketika pagar besi berderit dibuka, jantung Alexa berdetak lebih cepat — bukan karena kejaran tadi.
Rumah itu... tidak ramah, tidak hangat.
Hanya sunyi.
“Ini rumahku,” ucapnya pelan memberitahu seolah mengerti dengan kebingungan yang tengah dialami Steven.
“Aku akan aman di sini?” tanyanya lugu.
Alexa tidak menjawab. Dia sudah membuka pintu tanpa sapaan atau apa pun. Menarik Steven masuk begitu saja, kemudian Alexa menutup pintu rumah dengan napas tertahan. Tangannya gemetar saat memutar kunci, suaranya terdengar terlalu nyaring di telinganya sendiri.
Dia kemudian membuka lemari kayu tua di sudut ruangan.
“Masuk,” katanya cepat.
Steven masih berdiri di ruang tengah yang sempit, menatap sekeliling rumah itu dengan wajah bingung. Rumah itu terlalu dingin dan sunyi baginya.
“Apa?”
“Masuk ke sini,” ulang Alexa, kini suaranya lebih rendah, nyaris berbisik.
Dia menarik tangan Steven dan mendorongnya masuk lemari. Lemari itu sudah usang, catnya terkelupas di beberapa bagian bahkan berlubang dan pintunya sedikit berdecit saat dibuka.
“Kamu sembunyi di sini,” ucap Alexa tergesa. “Jangan keluar. Jangan bersuara.”
Tiba – tiba, suara benturan keras terdengar menggema di setiap sudut rumah membuat Alexa tersentak. Dia langsung mendorong Steven masuk ke dalam lemari dan menutup pintunya dengan menahan decit engsel dengan telapak tangannya.
"M4TI SAJA KAMU!"
Detik berikutnya, teriakan Alex menggema bersamaan dengan tubuh Claire yang terpental dari kamar dan tersungkur di ruang tengah. [ ]