NovelToon NovelToon
Anshela

Anshela

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:128.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Setelah berganti rok sekolah, Shela berjalan keluar dari kamar mandi dengan auranya yang dingin menyelimuti setiap langkahnya. Saat melangkah memasuki ruang kelas, hening seketika menyergap ruangan yang semula dipenuhi kegaduhan.

Mata mereka, yang masih terbayang kehebohan pagi itu, seolah tertarik magnet ke arah Shela. Tatapan tajam beradu dengan dinginnya ekspresi Shela yang menolak menjadi sorotan. Serentak, semua teman kelasnya, tersadar oleh kehadiran Shela yang membius, kembali menyibukkan diri dengan aktivitas masing-masing, meninggalkan ruangan yang sesaat tadi sunyi dalam desas-desus rendah.

Shela melangkah perlahan menuju meja yang telah lama menjadi saksi bisu interaksi mereka. Sementara itu, Alvian terlihat gelisah, tangannya merogoh saku dan laci, mencari sesuatu yang tampaknya sangat penting baginya.

Pemandangan itu membuat Shela terhanyut dalam ingatan pahit; saat-saat di mana dia tak segan melampiaskan kekesalannya pada Alvian, menyuruh dan menghinanya seakan dia tak lebih dari sekadar pelayan. Seiring kembalinya kenangan itu, rasa bersalah menyergap hati Shela, meresapi setiap serat kesadarannya.

Meski begitu, dengan sikap yang selalu sabar dan tanpa keluhan, Alvian tidak pernah meminta untuk dipindahkan tempat duduknya, meski tak ada seorang pun yang mau menemaninya, ia tetap bertahan.

Sambil mengatur napas, Shela meredakan gejolak di dalam hatinya dan duduk perlahan di kursi yang berhadapan dengan Alvian. Lelaki itu masih belum menyadari keberadaannya, terlalu asyik dengan pencariannya. Shela terus mengamatinya, detik berganti menit, membuatnya semakin merasa harus mengubah sesuatu.

Dengan suara yang lebih lembut dari biasanya, ia bertanya, "Lo cari apa, Alvian?" Suaranya menggema kecil di antara desiran angin yang sesekali menyelinap masuk melalui jendela kelas.

Alvian menoleh dengan tatapan terkejut. Ini adalah pertama kalinya Shela berbicara dengan nada yang tidak dinaungi amarah dan kekesalan padanya. Sebuah percakapan sederhana, namun dalam kenyataannya, menjadi langkah pertama Shela memperbaiki jembatan yang pernah dia bakar sendiri.

Shela menatap Alvian yang terdiam mematung, dahi berkerut dengan kebingungan yang mendalam. Dengan tatapan penuh kekhawatiran, ia pun menyentuh pundak Alvian, seolah hendak membangunkannya dari lamunan pahit yang menyergapnya.

"Gue nanya, lo nyari apa?" ulang Shela dengan suara yang lebih menekan.

"Eh, a-anu, gue lagi cari Tipe-X sama pulpen gue. Tadi masih ada di tas, begitu gue tinggal sebentar hilang," Alvian menjawab dengan nada yang gugup, matanya tak berani bertemu dengan pandang Shela.

Shela mengangguk, paham, dan mulai merogoh isi tasnya. Dengan gerakan yang hati-hati, ia mengeluarkan sebuah tempat pensil dan menyodorkan pulpen serta Tipe-X yang masih terbungkus rapi kepada Alvian.

"Nih, langsung lo kasih nama pulpen dan Tipe-X-nya biar gak ilang lagi," saran Shela dengan nada bersahabat.

"Eh?" Alvian memandang bingung, berusaha memahami maksud di balik kata-kata Shela. Setelah sebuah momen, sebuah pemahaman baru muncul di wajahnya.

"Gak usah, nanti istirahat gue bisa beli yang baru," Alvian menolak dengan sopan, namun terdapat sedikit kekakuan dalam suaranya.

"Rezeki gak boleh ditolak, pamali," Shela menyahut, suaranya lembut namun penuh dengan ketegasan. Sebuah senyum hangat mengembang di wajahnya, memecahkan ketegangan yang mungkin tengah membayang antara mereka.

Berulang kali Alvian memandang Shela dan kedua alat tulis itu secara bergantian. Sepertinya  Shela benar-benar memberikan dua benda itu padanya. Alvian jadi percaya jika shela benar-benar telah berubah.

Alvian menerima pemberian Shela dengan hati yang senang." Gue terima pulpen sama Tipe-X ini ya.Makasih," ujar Alvian.

Shela mengangguk sebagai jawaban. Karena guru belum juga datang ke kelasnya. Shela memilih untuk menenggelamkan wajahnya dan besiap menuju alam mimpi.

Alvian menatap Shela." Lo ternyata baik juga," ujarnya pelan takut jika Shela sudah tertidur.

Shela masih sadar dan telinganya mendengar ucapan Alvian. Tanpa sadar Shela tersenyum tipis mendengar ucapan laki-laki itu dan ia senang jika laki-laki itu menerima pemberiannya dengan baik.

---

Bel istirahat berbunyi, menggema di seluruh koridor sekolah dan mengajak para murid berbondong-bondong menuju kantin untuk mengisi perut yang kelaparan.

Shela, yang tidak biasanya memiliki teman, hari ini berjalan beriringan dengan Alvian. Laki-laki itu, dengan kepala tertunduk, seolah-olah memakai mahkota beban berat yang tak ingin diperhatikan orang lain.

Pagi itu, di dalam kelas yang gemuruh dengan suara siswa yang berhamburan keluar, Alvian terdiam seribu bahasa. Ketika Shela bertanya, jawaban Alvian tersendat, ia tidak membawa uang sepeserpun. Jatah uangnya, ia berikan kepada adiknya yang juga bersekolah. Shela menelan lumpuh, hatinya bergemuruh mendengar kisah hidup Alvian yang baru terungkap setelah sekian lama mereka menjadi teman sekelas.

Dengan mata yang berbinar empati, Shela mengulurkan tangan persahabatan yang lebih dalam. “Ikut gue ke kantin, kita makan siang di sana hari ini,” ajaknya, sebuah tawaran sederhana namun sarat akan harapan dan kehangatan. Tawaran yang mampu melunakkan beban yang Alvian pikul, meski hanya sesaat, di koridor sekolah yang ramai namun bisa begitu sepi bagi beberapa orang.

Alvian awalnya menolak, keberatannya bukan hanya karena mereka tidak begitu akrab, tetapi lebih kepada harga dirinya yang terancam bila ia harus menerima makan gratis dari seorang perempuan. Namun, Shela yang keras kepala itu tidak dapat menerima penolakan. Ia mendesak Alvian dengan ketegasan yang menyulut api dalam dirinya, seolah memaksa Alvian untuk melepaskan genggaman kuatnya pada ego.

Dengan mata yang bersinar kepercayaan dan suara yang mengalun serak, Shela menjelaskan bahwa tawaran ini adalah upayanya untuk menebus kesalahan masa lalu, bahwa dia sungguh ingin memperbaiki semuanya. Dia membisikkan, "Ini bukan sekedar makan siang, Alvian. Anggap aja ini adalah permintaan maaf gue sama lo."

Perlahan-lahan, tembok yang dibangun Alvian mulai retak. Menghadapi kegigihan dan ketulusan Shela, ego dan kebanggaannya perlahan mulai menyerah. Akhirnya, dengan hati yang berat, dia setuju untuk menerima ajakan gadis itu untuk bersama di kantin yang dipenuhi kebisingan.

Begitu Alvian melangkah masuk ke kantin, semua mata serentak tertuju padanya. Sentuhan keheranan dan rasa ingin tahu tergambar jelas pada wajah para siswa, memperhatikan Alvian yang introvert dan jarang bersosialisasi.

Shela, tanpa menunjukkan rasa peduli, berjalan gagah beriringan dengan Alvian menuju meja kosong terakhir yang tersisa. Ironisnya, meja itu berada tepat di sebelah meja Dika dan gerombolannya.

Dika dan kawan-kawannya segera mengarahkan pandangan mengkritik ke arah Shela yang tampak santai duduk bersama Alvian yang terkesan nerd.

Saat itu, Marvin menggenggam tinjunya dengan keras, iri hati memenuhi dadanya. Wajahnya mengerut tak percaya melihat bagaimana Shela, yang malam sebelumnya tampak angkuh dan menolaknya, kini duduk akrab bersama pria culun tersebut. "Dasar, semalam Lo sok jual mahal sama gue, sekarang lo malah asyik makan bersama si culun itu. Memang bodoh ya, dia lebih milih cowok culun itu daripada gue," batin Marvin penuh kekecewaan dan amarah yang mendidih, menahan rasa sakit hati yang mulai membara.

Reygan menatap Marvin dengan tatapan yang penuh kebingungan saat menyadari ada yang berubah dari ekspresi wajah sahabatnya. "Lo kenapa, Vin?" desaknya, merasakan ada yang tidak beres.

Marvin sejenak terpaku, kemudian balas menatap Reygan dengan pandangan bingung. "Kenapa apanya? Gue baik-baik saja," jawab Marvin yang sebenarnya tidak mengerti arah pertanyaan laki-laki itu.

Reygan tidak puas dengan jawaban itu tetapi memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut, dia mengalihkan perhatiannya pada Shela dan menatapnya intens.

"Lo mau makan apa? Biar gue yang pesan," tawar Alvian, ia berinisiatif untuk memesan makanan,merasa tidak enak pada Shela karena gadis itu sudah mentraktirnya makan siang. Shela nampak berpikir, "Ketoprak, pedas, ya. Minumnya es teh manis," balasnya ringan.

Alvian mengangguk mantap sebelum bergegas menuju stand makanan. Kegaduhan di kantin yang ramai jelas terasa, sementara beberapa orang masih memberikan tatapan penasaran kepada mereka.

"Gak ada kerjaan banget si mereka!" gumam Shela dalam hati, merasa risih tapi berusaha mengalihkan perhatiannya dengan memainkan ponselnya. Meskipun suasana hatinya cukup terganggu, dia mencoba tampil acuh tak acuh menunggu Alvian kembali dengan pesanan mereka.

Tak lama seseorang datang menghampirinya,lalu pernah itu berdiri di sebelahnya. Semua orang makin menatap ke arah Shela begitu orang itu beraninya menghampiri Shela. Di adalah Lily, gadis yang dulu selalu ia bully dan mereka berpikir jika Shela akan mengamuk dan merundung Lily karena sudah lancang menghampiri meja dan menganggu Shela.

"Shela," panggil Lily.

Seketika Shela mendongak begitu mendengar seseorang memanggil namanya, ia menatap Lily yang berdiri di sampingnya sambil membawa sebuah jam yang ia kenali.

"Kenapa?" tanya Shela pada gadis itu.

Semua orang langsung berbisik-bisik begitu melihat Shela besikap biasa saja pada Lily.

Lily menyodorkan jam yang ada di tangannya." Aku mau balikin jam tangan kamu, tertinggal di minimarket. Tadinya mau aku balikin kemarin tapi gak sempet buat samperin kamu. Maaf ya."

Shela mengangguk." Iya."

Shela mempersilahkan Lily bergabung dengannya dan tak lama Alvian datang dengan nampan yang berisi dia porsi ketoprak dan dua gelas es teh manis.

Alvian menaruh nampan di meja dan dia cukup terkejut karena ada orang lain bergabung di meja mereka. Terlebih orang itu adalah Lily, Alvian jelas mengenal siapa Lily, dia adalah tetangganya sekaligus orang yang selalu Shela bully dulu.

"Lo pesen makan juga, biar gue yang traktir," ujar Shela terdengar seperti memerintah.

Tadinya Lily ingin menolak karena tidak enak tapi melihat tatapan dingin Shela membuat dia tak bisa berbuat apapun selain menurut. Gadis itu beranjak lalu memesan makanan yang sama dengan Shela dan Alvian.

Ketiganya lalu makan bersama di meja yang sama, suatu pemandangan yang gak pernah orang-orang duga sebelumnya.

1
Jirokiyouka
Yang mau ngajarin siapa coba, orang di gak dipeduliin
Tiavitri Vitri
maaf ya tor lama2 malas mo baca,prasaan diawal udah bagus lama2 bosan,
Arum Oke
👍
Nita Renita
ayok Shella kamu pasti bisa 😃👍
david 123
oh...kenapa tdk diproses ya melakukan kekerasan di lingkungan sekolah...malah di biarkan...lanjut thor..
david 123
Ubah alurx thor,Shela selalu tersiksa ya ,dr awal cerita..kapan nasibx baik..,he...he....
Xiaomi Note 14
bodoh, kan sidik jari ada prcm polisi klw gk di prkaa sdik jeri ,nya asl nduh.
kalea rizuky
novel paling buruk yg pernah q baca sejauh ini muter bertele tele pokok bkin mood baca anjlok
kalea rizuky
novel g guna pantes sepi like wong MC goblok biarin aja bokap lu nyesel uda bodo amat ma dika ma bokap lu yg oon ehh ini masih aja mau balik tololllllll q ksih rating jelek biarin slaah sendiri bkin pembaca sebelll
kalea rizuky
kn karena lu semua. bego yg buat novel lebihhh beggggg
kalea rizuky
pecundang semua sella goblok lengkap bgt ne novel paling bego
kalea rizuky
sela. jd goblok terlalu menye menye skip g jelas ne novel
atun atun
lnjutkan
Rita Rita
seorang Dika hanya pecundang sejati laki laki banci,, dulu berjanji mau lindungi Shela,, ini yg salah Dika apa author ya 🤔
Rita Rita
heran sama si author,, udah 2 x Shela dibuat mati,, apa ini tokoh utama dibikin mati beneran 🤔🤣 yg bikin geli itu kaum keluarga Shela,, katanya terpukul atau apalah kalo nurut AQ cuma preetttt,,
Rita Rita
aduh Thor,, sekali kali ga langkah gontai untuk Shela kenapa sih,,
Rita Rita
Shela ga ada punya langkah tegas langkah gontai Mulu,, kapan ada bahagia kalo hidup terus menerus dibebani konflik, masa iya hidup monoton di situasi yang sama.
Rita Rita
heran aja sama si Shela katanya pinter,, tapi kok bego nya makin gedein ya,, masa udah 2 x masih masuk lobang yang sama,,
Rita Rita
cerita nya muter muter gitu aja ga ada titik temunya, berbelit tanpa ada narasi yg jelas,,,
Lenty Fallo
lnjut thor upnya...💪❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!