Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 - Orang yang Seharusnya Mati
-~-Orang yang Seharusnya Mati
Arthur tidak langsung menyebut nama itu pada siapa pun.
Ia hanya menyimpan batu kecil itu di saku dalam mantel tempat paling dekat dengan dada, seolah jika ia menaruhnya terlalu jauh, simbol itu akan menghilang dan berubah jadi khayalan.
Toxen menyadari perubahan itu lebih cepat dari siapa pun.
“Kau tidak tidur” katanya saat fajar. “Dan kau tidak bertanya.”
Arthur mengangguk pelan. “Karena jawabannya terlalu mahal.”
Mereka meninggalkan Raviel tanpa upacara. Tanpa pengawalan besar. Arthur menolak kembali ke Florence.
“Kita ke tempat lain” katanya.
Asean menatapnya lama. “Ke mana?”
Arthur menoleh ke utara ke wilayah yang tidak tercatat dalam peta resmi Kekaisaran.
“Ke tempat orang-orang yang seharusnya sudah mati… belajar bertahan.”
Wilayah itu bernama Caldrin Vale.
Kabut tidak pernah benar-benar pergi dari sana. Sungainya dangkal, tapi arusnya kuat cukup untuk menghapus jejak kaki dalam hitungan menit.
Arthur tahu tempat ini dari cerita ayahnya.
Cerita yang selalu berhenti sebelum akhir.
“Di sinilah Morvist terakhir terlihat,” kata Asean lirih. “Sebelum semua orang sepakat untuk… menguburnya secara politis.”
Arthur berhenti melangkah.
“Secara politis?”
Asean mengangguk. “Ada kematian yang lebih berguna daripada kebenaran.”
Mereka menemukan tanda-tanda kehidupan yang tidak biasa.
Jejak api unggun yang dibersihkan rapi.
Perangkap sederhana bukan untuk berburu, tapi untuk memperlambat pengejar.
Dan simbol kecil yang diukir di batu lambang Moren versi lama, yang hanya diketahui oleh segelintir orang.
Arthur berlutut.
“Dia hidup,” katanya pelan. Bukan harapan kepastian.
Saat senja, mereka disergap.
Bukan dengan teriakan.
Bukan dengan panah.
Hanya hening yang tiba-tiba terlalu padat.
“Letakkan senjata,” suara itu terdengar dari balik kabut. Tenang. Tua. Terlalu familiar.
Arthur berdiri perlahan.
“Paman,” katanya.
Kabut terbelah.
Morvist muncul badan kurus, rambutnya memutih, satu lengannya tidak lagi sempurna. Tapi matanya… masih mata yang sama yang dulu menyambut Arthur kecil dengan tawa keras.
“Kau tumbuh seperti ayahmu,” kata Morvist. “Itu kabar baik dan buruk.”
Arthur menahan emosi yang tiba-tiba naik seperti ombak.
“Kau hidup,” katanya. “Sementara kami mengubur namamu.”
Morvist tersenyum pahit. “Itu satu-satunya cara agar Moren bisa tetap bernapas.”
Toxen menegang. “Jadi kau tahu semuanya.”
Morvist menoleh. “Aku tahu cukup banyak untuk dianggap berbahaya.”
Arthur melangkah maju. “Lalu kenapa sekarang?”
Morvist memandang ke langit yang mulai gelap.
“Karena Vastorci membuat kesalahan,” katanya pelan.
“Ia mulai menyentuh orang-orang yang tidak seharusnya ia sentuh.”
Arthur mengepalkan tangan.
“Kau bekerja untuk siapa, Paman?” tanyanya, suara hampir bergetar. “Untuk kami… atau untuk bayangan?”
Morvist menatapnya lama.
“Aku bekerja,” katanya akhirnya, “untuk memastikan kau tidak mati dengan cara yang sama seperti ayahmu perlahan, dan dengan senyum.”
Keheningan jatuh.
Asean menghela napas berat. “Jadi benar… Wilayah Pusat.”
Morvist tidak menyangkal.
“Mereka bukan musuh yang bisa kau tusuk,” katanya pada Arthur. “Mereka adalah sistem yang akan membuatmu percaya bahwa kau memilih jalanmu sendiri… sampai semuanya terlambat.”
Arthur menatap pamannya orang yang ia rindukan dan curigai sekaligus.
“Kalau begitu,” katanya, “aku akan memaksa sistem itu bereaksi.”
Morvist tersenyum kali ini, bangga.
“Itulah yang paling mereka benci.”
Malam itu, Morvist memberikan Arthur sebuah peta.
Bukan peta wilayah.
Peta orang.
Jalur suplai moral.
Wilayah bantuan Moren.
Nama-nama yang dihapus dari arsip.
“Ini jaringan yang ayahmu bangun,” kata Morvist. “Tanpa pasukan. Tanpa bendera.”
Arthur menelan napas.
“Dan Vastorci sedang membakarnya.”
Morvist mengangguk. “Satu demi satu.”
Arthur menggenggam peta itu.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita akan memadamkannya… dengan cara yang tidak bisa mereka prediksi.”
Sebelum fajar, Morvist berkata satu kalimat terakhir yang membuat Arthur terdiam:
“Arthur… ayahmu belum kalah.”
Arthur menoleh tajam.
“Apa maksudmu?”
Morvist menatap ke kegelapan hutan.
“Moren tidak dijatuhkan.
Ia disimpan.”
Dan di kejauhan, terdengar suara terompet bukan milik Duke, bukan milik Florence.
Sinyal Kekaisaran.
-~- “Retakan yang Mulai Terlihat”
Malam turun tanpa suara, seperti seseorang yang sengaja menahan napas. Kota itu tidak benar-benar tidur hanya berpura-pura diam. Lampu-lampu masih menyala, tetapi tidak ada yang hangat di dalamnya.
Ia berdiri di tepi atap bangunan, menatap ke bawah. Angin menusuk pelan, membawa bau besi dan debu, seperti sisa sesuatu yang pernah terbakar. Di tangannya, benda itu terasa lebih berat dari sebelumnya bukan karena massanya, tapi karena maknanya.
“Kalau kau terus maju,” suara itu kembali muncul, tenang tapi menusuk, “kau tidak akan bisa kembali ke titik awal.”
Ia tersenyum kecil. “Aku tahu,” jawabnya pelan. “Masalahnya, titik awal sudah lama hilang.”
Di balik kegelapan, seseorang bergerak. Langkahnya sengaja tidak disembunyikan.
“Kau terlambat,” kata orang itu. “Atau mungkin kau yang terlalu cepat,” balasnya tanpa menoleh.
Mereka berdiri saling membelakangi, dua sosok yang pernah berada di sisi yang sama atau setidaknya, percaya demikian. Tidak ada teriakan. Tidak ada senjata yang diangkat. Justru itu yang membuat suasana terasa berbahaya.
“Apa kau sadar apa yang sudah kau bangunkan?” tanya sosok di belakangnya. “Aku hanya membuka apa yang memang seharusnya terbuka.”
Angin berhenti. Untuk sesaat, dunia seperti menunggu keputusan.
“Kalau itu runtuh,” lanjut suara itu, kini lebih rendah, “bukan hanya kita yang hancur.”
Ia akhirnya berbalik. Tatapan mereka bertemu bukan penuh amarah, tapi sesuatu yang lebih berbahaya: pemahaman.
“Justru karena itu,” katanya pelan, “aku tidak boleh berhenti sekarang.”
Di kejauhan, sebuah cahaya aneh menyala bukan lampu kota, bukan pula kilat. Getarannya terasa sampai ke bawah kaki, halus namun pasti, seperti denyut nadi raksasa yang baru saja terbangun.
Sosok di hadapannya mundur satu langkah. “Tidak mungkin…” “Oh, itu mungkin,” jawabnya. “Dan itu baru permulaan.”
Langit di atas mereka retak bukan secara fisik, tapi cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya merasa: sesuatu telah berubah, dan tidak ada yang akan kembali normal.
Ia menatap cahaya itu sekali lagi.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri: bukan apakah ia siap menghadapi apa yang datang, melainkan apakah dunia siap menghadapi dirinya.
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥