Kelanjutan dari Gadis Mungil (I Love You)
Beralih dari kerumitan di masa lalu, setelah terpuruknya keluarga Agus, kini Mona harus menghadapi kehidupan baru. kehidupan setelah lulus SMA, bersiap untuk menikah dan apa yang akan di lakukan setelah menikah.
Mona dan Arga, masih saling mencintai dengan cara mereka masing-masing. pertengkaran, kenyolan seperti biasanya.
jika ada kesalahan nama tokoh maupun tempat, mohon di mengerti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motifasi_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Kemungkinan...
Pagi ini, tepatnya pukul enam, Arga yang baru saja bangun dari tidurnya memilih segera beranjak keluar dan bergegas menuju kamar Mona.
Sambil mengetuk pintu dengan keras, Arga juga terus memanggil nama Mona.
“Mona! Apa kau sudah bangun?!” panggil Arga.
Mona tak langsung menyahut. Meskipun mendengar panggilan lantang dari kakaknya, Mona memilih tetap diam. Mona pikir, menyahutinya juga percuma, toh pintu kamar tidak di kunci, biasanya Arga masuk juga tanpa permisi.
“Mona!! Ck!!” Arga masih mengetuk pintu. “Apa dia budeg ya?” dengus Arga.
Tak kunjung mendapat jawaban, Arga langsung memutar gagang pintu. Dan alhasil, pintu tidak di kunci dan langsung terbuka. Arga sudah mendengus lagi. Lalu, di tambah sewot ketika melihat Mona dengan santainya sedang menyisir rambut.
Arga berdecak lagi. Dengan tatapan sebal, Arga langsung menghampiri Mona. “Kau budeg ya?!” semprot Arga. Mona hanya menoleh, mendecih lalu kembali lagi pada bayangannya di pantulan cermin.
“Kau itu ya! Kenapa sangat menyebalkan!” sembur Arga lagi. Jari telunjuknya sudah menggembeleng bagian kepala Mona.
Mona yang hampir tersungkur dan menabrak kaca langsung merengek. Kedua kakinya menghentak di lantai. Setelah berbalik, Mona langsung berkacak pinggang dan merengut.
“Kak Argaaaa! Tidak bisakah lembut padaku?” rengek Mona.
Sial! Kenapa dia sangat menggemaskan! Keluh Arga di dalam hati.
“Bagaimana aku bisa lembut, kalau kau sendiri sangat menjengkelkan!” sembur Arga balik. “Makanya kau jangan buat aku marah!”
Mona masih tak mau di salahkan. ia langsung memukul dada Arga dengan dua kepalan tangannya. “Dasar jahat! Huh!”
“Hei, hei! Memangnya siapa yang jahat, ha?” Arga menangkup kedua tangan Mona, menggenggam dengan satu tangan, lalu menatap dalam wajah Mona.
“Kau sendiri kan, yang memulai?” Arga sudah menunduk dan maju lebih dekat dengan wajah Mona.
Mona yang tiba-tiba merasa gugup, langsung mengerlipkan mata dengan wajan di tarik ke dalam. “A-aku, aku mulai apa? Aku tidak melakukan apa-apa,” elak Mona.
Masih dengan wajah yang sangat dekat, Arga menjawab, “Aku memanggilmu dengan suara lantang, tapi kau malah diam dan tidak menyahut. Dasar!!”
Mona mendesis lalu mengibaskan lengan supaya terlepas dari genggaman Arga. “Biasanya juga kakak masuk tanpa permisi kan? Makanya aku siam saja. Pintu juga tidak di kunci,” balas Mona tak mau salah.
Berdebat dengan gadis ini memang tak akan pernah ada ujungnya. Sebagai pria dewasa yang sudah matang, alangkah baiknya jika Arga mengalah saja.
Setelah membuang napas, Arga beralih menangkup kedua pipi Mona. Memandangnya tanpa bicara untuk sesaat, kemudian satu kecupan mendarat di kening Mona. “Baiklah... maafkan aku.” Tubuh gadis itu Arga peluk.
Mona bergerak, mendorong tubuh Arga untuk memberi sedikit ruang supaya dapat berbicara. “Kak Arga ada apa ke kamarku? Ini kan masih pagi, Kak Arga juga belum mandi.”
Sambil tersenyum dengan satu tangan masih mendarat di pinggang Mona dan satu tangan lain mengusap pipi imut itu, Arga menatap wajah Mona. “Tidak apa-apa, aku cuma mau bilang, pagi ini kau ikut ibu ke butik.”
“Untuk apa?” tanya Mona sambil mendongak menatap Arga.
Cup! Satu kecupan mendarat di bibir yang masih ternganga itu.
“Tentu saja untuk memilih gaun pengantin untuk mu.”
Sambil menyapu bibir bekas kecupan Arga, Mona berucap lagi. “Cuma aku? Kak Arga tidak?” dua telapak tangan Mona mendarat sambil mencengkeram ujung kaos Arga.
Arga tersenyum lagi, mengusap ujung kepala dengan rambut lebat itu. “Nanti aku menyusul. Hari ini aku ada keperluan di kantor,” ungkap Arga.
Mona manggut-manggut. “Baiklah....” Dengan bibir menyungging senyum, Mona membinarkan mata menatap Arga. “Aku akan meminta ibu untuk membuatkanku gaun pengantin yang indah untukku.”
Kerlingan mata binar itu sungguh membuat Arga tidak sabar lagi untuk segera memiliki sepenuhnya seluruh tubuh dan hidup gadis ini. Sebentar lagi, ya, sebentar lagi. Bersabarlah!
“Ya sudah...” Arga melepas pelukannya. “... kau kan sudah mandi, cepat ke bawah, sebentar lagi ibu pasti berangkat.”
Mona mengangguk. Setelah mengambil ponsel dan tas selempang, Mona langsung keluar dari kamar. Untuk Arga, dia langsung buru-buru mandi, karena jadwal kerja hari ini juga sangat banyak.
“Kau sudah siap, sayang?” tanya Santi yang sudah rapi memakai baju kemeja dan rok span dengan panjang selutut. Rambutnya yang si cepol, memberikan kesan elegan pada tampilannya.
“Iya, Bu,” jawab Mona.
“Kalian mau kemana?” tanya Meri yang baru saja keluar dari kamar. Terlihat, Meri masih memakai piyamanya. Mungkin, hari ini beliau sedang tidak ada pekerjaan.
Mona tak menjawab, Ia memilih bergeser sebentar ke arah meja makan untuk mengambil roti tawar dan buah.
“Ke butik, Ibu. Kan pekerjaanku di butik.” Santi menjawab. “Sekalian memilih gaun pengantin untuk Mona.”
“Daaagh, Nek.” Mona pamit dengan melambaikan telapak tangan yang sedang menggenggam buah apel dan mulut yang penuh dengan roti tawar.
“Ayo, Bu.” Mona sudah berlenggak terlebih dahulu, Santi menyusulnya di belakang.
Setelah kepergian Santi dan Mona, Meri tak langsung masuk ke kamar. Dengan masih mengenakan piyama panjangnya, Meri memilih sarapan terlebih dulu.
“Mau minum apa, Nyonya?” tanya Minah ketika hendak membereskan meja dapur.
Sambil menatap layar ponsel yang sedari tadi dalam genggaman, Meri menggeleng. “Tidak usah. Aku minum air putih saja.”
Saat satu gigitan roti masuk ke dalam mulut, terlihat kepala Meri manggut-manggut dengan pandangan fokus menatap layar ponsel. Entah apa yang beliau lihat, tapi yang jelas sepertinya sangatlah penting.
Satu gigitan terakhir, dan usai meneguk satu gelas air putih dan setelah mengelap mulutnya, Meri beranjak dari tempat duduknya. Ia kembali masuk lagi ke dalam kamar.
“Dekati keluarganya terlebih dahulu. Itu rencana awalnya.” Sambil menyetir menuju suatu tempat, Jade terus bergumam mengulangi kalimat itu beberapa kali.
Mungkin ini suatu tindakan yang licik, tapi karena Jade sudah merasa bahwa dirinya jatuh hati pada Arga pada pandangan pertama, membuat Jade terobsesi untuk bisa mendapatkan hati Arga. Apalagi, Jade mendapat dukungan dari Aura, tentu saja membuat Jade lebih bersemangat.
“Tapi aku masih penasaran, sebenarnya dulu ada hubungan apa antara Grace dan Arga? Apa wanita yang di maksud Dion adalah Grace?” Jade masih membatin.
Mengingat kembali saat Dion berkata harus secara fair saat mendekati Arga, membuat Jade harus berpikir lebih keras. Dion mengatakan, bahwa dua wanita yang mendekati Arga gagal hanya karena satu gadis, yaitu Mona.
Sepanjang perjalanan, yang ada di dalam otak Jade hanya memikirkan apapun yang terlihat atau memungkinkan ada hubungannya dengan Arga.
“Mungkinkah mereka pernah menjalin suatu hubungan?” Jade terus menebak-nebak hingga tak terasa mobilnya sudah sampai di tempat tujuan.
Setelah mesin mobil di matikan, Jade langsung bergidik, mencoba fokus pada rencana untuk apa tujuannya ke tempat ini.
***
egk thu sapa yg kirim fito mona ama varel ke hp arga.
Mestinya ya paling engga dia bisalah menelaah situasi, mengerti masalah dalam keluarga... Duh author... please deh...