NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Sementara itu, di sisi lain…

Di belakang sekolah, Megan, Mike, Stella, dan Rey berkumpul. 

Stella tengah sibuk mengobati memar di wajah Rey dengan hati-hati, sementara Megan duduk tak jauh dari mereka. Mike hanya menyandarkan tubuh pada dinding, tatapannya kosong.

Tak ada yang berbicara. Terutama Rey—diam dengan wajah dingin, pandangan kosong, egonya menahan diri untuk mengakui kesalahan di hadapan teman-temannya.

Saat Stella hendak menyentuh luka di sudut bibir Rey, tiba-tiba tangannya dihentikan seseorang.

“Danzel?”

Semua mata langsung terarah padanya. Danzel berdiri di sana, sorot matanya menyala penuh kemarahan. Ia mencengkeram kerah baju Rey dan menariknya hingga berdiri. Satu tangannya terangkat, siap menghantam wajah Rey.

“Jangan, Danzel!”cegah Stella, menahan lengannya. “Jangan pukuli dia lagi, dia temanmu.”

Danzel menyeringai sinis.

“Teman, katamu? Teman macam apa yang melakukan hal serendah ini?”

Rey tetap menunduk, tak melawan, ekspresinya sulit terbaca.

“Keb**r**engsekanmu sudah melewati batas, Rey! Selama ini aku masih bisa memaafkan mulut kotormu yang menyakiti hati Alice. Tapi sekarang…”

Tatapan Danzel semakin tajam, napasnya memburu.

“…sekarang aku tidak akan pernah memaafkanmu lagi!”

Stella menelan ludah, Megan dan Mike hanya terpaku tak berani bergerak.

“D-Danzel, tolong… aku mohon lepaskan Rey,”pinta Stella lirih.

Danzel menghela napas berat menatap Stella, lalu dengan perlahan melepaskan cengkeramannya dengan kasar.

“Baiklah… kau selamat kali ini. Tapi dengar baik-baik."

"mulai sekarang kau sendirian! Tidak ada lagi yang mau berteman denganmu—termasuk Stella, Megan, dan Mike!” lanjut Danzel

Deg.

Stella membelalakkan mata. “Tapi—”

“Diam, Stella!” potong Danzel.

“Tinggalkan dia. Mulai detik ini hukuman sudah berlaku. Dan kalau ada yang mencoba melanggarnya… kalian tahu akibatnya.”

Dengan tatapan mengancam, Danzel berbalik dan pergi.

Megan dan Mike saling pandang, lalu menunduk.

“Maafkan kami, Rey… kita tidak bisa melawan Danzel,”** ucap Mike.

“Ini semua karena kesalahanmu sendiri. Kita sudah mencoba menghentikan mu, tapi kau tak mau mendengar,” tambah Megan.

Mereka sebenarnya enggan meninggalkan Rey, tapi Danzel terlalu berpengaruh. Semua orang di sekolah tahu—keputusan Danzel adalah mutlak.

Dengan berat hati, Megan, Mike, dan Stella melangkah pergi.

Stella sempat menoleh, matanya berkaca-kaca, sebelum menghilang dari pandangan. kali ini firasat buruknya benar, rencana nya menjebak Alice dan kemarahan Danzel berpengaruh besar pada pertemanannya. ada sedikit rasa penyesalan dalam dirinya.

Kesendirian kini menyelimuti Rey. Ia mengepalkan tangan, lalu menghantamkan tinjunya ke dinding.

“Arghhh… sial!!” teriaknya, penuh amarah.

Penyesalan menghantamnya, Dia tahu hukuman ini takkan dicabut, dan ia memilih menanggungnya seorang diri. Bahkan saat kemarahan Danzel seharusnya juga mengarah pada yang lain, Rey tetap bungkam.

 

Di perjalanan pulang, Danzel dan Alice melaju dengan motor melewati jalanan kota yang mulai diselimuti awan kelabu. Danzel sudah kembali mengenakan seragamnya, sementara Alice duduk di belakang, tubuh mungilnya terbungkus jaket milik Danzel yang kebesaran.

Keduanya tak banyak bicara. Hanya suara mesin motor dan deru angin yang memecah kesunyian. Sesekali, Alice memeluk dirinya sendiri, mencoba mengusir dingin yang mulai merayap.

Tak lama, langit semakin menghitam, dan hujan turun tiba-tiba, deras tanpa peringatan. Danzel segera memutar setang, mencari tempat berteduh, hingga pandangannya tertumbuk pada sebuah halte tua di pinggir jalan.

Ia memarkir motor di dekat sana, lalu membantu Alice turun. Mereka bergegas masuk, duduk di bangku kayu yang masih sedikit basah oleh cipratan hujan.

“Kita meneduh di sini dulu, tidak masalah kan, Al?” tanya Danzel sambil menatap wajah Alice yang masih pucat.

Alice hanya mengangguk pelan, pandangannya kosong tertuju pada tirai hujan di depannya. Suara rintik yang menghantam atap halte menjadi latar bagi keheningan mereka.

Danzel memiringkan tubuhnya sedikit, mencoba menangkap tatapan Alice yang seolah menembus jauh ke dalam pikirannya sendiri.

“Kamu… sudah baik-baik saja?” suaranya lembut, berbeda dari nada tegas yang biasa ia gunakan.

Alice terdiam sejenak, seakan menimbang jawabannya. Bibirnya bergerak pelan, “Aku… hanya masih terkejut.”

Tatapannya tetap tak lepas dari hujan. “Semua yang terjadi… rasanya seperti mimpi buruk yang belum berakhir.”

Danzel menunduk sebentar, meremas kedua tangannya di atas lutut. Ia tahu Alice berusaha terlihat kuat, tapi sorot matanya mengatakan sebaliknya.

“Aku minta maaf, Al… kalau saja aku bisa datang lebih cepat—”

Alice menggeleng pelan, memotong kata-katanya. “Bukan salahmu, justru kamu yang telah menolong ku. Terimakasih banyak Danzel.”

Danzel mengangguk tersenyum 

Hening kembali menyelimuti mereka. Hanya suara hujan yang menemani, sementara Danzel duduk di sana, masih menatap Alice dengan rasa iba yang sulit ia sembunyikan.

**

Beberapa saat kemudian, hujan tak kunjung reda. Danzel yang mulai merasa bosan melirik Alice sejenak. Ia tahu rasa trauma masih membebani sahabatnya itu—sorot matanya masih menyimpan bayang-bayang kejadian tadi.

Satu ide spontan terlintas di benaknya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil, lalu ia bangkit dari bangku dan melangkah keluar ke tengah hujan tanpa ragu.

Alice mengerutkan kening, menatap Danzel yang kini berdiri di tengah jalan yang sepi. Dalam sekejap, tubuh pria itu basah kuyup, namun ia tetap merentangkan kedua tangannya, membiarkan hujan membasahi setiap inci tubuhnya.

“Kemarilah, Alice…” ajaknya lembut, suaranya hampir tenggelam oleh deru hujan.

Alice tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. Perasaan sedih masih menyelimutinya, membuat langkahnya terasa berat.

Danzel menghela napas pelan. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah kembali ke halte dan, dengan lembut, menggenggam tangan Alice. Sentuhannya hangat, kontras dengan udara dingin di sekitar mereka. Alice sempat terkejut, tapi tidak menolak ketika Danzel membawanya ke tengah jalan yang sepi itu.

Butiran air dingin segera membasahi wajah dan tubuh Alice. Di tengah hujan yang tak henti turun, mereka berdiri berhadapan.

“Pejamkan matamu, Alice… tengadahkan wajahmu ke atas. Biarkan rintik hujan menyentuh wajahmu,” ucap Danzel pelan.

Alice menautkan alisnya, bingung.

“Ayo, lakukan…” desak Danzel sambil tersenyum menenangkan.

Dengan sedikit ragu, Alice menurutinya. Begitu matanya terpejam dan wajahnya terangkat ke langit, Danzel mendekat lalu membisikkan sesuatu di telinganya.

“Nikmati setiap tetes air hujan ini. Biarkan rasa takut, trauma, dan kesedihanmu hanyut bersamanya. Setiap tetes akan membawa sedikit ketenangan, sedikit kedamaian.”

“Jadi… nikmatilah, Alice. Resapi semuanya, dan biarkan rasa senang itu perlahan muncul dari balik kesedihanmu.”

Bisikan itu bagaikan sihir. Detik demi detik, Alice mulai merasakan ketenangan yang membasuh hatinya. Tanpa sadar, senyum kecil muncul di bibirnya. Perlahan, ia merentangkan tangannya, membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhnya.

1
Sari Nilam
terlalu lemah juga gak bagus thor katakter utamanya
Sari Nilam
bodohnya danzel
Sari Nilam
rachel jaih lebih licik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!