Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Salju tebal mulai turun saat rombongan besar itu mencapai kaki Pegunungan Langit Utara. Ribuan prajurit Serigala Perak bergerak dalam barisan yang sangat disiplin, mengawal kereta-kereta logistik berisi batu inti dan persenjataan uap. Aslan memacu kudanya di barisan paling depan, matanya terus berpendar biru di balik tudung jubahnya.
[Sistem: Memasuki wilayah Pegunungan Langit Utara. Ketinggian: 3.200 meter di atas permukaan laut. Suhu ekstrem terdeteksi. Risiko pembekuan peralatan mekanis: 25%.]
"Berapa lama lagi kita akan sampai di puncak, Tuan?" tanya Lord Hektor yang tampak gemetar menahan dingin.
"Tiga jam jika kita tidak berhenti untuk istirahat. Kita harus mencapai gerbang utama sebelum badai salju ini menjadi lebih buruk," jawab Aslan tanpa menoleh.
"Jenderal Elara, pastikan pasukan kavaleri tetap di barisan belakang. Jangan biarkan ada prajurit yang tertinggal dalam kabut," perintah Aslan melalui alat komunikasi sihir.
"Dimengerti, Pangeran. Barisan belakang tetap solid," sahut Elara dengan suara yang terdengar tenang di seberang sana.
[Sistem: Deteksi struktur kuno di arah jam dua belas. Jarak: 5 kilometer. Status struktur: Terbengkalai. Sinyal energi inti terdeteksi sangat lemah.]
Aslan menarik napas panjang. Ia bisa melihat bayangan raksasa sebuah benteng yang menyatu dengan tebing gunung. Benteng Inti Valerion berdiri kokoh di sana, sebuah keajaiban arsitektur masa lalu yang kini tertutup lapisan es abadi.
"Si Tangan Besi, siapkan mesin pemanas uap portabel. Kita butuh itu untuk mencairkan mekanisme kunci pintu gerbang," perintah Aslan saat mereka mulai mendekati dinding benteng yang menjulang tinggi.
"Segera dilaksanakan, Pangeran! Mesin uap siap dalam lima menit!" teriak Si Tangan Besi dari arah gerobak logistik.
Jax turun dari kudanya dan segera memanjat tebing es di samping gerbang. Ia ingin memastikan tidak ada makhluk atau mata-mata yang bersembunyi di menara-menara pengintai yang sudah lama kosong.
"Area gerbang bersih, Tuan! Tapi engselnya benar-benar sudah menjadi satu dengan es!" teriak Jax dari ketinggian.
Aslan mendekati pintu gerbang yang terbuat dari logam hitam khusus. Ia meletakkan tangannya di atas permukaan dingin tersebut, membiarkan sistem sarafnya melakukan sinkronisasi dengan sistem keamanan kuno benteng.
[Sistem: Mengidentifikasi Mekanisme Kunci 'Valerion Alpha'. Protokol akses kerajaan diperlukan. Menggunakan tanda tangan genetik subjek Aslan.]
"Berikan jalan bagi pewaris yang sah," bisik Aslan.
Sebuah pola cahaya biru mulai menjalar dari telapak tangan Aslan ke seluruh permukaan gerbang. Suara gemuruh logam yang bergeser terdengar sangat keras, memecah kesunyian pegunungan salju. Pintu gerbang raksasa itu perlahan terbuka, memperlihatkan lorong luas yang gelap gulita di dalamnya.
Pasukan Serigala Perak masuk ke dalam aula utama benteng dengan perasaan takjub. Obor-obor segera dinyalakan, menerangi pilar-pilar batu raksasa yang dihiasi ukiran sejarah kerajaan. Ruangan itu terasa sangat luas, mampu menampung ribuan orang sekaligus.
"Tempat ini sangat dingin. Apakah mesin pemanas benteng ini masih bisa berfungsi?" tanya Elara sambil menyapukan pandangannya ke langit-langit aula.
"Secara teori, ya. Tapi kita butuh batu inti asli untuk memicunya kembali," jawab Aslan sambil berjalan menuju tengah aula.
[Sistem: Memetakan lokasi pusat energi Benteng Inti. Lokasi: Ruang Bawah Tanah Sektor Nol. Jarak: 200 meter ke bawah.]
Aslan menunjuk sebuah lingkaran logam di lantai pusat aula. "Si Tangan Besi, bawa dua peti batu inti ke sini. Kita akan menghidupkan jantung tempat ini sekarang juga."
"Siap, Pangeran! Piston pengangkut akan segera kami pasang jika lift ini macet!" sahut Si Tangan Besi dengan semangat.
Aslan, Elara, dan Si Tangan Besi turun menuju ruang bawah tanah menggunakan tangga darurat karena sistem mekanis lift belum mendapatkan energi. Di dasar ruangan, sebuah bola kristal raksasa yang sudah kusam tergantung di tengah ruangan yang penuh dengan pipa-pipa uap besar.
"Ini adalah Inti Utama. Selama tiga puluh tahun, ia hanya tidur tanpa asupan energi," ucap Aslan.
[Sistem: Memulai protokol restorasi energi. Masukkan batu inti ke dalam slot konverter nomor satu hingga sepuluh.]
Si Tangan Besi dengan hati-hati memasukkan sepuluh batu inti yang mereka curi dari Aethelgard ke dalam slot logam yang sudah berkarat. Setiap kali batu dimasukkan, suara dengung energi mulai terdengar merayap di sepanjang pipa.
"Aslan, apa kau yakin ini aman? Pipa-pipa ini terlihat sangat rapuh," bisik Elara dengan nada khawatir.
"Sistem ventilasinya akan membuang tekanan berlebih secara otomatis jika sistem pusatnya aktif. Percayalah padaku," jawab Aslan dengan tenang.
[Sistem: Input energi terdeteksi. Memulai inisialisasi Inti Utama. Sinkronisasi dalam tiga... dua... satu...]
Tiba-tiba, bola kristal raksasa itu menyala dengan cahaya biru yang sangat terang. Seluruh ruangan bergetar hebat saat mesin-mesin kuno di dalamnya mulai berputar kembali. Suara deru uap panas terdengar mengalir melalui pipa-pipa, menyebarkan kehangatan ke seluruh sudut benteng dalam sekejap.
"Berhasil! Lihatlah tekanan uapnya, Pangeran! Sangat stabil!" teriak Si Tangan Besi sambil menatap indikator tekanan mekanis yang kembali bergerak.
Di aula atas, para prajurit bersorak saat lampu-lampu kristal di dinding mulai menyala satu per satu. Udara dingin yang membekukan perlahan berganti menjadi hangat dan nyaman.
Dua hari telah berlalu sejak aktivasi Inti Utama. Benteng Inti Valerion kini telah sepenuhnya hidup kembali. Si Tangan Besi bekerja tanpa henti di bengkel bawah tanah, memodifikasi sistem pertahanan benteng dengan teknologi uap miliknya.
"Pangeran, saya baru saja selesai memperbaiki meriam otomatis di menara barat. Tapi saya butuh panduanmu untuk mengatur sudut tembakannya," ucap Si Tangan Besi saat bertemu Aslan di ruang strategi.
Aslan menatap peta hologram yang diproyeksikan oleh sistem di atas meja strategi. "Gunakan koordinat yang sudah kupetakan di dokumen ini. Aku ingin setiap inci lereng gunung tertutup oleh jangkauan tembakanmu."
"Sangat detail. Anda benar-benar memikirkan setiap celah pelarian musuh," puji Si Tangan Besi sebelum kembali ke bengkel.
Elara masuk ke ruangan dengan wajah yang tampak serius. Ia membawa sebuah surat yang baru saja diantarkan oleh kurir rahasia Bayangan Merah.
"Kael sudah bergerak. Dia mengirim Jenderal Malphas bersama tiga divisi infanteri berat dan satu unit kavaleri udara," lapor Elara.
Aslan mengernyitkan kening. "Malphas? Pria yang dikenal sebagai Jagal dari Selatan itu?"
"Benar. Dia tidak akan menggunakan taktik halus. Dia akan menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya," jawab Elara sambil meletakkan surat itu di meja.
[Sistem: Menganalisis profil Jenderal Malphas. Tipe: Agresif. Kelemahan: Terlalu percaya diri pada jumlah pasukan. Strategi rekomendasi: Pertahanan Statis Berlapis dan Jebakan Energi.]
"Berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk sampai ke sini?" tanya Aslan.
"Sekitar lima hari. Badai salju di kaki gunung akan memperlambat gerakan infanteri berat mereka," Elara menjelaskan.
"Bagus. Itu memberi kita waktu untuk mempersiapkan kejutan bagi mereka di Celah Aridelle Bawah," ucap Aslan dengan senyum dingin.
Aslan kemudian memanggil Jax dan Bayangan Merah yang baru saja kembali dari misi pengintaian. "Bayangan Merah, aku ingin kau menaruh bubuk peledak di sepanjang jembatan gantung menuju lembah. Jax, kau akan memimpin unit pemanah di puncak tebing yang tidak bisa dijangkau oleh kavaleri udara mereka."
"Kami siap, Pangeran," jawab Jax dan Bayangan Merah secara bersamaan.
Aslan menatap Elara dengan pandangan yang penuh determinasi. "Jenderal, kavaleri Serigala Perak akan menjadi unit pembersih. Kita tidak akan membiarkan Malphas mencapai gerbang utama benteng ini."
Malam sebelum kedatangan pasukan Malphas, Aslan duduk sendirian di puncak menara tertinggi benteng. Angin kencang menerpa wajahnya, tapi suhu tubuhnya tetap terjaga berkat sinkronisasi sistem.
"Aslan?" suara lembut Elara terdengar dari belakang.
Aslan menoleh dan melihat Elara membawa dua cangkir teh hangat. "Kau belum tidur, Jenderal?"
"Sepertinya kita berdua memiliki masalah yang sama," jawab Elara sambil duduk di samping Aslan. "Kau terlihat sangat tenang menghadapi Malphas. Apakah kau tidak merasa takut sedikit pun?"
"Takut adalah perasaan yang wajar, tapi aku tidak punya ruang untuk itu di kepalaku sekarang," jawab Aslan sambil menerima cangkir teh itu. "Aku harus memastikan setiap nyawa di benteng ini tetap aman."
Elara menatap profil samping wajah Aslan. "Terkadang aku lupa kalau kau masih sangat muda. Kau memikul beban seluruh kerajaan seolah itu bukan apa-apa."
"Dunia ini tidak pernah memberiku pilihan untuk menjadi anak muda biasa, Elara," balas Aslan pelan.
Elara meletakkan tangannya di atas tangan Aslan yang memegang cangkir. "Apapun yang terjadi besok, Serigala Perak dan aku akan tetap berada di sampingmu. Kau bukan lagi pangeran pelarian yang sendirian."
Aslan menatap mata Elara dan merasakan kehangatan yang berbeda dari sekadar suhu uap benteng. "Terima kasih, Elara. Itu sangat berarti bagiku."
[Sistem: Fluktuasi emosional terdeteksi pada subjek Elara dan pengguna. Tingkat kepercayaan: 100%. Memperbarui status aliansi: Kemitraan Strategis dan Emosional.]
Aslan mengabaikan notifikasi sistem itu sejenak. Ia hanya ingin menikmati ketenangan ini sebelum badai perang yang sesungguhnya pecah di fajar nanti.
"Ayo masuk. Udara di luar mulai tidak bersahabat," ajak Aslan sambil berdiri.
Saat mereka berjalan kembali ke dalam benteng, lonceng peringatan tiba-tiba berbunyi dari arah gerbang bawah. Jax memberikan sinyal cahaya dari menara pengintai.
"Mereka datang lebih cepat dari perkiraan," ucap Aslan dengan nada bicara yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan profesional.
"Siapkan pasukan! Semua unit ke posisi tempur sekarang!" teriak Elara melalui perangkat komunikasi sihirnya.
[Sistem: Deteksi pasukan musuh pada jarak sepuluh kilometer. Jumlah personel: 12.000. Unit kavaleri udara terdeteksi di ketinggian 500 meter. Mengaktifkan Mode Perang Benteng Inti.]
Aslan berdiri di tengah ruang komando, matanya bersinar biru pekat saat ia mulai memanipulasi panel kontrol pertahanan otomatis benteng. "Malphas, selamat datang di kuburanmu yang baru."
Lampu-lampu pertahanan benteng yang berwarna merah mulai menyala di sepanjang dinding luar, memberikan sinyal bahwa Benteng Inti Valerion kini telah berubah menjadi mesin pembunuh raksasa yang siap memangsa siapa pun yang mencoba mendekat.
Garis cakrawala di kaki gunung dipenuhi oleh ribuan obor yang bergerak seperti ular api. Jenderal Malphas memimpin pasukannya dengan penuh keangkuhan. Ia menatap benteng di puncak gunung dengan seringai meremehkan.
"Hanya sebuah benteng tua yang dipenuhi tentara bayaran dan pangeran bocah," gerutu Malphas sambil memacu kuda perangnya yang besar. "Hancurkan jembatan depan dan siapkan kavaleri udara untuk membakar menara mereka!"
Namun, saat pasukan infanteri berat musuh menginjakkan kaki di jembatan utama Celah Aridelle, Aslan memberikan perintah pertama.
"Bayangan Merah, lakukan sekarang," bisik Aslan melalui sistem sarafnya.
Ledakan dahsyat mengguncang lembah. Jembatan gantung itu hancur seketika, melemparkan ratusan prajurit Malphas ke dalam jurang yang dalam.
"Apa?! Bagaimana mereka bisa menaruh peledak di sana tanpa terdeteksi?!" teriak Malphas dengan marah.
Di langit, unit kavaleri udara musuh yang menunggangi Griffin mulai mendekati menara benteng. Mereka menyiapkan botol-botol minyak api untuk menghanguskan pertahanan Aslan.
"Si Tangan Besi, aktifkan meriam uap tekanan tinggi. Targetkan sayap Griffin mereka," perintah Aslan.
Menara-menara benteng mendadak terbuka, memperlihatkan moncong meriam pendek yang mengeluarkan uap putih pekat. Dalam sekejap, proyektil logam melesat dengan kecepatan tinggi, menghantam sayap-sayap Griffin dan membuat kavaleri udara musuh berjatuhan dari langit seperti lalat.
[Sistem: Unit udara musuh hancur sebesar 40%. Moral musuh mulai mengalami penurunan ringan. Subjek Malphas memerintahkan serangan total.]
"Jangan berhenti! Gunakan tangga pelontar! Aku ingin kepala Aslan di atas meja makanku malam ini!" raung Malphas dari kejauhan.
Aslan menatap layar hologram di depannya. Ia melihat pergerakan Malphas yang mulai tidak teratur akibat kemarahan. "Dia melakukan kesalahan. Dia mengirim unit cadangannya terlalu cepat."
"Elara, siapkan pasukan Serigala Perak untuk serangan balik melalui terowongan rahasia di sayap kiri. Tunggu sampai unit pusat Malphas terjebak di area jebakan energi," instruksi Aslan.
"Kami sudah siap, Aslan. Hanya menunggu aba-abamu," sahut Elara yang sudah berada di atas kudanya di dalam terowongan.
Aslan menarik tuas terakhir pada konsol kendali benteng. Sebuah peringatan sistem muncul dengan warna merah yang berkedip cepat di sudut matanya. [Sistem: Pelepasan Energi Inti Sektor Utama Diaktifkan. Target Terkunci: Jenderal Malphas dan Barisan Infanteri Pusat.] Cahaya biru di puncak menara meledak menjadi berkas energi yang sangat masif, membutakan mata setiap prajurit di lembah saat barisan terdepan musuh lenyap ditelan kekuatan kuno Valerion yang kembali bangkit.