NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life / Persahabatan / TKP / Roh Supernatural
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Apartemen Lisa pada larut malam memiliki jenis keheningan ruang hampa yang sengaja dibuat untuk berkonsentrasi. Dengungan rendah kipas pendingin laptop adalah satu-satunya soundtrack, sebuah suara putih yang monoton. Cahaya biru pucat dari layar monitor 14 inci itu adalah satu-satunya sumber iluminasi, menerangi wajah Lisa dengan cahaya hantu yang mengukir bayangan dalam di bawah matanya yang berkantung. Udara terasa pengap, berbau kopi dingin dan ketegangan.

Di sampingnya, Sam tidak bisa duduk dengan tenang. Ia melayang bolak-balik di ruang sempit antara meja dan sofa, seperti macan dalam sangkar. Setiap beberapa detik, matanya yang waspada menyapu lengannya sendiri, memeriksa dengan cemas apakah ada tanda-tanda asap hitam itu kembali. Sensasi dingin yang menusuk di taman masih melekat pada esensinya seperti luka bakar yang tak terlihat.

“Aku sudah masuk ke arsip digital surat kabar nasional untuk kuartal ketiga 1987.” Gumam Lisa, lebih kepada dirinya sendiri. Jari-jarinya yang ramping menari di atas keyboard, mengetikkan variasi kata kunci: Hotel Emerald, insiden, anak, hilang, meninggal, 1987. “Jika ada sesuatu yang terjadi di sebuah hotel mewah pada acara besar, media pasti akan meliputnya. Kematian seorang anak, apalagi… pasti akan meninggalkan jejak.”

Sam berhenti melayang, mendekati bahu Lisa. Matanya, yang kini memancarkan cahaya biru yang lebih redup dari biasanya, mengikuti setiap gulungan teks di layar. Kebanyakan artikel membosankan: laporan ekonomi tentang booming Korea, politik, ulasan film. Dunia berjalan seperti biasa pada tahun itu, tidak peduli bahwa di suatu taman hotel, seorang anak kecil telah berhenti menjadi bagian darinya.

Kemudian, Lisa membuka sebuah tab baru, sebuah portal ke arsip surat kabar sosialita yang sudah lama bangkrut. Dan di sana, tersembunyi di antara berita tentang gaun pesta dan peluncuran parfum, sebuah judul mencolok:

“MISTERI HILANGNYA PEWARIS TUNGGAL DI MALAM PEMBUKAAN SAYAP BARU EMERALD”

Lisa mengeklik. Halaman digital yang berdebu terbuka. Dan sebuah foto hitam putih, dengan butiran kasar khas cetakan zaman dulu, muncul, memenuhi layar.

Foto itu menunjukkan seorang pria. Ia masih muda, mungkin pertengahan tiga puluhan. Berdiri di depan pintu putar Hotel Emerald yang megah, mengenakan setelan jas tiga kancing yang sangat rapi, dasi polos, dan rambut disisap rapi ke belakang. Wajahnya tampan, dengan garis rahang yang tegas dan hidung yang lurus. Tapi yang menarik Lisa bukanlah ketampanannya, melainkan matanya. Mata itu, bahkan dalam foto berkualitas rendah, memancarkan sebuah narasi yang kompleks: kepercayaan diri seorang pengusaha sukses, kelegaan karena acara besar telah berakhir, namun di balik itu semua, terselip sebuah kesedihan yang begitu dalam hingga tenggelam di balik permukaan yang tenang. Seolah-olah pria itu sedang memakai topeng keteguhan di atas sebuah jurang keputusasaan.

Nama di keterangan foto tertulis sederhana: Jack Bahng, Direktur Operasional Hotel Emerald.

Dan kemudian, dunia di dalam apartemen sempit itu berubah, seperti kejutan listrik.

“Aah—!”

Suara yang keluar dari Sam merupakan erangan fisik yang terpotong. Lisa spontan menoleh, dan darahnya membeku.

Sam tidak lagi berdiri. Tubuhnya melengkung, kedua tangannya mencengkeram kepalanya seolah-olah tengkoraknya akan pecah. Getaran yang mengerikan mengguncang seluruh siluetnya, membuat pinggiran tubuhnya yang bercahaya berbayang dan buram, seperti siaran televisi yang terkena interferensi hebat. Cahaya birunya berkedip-kedip liar, menyala padam dalam ritme yang kacau.

“Sam!” Lisa terdorong dari kursinya, yang berderit keras. “Apa yang terjadi?”

“Wajah… itu…” Sam mendesis. “Kepalaku… oh, tidak… rasanya seperti… ada yang menusuk-nusuk di dalam…”

Rasa sakitnya terasa nyata di udara. Lisa bisa merasakan sebuah tekanan psikis yang tajam dan dingin. Sam ambruk, posisinya sekarang setengah berlutut di lantai, wajahnya mendongak masih tertuju pada layar, pada foto pria bernama Jack Bahng itu.

“Dia… dia pernah… berdiri di sana.” Kata-kata Sam keluar terengah-engah. Ia memejamkan mata, lalu membukanya lebar-lebar, seolah-olah melihat sesuatu yang terproyeksi di udara apartemennya. “Sekelilingku… sangat gelap. Dan dingin yang basah.” Ia menggigil hebat. “Aku mencium… bau. Tanah. Tanah basah. Dan… parfum. Wangi yang kuat… dan menyakitkan.” Napasnya tersengal-sengal. “Pria itu… dia menangis.”

Lisa berjongkok di hadapannya, menjaga jarak, hatinya berdebar kencang. “Dia menangis? Menangis di depanmu? Atau di mana, Sam? Di dalam hotel?”

Sam mengangguk. “Dia… memegang tanganku.” Sam melihat tangannya sendiri yang transparan. “Genggamannya… kuat. Tapi… lembut. Air matanya… jatuh. Di sini.” Ia menyentuh punggung tangan kanannya. “Rasanya panas. Sangat, sangat panas.” Air mata Sam sendiri tidak bisa jatuh, tapi ekspresi wajahnya mencerminkan rasa sakit akan kehangatan yang diingatnya. “Dia terus memanggil… sebuah nama. Tapi… suaranya. Terdengar jauh. Tertutup… oleh suara hujan. Hujan deras… dan… dan suara sirene? Suara yang melengking…”

Ia berhenti, terisak. “Jack… kenapa… kenapa dia terlihat begitu hancur? Seperti… dunianya baru saja runtuh.” Sam terdiam, lalu dengan suara yang hampir tak terdengar, penuh kebingungan anak kecil, ia bertanya, “Apa… apa hubunganku dengannya?”

Pertanyaan itu menggantung di udara. Sam, dalam penderitaan dan kilas baliknya, belum menangkap benang merah yang paling jelas. Ia melihat Jack Bahng dan merasakan sebuah tsunami emosi, tapi belum melihat cermin.

Lisa, bagaimanapun, melihatnya. Matanya yang analitis beralih cepat antara foto di layar dan wajah Sam yang sedang tersiksa. Jantungnya berdebar lebih kencang, kali ini bukan karena ketakutan, tapi karena penemuan. 𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢, 𝘚𝘢𝘮.

“Sam, dengarkan aku. Fokuslah padaku. Pria ini adalah Jack Bahng. Apa kau ingat namanya? Apa dia… apa dia menyakitimu? Atau… apakah dia mencarimu?”

Sam menggelengkan kepalanya dengan susah payah. Getaran di tubuhnya mulai mereda, berubah menjadi gemetaran halus. Cahaya birunya stabil, tapi sangat redup, seperti bintang yang hampir padam di langit yang tercemar cahaya kota. Ia tampak hancur secara eksistensial—sebuah jiwa yang baru saja dipaksa mengingat trauma yang tidak bisa diprosesnya.

“Aku… tidak tahu...” Bisiknya, suaranya kembali seperti miliknya sendiri, tapi hancur, parau, dan penuh kelelahan yang tak terhingga. Ia menatap Lisa, dan di matanya yang biasanya hangat, Lisa melihat laut penderitaan yang dalam. “Aku hanya ingat… kesedihannya. Rasa sedihnya… itu menular. Itu sangat menyesakkan. Sampai… sampai aku ingin memeluknya, dan ingin bilang… ‘Jangan menangis.’ Tapi…” Ia melihat tangannya, yang tidak bisa menyentuh apa pun. “Aku tidak bisa bergerak. Aku seperti… terperangkap. Di bawah sesuatu… yang berat. Sangat berat.”

Lisa menarik napas dalam-dalam. Gambarannya mulai terbentuk. Jack Bahng yang menangis sambil memegang tangan. Ini bukan adegan di lobi yang terang. Tapi itu merupakan sesuatu yang lebih kelam.

Dia menoleh kembali ke layar, ke foto Jack Bahng yang tegas namun sedih. 𝘗𝘳𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘚𝘢𝘮. 𝘈𝘵𝘢𝘶… 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. 𝘋𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢. Pikirnya dengan hati yang berat.

Dengan gerakan yang menentukan, Lisa menekan tombol print screen. Wajah Jack Bahng kini tersimpan di komputernya. Lalu, ia mengambil buku catatan kulitan di sebelah keyboardnya—buku dengan sampul kulit hitam yang penuh coretan kasus. Dengan pulpen yang sama yang pernah bergerak sendiri di kantornya, ia menulis dengan huruf kapital tebal:

JACK BAHNG. DIREKTUR OPERASIONAL HOTEL EMERALD (1987). KUNCI?

Tinta hitam itu menyerap ke dalam kertas, terlihat seperti keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.

Sam, yang sedikit pulih, menarik dirinya ke atas. Ia berdiri dengan goyah, seperti bayi rusa yang baru belajar berdiri. Ia mendekati meja lagi, menatap foto di layar yang sekarang sudah Lisa perkecil. Rasa sakit akut telah berlalu, meninggalkan rasa hampa dan kerinduan yang mengganjal, rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Ada… sesuatu.” Gumam Sam, menatap wajah Jack Bahng. “Saat aku melihatnya… rasanya seperti… ada tali yang terikat di sini.” Ia menunjuk dadanya. “Tali yang ditarik. Menyakitkan, tapi… juga membuatku ingin mendekati orang itu.”

Lisa memandangnya dengan perasaan campur aduk. “Itu namanya ikatan, Sam. Dan kita akan mencari tahu ikatan apa itu.”

Sebelum Lisa menutup laptop, Sam memandang foto itu sekali lagi. Ia tidak melihat cermin dirinya. Ia hanya melihat seorang pria yang hancur pada suatu malam di tahun 1987. Tapi di dalam dada Sam yang hampa, sesuatu yang telah lama mati berdenyut pelan, merespons panggilan darah dari masa lalu. Sebuah nama, yang belum ia ingat, tapi sudah mulai menariknya dari dalam kubur ketiadaan.

.

.

.

.

.

.

.

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!