NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

Cherrin tidak langsung bereaksi.

Bukan karena ia tidak mengerti. Tapi karena otaknya seperti berhenti memproses kata-kata setelah kalimat itu.

Ia menatap Zivaniel, mencoba mencari celah—nada bercanda, senyum palsu, atau tanda bahwa kalimat itu tidak sepenuhnya serius. Tapi yang ia temukan hanyalah wajah yang rapi, tenang, dan… tertutup.

“Kamu… ngomong apa sih?” suara Cherrin pelan. Terlalu pelan untuk emosi yang sedang bergejolak di dalam dirinya.

Zivaniel berdiri. Gerakannya tidak tergesa, tidak emosional. Seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu jauh sebelum percakapan itu terjadi.

“Aku mau ke kamar,” katanya singkat.

“Niel,” panggil Cherrin cepat, refleks.

Zivaniel berhenti, tapi tidak menoleh.

“Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu terus pergi,” lanjut Cherrin, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha menahannya.

Zivaniel menghela napas pelan. “Aku cuma bilang apa yang seharusnya.”

“Seharusnya menurut siapa?” tanya Cherrin.

Tidak ada jawaban.

Zivaniel melangkah lagi. Kali ini tidak berhenti.

Langkahnya menjauh, menyisakan ruang yang tiba-tiba terasa terlalu besar. Kucing abu-abu di sofa bergerak gelisah, lalu meloncat turun, berjalan pelan menuju sudut ruangan—meninggalkan Cherrin sendirian.

Cherrin tidak menangis.

Ia hanya duduk diam, terlalu lama.

Lampu ruang tengah tetap temaram. Jam dinding tetap berdetak. Tidak ada yang berubah secara kasat mata. Tapi di dalam dirinya, sesuatu bergeser—pelan, nyaris tidak terdengar, tapi cukup untuk mengubah segalanya.

"Kenapa kalau dia dekat sama Elran? Kan sama saja saat ia dekat dengan cowok lain? Zivaniel kok berlebihan sih?" batin Cherrin kesal.

Malam itu, Cherrin tidak tidur.

Ia berbaring menghadap dinding, punggungnya mengarah ke pintu kamar. Setiap suara kecil membuatnya menahan napas—langkah di lorong, pintu terbuka, bahkan suara AC yang berubah ritme.

Tidak ada yang datang.

Zivaniel tidak mengetuk pintu seperti biasanya. Tidak mengirim pesan. Tidak melakukan apa pun yang biasanya ia lakukan, bahkan biasanya pemuda itu selalu datang diam-diam ke kamar Cherrin dan tidur di samping Cherrin. Tapi malam ini tidak sama sekali...

Cherrin bahkan tidak melihat keberadaan Zivaniel di Mension.

Ia juga sudah tanya dengan bibik, tapi mereka tidak melihat Zivaniel.

Dan justru itu yang paling menyakitkan bagi Cherrin.

"Kamu kenapa sih?" Cherrin merengek frustasi. Ia sungguh tidak bisa melihat Zivaniel cuek seperti ini.

Pagi datang tanpa transisi yang jelas. Seolah malam hanya bergeser posisi, bukan benar-benar berakhir.

Cherrin bersiap ke sekolah dengan gerakan mekanis. Rambut disisir rapi. Seragam disetrika sempurna. Wajahnya terlihat normal—tidak sembab, tidak pucat berlebihan.

Di meja makan, kursi Zivaniel kosong lagi.

Kali ini, Cherrin tidak mau ambil pusing, karena menurutnya Zivaniel berlebihan sekali. Semalaman ia bahkan memikirkan pemuda itu, dan ia kesal dengan sikap Zivaniel yang entah kenapa.

Ia mengambil tasnya, keluar Mension tanpa menoleh ke lorong kamar Zivaniel.

Di sekolah, Elran menjadi hal pertama yang menyapa dunianya.

“Pagi, Cher.”

Suara itu santai, hangat, dan—entah kenapa—selalu terdengar terlalu dekat. Elran berdiri di samping loker, satu tangan di saku, senyum kecil menghiasi wajahnya.

“Pagi Elran,” jawab Cherrin sambil tersenyum.

“Elu kelihatan capek.”

“Biasa aaj.”

Elran mengangkat alis, jelas tidak sepenuhnya percaya. Tapi ia tidak memaksa. Ia hanya berjalan seiring dengan Cherrin menuju kelas.

Beberapa langkah pertama sunyi.

Lalu Elran berkata, “nggak bareng sama Zivaniel?”

Pertanyaan itu seperti pisau kecil yang disentilkan ke kulit—tidak dalam, tapi cukup untuk perih.

“Enggak,” jawab Cherrin tidak suka.

“Oh.”

Nada Elran berubah sedikit. Bukan kecewa. Lebih ke… senang.

Mereka masuk kelas. Duduk. Hari berjalan seperti biasa, tapi Cherrin merasa seperti menonton hidupnya dari balik kaca tebal.

Saat istirahat, Elran kembali muncul. Dan mengajak Cherrin mengobrol.

Ia duduk di bangku depan Cherrin, memutar tubuh menghadapnya. “Lo kenapa sih?”

Cherrin menghela napas. “Semua orang nanya itu.”

“Karena lo kelihatan kayak orang yang baru kehilangan sesuatu tapi nggak tau apa.”

Kalimat itu membuat Cherrin terdiam.

Elran tidak tersenyum kali ini. Tatapannya lembut, tapi serius.

“Kalau lo nggak mau cerita, gapapa,” lanjutnya. “Gue cuma… taraaa.” Elran mengeluarkan sebuah permen membuat Cherrin mengerjap. "Permen?"

"Ya, buat elo" Elran memberikannya pada Cherrin membuat Cherrin menerimanya dengan semangat. Dan siapa sangka, Zivaniel melihat itu semuanya, pemuda itu mengepalkan kedua telapak tangannya dengan kencang.

"Brengsek!" Maki Zivaniel marah ia bahkan menendang tong sampah yang ada di dekatnya.

Salah satu temannya yang ada di sampingnya terlonjak kaget. "Zivaniel!!" panggil Dimas, berniat ingin memprotes ketua OSIS nya itu.

Zivaniel menoleh tajam, aura membunuhnya sungguh kuat sekali. "Apa?!" Semburnya, membuat Dimas kaget setengah mati.

"E--nggak apa-apa."

Zivaniel mendengus. Ia langsung pergi dari sana mengabaikan temannya itu.

"Gila tuh orang, kayak mau makan orang aja."

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!