Antara bertahan dengan perasaan atau melepaskan, ia gamang.
Perasaan terkadang hanya perlu diyakini, biar semesta yang mempertemukannya kembali.
Meski hidup bukan hanya perihal cinta, tapi menetapkan hati membutuhkan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oh_pid21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 29
***
Alisa tak bisa memahami perasaannya sendiri, ia begitu bahagia bersama Jefan akan tetapi ia juga memikirkan Danu yang selama ini ada disampingnya, yang selalu siap siaga membantunya bahkan tanpa ia meminta.
Pada siapa sebenarnya perasaanku?
Danu, aku rasa aku menyayangimu lebih dari teman, Jefan lelaki sedari awal aku menyukaimu.
Aku serakah!
Aku tidak bisa mempermainkan perasaanku sendiri, aku tidak bisa memberi kepada dua hati,
Danu, kenapa kamu tidak tetap bersamaku,
Aku tidak memintamu pergi sejauh ini, baik dengan jarak ataupun hati.
Jangan bunuh aku didalam hatimu,
kelak kita akan tetap bisa tertawa bersama meski bukan dalam penyatuan hati sebagai sepasang kekasih tetapi sebagai ikatan persaudaraan.
Mengertilah, aku teramat menyayangimu, lelaki kumal.
Perlahan ia pejamkan matanya, ia berusaha melupakan seseorang yang memilih pergi dari hidupnya dan mencari kebahagiaan pada yang lain. Tanpa memikirkan keadaan, ia meneteskan air mata yang tidak ia sadari.
Deringan ponsel membuat ia tersadar dari diamnya, Wahyu anak teman ibu Alisa menghubunginya. Sebenarnya ia malas mengangkatnya tapi akan lebih baik jika ia mengetahui maksud dari lelaki itu mendekatinya untuk apa?
“Assalamualaikum?” salam diseberang telepon,
“walaikumsalam,” jawab Alisa lirih.
“Maaf Alisa malam-malam begini aku mengganggumu,” lanjutnya tanpa malu.
“Iya, ada apa ya?” balasnya dingin.
“Jujur Alisa, tempo hari aku bersama ibuku kerumah orang tuamu. Aku bertemu dengan kedua orang tuamu dan juga adikmu, dan tentu saja ibumu memperkenalkanmu kepadaku dan ibu. Ibumu memperlihatkan fotomu” ucapnya lancar tanpa ada rasa canggung.
Alisa menghela napas,
“teruss?” sahutnya singkat.
“Aku ini lelaki dewasa Alisa, dan jujur aku memang sedang mencari istri. Dan ketika aku melihatmu, aku menyukaimu aku ingin mengenal lebih dalam tentangmu. Bolehkah?” lanjutnya hati-hati.
Alisa tidak menjawab pertanyaan lelaki yang memang serius dengan ucapannya,
“Alisa..? masih disitu kan?” serunya mencari suara Alisa.
“Sebelumnya aku minta maaf mas Wahyu, tapi aku tidak bisa menuruti keinginanmu. Aku tidak ingin memberikan harapan semu padamu. Aku senang bisa mengenalmu mengingat kamu anak dari teman ibu, aku menerima perkenalan ini. Tapi untuk lebih, maaf Alisa tidak bisa, Alisa sudah memiliki kekasih disini. Aku harap mas Wahyu memahami, mungkin jodoh mas Wahyu ada diluar sana, dan itu bukan Alisa. Semua belum terlambat mas, belum ceritanya menjadi panjang, aku mengatakan ini sedari sekarang agar kamu bisa mencari perempuan lain. Sekali lagi Alisa minta maaf mas” ucap Alisa dengan hati-hati pada lelaki asing yang baru dikenalnya itu.
“Tapi kedua orang tuamu menyetujui Alisa?” ucapnya kekeh.
“Mas, yang menjalani kan aku, jadi semua ada pada keputusanku. Tolong mengerti,” Alisa mulai bosan dengan pembicaraan, ia tidak bisa menyembunyikan moodnya yang telah berubah.
“Maaf mas, ini sudah malam aku capek sekali ingin istirahat” ucapnya ingin menyudahi pembicaraan via telepon tersebut.
“Oh iya Alisa,” ucapan terakhir lelaki itu tanpa mengucapkan salam.
Dalam hati lelaki itu pasti ada kekecewaan mendalam, belum sampai mereka dipertemukan tapi sudah menerima penolakan.
Dan Alisa pikir, Itu akan lebih baik baginya, sebelum menjadi cerita yang panjang tetapi tetap saja menelan kekecewaan pada akhirnya.
***
Disisi lain, Risa dengan aktifitasnya menjadi anak kuliahan membuatnya merasa bosan. Sesekali ia merengek pada Alisa untuk menghubungi Radit, lelaki yang tempo hari menginginkan Alisa yang juga untuk menjadi istrinya.
“Ayolah Alisa, aku mau kenalan lagi dengan Radit Radit itu” rengeknya menggoyang-goyangkan lengan Alisa.
Alisa melirik gadis manja dan cantik itu,
“Sini duduk,” ajaknya sembari menepuk tempat tidur yang berada dihadapannya.
“Kenapa lis?” Risa terheran melihat temannya serius.
“Kemarilah, duduk disini. Ada yang ingin aku ceritakan padamu” sahutnya memaksa Risa untuk duduk didepannya.
Risa pasrah, dan siap mendengar cerita Alisa.
“Dengarkan aku baik-baik Risa, sebelumnya aku meminta maaf denganmu. Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan ini denganmu tetapi karena sepertinya kamu benar-benar menyukai Radit maka aku harus jujur padamu.” Ucap Alisa memulai pembicaraan.
Risa menyimak penasaran ucapan Alisa tanpa memberi jawaban,
“Risa, dulu ketika Radit kesini datang menemuiku, sebenarnya dia memintaku untuk bisa menjadi istrinya. Dan karena aku tidak memiliki perasaan apa-apa dengannya ditambah aku belum siap untuk menikah jadi aku menolak tawaran pernikahan itu.” Alisa menjelaskan secara halus.
“Aku tidak mau, jika suatu saat nanti kalau pun terjadi hubungan diantara kalian, aku tidak ingin kamu mendengar tentang ini bukan dari mulutku. Aku ingin mulai hubungan pertemanan kita ini dengan kejujuran, bukan dengan sebuah rahasia dibaliknya. Kamu paham maksudku Risa?” tambah Alisa yang kini memegang tangan Risa.
Risa mengangguk pelan, ia merasa sedikit syok dengan pengakuan Alisa. Kini ia bimbang, antara melanjutkan atau membatalkan keinginannya.
Ia masih menatap Alisa dengan tatapan kosong.
“Kenapa tidak menceritakan ini denganku setelah pertemuan kalian?” balas Risa dengan mimic wajah datarnya.
Alisa tersenyum, “karena aku pikir kita tidak akan bertemu lagi dengannya Ris, aku pendam dalam-dalam cerita ini. Tetapi sungguh Risa, aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya. Jika kamu masih ingin mengenal lebih dalam tentang Radit, aku akan membantumu” ucapnya menepuk bahu Risa yang kini merekah senyumannya.
“Hmmm… kamu yakin tidak masalah?” Risa memastikan.
“Tentu Risa sayang,” cubitan manja mendarat dihidung bangirnya.
“Hmmm,,, atau tidak, kamu sendiri yang mengirimi dia pesan? Basa basi dululah. Bisa kalii Ris…” ledek Alisa.
“Aku malu kalau tiba-tiba menghubunginya lebih dulu” rengeknya manja.
“ Ah dasar,” Alisa memukul paha Risa dan beranjak dari kursi.
“Baiklah, nanti atau besoklah akan aku hubungi dia, tapi kamu harus sabar yaa?” ucapnya mengambil ponsel diatas meja.
Dipulau seberang, kekecewaan menghampiri hati lelaki asing, Wahyu.
“Bu, Alisa menolakku” tandasnya yang duduk dikursi ruang tamu.
Ibu yang sedari tadi membolak balikan majalah hanya menatap kasihan pada anak lelakinya, sang ibu pergi meninggalkan anaknya tanpa memberi jawaban. Ia ambil ponsel jadul yang terletak disamping televisi.
“Halo mbakk, ini bagaimana nduk Alisa tidak mau dengan anakku?” tanya ibu Wahyu mengadu pada ibu Alisa.
“Maaf mbak, saya juga tidak bisa memaksakan. Anak kita yang akan menjalani, kalau anak saya tidak setuju dengan perjodohan ini saya benar-benar minta maaf mbak. Mungkin tidak ada jodoh diantara mereka, saya hanya menginginkan Alisa bahagia mbak.” Ucap ibu Alisa dengan sedikit cemas.
“Tutttt..tuttttt!!” Tiba-tiba panggilan terputus, teman ibu Alisa pun kecewa dengan sikap Alisa kepada anak lelakinya.
“Sudah, jangan mengemis Wahyu, kamu bisa cari perempuan lain yang lebih baik dari Alisa itu. Ibu juga sangat kecewa dengan sikap anak itu menolak mentah-mentah tanpa menginginkan pertemuan lebih dulu” wajah ibu wahyu terlihat marah,
Dilain tempat, ibu Alisa merasa bersalah dengan situasi saat itu. Ia tahu bahwa anaknya akan menolak perjodohan itu,
“ada apa bu? Siapa yang menelepon? Alisa?” tanya Ayah yang baru masuk kerumah.
“Bukan pak, mbak Ita pak” sahut ibu yang kembali melanjutkan cuci piringnya.
“Oh…” seru ayah santai.
“Pak, apa anak kita Alisa sudah memiliki kekasih ya pak?” tanya ibu focus pada cuciannya.
“Ya tanya ke Alisa to bu, kok tanya kebapak. Kan bapak disini bersama ibu dan juga Anton” jawab Ayah masuk kekamar mandi.
“Assalamualaikum….?” Terdengar suara diluar rumah mengucap salam. “Walaikumsalam,”
Bersambung….
👍👍👍👍👍
lanjut
salam dari MAHABBAH RINDU