REVISI
Ini kisahku dengannya, tentang aku dan dia. Tentang dia yang berhasil merebut hatiku dan membuatku sangat takut kehilangannya.
Tentang dia yang selalu membuatku kesal dan bahagia disaat yang bersamaan. Aku bersyukur Tuhan menghadiahkannya untukku, dan tentunya hanya untukku saja.
Saat hari-hariku penuh warna dibuatnya, entah dosa besar apa yang pernah ku perbuat di masa lalu sehingga dengan teganya Tuhan memisahkan aku dengannya.
Aku bingung mengapa Tuhan seolah mempermainkan aku dengan selalu membuatnya datang, pergi, datang lagi, lalu pergi lagi?
Aku hanya bisa menguatkan diriku sendiri dengan takdir yang diberikan Tuhan padaku.
Satu hal yang aku tahu, selamanya aku mencintainya. Seperti katanya
"Aku mencintaimu, selamanya cinta kamu. Sampai kita menua, memiliki anak, cucu bahkan cicit. Aku akan bersamamu dan mencintaimu sampai rambut kita memutih dan sampai aku menutup mata" Arkana.
Aku harap semuanya bukanlah mimpi indah namun sesaat. Aku bahkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vicka Villya Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Sakit
Qania berjalan bersama Yani dan Rey menuju parkiran. Saat ia hendak naik keatas motor Yani, seorang pria mendekatinya.
"Hai Qania" sapa Rizal.
"Eh bukannya kamu Rizal ya?" tanya Qania sambil berusaha mengingat.
"Masih ingat aja" tutur Rizal menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Ingat dong, ada apa ya?" tanya Qania penasaran.
"Pacar lo nyuruh gue jemput lo sekarang" jawab Rizal.
"Hahh?" Qania bingung.
"Iya, dia semalam kecelakaan dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit" cerita Rizal.
"Apaa?" Qania terbelalak, seluruh tubuhnya seolah kehilangan tenaga, air matanya menetes tanpa diperintah.
"Iya, ayo kita ke rumah sakit sekarang. Arkana sudah menunggu" ajak Rizal.
"Guys maaf ya aku nggak jadi ikut kalian" ucap Qania sambil menatap Yani dan Rey.
"Nggak apalah Qan, Arkana membutuhkan lo saat ini" jawab Rey.
"Iya Qan, titip salam ya. Semoga cepat sembuh Arkananya, dan jangan lupa kasih kabar" ucap Yani.
Qania mengangguk dan tersenyum kemudian berjalan mengikuti Rizal menuju mobilnya.
"Motor kamu mana Zal?" tanya Qania yang hanya melihat mobil disana.
"Di rumah Qan, si Arka nggak ngizinin gue jemput lo naik motor, katanya ntar gue modusin elo" jelas Rizal yang juga merasa kesal.
"Emang ya tu orang ngeselin banget dan suka semaunya sendiri" gerutu Qania.
"Tapi lo cinta kan?" goda Rizal.
"Dan herannya iya sih" jawab Qania membuat keduanya tertawa.
"Masuk Qan" pinta Rizal sambil membukakan pintu disamping kursi kemudi.
"Thank you Zal" ucap Qania kemudian masuk.
Sepanjang perjalanan mereka asyik mengobrol dan bercanda, karena mereka sudah lama saling mengenal dan cukup akrab juga. Rizal menceritakan soal Renata yang merusak hubungan Arkana dan Qania persis seperti yang diterangkan Arkana waktu itu.
"Terus dia dimana sekarang?" tanya Qania.
"Nggak tahu, terakhir gue dengar dia keluar kota" jawab Rizal yang memarkirkan mobilnya di area parkir rumah sakit.
"Kasihan juga" ungkap Qania.
"Ya itu balasan buat dia. Yuk turun" ucap Rizal.
Qania membuka pintu kamar Arkana dan melihat seorang wanita seumurannya sedang menyuapi Arkana. Hatinya sakit, air matanya menetes namun buru-buru ia hapus agar tidak terlihat oleh Rizal.
"Loh kok nggak maa...suk" ucapan Rizal terhenti saat melihat Arkana tengah disuapi oleh seorang wanita yang ia kenal.
Arkana dan wanita itu menoleh kearah pintu dan mendapati Rizal bersama Qania tengah memperhatikan mereka. Arkana menangkap raut wajah sedih dan bingung diwajah Qania.
"Rizal, kamu sama siapa tuh? Pacar kamu ya?" tanya wanita itu sambil tersenyum manis.
Rizal masih bingung harus menjawab apa pada wanita itu dan juga pada Qania, ia juga memberi tatapan tajam pada Arkana.
Wanita itu meletakkan mangkuk makanan Arkana kemudian duduk kembali dikursi dekat Arkana.
"Hei kenapa cuma disana, ayo masuk" ajaknya.
Dengan berat Qania masuk bersama Rizal, hatinya sangat panas melihat Arkana dan wanita itu.
"Dia siapa? Wajahnya sangat cantik, kulitnya putih mulus, posturnya seperti model. Aku mah nggak ada apa-apanya" batin Qania.
Qania dan Rizal duduk di sofa, Qania terus menguat-nguatkan hatinya dan terus berusaha menahan air matanya. Sementara Rizal seolah sedang mengintimidasi Arkana lewat tatapan matanya.
"Namaku Syeril, kamu siapa?" tanya Syeril pada Qania.
"Qania" jawabnya.
"Salam kenal ya" ucap Syeril dengan ramah.
Qania bingung dan resah, rasanya sesak jika terus berada disana. Untung saja ponselnya berdering dan itu berasal dari Elin.
"Bentar ya Zal, aku mau angkat telepon dulu" pamit Qania.
"Nggak usah keluar, disini aja" cegah Syeril.
Qania langsung menjawan telepon dari Elin dihadapan mereka semua.
"Halo Lin" sapa Qania.
"Kamu dimana beb?" tanya Elin.
"Di rumah sakit, ada apa?" tanya Qania.
"Rumah sakit mana?"
"Pelita Jaya".
"Kebetulan, aku lagi dijalan mau kesana" ucap Elin.
"Siapa yang sakit?" tanya Qania khawatir.
"Kak Fadly" jawab Elin. "Boleh tolong kamu lihatin dia bentar aja Qan, soalnya nggak ada siapa-siapa disana. Aku takutnya dia kenapa-napa" pinta Elin.
"Boleh" jawab Qania merasa lega karena ada jalan yang bisa membawanya keluar dari ruangan ini.
"Makasih Qan, dia di ruangan VIP Melati Qan" kata Elin.
"Oke aku kesana sekarang, kamu hati-hati ya" ucap Elin kemudian mengakhiri panggilan dan bergegas ke rumah sakit naik mobilnya.
"Maaf semua, saya harus pergi dulu" pamit Qania sambil melirik Arkana.
"Lo mau kemana?" tanya Rizal.
"Sahabatku juga di rawat di rumah sakit ini dan dia sedang sendirian" jawab Qania.
"Gue antar" tawar Rizal.
"Nggak usah, kamu disini saja" tolak Qania.
"Kabari gue kalau udah mau pulang" pinta Rizal dan Qania mengangguk.
Arkana hanya menatap Qania tanpa bersuara sedikitpun, namun Qania langsung membuang muka. Ia bergegas keluar dan mencari ruang inap Fadly.
"Ini benar ruangnya" ucap Qania sembari membuka pintu kamar itu perlahan.
"Permisii" ucap Qania saat melangkah masuk.
Dua orang yang berwajah sama langsung menoleh kearah pintu membuat ketiganya saling bertatapan.
"Qania" ucap Fandy masih tidak berkedip.
"Eh ada Fandy juga" sapa Qania.
"Masuk Qan, bentar lagi Elin sampai" ajak Fadly.
Qania berjalan masuk dan duduk dikursi sebelah Fandy.
"Aduh ini mah keluar dari kandang macan masuk ke kandang singa" batin Qania.
"Apa kabar Qan?" tanya Fandy.
"Baik, kamu?" tanya Qania baik.
"Sama" jawab Fandy singkat karena grogi.
"Serasa nyamuk gue disini" sela Fadly.
"Apaan sih kak Ly, paling bentar lagi Qania yang jadi nyamuk kalau Elin datang" timpal Qania.
"Tenang, ada gue" sahut Fandy.
"Yayaya" jawab Qania asal.
"Nggak apalah, sekalian ngilangin rasa sakit ini. Mungkin dengan bersama mereka bisa buat pikiranku lupa sejenak sama Arkana" batin Qania.
Ketiganya mengobrol santai namun tidak dengan Qania dan Fandy yang masih canggung. Tak lama berselang Elin datang dan ikut bergabung bersama ketiganya.
semangat💪😘
akhirnya arkana wijaya telah kmbali semoga qania selalu bhagia,,,
dan buat s marsya sadar kalau dia bukn tristan anggara...
jangan terlalu lama ya thor up nya💪😘