Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Sang Singa Majapahit
Berita mengenai pertarungan di pinggiran Hutan Tarik menyebar seperti api tertiup angin di ibu kota Trowulan. Namun, di dalam kediaman sang Mahapatih, suasana justru sunyi mencekam. Hanya aroma kuat boreh (param) herbal dan asap kemenyan yang memenuhi ruangan luas dengan pilar-pilar kayu jati tersebut.
Gajah Mada duduk bersila di atas dipan, bertelanjang dada. Namun, pemandangan itu mengerikan bagi siapa pun yang melihatnya. Tubuh sang perkasa yang biasanya tampak seperti batu karang itu kini dipenuhi memar biru kehitaman yang janggal.
Kerusakan Sendi: Lengan kanannya dibebat erat dengan kain putih. Sendi sikunya telah digeser kembali ke tempatnya oleh tabib istana, namun rasa nyeri dari teknik Zhua Tai Lin Feng terus berdenyut.
Lumpuh Saraf: Jari-jari tangan kanannya masih kaku, tidak bisa mengepal. Teknik cengkeraman Lin Feng telah merusak jalur energi (meridian) yang membuat aliran darah tersumbat.
Luka Leher: Di lehernya, terdapat bekas merah keunguan berbentuk cakar. Sedikit saja lebih dalam, maka tenggorokan sang Mahapatih bisa saja hancur.
"Gusti Patih..." seorang tabib tua gemetar saat mengganti perban. "Teknik ini... hamba belum pernah melihatnya. Ini bukan sekadar pukulan, ini adalah seni merobek jaringan dari dalam."
Gajah Mada hanya diam, matanya terpejam. Keringat dingin mengucur di dahinya yang berkerut. Ia sedang berusaha menetralisir sisa energi dingin Qì yang menyusup ke tulang-tulangnya melalui setiap sentuhan Lin Feng tadi.
Pintu ruangan terbuka. Prabu Hayam Wuruk melangkah masuk tanpa pengawalan ketat, menunjukkan keprihatinan yang mendalam terhadap paman sekaligus menteri kesayangannya itu.
"Paman Patih," panggil sang Prabu dengan nada rendah. "Aku mendengar kau terluka oleh pendekar asing itu. Benarkah ia sekuat itu?"
Gajah Mada membuka matanya. Ia berusaha memberi sembah, namun Hayam Wuruk segera menahannya.
"Ampun, Gusti Prabu," suara Gajah Mada terdengar berat dan serak. "Hamba meremehkannya. Pemuda itu bukan pembunuh biasa. Ia memiliki teknik Zhua Tai yang mampu menghancurkan persendian tanpa membutuhkan tenaga besar. Namun..."
Gajah Mada terhenti sejenak, wajahnya menunjukkan keraguan yang jarang terlihat.
"Namun apa, Paman?"
"Ia memiliki banyak kesempatan untuk membunuh hamba saat hamba terdesak tadi. Tapi ia memilih untuk menendang hamba menjauh dan melarikan diri. Ada kebenaran dalam matanya yang tidak sesuai dengan isi surat dari Dinasti Ming tersebut. Hamba merasa... kita sedang diperalat oleh sebuah muslihat dari negeri seberang."
Meskipun Gajah Mada mulai ragu, tekanan politik tetap ada. Di balairung luar, para menteri dan pejabat Majapahit mulai terbelah.
Pihak Militer: Merasa terhina karena Mahapatih mereka dilukai oleh orang asing. Mereka menuntut perburuan besar-besaran dengan mengerahkan seluruh pasukan Bhayangkara.
Utusan Ming: Terus memanas-manasi istana, mengatakan bahwa Lin Feng adalah monster yang bisa membawa petaka bagi Majapahit jika tidak segera dipenggal.
Gajah Mada memandang ke arah keris pusakanya yang tergeletak di meja. "Gusti Prabu, biarkan hamba memulihkan diri sejenak. Jika ia memang orang baik yang difitnah, ia akan bertahan di tanah Jawa ini. Namun jika ia jahat, hamba sendiri yang akan menyeretnya ke hadapan Gusti, meski tangan hamba harus hancur sekalipun."
Gajah Mada kemudian memerintahkan telik sandi (mata-mata) terbaiknya untuk mencari keberadaan pemuda berbaju putih itu, bukan untuk membunuhnya, melainkan untuk mengamati gerak-geriknya. Ia ingin tahu, siapa sebenarnya Lin Feng dan ilmu apa yang sebenarnya ia pelajari di negeri asalnya.