NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 20

Lampu ruang interogasi kali ini lebih redup.

Bukan buat kenyamanan-tapi buat ngebuat orang di dalamnya sadar: ini bukan sesi biasa.

Grayson Helmer duduk dengan posisi sama. Borgol sama. Wajah sama.

Tenang yang terlalu rapi.

Kursi di depannya sekarang ada tiga.

Paul Raven duduk pertama. Tegak. Diam. Tatapannya dingin, beda dari polisi lapangan-ini tatapan orang yang kenal dunia hukum dan keluarga korban.

Magnus di kanan, tangan terlipat, punggung lurus.

Jazz berdiri di belakang Grayson, nyandar santai tapi matanya awas.

Recorder nyala.

Paul yang buka.

"Gue nggak mau muter," katanya datar. "Lu ngaku semua pembunuhan, semua pengambilan organ, semua logistik. Fine."

Grayson ngangguk kecil. "Ya."

Paul condong sedikit. "Tapi lu terlalu siap buat jatuh sendirian."

Jazz nyeletuk ringan tapi nusuk, "Biasanya orang yang sendirian itu panik. Lu malah kayak lagi tanda tangan kontrak."

Grayson senyum tipis. Nggak jawab.

Magnus masuk, suaranya rendah dan tenang-tipe yang bikin orang refleks dengerin.

"Lu tau kenapa kita balik lagi, Grayson?"

"Karena kalian belum puas," jawabnya pelan.

"Karena ada lubang," Magnus bales. "Besar. Dan lu berdiri tepat di pinggirnya."

Paul buka tablet, geser beberapa foto ke layar kecil di depan Grayson.

Data korban. Waktu operasi. Akses ruangan. Jadwal dokter.

"Lu kerja sendirian," Paul bilang, "tapi sistem rumah sakit segede itu nggak bisa dibobol sendirian. Ada orang yang nutupin. Ada orang yang ngatur."

Jazz nambah, "Dan anehnya... semua jejak itu nggak pernah nyentuh satu nama."

Grayson akhirnya ngangkat pandangan. Pelan. Fokus.

Magnus langsung tangkap momen itu. "Siapa yang lu lindungi?"

Hening.

Lima detik.

Sepuluh.

Grayson menarik napas. Bukan takut. Lebih kayak... menerima.

"Aku tidak melindungi siapa pun," katanya akhirnya. "Aku cuma menepati peranku."

Paul langsung nyentak, suaranya naik dikit. "Peran dari siapa?"

Grayson nengok ke Paul. Tatapannya tajam sekarang. Bukan dingin-tajam.

"Kalau aku jawab," katanya pelan, "kalian tidak akan bisa membuktikannya."

Jazz ketawa pendek, sinis. "Atau lu takut nama itu bikin sistem berantakan?"

Grayson balas, tenang banget. "Sistem sudah berantakan. Kalian cuma belum mau ngaku."

Magnus berdiri. Bayangannya jatuh tepat ke meja.

"Lu bagian dari DJD," katanya. "Dan DJD nggak pernah buang aset berharga kecuali ada pengganti."

Grayson mengangguk kecil. "Benar."

Paul langsung nembak, "Siapa penggantinya?"

Diam.

Jazz nyandar lagi, nadanya santai tapi kejam. "Lu tau, dengan diem gini, lu bikin satu orang makin mencurigakan."

Grayson senyum lagi. Kali ini... hampir iba.

"Orang yang kalian curigai," katanya, "tidak akan pernah bisa kalian sentuh. Bukan karena dia bersih."

Paul mengepal tangan. "Terus karena apa?"

Grayson menatap lurus ke Magnus sekarang. Tatapan yang bilang: lu ngerti.

"Karena dia selalu berada di tempat yang benar... bersama orang yang benar... di waktu yang tepat."

Sunyi.

Magnus menutup mata sedetik. Buka lagi. Keputusan diambil.

"Bawa dia balik ke sel," katanya dingin. "Interogasi selesai."

Paul berdiri, tapi sebelum keluar dia nanya satu hal terakhir-tanpa emosi, tanpa tekanan.

"Lu menyesal?"

Grayson menggeleng. "Tidak."

"Takut?"

"Tidak."

Paul mengangguk kecil. "Oke."

Pintu nutup.

Di lorong, Jazz langsung ngomong pelan, "Dia bukan dalang. Tapi dia sengaja bikin kita mikir dalangnya aman."

Magnus jawab pendek, berat. "Dan itu berarti..."

Paul nyelesain kalimatnya, rahangnya kaku.

"...orang itu masih di sekitar kita."

Mereka bertiga berdiri sebentar.

Diam.

Semua mikir hal yang sama-tanpa ada yang berani nyebut namanya.

Ruang taktis:

Layar besar di dinding nyala, menampilkan peta jaringan bawah tanah: pelabuhan, gudang kosong, gedung cangkang perusahaan, jalur laut. Di pojok layar, satu nama terpampang besar:

DJD

Magnus berdiri di depan meja utama. Seragam rapi. Wajah datar. Suaranya rendah, tapi tiap kata jatuh kayak palu.

"Kasus mutilasi selesai secara hukum. Dalang medis sudah ditahan. Tapi DJD belum runtuh."

Klik.

Slide berganti.

"Ini bukan operasi penangkapan," lanjutnya. "Ini operasi pemutusan jaringan."

Paul duduk di sisi kanan meja, tangan menyilang. Tatapannya tajam.

Jazz di sisi lain, kaki disilang santai tapi matanya fokus.

Cade berdiri dekat pintu-diam, tapi jelas siap nyela kalau ada yang bodoh.

Magnus nunjuk peta.

"DJD bergerak sel. Mereka nggak punya pusat tunggal. Kita serang satu titik, yang lain bakal kabur. Jadi"

Dia berhenti.

Tatap satu-satu orang di ruangan.

"-kita serang semuanya. Serentak."

Ruangan hening satu detik.

Lalu suara geser kursi. Napas berat. Fokus naik.

Paul angkat tangan sedikit. "Intel kita?"

Magnus ngangguk. "Gabungan. Informan lama, sisa data Grayson, dan pola logistik yang mereka pakai bertahun-tahun. Mereka pikir bersih. Mereka salah."

Jazz nyeletuk, senyum tipis. "Target utama?"

Slide berganti lagi.

Nama-nama muncul. Lokasi kasar. Status.

"Terra - koordinator lapangan."

"Vos - sniper dan eksekutor."

"Tarn - komando bayangan."

Cade mendecak pelan. "Kelas berat semua."

"Makanya," Magnus jawab tanpa nengok, "nggak ada hero. Nggak ada solo."

Dia menatap lurus ke Paul. "Unit investigasi lu jadi tulang punggung penangkapan hidup. Kita butuh mereka bicara."

Ke Jazz. "Tim lu-mobilitas dan infiltrasi. Putus jalur kabur."

Ke Cade. "Lu pegang perimeter. Kalau ada yang keluar tanpa izin-jatuh."

Cade nyengir tipis. "Akhirnya."

Magnus lanjut, lebih dingin sekarang. "Satu aturan."

Semua fokus.

"DJD hidup dari ketakutan dan kekacauan. Kita masuk rapi. Cepat. Sunyi. Begitu pintu dibuka-mereka nggak punya waktu buat mikir."

Paul nambah, nadanya keras. "Dan satu lagi. Nggak ada yang bergerak tanpa konfirmasi. Mereka jago jebakan."

Magnus mengangguk. "Betul."

Dia nutup briefing dengan satu kalimat.

"Malam ini, DJD berhenti jadi legenda."

Lampu ruang taktis redup.

Tim-tim berdiri, mulai bergerak.

Senjata dicek. Headset dipasang. Peta dikirim ke perangkat masing-masing.

Di luar, langit Jakarta gelap.

Tenang sebelum badai.

***

Serbuan dimulai (multi-perspektif: Magnus,Paul,jazz)

DJD sudah siap dan pasang jebakan lebih dulu

Seseorang yang tak diduga muncul di tengah operasiPagi jatuh keras di kantor polisi.

Bukan pagi yang tenang-ini pagi yang berisik oleh kesiapan.

Lorong-lorong penuh langkah cepat. Rompi antipeluru. Senjata diklik pelan. Radio hidup, mati, hidup lagi. Bau kopi pahit bercampur logam-ritual sebelum kekacauan.

Di aula utama, papan strategi penuh coretan merah. Nama lokasi. Jam. Kode tim.

Di tengahnya, satu musuh ditandai tebal:

DJD

Magnus sudah di sana sejak subuh. Berdiri, tangan di belakang, punggung lurus. Diamnya bukan kosong-diamnya mengintimidasi.

Paul datang berikutnya, map tebal di tangan. Wajah capek, mata tajam.

Jazz nyusul, jaket tak dikancing, senyum tipis-bukan santai, tapi ready to burn.

Beberapa unit elit berdiri berderet. Tidak banyak bicara. Semua tahu: hari ini bukan latihan.

Magnus membuka rapat tanpa basa-basi.

"Status."

Operator intel menjawab cepat, suara tegang tapi stabil.

"Semua tim siaga. Target belum bergerak. Tidak ada kebocoran terdeteksi."

Jazz mendecak pelan. "Tenang sebelum badai. DJD biasanya nggak sesunyi ini."

Paul menimpali, datar. "Atau mereka ngerasa untouchable."

Magnus menatap layar. Jam digital berdetak.

"Kesombongan selalu datang sebelum runtuh."

Radio di pundak seseorang berbunyi.

Beep.

"Perimeter aman."

"Tim infiltrasi siap."

"Medis siaga penuh."

Satu per satu laporan masuk, kayak detak jantung kolektif.

Di sudut ruangan, Cade ngecek ulang magazen. Klik terakhir, dia berhenti.

"Kalau mereka lari?"

Magnus menjawab tanpa menoleh.

"Mereka tidak akan lari. Mereka akan kaget."

Paul menutup map. "Begitu kita bergerak, nggak ada mundur. DJD bakal tahu negara lagi nengok ke mereka."

Magnus akhirnya berbalik, menatap semua orang.

Tatapannya dingin, tapi bersih.

"Hari ini kita bukan pemburu. Kita penutup cerita."

Jam di dinding berubah angka.

Waktu eksekusi makin dekat.

Di luar gedung, kendaraan taktis sudah berjejer. Mesin hidup.

Langit cerah-ironis, hampir mengejek.

dalam 5 menit Konvoi bergerak.

Sirene mati-ini bukan parade.

Mesin menderu rendah, ban membelah aspal basah sisa hujan subuh. Kota masih setengah tidur, tapi polisi sudah bangun penuh dendam profesional.

Di dalam kendaraan utama, Magnus duduk tegak. Sabuk terpasang. Tatapan lurus ke depan.

Bukan tegang-terkunci.

Paul di seberang, membuka tablet. Peta rute berdenyut pelan.

"Tiga menit ke titik belok. Jalur alternatif aman."

Jazz bersandar, satu tangan di radio.

"Sunyi banget. Gue nggak suka sunyi yang sok alim gini."

Radio retak.

"Tim dua, clear."

"Tim belakang, jarak aman."

Semuanya terlalu rapi. Terlalu bersih.

Lampu jalan melintas satu per satu, kayak hitungan mundur kosmik.

Magnus akhirnya bicara, suaranya rendah tapi nembus mesin.

"DJD selalu main di kepala sebelum main senjata."

Nama itu jatuh berat di udara.

DJD

Paul mengangguk. "Makanya fokus. Mereka mau kita ragu."

Jazz menyeringai tipis. "Sayang banget. Gue bangun pagi bukan buat ragu."

Di kendaraan belakang, beberapa anggota muda saling pandang. Nafas ditata.

Ini bukan misi pertama-tapi rasanya beda.

Kayak halaman terakhir buku yang lama ditunda.

Tiba-tiba radio berbunyi lagi. Lebih cepat.

"Komandan, ada gerakan sipil di kanan jalan-aman, cuma truk mogok."

Magnus tidak langsung menjawab. Matanya menyapu kaca depan.

"Jangan lengah. DJD suka nyamar jadi kebetulan."

Konvoi memperlambat sedikit. Detik merambat.

Jazz mengetuk helmnya pelan.

"Kalau mereka ngilang, berarti mereka nunggu. Kalau mereka nunggu, berarti-"

"-mereka yakin," potong Paul.

Magnus menyelesaikan kalimat itu dalam diam.

Keyakinan adalah kesalahan terakhir musuh.

Di kejauhan, siluet kawasan target mulai muncul.

Bangunan tua. Jalan sempit. Bayangan panjang.

Radio menyala serempak.

"Semua unit, bersiap."

Konvoi masuk fase akhir.

Nafas ditarik. Jari mendekat ke pelatuk.

Bukan mendadak-tapi tepat di jarak tembak ideal.

Markas DJD berdiri di depan mereka: bangunan industri tua, lampu redup, pintu besi setengah terbuka.

Dan... ramai.

Orang-orang lalu-lalang. Beberapa duduk merokok. Ada yang tertawa kecil.

Santai. Terlalu santai.

DJD

Jazz mengerutkan dahi. "Ini... markas kriminal atau basecamp anak magang?"

Paul menyipitkan mata, membaca pola. "Mereka nggak tau."

Magnus mengangkat tangan-kode berhenti total.

Semua unit membeku di posisi.

Di tengah halaman, sosok yang mereka kenal berdiri jelas di bawah lampu sodium: Terra.

Tanpa senjata terbuka. Tanpa pelindung. Bahkan tanpa ekspresi waspada.

Terra

Dia sedang bicara ke anak buahnya, nada datar, seperti rapat biasa.

Tak ada tanda evakuasi. Tak ada alarm. Tak ada kesiagaan tempur.

"Bukan jebakan," gumam Jazz pelan. "Kalau ini jebakan, mereka aktor terburuk sedunia."

Paul menurunkan tabletnya. "Intel kita bener. Dalang utama sudah ketangkep. DJD... kehilangan otak."

Magnus menatap Terra lama.

Wajah itu-bukan wajah orang yang menunggu perang.

Itu wajah orang yang belum tahu hari ini kiamat.

Radio berdesis.

"Perintah, Komandan?"

Magnus menekan tombol. Suaranya tenang, dingin, final.

"Semua unit... kepung perlahan.

Tanpa sirene. Tanpa teriakan.

Kita ambil mereka saat mereka masih percaya dunia aman."

Pasukan mulai bergerak, seperti bayangan yang belajar bernapas.

Langkah kaki ditelan suara angin. Senjata naik perlahan.

Di halaman, salah satu anak buah DJD tertawa keras-lelucon receh.

Terra menoleh sekilas... lalu berhenti.

Ada yang berubah di udara.

Bukan suara.

Bukan cahaya.

Tapi insting.

Matanya menyapu gelap di luar pagar.

Terlambat.

Lampu sorot menyala serempak.

"POLISI! SEMUA TANGAN KE ATAS!"

Kepanikan meledak.

Teriakan. Kursi terbalik. Senjata dijatuhkan.

Terra membeku di tempat.

Untuk pertama kalinya malam itu-wajahnya retak.

Magnus melangkah maju dari bayangan.

"Terra. Permainan selesai."

Empat arah. Senjata terangkat. Jarak nol toleransi.

Tak ada celah heroik. Tak ada tombol rahasia. Tak ada "rencana cadangan".

Terra mengangkat kedua tangannya pelan-bukan karena takut, tapi karena kalkulasi sudah habis.

Di sekeliling halaman, satu per satu anggota DJD dijatuhkan ke tanah.

Diborgol. Dilumpuhkan. Diamankan.

Tidak ada tembakan balasan. Tidak ada korban tambahan.

Jazz menghela napas pendek. "Gue nunggu drama. Nihil."

Paul menurunkan senjatanya, matanya tetap tajam. "Justru ini yang bikin ngeri. Organisasi sebesar ini... runtuh tanpa perlawanan."

Magnus melangkah mendekat ke Terra.

Tatapan mereka bertemu dingin lawan dingin.

"Kau kalah bukan karena kurang kuat," kata Magnus datar.

"Tapi karena kau percaya sistemmu tak bisa disentuh."

Terra tersenyum tipis. Retak. Pahit.

"Dan kau percaya semua ini selesai malam ini?"

Magnus memberi isyarat. Borgol dikunci.

"Tidak. Tapi kau selesai."

Mobil tahanan menutup pintu dengan bunyi berat-final.

Satu per satu DJD dibawa keluar. Markas itu, yang tadi hidup, kini kosong dan bisu.

Radio berbunyi:

"Area aman. Target diamankan seluruhnya."

Jazz menyandarkan punggung ke mobil. "Kaon, Terra, sisa DJD... check."

Paul menatap bangunan itu lama. "Sekarang tinggal satu masalah."

Magnus sudah tahu.

Nama itu tidak perlu disebut.

Pharma.

Tidak bersalah di atas kertas.

Tidak tersentuh hukum.

Dan justru itu yang paling berbahaya.

Lampu markas DJD dipadamkan.

Malam menutup bab ini.

Bab berikutnya... tidak akan sebersih ini.Magnus dan Paul masuk ke ruangan Tarn.

Sunyi.

Terlalu sunyi untuk markas yang baru saja direbut.

Meja baja masih rapi. Monitor mati. Kursi utama kosong-diputar setengah, seolah pemiliknya baru berdiri tanpa terburu-buru.

Paul melangkah pelan, matanya menyapu dinding. "Nggak ada tanda perlawanan. Nggak ada jejak kabur panik."

Magnus berhenti di depan meja. Di sana, hanya ada satu map hitam. Tanpa logo. Tanpa cap.

Nama di sampulnya satu kata:

RAVEN.

Paul menghela napas pendek. "Dia udah tau kita bakal ke sini."

Magnus membuka map itu. Bukan senjata. Bukan daftar anggota.

Isinya potongan data jadwal patroli polisi, rotasi penjagaan rumah sakit, laporan kasus yang sengaja diselewengkan.

Semua berhenti tepat sebelum nama itu muncul.

Tarn tidak pergi untuk kabur.

Dia pergi karena urusannya di sini selesai.

Radio Magnus berderak. "Komandan, seluruh area DJD clear. Tapi-tidak ada tanda Tarn."

Magnus menutup map. Tatapannya dingin, pasti.

"Karena dia memang tidak berniat tertangkap."

Paul menoleh. "Target berikutnya?"

Magnus menjawab tanpa ragu.

"Bukan markas. Bukan DJD."

Satu nama melintas di pikiran mereka-tak diucapkan, tapi berat:

Pharma.

Di balik pintu Tarn, hanya satu pesan tertinggal, terukir kecil di logam meja-seolah sengaja dibiarkan:

> 'Kebenaran tidak selalu berdarah. Kadang ia beroperasi dengan sarung tangan steril.'

Paul mendecak. "Sial... ini baru mulai."

Magnus berbalik menuju pintu.

"Ya. Dan kali ini-musuhnya tidak bersembunyi di kegelapan."Benar. Itu memang skenario mereka sejak awal.

Tarn dan Vos tidak kalah.

Mereka melepas bidak.

Di jam-jam terakhir sebelum penggerebekan, dua sosok itu sudah tidak lagi berada di markas. Yang tersisa hanyalah anak buah cukup banyak untuk terlihat aktif, cukup bodoh untuk percaya mereka masih dilindungi.

Tarn sengaja membiarkan struktur DJD terlihat utuh.

Lampu menyala. Sistem aktif. Orang-orang berjaga.

Semuanya tampak hidup-padahal pusatnya sudah mati.

Vos?

Dia yang membersihkan jejak.

Vos memutus jalur komunikasi lama, membakar arsip yang tidak berguna, dan meninggalkan data setengah matang. Data yang cukup untuk menyesatkan, tapi tidak pernah cukup untuk menjerat.

Anak buah yang tertangkap?

Mereka bukan korban. Mereka umpan.

Sebagian tidak tahu apa-apa.

Sebagian tahu, tapi tidak cukup penting untuk diselamatkan.

Dan saat polisi mengepung, saat Terra dijatuhkan, saat semua orang berpikir "ini akhirnya"

Tarn dan Vos sudah menjadi bayangan.

Bukan kabur.

Bukan bersembunyi.

Mereka mengganti papan permainan.

Karena bagi Tarn, kekalahan bukan saat markas jatuh.

Kekalahan adalah saat ceritanya berhenti.

Dan malam itu, ceritanya justru pindah ke tempat lain.Sel-sel elit penuh.

Bukan penuh teriakan-tapi hening yang berat.

Satu per satu anggota DJD digiring masuk. Borgol khusus. Kepala ditundukkin. Tatapan kosong.

Mereka bukan berontak. Bukan melawan.

Mereka sudah tahu.

Lorong tahanan dingin, lampu putih terlalu terang. Pintu baja ditutup satu per satu-clang, clang, clang-ritmenya kayak metronom penutup bab.

Beberapa polisi terlihat puas.

Sebagian lagi gelisah.

Karena ini terasa... terlalu bersih.

Di salah satu sel, Terra duduk bersandar ke dinding. Bibirnya sobek, mata lebam, tapi senyumnya masih ada-tipis, nyebelin.

"Lucu," gumamnya pelan, ke siapa pun yang mau dengar.

"Kalian pikir ini akhir."

Tak ada jawaban.

Magnus berdiri di luar, tangan menyilang, rahang mengeras. Dia menatap barisan sel itu lama. Terlalu lama.

Pengalamannya bilang satu hal: kalau monster ketangkep terlalu mudah, berarti yang asli belum muncul.

Paul mencatat cepat, wajahnya datar, tapi matanya awas.

Dia tidak melihat kemenangan.

Dia melihat kekosongan posisi.

DJD ditangkap.

Struktur hancur.

Nama-nama masuk laporan.

Tapi satu kolom di papan kasus masih kosong.

Pimpinan: Tidak ditemukan.

Dan di balik dinding beton itu, jauh dari sel, jauh dari sorotan

perang belum selesai.

Ia cuma ganti bentuk.Berita itu meledak pagi-pagi, lebih cepat dari kopi pertama.

"JARINGAN DJD RESMI DIBONGKAR. PULUHAN DITANGKAP."

Judul besar. Huruf tebal. Foto borgol. Foto sel. Foto Terra dengan wajah lebam tapi masih sempat nyengir.

TV di ruang tunggu Raven Medika nyala tanpa suara, tapi impact-nya tetap kena.

Orang-orang berhenti jalan. Perawat saling pandang. Pasien tua menghela napas lega.

Tenang-akhirnya.

Lyra berdiri di dekat nurse station, masih pakai jas dokter, satu tangan megang tablet medis.

Dia baca berita itu pelan. Sekali. Dua kali.

Lalu matanya turun ke kalimat terakhir:

> "Pihak kepolisian menyatakan situasi telah terkendali. Tidak ada ancaman lanjutan."

Dia menghembuskan napas yang bahkan baru dia sadari selama ini ditahan.

Tenang.

Bukan bahagia. Bukan lega berlebihan.

Tenang yang datar kayak laut setelah badai besar, masih gelap tapi nggak lagi ngamuk.

Seorang bocah kecil-pasien yang kemarin-narik ujung jasnya.

"Dokter... yang jahat-jahat itu udah ketangkep ya?"

Lyra jongkok, senyum kecil, jujur tapi hangat.

"Iya. Udah."

Bocah itu nyengir lebar, lalu balik main. Dunia anak-anak memang sederhana:

jahat pergi \= aman.

Lyra berdiri lagi.

Matanya tanpa sadar melirik ke koridor-ke arah ruang operasi, ke arah jendela besar yang menghadap kota.

Di luar sana, orang-orang mulai hidup normal lagi.

Di dalam dirinya... ada satu pikiran yang belum mau pergi.

Kalau ini benar-benar akhir,

kenapa rasanya terlalu rapi?

Teleponnya bergetar.

Bukan dari Paul.

Bukan dari Magnus.

Notifikasi berita lanjutan.

> "Pimpinan utama DJD masih dalam pencarian. Polisi menegaskan ini tidak mengganggu stabilitas keamanan."

Lyra mematikan layar.

Tenang, katanya.

Dan untuk hari ini-dia memilih percaya.

Karena dunia butuh bernapas.

Dan dia... butuh satu hari tanpa curiga.

1
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!