Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Mobil Sagara terparkir agak jauh dari gerbang kampus, di bawah deretan pohon flamboyan yang hampir dipenuhi bunga berwarna merah. Keberadaannya tidak mencolok, tapi jelas disengaja.
Senja baru menyadarinya setelah melangkah cukup jauh, ketika sebuah klakson pendek terdengar, pelan, sopan, khas Sagara. Ia berhenti, lalu menoleh.
Jantungnya langsung berdebar, bukan karena kaget, tapi karena rasa yang sulit dijelaskan. Aman. Tapi juga… gugup.
Pintu mobil terbuka dari dalam. “Masuk,” ucap Sagara singkat.
Senja mengangguk kecil, menoleh sebentar ke kanan-kiri memastikan tak ada wajah familiar yang memperhatikan. Setelah itu ia masuk, menutup pintu dengan hati-hati seolah takut menciptakan kerusakan.
Di dalam mobil, aroma khas Sagara langsung menyergap. Aroma bersih, hangat, menenangkan. Senja duduk kaku, punggungnya lurus, tas dipeluk di dada seperti perisai.
Ia meraih sabuk pengaman, menarik sedikit panjang tapi macet. Ia menarik lagi, kali ini lebih keras. Tetap tidak mau masuk ke pengait. Kening Senja berkerut. Bibirnya mengerucut tanpa sadar.
Sagara melirik sekilas, lalu menghela napas pelan. Ia mematikan mesin, melepas sabuknya sendiri.
“Biar aku,” katanya.
“Eh—nggak usah, Om. Aku bisa,” Senja reflek menolak, meski tangannya sudah menyerah dan sabuk itu kembali menggelantung.
Sagara tidak menjawab. Ia hanya condong ke arah Senja. Satu tangan meraih sabuk dan satu tangan lainnya memegang bahu kursi Senja.
Dan di situlah masalah dimulai. Jarak mereka tiba-tiba terlalu dekat. Terlalu nyata untuk dianggap mimpi.
Senja membeku. Nafasnya tercekat. Ia bisa melihat jelas garis rahang Sagara dari jarak sedekat itu, tonjolan jangkun di lehernya yang bergerak naik turun saat pria itu menelan ludah.
Tangan Senja gemetar memegang ponsel.
Sagara meraih sabuk pengaman, mencoba memasukkannya ke pengait. Namun di detik yang sama, ponsel Senja tergelincir dari jemarinya.
Plak.
Jatuh ke lantai mobil.
“Ah--!” Senja refleks membungkuk hendak mengambilnya.
Dan--
Duk.
Kepalanya menghantam rahang Sagara yang masih berada terlalu dekat. Suara benturan kecil itu membuat mereka berdua sama-sama terdiam.
Senja meringis, spontan mengusap keningnya yang langsung terasa berdenyut. “Aduh…”
Sagara menegang sepersekian detik. Rahangnya sempat terkunci, tapi ia tidak mengeluarkan suara apa pun. Hanya menghembuskan napas perlahan, seolah menelan rasa nyeri itu begitu saja.
Senja baru menyadari sesuatu, lalu mendongak. “Om…” suaranya lirih. “Sakit juga ya?” ucapnya polos.
Sagara menggeleng kecil. “Nggak.” Nada suaranya datar. Terlalu datar untuk ukuran orang yang barusan kepukul.
Itu yang membuat Senja merasa bersalah.
Belum sempat ia berkata apa-apa, jemari Sagara sudah terangkat, menyentuh dahinya. Sentuhannya ringan, hampir ragu, seolah takut menyakiti.
“Hati-hati,” katanya. Hanya dua kata, tapi cukup membuat Senja menahan napas sedetik.
Tatapan Sagara tertahan lebih lama dari yang seharusnya. Wajah Senja yang meringis, mata yang sedikit berkaca karena sakit, terlihat lugu dan... menggemaskan. Terlalu jujur untuk dunia yang keras.
Pandangan Sagara turun tanpa izin. Sekilas saja, ke bibir mungil Senja yang sedikit terbuka. Dadanya sektika menegang, sesuatu berdenyut, menuntut hak. Namun, ia segera menarik tangannya, kembali duduk di kursinya sendiri, memasang sabuk pengamannya dengan gerakan kaku. Mesin mobil dinyalakan kembali.
Hampir saja. Batinnya merutuki diri.
Senja masih diam, keningnya masih diusap pelan. “Om…” ia ragu, lalu bertanya polos, “tadi… maaf, aku nggak sengaja. Pasti masih sakit,” lirihnya.
Sagara menatap lurus ke depan. “Aku laki-laki.”
Jawaban itu membuat Senja terdiam… lalu mengernyit.
“Itu bukan jawaban,” gumamnya pelan.
Sagara tidak menanggapi. Tapi sudut bibirnya bergerak nyaris tak terlihat.
Mobil melaju, meninggalkan kampus di belakang mereka dan juga ketegangan yang belum sepenuhnya reda.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tidak ada musik. Hanya suara mesin dan desiran angin yang menyusup lewat celah jendela.
Senja duduk rapi, tangannya bertaut di atas tas. Beberapa kali ia melirik ke samping, lalu kembali menatap lurus ke depan. Jelas ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi ditahan.
Sagara ternyata menyadari gerak gerik Senja, lalu mencoba membuka suara. “Kamu kelihatan kaget di kelas tadi.”
Senja tersentak kecil. “Kelihatan ya, Om?”
“Kelihatan.” Jawaban Sagara singkat, tanpa nada menghakimi.
Senja menelan ludah. “Aku tahu Om ngajar di kampus itu… tapi nggak kepikiran bakal… di kelasku.”
Sagara mengangguk pelan. “Aku juga baru tahu jadwal pastinya kemarin.”
“Terus… Om sengaja ambil kelas itu?” Nada Senja ragu, setengah takut, setengah berharap.
Sagara melirik sekilas. “Nggak.”
Senja menghela napas, entah lega atau kecewa.
“Hanya kebetulan,” lanjut Sagara. “Dan aku nggak mau kamu merasa diawasi.”
Senja tersenyum tipis. “Aku justru takut orang-orang curiga.”
“Tenang,” kata Sagara datar. “Di kampus, aku dosenmu. Titik.”
Perkataan sederhana Sagara sukses membuat Senja merasa aman.
Hening jatuh beberapa detik.
“Om,” Senja kembali bersuara, kali ini lebih pelan. “Deka sama Jelita…”
Sagara tidak langsung menjawab, tapi tangannya di setir mengencang sedikit.
“Aku tahu,” katanya akhirnya.
Senja menoleh cepat. “Tahu?”
“Aku ingat wajah mereka,” ucap Sagara. “Waktu kita ditemukan di gunung.”
Jantung Senja berdetak lebih cepat.
“Mereka yang waktu itu… datang belakangan?” tanya Sagara memastikan.
“Iya.”
Sagara menarik napas. “Dan di kelas tadi, aku lihat cara mereka duduk. Cara mereka melihatmu. Itu bukan sekadar teman.”
Senja terdiam. Perutnya terasa mengeras, seakan janin yang dikandung membenarkan ucapan sang ayah.
“Jelita tadi…” suaranya nyaris berbisik. “Nyinggung soal aku sama Om… waktu di hutan.”
Sagara meliriknya cepat. “Dia bertanya apa yang nggak pantas?”
Senja mengangguk kecil.
Rahang Sagara mengeras. Bukan marah yang meledak, tapi jenis emosi yang ditekan kuat-kuat. “Kamu nggak perlu jawab apa pun,” katanya tegas namun rendah. “Apa pun.”
“Tapi kalau mereka curiga---”
“Biarkan,” potong Sagara. “Mereka nggak punya bukti. Dan hidupmu bukan bahan klarifikasi.”
Senja menatapnya. “Om nggak marah?”
“Marah,” jawab Sagara jujur. “Tapi bukan ke kamu.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Dan aku nggak akan ikut campur selama kamu masih bisa berdiri sendiri.”
Kalimat itu membuat Senja terdiam cukup lama. “Kalau aku… nggak bisa?” tanyanya pelan.
Sagara tidak menoleh, tapi suaranya turun satu oktaf. “Tinggal bilang.”
Tidak berlebihan, bukan romantis terang-terangan, tapi justru itu yang membuat dada Senja terasa hangat.
“Oh ya,” Senja tiba-tiba ingat sesuatu. “Di kelas… aku manggil manggil Om ‘Pak’. Aku merasa aneh.”
“Harus dibiasakan...” ucapan Sagara terjeda. "Untuk di kampus saja."
Senja menoleh sedikit, hanya sekilas. "Iya aku tahu. Kalau di rumah manggilnya 'Om', aku juga terbiasa dengan panggilan itu."
Sagara terdiam sesaat. Tangannya masih memegang setir, tapi jari-jarinya mengendur sedikit. “Om,” ulangnya pelan, seperti sedang mencicipi kata itu.
Nada suaranya datar, tapi Senja tahu ada sesuatu yang mengganjal.
“Itu terlalu… resmi,” lanjut Sagara. “Kedengarannya seperti aku sedang menemani keponakan, bukan istri.”
Senja menoleh cepat. “Aku kan cuma menyesuaikan umur.”
Sagara melirik sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. “Selisih dua belas tahun bukan alasan untuk terdengar seperti rapat keluarga besar.”
Senja tertawa kecil, lalu pura-pura serius. “Terus seharusnya manggil apa?”
Bersambung~~
tdk butuh keahlian untuk mengendalikan berita negativ. tidak butuh skill, tidak butuh smart. cukup gak punya hati aja, sedikit memoles narasi, cuzz berita buruk itu berlari, menyebar, singkat.
kayak aku bermimpi, karyaku banyak dibaca, banyak disukai, bukan karena aku merasa pantas, tapi aku mau kayak itu. ya walau faktanya sepi. seperti mengulang sepinya LL..yang sepi, rapi, presisi. tak pernah bertambah hingga ke ujung cerita..
yuk lanjut. aku pantau 😎😎😎..