"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Manipulator
Jam makan malam telah tiba, dengan perut semakin terlihat buncit. Dara mulai menjalankan misi busuknya. Dia sedang sibuk di dapur, memasak untuk makan malam mereka.
Dira belum pulang, entah mengapa Dara ingin sekali menunjukkan dirinya. Maksudnya mau pamer kiss mark yang penuh dari leher hingga dada yang ukurannya hanya mini.
"Dara... Kamu sedang hamil, tapi bagus sebaiknya kamu banyak bergerak. Tidak hanya pandai di ranjang, tapi masak setiap hari adalah penting supaya Dira tidak mencurigaimu. Dan posisimu di rumah ini aman sampai semua rencana Agung berjalan lancar tanpa adanya hambatan." Ucap Ibu Arumi sudah tahu tentang diangkatnya Agung sebagai CEO.
"Tapi aku tidak mau dijadikan yang kedua, aku maunya menjadi ratu satu-satunya di sini. Ibu mau tidak bantu aku." Ucap Dara sekarang mencari sekutu.
"Bantu apa? Jangan aneh-aneh. Kamu tahu sendiri jika sekarang Dira sangat tegas dengan kita. Arimbi sudah tidak diperbolehkan kerja, dan Agung masih menunggu kepastian."
"Intinya... Sampai posisi Agung kuat. Kamu harus tetap pura-pura. Di sini kamu hanya keponakanku, jangan bertingkah yang bisa mencurigakan. Dan... Pakailah pakaian yang benar, untuk apa kamu mau pamer? pakai pakaian ketat supaya perut buncitmu kelihatan dan kamu tidak bisa lagi mengelak jika Dira mencurigaimu hamil." Oceh Ibu Arumi.
Padahal Dara sengaja memakai kaos ketat yang bagian dadanya terbuka. Eh... Calon Ibu mertuanya malah melarang dan menyuruhnya ganti baju.
Dengan kesal, Dara kembali ke kamar lalu mengganti pakaiannya dengan dress longgar yang menutupi perutnya.
"Sudah." Ucapnya pada Ibu Arumi.
"Nah... Begitu kamu lebih cocok. Jadi tidak seperti wanita penggoda."
Mereka masak makanan dengan banyak memu, seolah ingin merayakan keberhasilannya. Padahal justru mereka sedang perlahan menuruni anak tangga satu persatu menuju ke dalam jurang kehancuran.
Tap
Tap
Tap
"Di mana SUAMIKU?" Suara Dira masuk rumah dengan menenteng banyak paper bag.
"Mas Agung sejak tadi pagi tidak keluar kamar." Jawab Dara.
"Oh... Bagus, artinya dia menurutiku. Jadi dia layak mendapatkan hadiah. Lalu di mana Arimbi dan Ambar? Ibu... Tolong panggilkan mereka, karena setelah makan malam aku punya banyak hadiah untuk mereka. Sekarang aku mau ke kamar dulu, rasanya rindu dengan SUAMIKU." Ucap Dira sambil memperhatikan Dara yang menatap dengan pandangan rumit.
Sementara Dira sambil melangkah menaiki anak tangga, topeng ramahnya retak. Kini yang ada hanya wajah datar penuh dendam untuk mengembalikan semua luka dari dalam hatinya. Luka atas pengkhianatan yang sadis.
Dan Dira...
Bukan perempuan murah hati yang membiarkan pengkhianat bisa terus tertawa di balik tangisannya. Ada harga yang harus dibayar.
"Mas..." Panggil Dira saat melihat Agung rebahan di atas sofa.
"Sesuai permintaanmu, aku tidak keluar kamar seharian." Ucap Agung meyakinkan.
"Bagus, sekarang tunggu sebentar aku mau mandi. Setelah ini kita makan malam bersama di bawah. Nanti aku punya banyak kejutan untuk kamu dan semua adik-adikmu termasuk Ibu dan Dara."
"Kamu memang Istri yang terbaik. Aku tidak akan melepaskan tambang emas dan ATM berjalanku, sedangkan Dara dia mesin pencetak anak. Bukankah sangat sempurna sekali hidupku." Gumam Agung setelah memastikan Dira masuk kamar mandi.
Baginya memiliki dua Istri adalah keberuntungan yang tidak semua pria bisa mendapatkan hal seindah itu di dunia.
Setelah makan malam, Dira mengajak semua orang ke ruang tamu.
"Jadi hadiah apa yang ingin kamu berikan?" Tanya Ibu Arumi.
"Kemarin kan aku sudah memberi tahu Mas Agung soal pengalihan kepemimpinan Perusahaan, dan tinggal tunggu Pengacaraku melegalkan statusnya sebagai CEO. Tapi Arimbi tetap aku pecat karena terbukti mengambil uang Perusahaan."
"Dan sebagai gantinya, Arimbi akan aku berikan modal untuk usaha. Sedangkan untuk Ambar, biaya kuliahmu aku stop total. Karena ada laporan dari kampus jika kamu sering bolos, padahal setiap hari aku tahunya kamu berangkat kuliah. Untuk Ibu Arumi, bisa bantu Arimbi membuka usahanya di rumah supaya Ibu punya kegiatan positif."
Dira menjeda kalimatnya sambil menunggu respon dari para benalu pengganggu.
"Dara... Maaf, mulai malam ini kamu harus pergi dari rumah. Karena aku ingin Rumah Tanggaku damai tanpa aku harus curiga, jika kamu selalu menggoda SUAMIKU. Aku percaya Mas Agung setia, dia tidak mungkin mau dengan perempuan yang kelasnya di bawahku."
"Tapi..."
"Waspada sedikit boleh dong. Jadi berkemaslah, karena sekarang juga kamu harus pergi dari sini. Tapi, tenang aku sudah belikan rumah kecil yang pembayarannya kredit. Dan setiap bulan, kamu bisa membayarnya karena aku hanya memberikan jaminan pada agen properti jika kamu tidak mungkin mangkir bayar. Kurang baik apa aku coba?"
"Baiklah... Aku memang hanya gadis desa, dan mungkin Mbak Dira tidak suka denganku. Tak apa." Ucap Dara mulai memainkan perannya.
"Dira... Jangan terlalu keras dengan Dara, dia keponan Ibu lho. Kalau kamu usir Dara sekarang, kasihan dia." Ucap Ibu Arumi.
"Terima kasih atas rumah barunya, tapi kalau aku disuruh bayar..."
"Kenapa? Kamu gak punya penghasilan? Tenang kan kamu masih muda. Belum menikah, tidak sedang hamil jadi bisa kerja apa saja. Yang penting sudah punya rumah, toh uang angsurannya murah banget. Maaf ya... hanya itu yang bisa aku lalukan." Ucap Dira.
"Mas Agung gak keberatan kan dengan keputusanku ini." Tanya Dira.
"Tentu saja tidak, itu keputusan yang bagus kok." Jawaban Agung membuat Dara kesal dan bertekad ingin segera menjalankan rencana busuknya.
Sedangkan Arimbi hanya bisa pasrah, beda dengan Ambar yang sudah berwajah merah kuning karena marah.
"Kalau begitu aku berkemas dulu." Ucap Dara dengan suara lemah, berjalan gontai menuju kamar belakang.
"Kamu keterlaluan Mbak, mentang-mentang rumah ini milikmu jadi semena-mena mengusir Mbak Dara yang sedang ha..."
"Ha... ha apa Ambar? Bicaralah yang jelas jangan setengah-setengah." Ucap Dira memotong omongan Ambar yang hampir keceplosan.
"Sudahlah intinya kamu itu kejam. Aku mau bantu Mbak Dara, ayo mas Agung kamu ikut."
"Loh, untuk apa suamiku ikut. Dia bukan suaminya Dara lho. Kamu kalau mau bantu ya sudah bantu sana." Ucap Dira.
Tapi belum Ambar melangkah, Dara sudah keluar kamar dengan satu koper kecil berisi seluruh pakaiannya.
"Mbak... Aku pamit." Ucapnya mendekati Dira yang berdiri sambil menatap gerak gerik Dara yang mencurigakan.
Dara mendekati Dira, tapi entah kenapa tiba-tiba tubuhnya oleng.
"Ahh... Perutku..." Teriak Dara histeris.
"Mbak... Kenapa kamu dorong aku."
"Dira... Kamu keterlaluan." Ucap Agung.
"Mas... Perutku sakit sekali... Aahhh..."
"Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai bayiku kenapa-napa." Akhirnya kalimat yang ditunggu Dira keluar. Padahal dia tidak mendorong Dara.
Pada dasarnya, perilaku impulsif dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat sedang menghadapi stres atau situasi genting yang memerlukan respons cepat.
Namun, jika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus atau telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, perilaku ini bisa menjadi gejala dari suatu gangguan mental.
Berpikir panjang sebelum berkata atau bertindak adalah kunci untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.
Banyak masalah muncul dari kata-kata atau tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Sebuah kata yang diucapkan dalam emosi, atau tindakan impulsif, dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu sejenak sebelum berbicara atau bertindak, merenungkan apa dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dengan bersikap lebih hati-hati, kita bisa menjaga hubungan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
please thor jodohin elang sama dira🫶
kl g jodoh harus di jodohkan, kan author yang buat cerita😂