Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 RTJ
Kereta kuda kekaisaran yang membawa Long Chen dan Lin Xi membelah kesunyian malam di luar gerbang Istana Giok Merah. Di dalam kereta yang berguncang pelan, suasana terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk pertumpahan darah yang baru saja mereka tinggalkan. Cahaya lampion jalanan yang sesekali menerobos masuk melalui celah tirai sutra memperlihatkan wajah Lin Xi yang pucat pasi, namun tetap memancarkan ketenangan yang menghantui.
Long Chen masih memegang tangan Lin Xi dengan erat, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, gadis itu akan menguap menjadi asap. Amarah dan rasa syukur berkecamuk di dadanya.
"Kau seharusnya tidak melakukan lemparan terakhir itu, Xi'er," suara Long Chen pecah, berat oleh emosi yang tertahan. "Kau tahu tubuhmu belum pulih. Tanpa Qi untuk melindungi organ dalammu, tekanan fisik sebesar itu bisa merusak meridianmu secara permanen."
Lin Xi membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kereta yang gelap. "Jika aku tidak melakukannya, Kaisar akan mati. Dan jika Kaisar mati di tangan pembunuh saat kau berada di sisinya, kau akan dituduh sebagai otak di baliknya. Aku tidak sedang menyelamatkan nyawa seorang Kaisar, Chen. Aku sedang menyelamatkan masa depanmu."
"Masa depanku tidak ada artinya jika kau tidak ada di dalamnya!" Long Chen sedikit meninggikan suaranya, sebelum akhirnya menghela napas panjang dan menarik Lin Xi ke dalam dekapannya. "Jangan pernah lakukan itu lagi. Aku mohon."
Lin Xi terdiam, membiarkan kehangatan tubuh Long Chen meresap ke dalam tulang-tulangnya yang terasa dingin. Di dalam batinnya, ia memanggil sosok tua yang selalu menemaninya.
“Kek, kau dengar apa yang dikatakan Zhao tadi? Bayangan Merah. Apakah itu organisasi yang sama dengan yang menyerangku di perbatasan?”
Suara Kakek Bai terdengar berat, tidak seperti biasanya yang penuh canda. “Jika benar itu adalah Bayangan Merah, maka masalahmu jauh lebih besar daripada sekadar perebutan takhta, Nak. Mereka bukan sekadar pembunuh bayaran. Mereka adalah kultivator sesat yang memanen Qi dari orang-orang yang mereka bunuh. Mungkin... itulah alasan mengapa Qi milikmu lenyap begitu total. Seseorang tidak hanya ingin kau kalah, mereka ingin memakan kekuatanmu.”
Lin Xi merasakan bulu kuduknya meremang. Jika teorinya benar, maka pengkhianatan di istana ini hanyalah puncak dari gunung es yang jauh lebih besar dan dingin.
Sesampainya di Paviliun Teratai, suasana berubah menjadi sibuk. Pengasuh Han sudah menunggu dengan wajah cemas, didampingi oleh Satu yang pakaiannya masih bercak darah.
"Siapkan air hangat dan ramuan pemulih jiwa!" perintah Long Chen sambil menggendong Lin Xi masuk ke kamar utama.
"Yang Mulia, biarkan saya yang menangani Nona Kedua," ucap Pengasuh Han lembut namun tegas. "Anda juga terluka. Racun Manjusaka itu belum sepenuhnya hilang dari sistem Anda. Jika Anda tidak segera meminum penawar yang benar, itu akan merusak fondasi kultivasi Anda."
Long Chen hendak membantah, namun tatapan tajam Lin Xi menghentikannya.
"Pergilah, Chen. Satu akan menjagamu. Kita butuh kau dalam kondisi prima besok pagi. Ayahandamu pasti akan memanggilmu untuk menjelaskan kekacauan ini," ucap Lin Xi.
Dengan berat hati, Long Chen melepaskan Lin Xi ke tangan Pengasuh Han. Sebelum keluar, ia sempat melirik ke arah Satu. "Jaga keamanan paviliun ini. Tambah personil Garda Bayangan di setiap sudut. Jika ada lalat sekalipun yang mencoba masuk tanpa izin, tebas kepalanya."
"Dimengerti, Yang Mulia," sahut Satu dengan hormat.
Di dalam kamar, setelah Pengasuh Han selesai mengobati memar di tubuh Lin Xi dan memberinya minum, suasana menjadi sangat tenang. Lin Xi bersandar di bantal besar, menatap nyala lilin yang menari di atas meja riasnya.
"Pengasuh Han," panggil Lin Xi pelan.
"Iya, Nona?"
"Selama aku di perbatasan, apakah ada orang dari kediaman Pangeran Pertama atau Pangeran Keempat yang sering mengunjungi istana belakang?"
Pengasuh Han menghentikan gerakannya yang sedang merapikan pakaian Lin Xi. Wajahnya tampak ragu. "Nona, sejak Anda pergi, istana belakang menjadi sangat sunyi. Namun... hamba sempat mendengar desas-desus bahwa Selir Agung, ibu dari Pangeran Pertama, sering mengadakan pertemuan rahasia dengan para biksu dari wilayah Utara."
"Biksu dari Utara?" Lin Xi menyipitkan mata. "Utara adalah tempat asal legenda Bayangan Merah. Ini bukan kebetulan."
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari jendela. Lin Xi segera waspada, tangannya meraba belati yang kini selalu ada di balik bantalnya.
"Ini aku, Satu."
Lin Xi memberi isyarat agar Pengasuh Han membukakan jendela. Satu melompat masuk dengan gerakan tanpa suara, memegang sebuah gulungan kertas kecil yang terikat di kaki seekor burung gagak yang tadi ia cegat.
"Nona, burung ini dikirim dari dalam istana, beberapa saat setelah perjamuan selesai. Tujuannya adalah wilayah perbatasan Utara," Satu menyerahkan kertas itu.
Lin Xi membukanya. Kertas itu hanya berisi sebuah simbol: Bunga Manjusaka yang berdarah, dan di bawahnya tertulis satu kalimat pendek: "Umpan sudah diletakkan, saatnya menarik jaring."
"Umpan?" Lin Xi bergumam. "Siapa yang mereka maksud sebagai umpan? Apakah itu aku? Atau Pangeran Kedelapan?"
“Mungkin keduanya, Nak,” Kakek Bai menyela di pikiran Lin Xi. “Dengarkan baik-baik. Racun yang ada di tubuh Kaisar dan Long Chen tadi... itu bukan racun untuk membunuh. Itu adalah racun pelacak. Siapa pun yang memiliki 'induk' dari racun itu akan bisa merasakan keberadaan mereka di mana pun mereka berada.”
Lin Xi tertegun. "Jadi, meskipun mereka gagal membunuh malam ini, mereka sekarang bisa melacak setiap pergerakan Long Chen?"
"Satu, segera beritahu Pangeran Kedelapan. Jangan biarkan dia meninggalkan kediamannya tanpa pengawalan ekstra. Dan katakan padanya... jangan menemui Kaisar sendirian besok pagi," perintah Lin Xi.
Keesokan paginya, suasana di ibu kota terasa mencekam. Berita tentang upaya kudeta Jenderal Zhao menyebar seperti api. Namun, di balik itu, ada ketenangan yang tidak wajar di koridor-koridor kekuasaan.
Lin Xi, meskipun masih merasa lemas, memaksa dirinya untuk berjalan-jalan di taman paviliun. Ia sedang mencoba mempraktikkan apa yang Kakek Bai ajarkan: Mendengar tanpa telinga, melihat tanpa mata.
"Kau terlalu memaksakan diri, Xi'er."
Lin Xi menoleh. Long Chen berdiri di sana, mengenakan jubah resmi kekaisaran berwarna ungu tua. Wajahnya terlihat segar, tanda bahwa penawar racunnya bekerja dengan baik. Namun, ada gurat kecemasan di matanya.
"Bagaimana keadaan Kaisar?" tanya Lin Xi.
"Ayahanda sedang murka. Zhao sudah dijebloskan ke penjara bawah tanah paling dalam. Namun, ada hal aneh. Zhao menolak bicara. Dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa 'tuan yang sesungguhnya' akan segera datang untuk mengambil apa yang menjadi miliknya," jawab Long Chen, ia kemudian duduk di samping Lin Xi di bangku batu.
"Pangeran Pertama?" tebak Lin Xi.
Long Chen menggeleng. "Kakak pertamaku itu pengecut, dia tidak akan punya keberanian untuk melakukan kudeta terang-terangan seperti ini. Ada kekuatan lain di belakangnya. Xi'er, aku mendapat perintah dari Ayahanda. Beliau ingin kau hadir di persidangan rahasia sore ini."
Lin Xi mengernyitkan dahi. "Aku? Aku hanyalah seorang Jenderal tanpa kekuatan sekarang. Apa gunanya kehadiranku?"
"Ayahanda merasa kau tahu sesuatu yang tidak kami ketahui. Lemparan belatimu kemarin malam... beliau merasa itu bukan sekadar keberuntungan. Beliau mulai curiga bahwa kau menyembunyikan sesuatu," Long Chen memegang tangan Lin Xi. "Aku takut, Xi'er. Aku takut jika beliau tahu kau tidak lagi memiliki Qi, beliau akan menggunakanmu sebagai alat politik untuk meredam faksi Utara."
Lin Xi terdiam. Ia menatap bunga teratai yang mekar di kolam. "Jika aku harus menjadi alat untuk menghancurkan mereka, maka jadilah. Tapi aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu."
"Aku yang seharusnya mengatakannya padamu!" seru Long Chen gemas. "Berhenti bersikap seolah kau masih memimpin sepuluh ribu pasukan di perbatasan. Sekarang, kau hanya memiliki aku."
Lin Xi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang terlihat namun sangat memikat. "Dan kau adalah pasukan yang paling merepotkan yang pernah kupimpin, Yang Mulia."
Tiba-tiba, seorang pengawal berlari masuk ke taman dengan terengah-engah.
"Lapor Yang Mulia Pangeran Kedelapan! Nona Kedua! Jenderal Zhao... Jenderal Zhao ditemukan tewas di selnya!"
Lin Xi dan Long Chen bangkit serentak.
"Tewas? Bagaimana mungkin? Sel itu dijaga oleh Garda Bayangan dan pengawal istana!" raung Long Chen.
"Dia... dia tidak dibunuh oleh orang luar, Yang Mulia. Dia terlihat seperti... mencair dari dalam. Hanya tersisa pakaian dan genangan cairan hitam yang berbau seperti bunga Manjusaka."
Lin Xi merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia menatap ke arah utara, di mana gunung-gunung bersalju terlihat di kejauhan.
"Penghancuran saksi," bisik Lin Xi. "Mereka tidak ingin kita tahu siapa 'tuan' yang dia maksud."
"Xi'er, tetaplah di sini. Aku akan memeriksa penjara," ucap Long Chen dengan tegas.
"Tidak, aku ikut," balas Lin Xi. "Cairan hitam itu... aku pernah melihatnya di buku kuno milik mendiang kakekku. Itu bukan racun biasa. Itu adalah teknik Transmigrasi Bayangan. Seseorang sedang memantau kita melalui mayat Zhao."
Long Chen menatap Lin Xi lama, mencari keraguan di matanya namun tidak menemukannya. Akhirnya, ia mengangguk. "Baiklah. Tapi kau tidak boleh lepas dari sisiku."
Saat mereka melangkah keluar dari Paviliun Teratai, Lin Xi merasakan sebuah tatapan dingin dari kejauhan. Ia menoleh ke arah menara pengawas istana yang tinggi. Di sana, seorang sosok berpakaian serba merah berdiri tegak, memegang busur besar yang terbuat dari tulang.
Hanya dalam sekejap, sosok itu menghilang bersama embusan angin, meninggalkan aroma amis darah yang samar.
"Pemain ketiga sudah muncul," bisik Kakek Bai di dalam kepala Lin Xi. "Dan kali ini, dia tidak datang untuk bermain catur, Nak. Dia datang untuk menjungkirbalikkan papannya."