Di balik topeng emasnya, Azuna menyembunyikan luka masa lalu dan kenangan yang terhapus.
Menjadi mentor Kelas Margery seharusnya hal biasa—sampai ia menyadari bahwa keenam muridnya mencerminkan potongan dari dirinya sendiri: kehilangan, amarah, dan keinginan untuk diterima.
Satu demi satu, rahasia mereka terungkap, menyingkap benang merah yang mengikat nasib mereka dengan perang kuno antara cahaya dan kegelapan.
Dalam dunia di mana sihir dapat menyembuhkan atau menghancurkan, bisakah Azuna menuntun mereka menuju cahaya sebelum dirinya tenggelam ke dalam bayangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herdianti putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Race against time. Battle of Aces
Akiko masih dengan seksama memperhatikan gerak-gerik milik Lalah. 'Aku sedikit beruntung karena aku merupakan penyihir dengan serangan jarak jauh. Tetapi, aku tidak boleh lengah sedikitpun.' Batin Akiko yang mengawasi setiap gerakan Lalah.
Sementara di sisi lain, Lalah juga masih mengawasi pergerakan Akiko. 'Gadis ini cukup lihai dalam menghindari serangan milikku. Aku tidak bisa memandang sebelah mata dirinya.' Pikir Lalah sambil berkonsentrasi.
Setelah lama berdiam diri keduanya kini mulai saling serang dengan sihir andalan masing-masing.
"Ellab erèimul."
"telif ed erèimul"
Bola-bola cahaya Akiko berubah menjadi jaring dan menahan Kristal-kristal tersebut agar tidak mendekatinya.
"esab-llab regél." Kini dengan sihir bola cahaya miliknya, Akiko menyerang Lalah tanpa memberinya celah untuk melawan balik.
Lalah yang melihat celah dari setiap serangan Akiko, mampu menghindarinya dengan mudah. Setelah jarak mereka dekat, Lalah mengayunkan stone hammer miliknya namun berhasil ditahan oleh mace milik Akiko.
"Sejak pertama kali aku melihatmu, aku selalu penasaran kemampuanmu yang sebenarnya." Ucap Lalah berusaha membuat mace milik Akiko agar terlepas dari tangannya.
"Menurut rumor yang beredar, kau dikenal sebagai Ace kebanggaan St. Emillion. Karena itu, aku sangat tertarik untuk bertarung melawanmu." Lanjut Lalah.
"Aku tersanjung akan pujiamu. Tetapi aku pikir bahwa sanjunganmu tidak akan pernah membuatku melepaskan pengawasanku DARIMU." Dengan penekanan pada kata terakhirnya, Akiko berhasil menjauhkan stone hammer milik Lalah dari dirinya.
'Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus segera mengakhiri pertandingan ini dan menyelamatkan Kenichi dan Kurohana dari Kristal-kristal tersebut.' Batin Akiko melihat kedua temannya yang masih terperangkap di dalam kristal.
"Bertahalah, Kenichi, Kurohana." Ucap Akiko masih berusaha bertahan sambil melawan Lalah.
Ia kemudian melihat Lalah tersenyum sinis kearahnya. "Kalau kau menyerah, maka akan kulepaskan mereka." Ujar Lalah memberikan sebuah kesepakatan pada Akiko.
Akiko tidak mempercayai kata-kata manis Lalah. Karena ia tahu bahwa Lalah hanya membual.
"Aku tidak percaya akan bualanmu tadi. Aku bisa membebaskan mereka dengan kemampuanku sendiri." Balas Akiko yakin akan kemampuannya.
"Kau cukup keras kepala juga rupanya." Mengetahui kesepakatan yang diberikannya ditolak, Lalah kini mulai bersiap-siap untuk kembali menyerang Akiko. "Tapi itu bukan masalah. Kita lihat apakah kau bisa bersikap seperti itu untuk beberapa menit kedepan." Lanjut Lalah masih berusaha untuk menguji kesabaran Akiko.
****************
Azuna yang sedari tadi memperhatikan pertandingan antara Akiko dan Lalah tiba-tiba merasakan pening hebat di kepalanya.
"Azuna-Chan kau baik-baik saja?." Tanya Thalia mencemaskan Azuna.
"Aku tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir." Balas Azuna berusaha menahan rasa sakit di kepalanya. 'Ada apa denganku?.' Batinnya bertanya pada dirinya sendiri.
"Azuna." Panggil Jake pelan membuat Azuna menoleh.
"Ada apa?." Tanya Azuna setelah merasa dipanggil.
"Sejak kapan kamu pakai topeng yang retak?." Tanya Jake baik saat memperhatikan topeng Azuna yang retak.
"Eh?."
Azuna kemudian mengambil cermin dan melihat ada sedikit retakan pada topengnya.
'Sejak kapan?.' Batinnya kebingungan.
****************
Sementara itu, Akiko masih menghindari serangan peluru kristal Lalah yang menargetkan dirinya layaknya rudal.
'Aku harus buat kristal tersebut jauh dariku.' Batin Akiko. "Ecnal ed erèimul." Satu dua kristal berhasil Akiko jatuhkan.
"Kalau hanya segitu, Aku juga bisa." Tantang Lalah mengeluarkan beberapa kristal berbentuk panjang yang dengan siap menyerang Akiko. "Tolevaj ed latsirc." Serangan Lalah berhasil dilancarkan olehnya dengan baik.
Akiko kemudian menggunakan mace miliknya untuk menghancurkan setiap kristal milik Lalah. Entah apakah karena mulai kelelahan atau tidak memperhatikan, salah satu serpihan berhasil mengenai tubuh Akiko.
"Aakh." Rintih Akiko sambil memegang bagian tubuhnya yang diserang.
"Mungkin kau sudah sedikit kelelahan." Ujar Lalah mendapati Akiko yang terkena serangannya. Tidak lama kemudian, bagian dimana kristal tadi perlahan-lahan mulai muncul dan mengambil energi milik Akiko.
"Jadi bagaimana?.Mau menyerah?." Kata Lalah kembali mengajukan tawarannya.
"Aku *hah* masih *hah* belum *hah* menyerah." Balas Akiko terengah-engah.
"Apa kau yakin bisa bertahan?. Beberapa menit kedepan tubuhmu akan dilahap oleh kristal milikku. Dan semakin kau meningkatkan holy energy milikmu, maka Kristal-kristal milikku akan terus menyerap dan mengambilnya secara paksa darimu." Kata Lalah memperingatkan Akiko.
"Lihatlah kedua temanmu." Ujar Lalah kini menunjuk Kurohana dan Kenichi. " Perlahan-lahan tubuh mereka menjadi kurus dan yang akan terjadi selanjutnya adalah daging, serta tulang mereka akan menyatu dengan Kristal-kristal milikku." Lanjut Lalah.
"Aku *hah* tidak *hah* akan *menyerah* dengan *hah* semudah *hah* itu." Ujar Akiko masih mengambil nafas.
"Kenapa kau begitu memperdulikan menang atau kalah?. Lihatlah dirimu sekarang!. Karena keegoisanmu kau menerima seranganku. Lihatlah kedua temanmu!. Kalau kau mau menyerah lebih awal mereka akan bebas lebih awal." Kata Lalah
"Memang aku akui kalau aku egois karena Aku ingin bisa memenangkan pertandingan ini." Balas Akiko masih memegang bagian tubuhnya yang terluka.
"Kalau begitu kenapa kau....."
"Tapi."
Akiko memotong ucapan Lalah yang belum selesai.
"Aku tahu kalau menyerah bukanlah pilihan yang baik untuk dipilih. Aku tahu pasti ada cara lain untuk menyelamatkan mereka tanpa harus menyerah darimu." Sambungnya yakin.
Kata-kata tersebut membuat Azuna yang ikut mendengarnya merasa terhenyak. Entah kenapa dia merasa pernah mendengar kata-kata tersebut.
'Aku tidak mau menyerah. Karena aku tahu aku bisa.' ucap seorang anak terngiang di telinga dan kepala Azuna.
"Kau benar-benar benar keras kepala." Ujar Lalah kemudian menyerang Akiko dengan salah satu kristal miliknya.
Sebelum kristal tersebut berhasil menyentuh, Akiko sebuah cahaya berhasil menghentikan kristal tersebut.
"Apa yang..." Lalah terkejut saat ia melihat kristal miliknya dihentikan.
Tidak hanya itu, perlahan-lahan kristal yang ada pada tubuh Akiko mulai terkelupas dan hal yang sama juga terjadi pada peti Kristal yang mengurung Kenichi dan Kurohana.
"Apa yang kau lakukan pada Kristal-kristal milikku?."
"Apa yang terjadi pada kristalmu bukanlah urusanku." Balas Akiko bersiap dengan mace miliknya.
"Bersiaplah." Ujar Akiko kemudian menghilang sekejap dan kemudian muncul dibelakang Lalah. Ketika Lalah berusaha menyerang Akiko, Akiko sudah menghilang dan kembali menyerang Lalah dari sisi yang lain.
"Tidak akan kubiarkan kau mengalahkan aku."
"Dengan aku yang sudah menyerangmu dua kali kata-kata itu tidak lagi berlaku padaku." Akiko kembali mengayunkan macenya dengan keras kearah Lalah.
"Eréimul etavarc" Dari bawah disekitar tempat Lalah berpijak muncul cahaya yang mengikat tubuh Lalah dengan erat.
"Ini adalah balasan karena telah melukai rekan-rekanku." Dengan mengkonsentrasikan sihirnya kesatuan titik Akiko mulai melancarkan serangan akhirnya.
"Eésuf eroétém." Meteor Cahaya kini menyerang Lalah tanpa ampun hingga Lalah terhempas dan pingsan. Dengan kekalahan Lalah, maka dengan otomatis kemenangan menjadi Akiko.
****************
"Gadis Grim. Kau hebat." Teriak Sasuke mengetahui bahwa Akiko telah memenangkan pertandingan. "Seperti yang kuharapkan darimu, Rella." Suara berat tersebut membuat Sasuke tersentak dan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara tersebut. Melihat kebingungan dari raut wajah Sasuke, Igarashi bertanya pada Sasuke.
"Ada apa?." Tanya Igarashi singkat.
"Rasanya ada yang seseorang yang berbicara di belakangku. Tapi siapa?." Balas Sasuke yang masih kebingungan.
"Mungkin hanya firasatmu saja." Balas Igarashi tanpa mengambil pusing. Sasuke hanya mengiyakan ucapan Igarashi dan berpikir itu hanya firasatnya saja.
****************
Di lain tempat, Azuna tidak begitu memperhatikan bagian akhir pertandingan Akiko dan Lalah karena ada sesuatu mengganggu pikirannya sedari tadi.
"Aku tidak yakin kalau menyerah itu pilihan terbaik."
"Aku pikir pasti ada cara lain untuk terlepas dari masalah ini."
"Azuna-Chan."
Suara Anak kecil terus terngiang di kepala Azuna hingga ia tidak sadar bahwa Thalia membawanya keluar dari lamunannya.
"Pertandingan sudah selesai." Jelas Thalia sedikit prihatin dengan kondisi Azuna.
"M-maaf merepotkanmu." Balas Azuna berusaha bersikap seperti biasa agar Thalia tidak khawatir. Ia kemudian mengajak Thalia dan Jake keluar.
****************
Setelah enam hari bertanding dengan sangat intens, kini Siswa-siswi Edelweiss Sanctuary Academy harus pamit pulang untuk melanjutkan studi mereka di sekolah.
"Terima kasih sudah mau mampir kesini." Ujar Akiko sebagai ucapan perpisahan pada Lalah dan kawan-kawannya.
"Kami juga berterima kasih karena sudah diterima dengan baik disini." Balas Lalah dengan senyuman tulus di wajahnya.
Sementara itu, Hanada berusaha untuk mengucapkan kalimat perpisahan pada Terry. Tetapi, Terry sepertinya masih kesal oleh dirinya. Beruntung Igarashi langsung berdiri di depan Hanada. Berdiri layaknya tameng. Terry hanya memasang wajah masam dan pergi terlebih dahulu.
Setelah itu, Para Siswa-siswi dari Edelweiss Sanctuary Academy meninggalkan St. Emillion Magic Academy.
"Akiko-Chan." Panggilan Annie membuat Akiko menoleh. Ia mendapati ketujuh belas temannya yang membawa peralatan pesta.
"Untuk apa ini?." Tanya Akiko kebingungan.
"Perayaan."Jawab Ichika singkat.
"Perayaan apa lagi ini?." Tanya Akiko masih keheranan
"Perayaan kemenangan atas Edelweiss Sanctuary Academy." Teriak Sasuke dan Danny bersamaan.
"Hah?. Memangnya boleh, ya?." Akiko tidak yakin kalau berpesta di dalam kelas di perbolehkan.
"Kami sudah minta izin. dengan janji kalau sudah selesai kita akan bereskan semua kekacauannya." Jawab Sasuke dengan percaya diri.
"Hah?!." Akiko yang masih tidak yakin, tidak bisa berucap apa-apa.
Melihat kecemasan di wajahnya Akiko, Kenichi dan Igarashi membisikan sesuatu yang mungkin membuat Akiko mau menerima.
"Kita cukup berdiam diri dipojok saja." Bisik Kenichi pelan.
"Kalau ada yang berbuat onar. Biarkan Sasuke dan Danny yang tanggung jawab karena ini ide mereka." Kini Igarashi berbisik agar Sasuke dan Danny tidak mendengarkan mereka.
Akiko terdiam sebentar sebelum mengiyakan ajakan teman-temannya ini.
Tidak ada salahnya untuk bersenang-senang sebentar, ... kan?.
TBC
Es bisa seimbang kalau jumlahnya banyak dan ketebalannya tinggi
Ini tipo 😅😅
Apa lagi coba
Kalo ada di sana aku ambil rotinya lagi aku jejelin ke mulutnya nih