Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negosiasi
"Kak Justin, tunggu bentar." teriak Sasa sambil menghampiri ketua OSIS.
Justin yang tengah berjalan dengan dua temannya meminta mereka pergi lebih dulu sementara ia akan menyusul nanti.
"Hai, Sa. Ada apa? Gue juga rencana mau nemuin lo tapi nanti istirahat kedua. Sekarang mau ada rapat OSIS."
"Kalo gitu nggak jadi deh, nanti aja ngobrolnya. Ada beberapa hal yang mau Sasa laporin ke kak Justin."
"Apa? Ada yang bully?" tebak Justin meski rasanya tak mungkin gadis secerewet Sasa dibully.
"Bukan, kak. Ini soal kak Sheila Ayu. Kayaknya suka deh sama kakak. Kalo kak Justin juga suka sama kak Sheila langsung gas aja jadian kak. Biar simpel gitu." jelasnya lagi-lagi dengan begitu enteng.
Justin terperangah, mudah sekali gadis di depannya itu berbica hal yang tak pernah dibahas terang-terangan oleh gadis lain. Soal Sheila yang menyukai dirinya, Justin bukannya tidak tau, dia hanya tak ingin memberi harapan pada gadis itu.
"Emangnya ada yah yang nggak suka sama gue?" Justin malah menanggapinya dengan ledekan.
"Lo juga suka kan sama gue?"
"Bahkan mungkin Mayra juga suka sama gue?" lanjutnya lagi ketika Mayra tiba dan berdiri di samping Sasa.
"Apaan nih? Gue nggak tau apa-apa." jawab Mayra.
"Tau nih kak Justin malah bercanda. Gue kan ngasih tau tuh kalo kak Sheila suka sama kak Justin. Malah jawabannya nggak nyambung nih kak Justin." jelas Sasa.
Mendengarnya Mayra langsung menarik Sasa paksa Sasa menjauh. "kak kita ke kantin dulu." pamitnya.
Merasa urusannya dengan Justin belum selesai, Sasa sedikit menolak tapi tarikan Mayra lebih kuat.
"May, gue belum selesai loh."
"Itu urusan orang lain, Sa. Lo nggak usah ikut campur."
"Tapi kan biar simpel, May. Dari pada kak Sheila marah-marah terus sama gue. Kan kalo kak Justin juga suka, mereka bisa langsung jadian gitu. Clear, beres dan nggak ribet." jelas Sasa panjang lebar.
"Ini malah ribet, setiap gue nyapa kak Justin pasti kak Mayra marah. Gue tadi pagi udah nawarin bantuan juga malah makin ngamuk itu orang, pake acara ngancem segala." lanjutnya.
"Kak Sheila ngancem lo?"
"Iya, katanya mau ngasih pelajaran. Bodo amat lah."
"Sa, mending lo nggak usah ikut campur deh. Kalo perlu jauh-jauh dari kak Justin. Kita ini anak baru, jangan cari masalah sama senior deh. Cari aman aja." Mayra memberi saran yang paling aman.
"Gue nggak ikut campur, May."
"Tapi yang tadi itu namanya lo ikut campur. Udah lah jangan dibahas lagi, nggak kebagian makan nanti." pungkas Mayra. Ternyata ngobrol dengan teman barunya ini nggak ada habisnya. Ada saja jawabannya.
Keduanya tak menghabiskan waktu lama di kantin. Ketika anak-anak lain nongkrong di kantin selama istirahat, mereka kembali ke kelas lebih awal sambil membawakan makanan untuk Ridwan.
"Mulai besok kita bisa santai, gue udah minta no WA ibu kantin nih. Jadi besok gue keep aja supaya ke kantin tinggal ambil."
"Ada aja idenya." jawab Mayra.
"Biar simpel." balas Sasa, "ntar pulang sekolah main yuk!" ajaknya kemudian.
"Main kemana, Sa?"
"SMK Persada, ada temen calon kakak ipar gue, cakep banget." jawab Sasa dengan semangat.
"Sambil kita cuci mata." lanjutnya.
"Hah?" Mayra sedikit terkejut. Dari tadi yang dibahas temannya hanya cowok, cowok dan cowok terus.
"Jangan cuma hah heh hoh May! Mau nggak? Soalnya nanti Ririd kan ekskul e-sport, gue nggak ada temen balik."
"Nggak mau ah, Sa. Mending lo ikut gue aja, kita pergi les." ajak Mayra. Minimal dia berusaha membawa Sasa ke jalur yang benar.
"Bahasa inggris lo tadi udah keren. Lo les dimana?" lanjutnya.
"Lo mau ikut les bahasa inggris bareng gue?"
"Iya." Mayra mengangguk dengan semangat.
"Les bahasa inggris gue gratis, tinggal buka aplikasi nonton terus pilih english sub. Gue belajarnya seru sambil nonton."
"Ntar gue rekomendasiin drama korea sama reality shows boy band kesukaan gue yang pake english sub deh." jelasnya kemudian. Terdengar aneh tapi nyatanya memang begitu. Awalnya ia kesulitan membaca subtitle bahasa inggris namun lama-lama jadi terbiasa. Bahkan hafalan kosa katanya otomatis bertambah seiring banyaknya waktu menonton, lama-kelamaan ia bisa memahami tanpa membaca subtitle.
Mayra menghelan nafas dalam. Ia kira Sasa akan merekomendasikan tempat les, nyatanya gadis itu malah merekomendasikan tontonan yang menurutnya unfaedah.
"Gimana mau nggak? Ntar gue instalin aplikasi buat nontonnya juga. Gue bantu daftar juga." ucap Sasa lagi.
"Nggak deh. Makasih, Sa."
"Kalo gitu jadi yah nanti kita ke SMK Persada pulang sekolah?"
Mayra termenung sebentar. Rasanya konyol jika harus menuruti permintaan Sasa.
"Gini aja deh, Sa. Hari ini lo temenin gue ketemu calon guru les. Besok gue temenin lo ke SMK Persada." Sasa bernegosiasi. Sebisa mungkin nanti ia akan mengajak Sasa ikut les supaya otaknya tak dipenuhi hal-hal yang tak penting.
Sasa menjabat tangan Mayra dengan senang, "deal."
Sepulang sekolah Sasa lebih dulu menghampiri Ridwan sebelum pergi bersama Mayra.
"Rid, gue pergi nemenin Mayra ke tempat les. Udah izin juga sama mommy, takut nanti mommy nanya ke lo jawabannya harus sama yah."
"Iya. Lo hati-hati." Ridwan mengacungkan jempol sebagai jawaban kemudian berlalu begitu saja bersama teman-teman barunya.
Sasa mengikuti Mayra menaiki sebuah mobil mewah berwarna hitam, mereka turun di sebuah cafe.
"Katanya mau les? Padahal bilang aja mau ngajak gue nongkrong di cafe, May." Sasa lebih dulu masuk dan duduk di salah satu kursi.
Mayra menarik tangan Sasa, "sebelah sana." ucapnya seraya menujuk seorang wanita cantik yang masih cukup muda. Bisa sasa tebak mungkin seumuran dengan sepupunya yang masih kuliah.
"Itu guru les nya?"
"Iya. Keren yah masih kuliah tapi sembari ngajar les. Rekom dari temen SMP gue dulu. Gue mau tanya-tanya dulu sebelum daftar." jelas Mayra.
Keduanya lantas menghampiri meja guru les. Menyapanya dengan sopan kemudian menjelaskan pembelajaran yang akan didapat jika mengambil les, detail hingga biaya dan jadwal yang fleksibel bisa diatur sesuai kebutuhan.
Mayra tampak serius menyimak penjelasan sementara Sasa matanya sudah beberapa kali menguap.
"Jadi gimana Sa? Lo mau ikutan nggak? Ikut yah, biar bareng kita. Ambil hari selasa aja gimana?" tanya Mayra.
"Sa! Sasa!" Mayra mengikuti arah pandangan mata Sasa. Ia refleks menghela nafas panjang. Sekalinya mata begitu fokus ternyata sedang menatap seorang lelaki putih abu yang baru saja mamasuki cafe.
"May, gue kesana dulu." Sasa langsung pergi menghampiri pemuda yang tak menyambutnya. Tapi Sasa dengan santainya malah duduk di depan lelaki itu.
"Nggak bisa banget liat cowok cakep." batin Mayra. "Kayaknya gue beneran salah milih temen deh." lanjutnya sambil menggelengkan kepala.
.
.
.
Tebak siapa yang ditemuin Sasa?
Jawabannya nggak boleh bener yah wkwkwkkwk
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣