Terjebak menikah dengan Bos nya seorang tampan kaya raya, Ceo Persahaaan terbesar di Indonesia yang bernama Devian Emilio Alatas, membuat Amaora sang asistan bos mengalami hal hal yang diluar nalar. Sang bos yang Egois, Arogan dan sikapnya kepedean 1000% membuat Amaora tiap hari mengelus dada. Ternyata dibalik sifatnya, Devian Emilio Alatas memiliki hati yang tidak diketahui Amaora , yakni jatuh cinta terlalu dalam pada asisten nya tersebut. Akan kah Amaora sadar akan perasaan bosnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susi Rubianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Kau juga belum makan?" Tanya Devian menghampiri istrinya yang menggelengkan kepalanya.
"Maafkan Aku ya, kita cari makan sekarang?" Maora melirik beberapa laporan tertumpuk di meja suaminya.
"Kau ingin makan apa? Biar Aku belikan."
"Beli dimana?"
"Di depan kantor?"
"Tidak, lebih baik buatin mie rebus saja."
"Kenapa?" Maora penasaran.
"Sudahlah, Aku semakin lapar jika kau terus bertanya?" Ujar Devian mengelus-elus perutnya.
"Baiklah, Aku akan membuatkannya. Tunggu ya!" Maora bergegas pergi meninggalkan Devian yang tersenyum manis kepadanya.
"Jika semuanya sudah aman, Aku tidak akan melarangmu untuk pergi sendirian." gumam Devian memandang Maora yang menutup pintu ruang kerjanya. Sesaat Maora terdiam seraya menggenggam mie rebus yang ada di tangannya.
"Kenapa dia terlihat berbeda, seakan-akan melarangku untuk keluar." ujar Maora penasaran.
"Airnya sudah mendidih tuh! Melamun saja." gerutu Bondan yang membuat teh hangat.
"Ngelamunin apa sih?" Bondan yang memperhatikan Maora memasukkan mie rebus.
"Ada deh...!"
"Dasar pelit!"
"Biarin," ujar Maora tersenyum melihat Bondan beranjak pergi meninggalkan dapur kantor. Langkah Bondan terhenti dan kembali menghampiri Maora.
"Oiya Ra, sebenarnya tugas kamu di rumah Pak Dev ngapain saja sih?" Pertanyaan Bondan yang membuat Maora bingung untuk menjawabnya.
"Apa kau ingin menggantikanku?" Tanya Maora.
"Kenapa Aku harus menggantikanmu?" Desah Bondan.
"Siapa tau kau ingin membersihkan rumahnya? Gimana?"
"Membersihkan rumahnya? Tidak... tidak lebih baik merangkap jadi sopir saja." Ujar Bondan pergi meninggalkan Maora yang mengelus dadanya.
"Untung saja." Di ruang kerja Devian, Maora terkejut ketika melihat suaminya tertidur pulas di sofa. Perlahan Maora meletakkan mie rebusnya di meja. Siapa yang tak tergila-gila dengan ketampanan Devian, meskipun tidur aura ketampanannya selalu terpancar. Sampai-sampai Maora tak berhenti memandangi wajah tampannya itu. Maora spontan memalingkan muka ketika Devian menatapnya tiba-tiba.
"Sudah jadi?" Tanya Devian duduk.
"Tadi malam sampai jam berapa? Sampai-sampai kau tertidur pulas di siang hari. Hal yang baru Aku lihat selama Aku bersamamu."
"Mungkin sampai jam 5." Jawab enteng Devian.
"Jam 5?" Maora kaget seraya melihat suaminya memakan dengan lahap. Sebenarnya Maora sangat penasaran dengan apa yang dikerjakan mereka berdua semalam. Tapi ia urungkan untuk bertanya. Devian mencoba menyuapi Maora yang duduk di sampingnya.
"Bukankah kau belum makan? Makanlah?" Devian yang begitu perhatian.
"Tidak, Aku belum lapar. Makanlah!"
Tepat jam 4, semua karyawan bersiap untuk pulang. Maora menunggu Devian yang masih di ruang kerjanya.
"Apa suamimu lembur lagi?" Ledek Anis seraya menaikkan alisnya.
"Lirihkan suaramu, nanti kalo ada yang dengar bagaimana?" Anis tertawa melihat ekspresi wajah sahabatnya itu.
"Kenapa kalo ada yang dengar? Apa salahnya jika mereka tau semua?" gerutu Anis.
"Bicara apa kalian? pagi, siang,sore selalu ngerumpi saja."gerutu Bondan.
"Biarin...!" Anis menjulurkan lidahnya pada Bondan yang selalu ikut nimbrung.
"Maora, Pak Dev pulang nanti. Aku di suruh mengantarmu pulang lebih dulu."
"Kenapa dia tidak bilang sendiri." gumam hati Maora mengambil tasnya dan pergi seraya melihat ke arah pintu kerja suaminya. Di mobil, beberapa pertanyaan selalu terlontar dari mulut Bondan.
"Apa kau tidak capek menjadi seorang sekretaris sekaligus Art Pak Dev? Sampai-sampai Kau harus ke rumah Pak Dev?" tanya Bondan penasaran.
"Sudah terbiasa, jadi capeknya tak terasa." Ucap Maora tersenyum.
"Apa nanti kau menginap di rumah Pak Dev?" Tanya Bondan yang membuat Maora bingung untuk menjawabnya.
"Besok pagi Pak Dev dan Pak Mike akan pergi ke Bandung, jadi mau tak mau Aku harus menjemputmu setiap hari." Lagi-lagi Maora tidak mengetahui agenda suaminya yang akan pergi ke Bandung.
"Kenapa dia tak memberi tahuku lagi." Gumam hati Maora cemberut. Sesaat Maora mengambil handphonenya yang bergetar. Wajahnya kembali tersenyum ketika Devian mengirim beberapa chat untuknya.
"Kau sampai mana istriku?"
"Kau baik-baik saja?"
"Duduklah di belakang ya, Aku cemburu jika kau duduk di sebelahnya."
"Maaf, Aku tidak bisa pulang bersamamu."
"Mungkin Aku pulang agak malam."
"Jika ada apa-apa, hubungi suamimu ini. I Love you." Seketika kata-kata Suaminya membuat Maora tersenyum senang seraya menatap ponsel yang ada di tangannya.
"Kenapa kau? Tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila." Bondan melirik Maora penasaran.
"Ada deh,"
"Jika ada yang mau jadi kekasihmu, kasian banget ya!"
"Kenapa?"
"Nggak ada waktu untuk berkencan hahahaha..." gurau Bondan yang terkejut dan spontan mengerem mendadak ketika ada sepeda motor memepeti mobilnya.
"Ada apa?" Tanya Maora kaget. Sejenak Maora dan Bondan menatap orang yang hampir mencelakai mereka pergi begitu saja.
"Sepertinya orang itu yang menyerempet Pak Dev dulu?" tanya Bondan yang melihat Maora terdiam sembari berpikir.
"Benarkah?" tanya Maora terkejut. Sesampai di rumah Maora terdiam dan berpikir siapa yang hampir mencelakai dirinya tadi.
Ceklek...!!! terdengar suara pintu terbuka. Maora berdiri dan terkejut ketika suaminya datang memeluknya.
"Kau tak apa? Apa ada yang terluka?" Ujar Devian melihat tubuh Maora yang baik-baik saja.
"Aku tak apa? It's ok."
"Syukurlah!" Devian yang kembali memeluk istrinya.
"Bukankah kau bilang akan pulang malam? Kenapa sekarang pulang?" Maora melihat arloji yang melekat di tangannya baru jam 6. Devian duduk menyilangkan kakinya sembari bercerita.
"Maaf Pak Dev, saya dan Maora hampir saja celaka. Kelihatannya orang itu sama dengan orang yang menyerempet Bapak dulu."ujar Bondan yang membuat Devian pergi untuk pulang lebih awal. Devian menarik tangan Maora untuk duduk di pangkuannya.
"Jadi karena Aku kau pulang?" Tanya Maora yang menatap suaminya yang mengangguk.
"Besok, Aku dan Mike akan ke Bandung. Aku akan menyuruh orang untuk mengawalmu, kemanapun kau pergi." Ujar Devian.
"Kenapa Aku harus di kawal? Aku bisa pulang ke rumah Ayah."
"Untuk kali ini menurutlah kepada suamimu ini. Sayangku."
"Iya, su...a..mi...ku." kata Maora yang membuat Devian tersenyum senang akan kata yang ia nanti selama ini terucap di bibir manis istrinya.
Esok hari, Maora terbangun dari tidurnya. Kedua matanya melirik suaminya yang tertidur pulas di sampingnya.
"Ya Tuhan, Aku benar-benar melakukannya sebagai seorang istri." Gumam Maora tersipu malu. Maora bergegas mandi dan menyiapkan segala sesuatu yang di butuhkan suaminya untuk keperluan ke Bandung. Devian membuka matanya dan mencari Maora yang tadi malam tidur bersamanya. Sesaat, Devian tersenyum jika teringat waktu bersama dengan istrinya semalam. Sesudah mandi Devian bersiap untuk berangkat ke Bandung. Devian mencari Maora yang tak terlihat dari tadi.
"Sayang...!"teriak Devian yang menuruni anak tangga yang menjulang tinggi. Maora tersenyum ketika Dev menghampirinya.
"Kau sudah bangun?" tanya Maora yang membenarkan kerah suaminya.
"Apa kau sudah menyiapkan semuanya?"
"Semua sudah Aku siapkan, termasuk tas kecil yang berisi laporan-laporannya juga sudah Aku masukkan."
"Jika keadaannya sudah aman pasti Aku akan membawamu ke Bandung."
" Aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Sampai-sampai kau melarangku untuk keluar sendirian. Dan meskipun keadaannya sudah aman, Aku juga tidak bisa ikut. Karena pekerjaan di kantor juga harus Aku selesaikan."
"Maafkan Aku," lirih Devian mencium punggung tangan istrinya.
"Apa Aku bisa jauh darimu?" Devian yang lagi-lagi memberi perhatian lebih pada Maora. Mike yang datang tiba-tiba spontan memalingkan muka dan berjalan menjauhi mereka.
"Kenapa Aku selalu memergoki mereka bermesraan. Hadeh...!!!" Gerutu Mike.