Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama
Desa Sukamaju dibalut kabut tipis yang merayap turun dari puncak perkebunan teh. Suara mesin motor ojek tua menderu pelan, membelah jalanan aspal yang sebagian sudah berlubang. Di jok belakang, seorang gadis dengan ransel besar di punggung dan tas laptop di salah satu tangannya tampak menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Zahwa Qonita, menghirup dalam-dalam aroma tanah basah dan pucuk teh yang selalu ia rindukan. Setelah berbulan-bulan bergelut dengan polusi dan kebisingan Ibu Kota atmosfer desa kelahirannya terasa seperti obat mujarab.
"Berhenti di depan warung Bu Sari saja, Kang Mul" seru Zahwa sedikit keras agar suaranya menembus helm ojek.
"Siap, Neng Zahwa! Tumben nggak minta jemput mobil pesantren?" tanya Kang Mulyana yang biasa disapa Kang Mul sambil mengerem perlahan.
"Lagi pengen mandiri, Kang. Lagipula, kangen dibonceng ojek sambil keliling desa," jawab Zahwa sembari tertawa kecil.
Begitu motor berhenti tepat di depan warung sederhana berbahan kayu yang legendaris itu, Zahwa turun dan langsung disambut aroma bakwan yang menggugah selera.
Warung Bu Sari adalah pusat gravitasi bagi siapa saja di Sukamaju. Di sinilah tempat segala jenis informasi, mulai dari harga pupuk sampai gosip pernikahan beredar lebih cepat daripada berita di televisi.
"Bu Sari! Bakwan jagung nya masih ada?" teriak Zahwa ceria sembari melangkah masuk tanpa canggung.
Di sudut warung yang remang, Arka duduk dengan punggung tegak. Ia mengenakan kemeja biru navy yang rapi, tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang bersahaja. Di depannya terdapat sebuah buku catatan kecil, segelas teh tawar hangat yang masih mengepul dan satu piring nasi kuning.
Arka tadi memang mampir ke warung Bu Sari untuk sekedar sarapan dan mulai mencoba untuk observasi lapangan, karena Arka tidak bisa bekerja dengan baik, jika perut nya belum diisi.
Tiba-tiba, keheningan observasinya pecah oleh suara lantang seorang gadis yang baru saja masuk. Arka mengerutkan dahi, sedikit terganggu dengan volume suara yang menurutnya kurang beretika di tempat umum.
"Ya Allah, Neng Zahwa! Sudah pulang, Neng?" Bu Sari keluar dari dapur dengan wajah berseri-seri.
"Ini, bakwan jagungnya, baru diangkat. Masih panas, sepanas debat mu di TV waktu itu!"
Zahwa tertawa renyah. Ia langsung mengambil sepotong bakwan jagung menggunakan kertas kecil dan menggigitnya dengan nikmat.
"Ibu nonton juga? Ah, itu mah biasa, Bu. Orang-orang di kota itu kalau nggak didebat isi kepalanya nggak jalan."
Arka melirik melalui sudut matanya. Mahasiswi? Vokal? batinnya.
Ia kembali menunduk ke catatannya, mencoba mengabaikan kehadiran gadis yang menurutnya terlalu gaduh itu. Namun, ketenangan Arka tidak bertahan lama. Zahwa, dengan sifat alaminya yang ekstrovert, menyapu pandangannya ke seluruh warung dan matanya tertuju pada sosok pria asing di pojokan.
Sosok yang terlihat sangat berbeda dari warga desa, sangat kaku, dan seolah-olah membawa aura kantor ke dalam warung Bu Sari. Zahwa berjalan mendekati meja Arka, bukan karena ingin berkenalan, tapi karena toples cabai rawit kebetulan berada di dekat lengan pria itu.
"Permisi, Pak.. Boleh pinjam cabainya?" tanya Zahwa tanpa beban.
Arka mendongak. Ia menatap gadis di depannya wajahnya bersih tanpa riasan tebal.
"Silakan," jawab Arka singkat dan dingin, lalu menggeser toples itu hanya beberapa sentimeter.
"Terima kasih" Zahwa mengambil beberapa cabai rawit di dalam toples.
Namun, ia tidak langsung pergi, melainkan berdiri sejenak sambil memperhatikan catatan di meja Arka yang berisi poin-poin bertuliskan, Evaluasi Alokasi Dana Desa.
"Bapak ini... petugas sensus ya? Atau dari kabupaten?" tanya Zahwa dengan nada menyelidik yang dibalut canda.
Arka menutup buku catatannya dengan gerakan tegas.
"Saya bukan keduanya. Dan saya rasa itu bukan urusan Anda."
Zahwa mengangkat alisnya. "Di Sukamaju ini, orang asing biasanya ramah-ramah. Kalau Bapak kaku begini, nanti malah dianggap mau menggusur tanah warga loh."
"Saya hanya menghargai privasi dan efisiensi waktu," balas Arka lugas.
Ia berdiri, merapikan duduknya, dan menatap Zahwa dengan tatapan yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi bawahannya di kantor.
"Saran saya, lebih baik Anda fokus pada bakwan Anda daripada mengurusi catatan orang lain."
Zahwa terpaku sejenak. Belum pernah ada pria muda di desa ini atau bahkan di kampusnya yang berani memotong pembicaraannya dengan begitu dingin dan tertata. Rasa gengsinya sebagai juru bicara mahasiswa terusik.
"Privasi itu di ruang kerja, Pak. Kalau di warung begini, namanya ruang publik. Dan di ruang publik, setiap orang berhak bertanya kalau melihat sesuatu yang mencurigakan. Apalagi catatannya soal "Desa". Zahwa melipat tangan di dada, memulai mode debatnya.
"Zahwa! Nak, jangan ganggu Bapak itu," Bu Sari menyela dari balik etalase dengan nada cemas. "Beliau itu..."
"Beliau ini sepertinya tipe orang yang butuh banyak bersosialisasi, Bu Sari," potong Zahwa dengan senyum menantang ke arah Arka.
Arka tidak melayani perdebatan itu. Baginya, berdebat dengan gadis yang mulutnya masih berminyak karena bakwan adalah pemborosan energi. Ia meletakkan uang pas di atas meja, mengambil catatan dan ponselnya yang tadi tergeltak di meja, lalu menatap Zahwa untuk terakhir kalinya pagi itu.
"Disiplin bukan berarti kaku, dan vokal bukan berarti benar. Selamat menikmati pagi Anda, Mbak," ucap Arka dengan nada datar namun menohok.
Arka melangkah keluar warung menuju mobil dinasnya yang terparkir tak jauh dari sana. Zahwa terdiam di tempatnya, menatap punggung Arka yang menghilang di balik pintu mobil.
"Sombong banget... Bu Sari, itu siapa sih? Pendatang baru di proyek kebun teh?"
Bu Sari mendekat dengan wajah penuh arti, setengah berbisik.
"Aduh, Neng Zahwa... itu tadi Pak Arka. Kepala Desa baru kita. Baru tiga hari tugas di sini, tapi seluruh perangkat desa sudah dibuat gemetar karena kedisiplinannya."
Zahwa nyaris tersedak bakwan yang sedang ia kunyah.
"Dia? Kades baru? Yang katanya menggantikan Pak kades koruptor itu?"
"Iya, Neng. Orangnya tegas sekali, nggak mau disogok, nggak mau basa-basi, pokonya semenjak kehadirannya kata Pak Sugeng, hawa Kantor Desa langsung berubah"
Zahwa tertegun. Ia menatap ke arah jalanan tempat mobil hitam tadi meluncur pergi. Singa podium itu merasa telah menemukan lawan tanding yang sepadan. Di kepalanya, draf argumen sudah mulai tersusun.
"Kades baru ya? Bagus, semoga kades yang sekarang bisa menerima setiap aspirasi dari kita" Zahwa tersenyum kecil, kilatan nakal muncul di matanya.
Dilain tempat, Arka sudah sampai di kantor Balai Desa, ia mulai kembali dengan poin-poin masalah desa yang sudah ia susun.
"Pak Arka, mau kopi?" tanya Pak Sugeng sesaat setelah melihat Arka berjalan menuju ruangannya.
"Tidak perlu Pak Sugeng, terima kasih, saya hanya butuh data anggaran Desa satu semester kemarin, tolong antar kan ke ruangan saya"
"Baik Pak" Pak Sugeng berlalu begitupun Arka.
Beberapa staf desa langsung bergerak cepat membantu Pak Sugeng, karena beberapa data desa benar-benar hilang bahkan tidak ada, karena kepemimpinan yang tidak jelas kades sebelumnya.
...🌻🌻🌻...