Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan Seran
Mendengar ucapan Kepala Desa, mata Ranisya langsung membelalak lebar. Wajahnya yang semula penuh keyakinan seketika berubah tegang, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Ia melangkah maju dengan napas memburu. Suaranya meninggi tanpa bisa ditahan.
“Pak Kepala Desa, bukankah sudah jelas saya dan Ibu yang terpilih untuk memasak makanan bagi Tuan Gubernur?" katanya lantang. "Keputusan itu sudah ditetapkan sejak awal!”
Beberapa warga yang masih berada di sekitar lapak jualan saling pandang. Rasmi ikut berdiri di belakang putrinya, bibirnya mengeras, sorot matanya tajam mengarah ke Jenara.
Pak Kepala Desa menghela napas pelan. Ia tak ingin perdebatan ini berubah menjadi keributan di depan warga.
“Tenang dulu, Ranisya. Setelah dua kali mencicipi masakan Jenara, aku rasa dia juga sangat berbakat dalam hal memasak. Bukan hanya soal rasa, tapi Jenara bisa membuat menu yang berbeda.”
Pria tua itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih dalam.
“Tuan Gubernur dan istrinya selalu mencari masakan baru. Mereka mudah bosan dengan hidangan yang itu-itu saja. Aku rasa masakan Jenara akan cocok untuk mereka.”
Jenara yang berdiri tak jauh dari sana hanya menunduk pelan. Bagaimanapun ia tidak mau ikut campur atas keputusan Kepala Desa.
“Tidak bisa, Pak! Ini tidak adil," tolak Ranisya bersikukuh.
Pak Kepala Desa mengangkat tangan, memberi isyarat agar Ranisya menahan diri.
“Kita hitung dulu hasil penjualan kalian. Dari situ, kita bisa menilai bukan hanya rasa, tapi juga bagaimana warga menerima masakan kalian.”
Ranisya menegang, lalu tersenyum miring. Ia menoleh ke arah Jenara dengan lirikan tajam.
“Baik, Pak. Siapa takut.”
Rasmi segera berjongkok, membuka kantong kain tempat mereka menyimpan uang hasil penjualan. Bunyi keping perak saling beradu terdengar jelas saat ia menuangkannya ke atas meja kayu. Dengan gerakan cekatan, Rasmi mulai menghitung satu per satu di hadapan Pak Kepala Desa.
“Sepuluh… dua puluh… tiga puluh…” gumamnya.
Ranisya berdiri di samping ibunya dengan dagu terangkat. Sesekali, ia melirik ke arah lapak Jenara dengan sorot meremehkan.
“Delapan puluh… delapan puluh lima…” Rasmi berhenti sejenak, lalu menghitung ulang dengan teliti. “Delapan puluh enam keping perak, Pak.”
“Baik. Delapan puluh enam keping perak," ujar Kepala Desa mengangguk pelan.
Ranisya langsung tersenyum lebar. “Saya sudah bilang, Pak. Penjualan kami jelas lebih banyak. Mi kuah itu makanan sehari-hari warga. Semua orang pasti memilih yang sudah biasa.”
Ia melirik Jenara lagi, kali ini dengan senyum penuh kemenangan.
Namun Jenara tetap berdiri tenang. Tanpa bicara, ia meraih kantong kain miliknya sendiri. Jenara menuangkan uang hasil penjualan ke atas meja kayu agar bisa dilihat bersama.
Di saat itulah, langkah kaki terdengar dari arah jalan desa. Seran muncul, berjalan cepat bersama seorang anak laki-laki sambil memanggul keranjang anyaman. Anak itu adalah Gatra.
Di dalam keranjang, tampak beberapa kantong berisi benih ikan lele yang masih bergerak-gerak, serta beberapa ikatan bibit tanaman.
Melihat Seran, wajah Ranisya berubah sumringah. Ia bergegas menghampiri lelaki itu.
“Kak Seran sudah pulang!" serunya dengan suara manja. “Lihat hasil penjualan mi kuah kami. Banyak, kan?”
Seran hanya menatap sekilas ke arah lapak mi, lalu memalingkan wajahnya tanpa sepatah kata pun. Ia melangkah melewati Ranisya begitu saja, menghampiri Jenara yang sedang bersiap menghitung uang.
Melihat reaksi Seran yang acuh tak acuh, Ranisya terpaku. Senyum di wajahnya perlahan memudar.
Jenara menoleh, sedikit heran melihat Seran berdiri di sampingnya. Sikap pria itu begitu tenang, seolah kehadirannya adalah bentuk dukungan tanpa perlu kata-kata.
“Silakan dihitung,” ujar Pak Kepala Desa.
Jenara mengangguk. Ia mengambil satu keping perak, meletakkannya terpisah, dan mulai menghitung.
“Satu… dua… tiga….”
Suasana mendadak sunyi, bahkan Ranisya pun terdiam menahan napas.
“Empat puluh… lima puluh…” suara Jenara terdengar semakin jelas.
Dalam hatinya, Jenara merasa was-was. Ia sempat berpikir, jangan-jangan hasilnya benar-benar kalah telak dari Ranisya.
Kue ubi ungu memang ludes, tetapi harganya cukup murah. Apalagi, ia juga memberi bonus nasi kepal yang dapat mengurangi hasil penjualan.
“Delapan puluh…,” ucap Jenara, jantungnya berdegup keras.
Ranisya dan Rasmi langsung menyunggingkan seringai mengejek. Namun detik selanjutnya, bibir mereka terkatup rapat saat Jenara melanjutkan.
"Delapan puluh enam…delapan puluh tujuh… delapan puluh delapan…”
Suara Jenara sedikit bergetar, tetapi ia terus menghitung hingga keping terakhir.
“Delapan puluh sembilan keping perak.”
Sejenak, tak ada suara apa pun. Pak Kepala Desa segera mencondongkan badan untuk memastikan uang yang didapat Jenara. Ia menghitung ulang dengan cepat, sebelum akhirnya mengangguk mantap.
“Benar. Delapan puluh sembilan keping perak.”
Wajah Ranisya seketika pucat pasi, sedangkan Rasmi melotot tak percaya.
“I-ini mustahil. Jenara pasti berbuat curang," gumam Ranisya tak terima dengan kekalahannya.
Jenara sendiri menatap keping-keping perak di depannya dengan takjub. Selisihnya dengan Ranisya memang tipis, hanya tiga keping perak, tetapi cukup untuk membuatnya unggul.
Pak Kepala Desa tersenyum tipis. “Dengan selisih ini, Jenara yang berhasil menjadi pemenang. Maka dari itu, Jenara akan menjadi ketua para ibu yang memasak untuk Tuan Gubernur."
Seulas senyum penuh haru merekah di wajah Jenara. Ia tidak menyangka akan mendapat kepercayaan sebesar itu dari Kepala Desa.
“Terima kasih, Pak,” ucapnya, sedikit membungkuk hormat.
Beberapa ibu di sekitar mereka saling berbisik pelan, ada yang tersenyum, ada pula yang mengangguk kagum. Namun, sebelum suasana bahagia itu kian menghangat, suara Seran tiba-tiba memecah kesunyian.
“Maaf, Pak Kepala Desa. Saya dan Jenara tidak bisa terlibat dalam acara penyambutan Gubernur."
Pak Kepala Desa mengernyit heran, jelas terkejut. “Kenapa kau dan Jenara tidak bisa ikut, Seran? Aku berencana akan menunjukmu sebagai pendamping Tuan Gubernur."
Bak tersambar petir, Jenara memandang suaminya dengan campuran bingung dan cemas. Jantungnya berdetak tak beraturan. Baru saja ia mendapatkan batu loncatan untuk mengembangkan karier memasak. Namun mengapa Seran justru menolaknya?
.
to, bagaimana dgn triplets?