NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Putri asli/palsu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Lain

Manda tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sinis setelah hening beberapa saat.

"Kamu pikir omonganmu barusan bisa menakutiku? Salma, kita lihat saja nanti. Siapa yang akan tertawa paling akhir."

Setelah melontarkan ancaman itu, Manda melenggang pergi dengan wajah angkuh. Salma menatap punggung itu menghilang, lalu menutup pintu kamarnya perlahan. Bibirnya mengulas senyum tipis. Silakan mencoba, Manda.

Keesokan harinya, drama keluarga kembali dimulai.

Di meja makan, Manda kembali memerankan kakak peri yang sempurna, menyapa Salma seolah pertengkaran semalam hanyalah mimpi. Salma meladeninya dengan santai, meski bisa merasakan aura kebencian yang menguar dari tatapan kakak angkatnya itu.

Keheningan mencekam mengisi mobil sepanjang perjalanan menuju sekolah. Bahkan Pak Asep, sopir mereka, tak berani bersuara. Begitu tiba di gerbang Citra Bangsa Global High School, Manda langsung turun dan berjalan cepat meninggalkan Salma tanpa menoleh sedikit pun.

Salma hanya menggeleng pelan.

Citra Bangsa adalah sarangnya anak-anak sultan. Deretan mobil mewah memadati area drop-off. Ironisnya, meski sekolah ini milik Yayasan Abhimana—konglomerat penguasa ekonomi negeri—tak ada satu pun keturunan Abhimana yang bersekolah di sini.

Salma sempat curiga pada Aksa. Mungkinkah? Namun ia segera menepisnya. Mustahil pewaris tunggal kerajaan bisnis itu berakhir menjadi cowok nerd berkacamata tebal yang kehadirannya nyaris tak dianggap.

"Pagi!"

Sebuah tepukan di bahu membuyarkan lamunan Salma. Ia menoleh dan mendapati Aksa Abhimana berdiri dengan cengiran khasnya.

"Bisa nggak sih nggak ngagetin?" Salma mendengus, pura-pura kesal. "Kalau aku jantungan terus pingsan di sini gimana?"

Wajah Aksa langsung berubah panik. "Eh? Masa sih? Jangan dong... Maaf, aku cuma senang aja lihat kamu."

Tawa Salma pecah melihat ekspresi polos itu. "Astaga, mukanya jangan panik gitu. Kamu gampang banget dibohongin, ya."

Aksa menghela napas lega, namun tatapannya berubah serius dalam sekejap. "Apa pun yang kamu bilang, aku pasti percaya."

Salma tertegun. Kalimat sederhana itu entah kenapa terasa begitu tulus. Merasa bersalah karena bercanda kelewatan, Salma mengangkat dua jari membentuk huruf V. "Janji deh, lain kali nggak bercanda soal kesehatan."

Aksa tersenyum tipis, lalu dengan gerakan canggung menyodorkan sebuah kotak makan. "Kamu belum sarapan, kan?"

Salma yang sebenarnya sudah makan sedikit, mendadak kehilangan niat untuk menolak. Instingnya mengatakan Aksa akan kecewa jika ia bilang sudah kenyang. "Belum nih."

Wajah Aksa langsung cerah. "Ini buat kamu. Aku masak sendiri tadi pagi. Tenang aja, higienis kok."

Salma menerima kotak hangat itu dengan takjub. Aksa bangun pagi buta demi memasak untuknya? Dengan rasa haru yang disembunyikan, Salma menepuk bahu Aksa keras-keras. "Mantap! Memang bestie banget lo!"

Alis Aksa terangkat sedikit. "Bukan bestie," ralatnya lembut namun tegas. "Aku ini lagi PDKT. Calon pacar."

Deg.

Jantung Salma seakan berhenti berdetak sesaat. Ia menatap lekat-lekat ke dalam mata di balik lensa tebal itu. Tak ada keraguan di sana.

Ingatan masa lalu berputar di kepalanya. Saat dunia Salma runtuh dan semua orang menjauh karena takut pada kekuasaan Riko Tanudjaja, hanya Aksa yang berani berdiri tegak, mengurus pemakaman orang tua Salma dengan layak.

"Kamu... keberatan?" tanya Aksa pelan, matanya sedikit meredup melihat Salma diam saja.

"Enggak," jawab Salma cepat, pipinya memanas. "Cuma kaget aja. Ayo jalan, nanti telat."

Salma berjalan mendahului Aksa untuk menyembunyikan wajahnya yang merona. Di belakangnya, Aksa tersenyum lebar penuh kemenangan. Lampu hijau.

Langkah Salma terhenti di dekat pintu kelas X-7. Telinganya menangkap suara Dito yang sedang memprovokasi teman-temannya. Rupanya wajah sedih Manda pagi ini sukses memancing simpati para 'pengawal' setianya.

Salma melirik pintu belakang kelas yang sedikit terbuka. Ada ember pel bertengger manis di atas daun pintu. Klasik banget. Jebakan sinetron tahun 2000-an.

Alih-alih lewat belakang seperti biasa, Salma melenggang masuk lewat pintu depan dengan percaya diri.

"Kenapa pada ngeliatin? Hari ini aku cantik banget ya sampai kalian lupa kedip?" sindir Salma santai sambil meletakkan tasnya.

Seisi kelas langsung buang muka, salah tingkah.

Aksa yang masuk belakangan segera menyadari jebakan di pintu belakang. Matanya berkilat dingin sesaat, sebelum kembali memasang wajah polos dan duduk di bangkunya.

"Salma, denger-denger kemarin kamu hebat banget ya? Berani main fisik sama anak OSIS?" Dito mulai memancing keributan.

Salma menatapnya dengan senyum miring. "Kenapa? Kamu mau coba juga?"

Dito terbungkam. Ia tak menyangka Salma akan mengancam balik sefrontal itu. "Wah, ternyata beneran preman pasar. Pantes bikin malu kelas kita. Mending lo pindah ke kelas 9 aja, kumpul sama sampah-sampah di sana!"

"Kalau aku preman, kamu apa?" balas Salma telak. "Kok kamu nggak masuk kelas 1 kalau emang pinter? Kenapa malah nyangkut di kelas buangan ini bareng aku?"

Wajah Dito merah padam.

"Salma, udahlah. Sebentar lagi masuk," Manda akhirnya buka suara dengan nada lembut yang dibuat-buat, mencoba terlihat seperti malaikat pelerai.

"Cih, pencitraan," celetuk Bella, salah satu 'pengikut' Manda. "Muka munafik lo bikin mual, Sal."

"Ada yang bilang nggak kalau nyerang fisik itu ciri orang nggak berpendidikan?" balas Salma tanpa menoleh, sibuk mengeluarkan buku.

"Lo bilang gue nggak punya etika?!" pekik Bella.

"Lho, aku kan ngomong sama tembok, kok kamu yang nyahut?"

Melihat Manda hendak memasang mode 'Santa Maria' lagi, Salma mendahuluinya. "Kak Manda, lihat tuh. Teman-teman Kakak kok hobi banget nyerang aku? Apa salahku?"

Manda terpojok. Ia tak bisa diam saja jika tak ingin imej 'kakak baik'-nya hancur. Dengan senyum terpaksa yang menyakitkan, ia menoleh pada Bella. "Bella, tolong jangan kasar. Salma adikku."

Bella ternganga tak percaya, sementara Salma tersenyum puas di balik bukunya. Senjata makan tuan.

Di sudut belakang, Aksa memperhatikan interaksi itu dengan bangga. Namun momen itu rusak saat—

BRAK!

Aksa tidak sengaja menjatuhkan buku. Vino, teman sebangku Dito yang kesal karena jebakan embernya gagal, langsung berdiri. Ia butuh pelampiasan.

"Lo hobi banget bikin ribut ya? Sini gue bantuin!" bentak Vino sambil menyeret kerah baju Aksa.

"Ma-maaf... aku nggak sengaja," cicit Aksa, tubuhnya gemetar ketakutan.

Salma hendak berdiri, tapi Aksa memberinya kode mata: Diam. Biar aku urus.

Vino menyeret Aksa ke arah pintu belakang. "Gue kasih pelajaran buat orang kampung kayak lo!"

"Tolong... jangan..." rintih Aksa.

Tapi tepat di ambang pintu, Aksa yang tadinya terlihat lemah mendadak bergerak licin seperti belut. Ia memutar tubuh, melepaskan cengkeraman Vino, dan memberikan dorongan kecil namun terukur.

Vino kehilangan keseimbangan, punggungnya menghantam daun pintu.

BYURRR! KLANTAK!

Ember berisi air pel keruh, kulit pisang, dan sampah rautan pensil tumpah ruah tepat di atas kepala Vino. Ember plastiknya bahkan mendarat sempurna menutupi kepalanya seperti helm.

"HWAHAHAHA!" Seisi kelas meledak dalam tawa.

Aksa membelalakkan mata, syok. "Ya ampun! Ma-maaf! Aku... aku nggak sengaja! Sumpah!"

Vino melempar ember itu, wajahnya merah padam menahan malu dan amarah. "AKSA!!! MATI LO!!!"

Ia melayangkan tinju, tapi Aksa menghindar dengan gerakan aneh yang efektif.

"Tolong! Ada orang gila!" teriak Aksa sambil berlari memutari kelas.

Adegan selanjutnya seperti tarian matador. Vino mengejar membabi buta, menabrak meja kursi, sementara Aksa berlari sambil berteriak histeris namun tak sekalipun ujung bajunya tersentuh. Napas Aksa bahkan tidak terengah.

Akhirnya, Vino ambruk kelelahan. Bagas, si 'bos' kelas, segera menariknya duduk.

"Udah, Vin. Diem," bisik Bagas tajam. "Dia sendirian pernah ngeratain kita pas tawuran di lapangan bola dulu. Lo cari mati kalau lawan dia."

Nyali Vino langsung ciut mendengar bisikan itu. Ia menatap horor ke arah Aksa yang kini berdiri tegak di pojok kelas dengan wajah tanpa dosa.

Rencana Manda gagal total. Salma tidak tersentuh, dan Vino malah jadi badut kelas.

Di bangkunya, Salma mengacungkan jempol tersembunyi ke arah Aksa sambil mengedipkan sebelah mata. Aksa membalasnya dengan senyum lebar yang tulus.

Istirahat tiba. Salma membuka kotak bekal dari Aksa. Isinya Jenang sumsum dan jenang grendul.

Satu suapan, dan mata Salma berbinar. Enak banget! Manisnya pas, teksturnya kenyal sempurna. Tanpa sadar, ia menghabiskan semuanya sendirian.

"Jahat banget sih lo, makan enak nggak bagi-bagi!" protes Naya Wardhana, teman sebangku Salma yang jenius tapi doyan makan.

Salma nyengir. "Sori, Nay. Khilaf. Enak banget soalnya."

"Emang itu dari siapa sih?" tanya Naya curiga.

Wajah Salma merona tipis. "Dari... Aksa."

Mata Naya membulat sempurna. Ia menatap Aksa di pojok kelas, lalu kembali ke Salma. "Fix. Dia naksir lo. Masakannya Aksa itu level dewa, dan dia pelit banget soal makanan. Kalau dia kasih lo, berarti lo spesial."

Salma hanya tertawa kecil, merasakan kehangatan menjalar di hatinya. Bukan hanya karena jahe, tapi karena perhatian itu.

Sore harinya, gerbang sekolah riuh oleh jemputan.

Salma menolak tawaran ayahnya untuk dijemput bersama Manda. Ia malas satu mobil dengan drama berjalan itu. Lagi pula, Salma punya rencana lain.

Ia mengetikkan pencarian di ponselnya: Sasana Bela Diri Terdekat.

Di kehidupan ini, uang dan status saja tidak cukup. Ia butuh fisik yang kuat sebagai pertahanan terakhir.

1
sahabat pena
aksa terlalu lambat.. sdh tau ada barang bukti bukan di serahkan ke kantor polisi atau di viral kan. jd di manfaat kan sama rival nya pak rahmat kan? untuk menjatuhkan pak rahmat
mom SRA
pagi thoor
INeeTha: Pagi kaksk🙏🙏🙏
total 1 replies
kriwil
harusnya manda yang kejebak sama laki laki lain atau sama riko sekalian biar hancur nya tambah seru
Kembae e Kucir
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kriwil
apa di sekolahan ini ga ada guru dan kepala sekolah ,sampai tentang soal ujian di bobol maling yang maju hanya sosok ketua osis 😄
mom SRA
pagi thor
kriwil
seno itu dapat anak pungut sezan dari mana ya😄
kriwil
awal mula seno mungut siluman ular itu knp ya
mom SRA
mpm thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Diah Susanti
thor, buat tanudjaja, kalo si manda cuma anak pungut, biar dia merasakan dibully 1 sekolahan.
mom SRA
malem thor
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
ealah moduse kang Aksa, lancar kayak jalan tol bebas hambatan
penampilan cupu ternyata suhu 😂
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Diah Susanti
ini apa hubungannya dengan rahasia manda? apa karena cucu orang hebat makanya mudah dapat info? 🤔🤔🤔🤔
Diah Susanti
padahal bolu pisang enak lho, aq suka tak bisa bikinnya/Grin//Grin//Grin/
mom SRA
seru critanya.... semangat thoor
tutiana
hadirrrr, suka huruf s ya Thor,
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!