NovelToon NovelToon
Godaan Sang Pembantu Baru

Godaan Sang Pembantu Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Matcha

Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.

Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

‎Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.

‎Apakah Bagas akan kembali?
‎atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Mati Aku!

Seperti yang telah dijadwalkan sebelumnya, sore ini Bagas akan datang ke rapat umum perusahaan milik keluarga-nya. Aryanaka Prima Property, adalah perusahaan turun - temurun milik keluarga Aryanaka, dan saat ini kepemilikan tertinggi masih di pegang oleh Ibunya.

Bagas tidak keberatan akan hal tersebut, ia malah merasa senang karena lepas dari tanggung jawab yang memang tidak ia inginkan.

Minatnya tidak pernah sekalipun ia jatuhkan untuk perusahaan yang penuh dengan bedebah-bedebah penjilat disana. Yang sialnya, masih berhubungan darah dalam kesatuan Aryanaka.

Ia muak, sekaligus benci untuk terlibat. Namun, akhir-akhir ini sang bunda semakin mendesaknya untuk segera mengambil alih kepemimpinan, dengan alasan ingin beristirahat di masa tua, dan fokus bersenang-senang membangun bisnis dengan teman-temannya saja.

Entahlah bagaimana cara membuat ibunya mengerti. Bagas terlalu lelah untuk memikirkannya. Tetapi sepertinya, jika memikirkan sosok yang kian hinggap dalam benaknya saat ini, ia tidak keberatan sama sekali, bahkan sangat merasa puas karena-nya.

"Thalia. Siapa sebenarnya kamu hmm. Kenapa...Ahh selalu tentang kamu," ucap Bagas nyari berbisik, kian menerawang segala bayang atas pergumulan yang telah mereka lakukan.

Hanya dengan memikirkan-nya saja, tubuh Bagas seketika merasa panas—mendamba akan kehangatan yang wanita itu berikan.

Sial, ia benar-benar ketagihan.

Dalam lamunan penuh gairah itu, tiba-tiba saja terdengar dering telepon yang menginterupsi. Dengan perasaan cukup kesal karena merasa terganggu—Bagas dengan berat hati mengambil ponsel yang terletak di atas meja kantornya.

Terpampang disana nama sang tunangan. Setelah panggilan tersambung, saat itu juga suara lembut Farah Putri Diharja menyapa dengan sopan.

"Halo Mas, maaf ya, aku jadinya baru bisa telfon kamu lagi sekarang. Padahal tadi pagi kamu sudah telfon duluan tapi malah aku pas lagi sibuk," jelas Farah sambil memohon maaf.

Oh, bagaimana Bagas tidak jatuh cinta kepada perempuan ini. Bahkan disaat ia yang justru harus disalahkan karena terus mengabaikan telfon-nya, tapi malah Farah yang meminta maaf hanya karena sedikit kesibukan.

Sungguh berbeda sekali dengan wanita yang tadi malam menghangatkan ranjangnya. Jika Farah adalah cerminan malaikat dengan tutur kata penuh kelembutan, maka Thalia adalah iblis penggoda yang hidup dengan kata-kata tajam dan panas-nya.

Brengsek!

Ya, sebut saja Bagas pria brengsek. Karena disaat ia sedang terhubung dengan sang tunangan, dirinya malah sibuk memikirkan wanita lain.

Kembali ia mencoba fokus, Bagas pun segera merespon Farah yang masih menunggu di seberang sana.

"No problem sayang. Aku juga minta maaf karena baru bisa telfon kamu, kemarin handphone aku mati total."

"Oh iya, kamu telfon aku berkali-kali, pasti ada sesuatu yang penting hmm?" tanya Bagas kemudian.

Terdiam sejenak, Farah dengan nada tampak berhati-hati, perlahan menyampaikan keluhan yang ingin ia haturkan kepada calon suaminya itu.

"Emm, begini Mas. Ini....Ini tentang PT Diharja Mineral Energi. Jujur, aku gak masalah kalau memang harus di usut. Tapi, aku mohon ya, jangan kamu yang ambil kasus-nya. Demi kebaikan kita Mas."

"Hmm, sudah aku duga kamu bakal bahas ini. Sayangnya, aku gak bisa mundur begitu saja. Sudah sejauh ini, aku yang harus selesaikan Farah," terang Bagas tegas.

"Tapi Mas, orang tua aku jadi menaruh kesal sama kamu. Mereka tadi sempat menghubungi kamu 'kan?"

Mengangguk, Bagas meng-iyakan. Memang tadi saat jam makan siang, ia mendapatkan pesan chat langsung dari calon ayah mertuanya—meminta untuk bertemu.

Maka dari itu, Bagas segera merencanakan pertemuan nanti malam. Sekalian dinner bersama di kediaman Aryanaka. Walaupun sebenarnya jujur ia merasa skeptis bahwa pimpinan Diharja Group itu akan bersedia membiarkan ia bekerja sebagai mestinya.

Perasaannya lebih condong berkata, bahwa kedua orang tua Farah akan tetap gencar menghentikannya untuk tidak melanjutkan penyelidikan.

"Iya benar. Kamu tenang aja. Biar aku yang urus nanti ya."

Perkataan Bagas memang bermaksud untuk memberikan pengertian dan menenangkan Farah. Tetapi, diseberang sana, Farah masih merasa sangat khawatir. Apalagi sejak kemarin ayahnya itu terus-menerus menelpon dan memarahinya.

Selain itu, sang Ibu juga kian mendesaknya untuk membuat Bagas berubah pikiran. Ibunya berpendapat bahwa tidak seharusnya calon menantu Diharja malah menyerang calon keluarga-nya sendiri.

Farah juga teramat risau apabila masalah ini semakin panjang, maka akan terjadi konflik yang berpotensi berdampak pada rencana pernikahan mereka.

"Mas Bagas, aku mohon ya mas. Tolong pikirkan lagi. Demi aku mas," pinta Farah lagi, kali ini dengan nada yang semakin frustasi.

Ada kesedihan disana. Bagas menyadarinya. Akan tetapi, Bagas adalah Bagas. Ia keturunan Aryanaka yang terkenal akan sikap dominan dan penuh kuasa yang luar biasa.

Bagas sudah menetapkan cara kerjanya. Walau Farah adalah calon istrinya, dan Diharja adalah bagian dari perempuan itu—namun profesionalitas Bagas sudah terlanjur ia patri untuk tidak bisa di gugat sama sekali.

"Iya Farah, kamu nggak usah khawatir. It's oke, bisa saya handle. Kamu sehat-sehat disana ya. Miss you."

"Ya Mas, aku tutup dulu ya. Miss you too,"

Bagas tahu, masih terselip nada kecewa dari sang tunangan. Sayangnya, kali ini Bagas harus mengeraskan hati.

Sebagai seorang Jaksa, ia telah disumpah untuk bekerja secara profesional, adil, dan meletakkan kejujuran setinggi-tingginya. Mengambil pekerjaan yang cukup beresiko dan mengesampingkan bisnis keluarga—merupakan tantangan tersendiri bagi Bagas Aryanaka. Jadi, ia tidak boleh main-main dalam prosesnya.

Tidak terasa Bagas telah bercakap dengan Farah cukup lama, hingga ia tidak menyadari waktu telah menunjukkan pukul tiga sore—waktu yang sudah dijadwalkan untuk dirinya hadir di rapat umum perusahaan Aryanaka Prima Property.

Segera ia keluar ruangan. Dapat ia lihat Raska pun telah siap—menunggu dirinya di balik pintu.

"Raska, ayo sambil jalan ke bawah, tolong kamu bacakan lagi rencana agenda pembahasan rapat nanti," titah Bagas kepada Raska yang langsung bergegas membuka tab berisi seluruh informasi terkait jadwal Bagas Aryanaka.

"Baik Pak. Agenda hari ini adalah membahas terkait kepemilikan saham Aryanaka Prima Property. Seperti yang kita tahu, bahwa saham tertinggi masih dipegang oleh Nyonya Suratih. Namun, beliau bersikeras ingin mengalihkannya kepada Bapak, dan banyak penolakan yang datang dari para petinggi, karena....

Sebelum melanjutkan, Raska mengambil napas terlebih dahulu, untuk kemudian berucap dengan hati-hati. "Karena, Bapak tidak ingin melanjutkan tampuk kepemimpinan Nyonya Suratih."

"Huh, masalah itu lagi. Sebenarnya saya bosan. Tapi mau bagaimana lagi. Kita lihat saja di rapat nanti," tanggap Bagas sekenanya sambil terus berjalan, diikuti Raska yang hanya mampu terdiam.

Keluar dari lift, saat hendak menuju pintu loby, Bagas tiba-tiba kembali bertanya, "Oh iya Raska, saya lupa. Sudah lama Soleh tidak menemui saya untuk melaporkan tugas yang terakhir saya berikan. Tolong segera hubungi dia. Saya mau paling lambat besok pagi laporan itu sampai di tangan saya."

Jantung Raska sontak berdentum keras. Matanya tidak bisa dikendalikan untuk tidak terbuka lebar saking terkejutnya dengan perintah Bagas. Ia pikir pria itu sudah lupa.

Bagaimana ini? Laporannya sudah ia simpan sendiri atas perintah Nyonya Suratih.

Mampus!

"Mati aku!" jerit Raska dalam hati.

1
Lady Matcha
Woww
FalconSC99
Gak akan bosan baca cerita ini berkali-kali, bagus banget 👌
Syaifudin Fudin
Gila, endingnya bikin terharu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!