Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Accidental Venetarian
Hari itu bukan pertama dan terakhir kalinya Sena datang ke asrama Andy. Beberapa kali setelahnya, dia datang lagi untuk sekadar nongkrong dengan member yang lain. Kadang mereka nonton film bersama, kadang bermain game, kadang hanya bermalas-malasan di ruang tamu sambil mengobrol santai.
Selama masa itu, Andy masih menampakkan kekhawatiran bahwa satu di antara para member mungkin menaruh rasa pada Sena, tapi Sena terus meyakinkan Andy bahwa mereka hanya akan berakhir menjadi teman nongkrong yang asyik. Seperti yang sudah Sena bilang, dia tidak sedang tertarik untuk menjalin hubungan. Kegiatan kuliah dan dua pekerjaan part time yang dia jalani sudah cukup menguras energi. Sena tidak ingin menambah drama lain di kemudian hari.
Sena berdiri di dalam lift, dengan sabar menunggu benda besi itu tiba di lantai 7. Hari ini dia akan mengunjungi Andy lagi, tapi di unit yang berbeda dari yang telah dikunjunginya beberapa kali. Unitnya masih ada di gedung yang sama, hanya berbeda lantai saja.
Ting!
Pintu lift terbuka, Sena bergegas keluar dan berjalan ke sisi kiri, menuju unit bernomor 79. Di depan pintu, dia berdiam diri sebentar, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Unit ini bukan tempat Andy tinggal, melainkan milik member Elements yang lain. Mereka memang dibagi menjadi dua kelompok. Di lantai 7 dan 8. Karena yang tinggal di unit ini bukanlah member Elements yang ditemuinya beberapa kali, Sena jadi merasa sedikit gugup.
“Hai, dude.” Sena mengangkat kepalanya, sedikit terjingkat saat pintu di depannya terbuka sebelum dia selesai mengumpulkan keyakinan. Dia bahkan belum memencet bel, tapi Andy sudah berdiri di depannya dengan senyum tiga jari menghias wajah.
“Oh, hai.” Dia menyapa balik, berusaha untuk tidak terlihat terlalu gugup.
Seperti yang dilakukannya di unit yan biasa Sena datangi, Andy langsung mengajak masuk tanpa basa-basi. Langkahnya lurus, sampai matanya menemukan seorang pria duduk di meja makan. Fitur wajahnya yang tegas, kontras dengan senyumnya yang merekah hangat. Pria itu bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan menghampiri.
“Kau pasti temannya Andy,” katanya. “Aku Taehee.”
Sena membungkuk sopan dan tersenyum pada pria itu. “Iya, aku Sena. Senang berjumpa denganmu, Taehee.”
Disambut baik begitu oleh Taehee, yang notabene adalah leader Elements yang terkenal tegas, membuat kegugupan Sena sedikit berkurang. Dia bahkan tidak merasa resah saat Andy pergi dari sisinya, berjalan menuju kulkas.
“Kau mau minum apa?” tanya pria itu, dengan pintu kulkas sudah terbuka.
“Ada apa di kulkas?” tanyanya balik. Begitu mendapatkan sign dari Taehee bahwa dia diperbolehkan menyusul Andy, Sena langsung berjalan menghampiri teman baiknya itu. Ada jus dalam kemasan di dalam kulkas, yang langsung menarik perhatian Sena, jadi dia mengambilnya.
“Sini,” kata Andy, menyiapkan dua gelas kosong di atas counter agar Sena bisa menuangkan jus tadi ke dalamnya.
Sebelum menuangkan semua jus di dalam kemasan, Sena melirik Taehee yang sudah kembali duduk di meja makan, sibuk dengan ponselnya. “Taehee, apa kau mau juga?” tanyanya.
Taehee menarik pandangannya dari layar ponsel, menatap Sena dan jus di tangannya secara bergantian, lalu mengangguk. “Boleh,” jawabnya seraya tersenyum. “Terima kasih.”
Sena mengambil satu gelas lagi, menuangkan jus ke dalam tiga gelas yang tersedia, kemudian bersama Andy membawanya ke maja makan. Dia dan Andy duduk di kursi yang berseberangan dengan Taehee. Setelahnya, percakapan mengalir begitu saja di antara mereka bertiga. Taehee bertanya soal hubungan pertemanan Andy dan Sena, lalu salah satu di antara mereka akan menjawab dan yang lain menambahkan dengan tawa renyah—mengingat betapa banyak hal-hal konyol yang mereka lakukan saat remaja.
Dari sisi Taehee, dia sudah mendengar Andy sering sekali membicarakan soal Sena, terlebih beberapa waktu terakhir ini. Tadinya dia bertanya-tanya, kenapa Andy selalu tampak bersemangat menceritakan soal teman masa kecilnya, yang bahkan sudah tidak ditemuinya lama. Sekarang, setelah bertemu langsung dengan Sena, dia agaknya bisa memahami perasaan Andy. Mereka sudah menghabiskan masa kecil bersama, sempat terpisah, dan kini akhirnya bisa melanjutkan pertemanan lagi, wajar saja jika Andy begitu senang.
“Kau seorang dokter hewan?” Taehee bertanya antusias, saat Sena bercerita soal kuliahnya.
Sena terkikik. “Belum,” sahutnya. “Baru akan menjadi. Perjalananku masih panjang untuk bisa menjadi dokter hewan.”
Ketika suasana terasa normal setelah Sena memberikan klarifikasi, Taehee tiba-tiba berdiri dan meraih tangannya. Ia menarik Sena pergi, membawanya masuk ke kamar. Sena tidak tahu apa yang hendak Taehee lakukan. Sampai pria ittu membawanya ke hadapan sebuah akuarium yang ada di kamar. Ukurannya tidak terlalu besar, dihias bebatuan kecil dan pohon-pohon imitasi, serta lampu kecil yang cukup terang. Di sana, ikan-ikan kecil beraneka warna berenang bebas.
“Oh, wow…” Sena mendekat, menggerakkan telunjukkan di depan kaca akuarium, dan tertawa senang saat para ikan hias di sana berenang mengikuti ke mana telunjuknya berenang.
Puas bermain, Sena menegakkan tubuhnya dan kembali menatap Taehee. “Mereka lucu,” katanya, yang disambut senyum manis oleh pria berambut blonde itu.
“Terima kasih,” katanya seraya menyeringai. “Tapi belakangan ini aku menyadari ada yang aneh dengan mereka, dan karena kebetulan kau adalah dokter hewan…” Dia tidak melanjutkan ucapannya, malah menatap ikan-ikan di dalam akuariumnya dengan sorot mata yang tampak khawatir.
Sena terkekeh, menangkap maksud terselubung di dalam ucapan Taehee. Ia pasti berpikir Sena bisa membantu mengatasi permasalahan dengan ikan-ikan itu, hanya karena dia mengambil jurusan kedokteran hewan.
Di sisi lain, Andy yang penasaran kenapa Taehee tiba-tiba membawa Sena masuk kamar, akhirnya menyusul. Dia berdiri di tengah-tengah antara mereka berdua, menjadi pembatas. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, mengamati ikan-ikan mungil berenang ke sana kemari.
“Lihat!” kata Taehee, menunjuk seekor guppy yang berenang mendekati permukaan.
Sena mendekatkan wajahnya, menyadari bagian insang si ikan mungil itu berwarna kemerahan. Lalu saat dia melongokkan kepala ke dasar akuarium, dia menemukan ada banyak serpihan makanan ikan yang tidak dimakan.
“Apa mereka akan mati?” tanya Taehee, nadanya sedih. Matanya pun tampak berkaca-kaca, seakan memohon pada Sena untuk menyelamatkan nyawa ikan-ikan kesayangannya.
Ekspresi di wajah Taehee itu tampak lucu di mata Sena. Ini adalah sebuah kesempatan langka, bisa melihat wajah menggemaskan itu secara langsung. “Tidak perlu khawatir, Taehee, itu tidak akan terjadi. Mereka hanya keracunan amonia, yang membuat insang mereka menjadi merah, tidak nafsu makan, dan … itu,” ujarnya seraya menunjuk seekor ikan lain yang berenang ke permukaan, berusaha mendapatkan asupan oksigen.
Taehee memperhatikan ikan-ikan di akuariumnya satu persatu, kemudian kembali menatap Sena. “Jadi … apa yang harus aku lakukan?”
Bersambung....