Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*29
Mobil melaju kencang melintasi jalan raya. Semakin kencang mobil melaju, semakin kencang pula debaran di dada Dion. Hingga akhirnya, mobil berhenti di kontrakan sederhana yang ada di pinggir kota. Saat itulah, Dion baru bisa bernapas dengan lega.
"Tu-- tuan muda."
"Kita sudah sampai, Dion. Sekarang, kamu bisa bawa mobil kembali ke rumah. Malam ini, aku akan tinggal di rumah tua ini."
"Apa? Tapi-- "
"Ikuti saja apa yang aku katakan, Dion. Kamu tidak bisa menemukan Aina, bukan? Jika dia benar, Ain ku. Maka dia pasti akan kembali ke rumah tua ini. Dia pasti akan melihat kediaman tua tempat di mana dia dibesarkan." Rain berucap dengan manik mata yang menatap lekat ke arah bangun usang yang ada di depannya.
Dion pun tidak bisa membantah lagi. Karena apa yang baru saja Rain katakan mungkin benar. Jika wanita itu adalah Aina, sudah pasti dia akan kembali ke rumah tua ini untuk melihat kediaman lamanya.
Sesaat terdiam, akhirnya Dion berucap dengan pelan. "Tuan muda, apa tidak perlu saya temani di sini?"
"Tidak, Dion. Aku ingin menunggunya sendiri. Kamu bisa pergi. Jangan datang jika tidak aku panggil. Ingat, jangan perlihatkan tanda-tanda keberadaan ku sedikitpun di sekitar rumah. Karena aku tidak ingin, istriku kabur lagi."
"Baik, tuan muda. Saya mengerti. Saya pamit sekarang."
"Hm. Pergilah!"
Rain masih menatap bangunan tua yang usang itu selama beberapa saat setelah kepergian Dion. Manik matanya menatap bangunan tersebut dengan penuh harap.
"Aku yakin kalau itu adalah kamu, Aina. Entah bagaimana jalan ceritanya. Entah bagaimana takdir membawa kamu hingga berubah. Aku tidak tahu. Tapi batin ku sangat yakin, kalau wanita yang aku lihat di dalam rekaman cctv adalah kamu. Aku sangat percaya dengan apa yang aku rasakan, Ain."
"Kembalilah padaku, sayangku. Aku sudah lama menunggu kamu dengan penuh harap," ucap Rain sambil menutup matanya rapat-rapat. Dia berusaha mendamaikan hatinya sekarang.
Sesaat kemudian, barulah Rain beranjak masuk ke dalam. Dengan penuh keyakinan, pria itu menunggu di dalam sana. Melewatkan waktu tidur tanpa ada rasa lelah sedikitpun.
Semalaman, Rain terjaga. Berbaring, duduk, berjalan, lalu, berbaring lagi. Begitulah seterusnya hingga pagi menyapa dunia. Rasanya, penantian itu bukan apa-apa bagi Rain. Penantian semalaman tanpa tidur sedikitpun tidak ada artinya bagi Rain sekarang. Karena penantian yang sangat lama, sudah pun ia lalui selama lima tahun terakhir.
Waktu terus berlalu, dari pagi, hingga siang hari menjelang. Apa yang Rain tunggu, masih saja tidak menunjukkan hasilnya sedikitpun. Rain mulai lelah. Tapi batinnya tetap berharap dengan penuh semangat. Keyakinan hati masih sangat kuat.
Dia yakin, Aina akan datang. Tidak hari ini, mungkin besok. Atau, mungkin juga besok lagi. Dia tidak keberatan untuk menunggu hingga satu minggu ke depan. Meskipun tubuhnya susah mulai lelah. Tapi semangatnya tetap tidak akan berubah.
Rain kini terduduk di kursi kayu usang di ruang tamu dari rumah tersebut. Matanya terus menatap ke arah pintu masuk. "Aina. Aku akan tetap menunggu kamu selamanya. Keyakinan ini tidak akan pernah-- "
Ucapan Rain tertahankan saat bunyi mobil berhenti di depan rumah. Tak sabar lagi, Rain bangun dari duduknya. Tangannya ingin cepat membuka pintu tersebut untuk melihat siapa yang datang. Namun, niatnya dia tahan dengan cepat.
Rain beranjak ke jendela tua yang ada di samping pintu. Dari jendela itu, dia mengintip agar bisa melihat siapa yang akan turun dari mobil yang baru saja berhenti di depan rumah tersebut.
Sontak, matanya langsung membulat sempurna ketika seorang wanita nan cantik jelita turun dari mobil tersebut. Lalu, seorang anak laki-laki mengikuti wanita tersebut dengan bahagia.
Mata Rain membulat sempurna bersamaan jantung yang berdebar dengan sangat hebat. Bibir Rain bergetar, buliran bening langsung jatuh secara perlahan. Akhirnya, apa yang ia harapkan, kini telah terwujud. Cintanya kini ada di depan mata.