Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.
Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.
Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.
"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.
Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.
Kemana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP ku?
Ya, tuhan.
Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasuk
...Nurhalina...
...────୨ৎ────...
Adzan berkumandang, itu tandanya matahari sebentar lagi akan muncul. Lega, akhirnya aku bisa mengakhiri ketakutan ini. Sejak pemukulan semalam, Ndaru menarik anak buahnya ke rumah depan, meninggalkanku di rumah tua ini sendirian. Dan pintu depan di kunci sehingga aku tak bisa kabur dari sini.
Rumah ini cukup aneh menurutku. Tak ada perabotan sama sekali di dalamnya. Hanya dua buah pintu yang ada di depan dan belakang sana. Namun aku tak berani mencoba membuka pintu yang ada di belakang, karena selain gelap, semalaman penuh seperti ada sosok besar yang mondar-mandir menjaganya. Bayangan hitam dan sekelebat-sekelebat percikan cahaya.
Di dalam sini juga dingin, banyak nyamuk yang singgah di badanku, apalagi kebaya yang kukenakan sudah tak menyerupai baju lagi, lebih seperti kain lap kompor.
Mataku jatuh ke suara langkah kaki yang mulai dekat. Suara itu datang dari arah pintu belakang yang gelap.
Aku benar-benar gemetar.
Jika aku teriak minta tolong, yang ada 3 pria cabul itu datang lagi dan menjamahiku dengan buas. Jadi lebih baik kubiarkan rasa takut ini untuk sementara.
"Lariii...." suara itu tampak tak asing.
Aku tutup mata dengan kedua tangan dengan lutut menekuk di dada. Bulu leherku mulai berdiri.
"Lariii..." suara itu berhembus di telingaku. Aku menggeliat. "Lari atau matiiii..." suaranya serak, berat, basah. Sama seperti pipiku sekarang.
Suara yang sama saat aku berada di sumber air.
"Matiiiiiiii," kian memekik, mencekik dan aku mulai panik. Aku sulit bernapas, berat dan .....
...NGIIIIING...
...જ⁀➴...
....Rumahku atau istanaku?
Tapi aku lebih memilih istanaku. Karena aku memiliki dua orang yang spesial di dalam hidupku. Satu pangeran dan satu Ratu yang menghasilkan aku. Dan sekarang aku sudah berada di depan pintu istana. Meski tak semegah istana seperti di film-film, tapi di sinilah tempat semua kisahku di mulai.
"Assalamualaikum!" riangku menarik gagang pintu dan mulai melepas sepatu. "Buk, aku remidi lagi matematika. Hehehe!"
Seperti biasa, aku selalu melepas sepatu dengan duduk di mulut pintu sambil menghadap jalan, sebelum masuk dan rebahan di depan TV.
Biasanya Ibuk langsung menjewer telingaku saat dengar kabar nilaiku yang hancur, tapi kali ini, mungkin dia sudah mulai menerimanya, atau dia lagi sibuk goreng sesuatu di dapur?
Apa pun itu, aku lega. Setidaknya telingaku tidak bengkak hari ini.
Aku taruh sepatu di rak depan dan masuk menuju dapur, tapi tak ada siapa-siapa.
"Buuk! Nur pulang... Asalamualaikum..." salamku berulang kali. Tapi memang sepertinya tak ada orang di rumah. Anehnya kenapa pintunya tak di kunci?
Kudengar ada sesuatu yang jatuh di kamar Ibuk, jadi aku lekas masuk.
"Loh, Bukkk?!" jeritku kaget. Aku cepat-cepat menadah kepalanya yang kejang-kejang hebat. "Ibuk kenapa?"
Aku heran dengan mereka. Selain Ibuk, bapak juga tampak kejang-kejang.
"Buk, bangun Buk!" tanganku menyeka mulutnya yang berbusa. "Pak. Ini kenapa??!!"
"Maafin Bapak, Nduk." jawabnya ringkih. Air mataku terjun, bergantian menatap mereka. "Ada sisa gajiannya Bapak di tas. Kamu gunain dengan baik, ya Nduk."
"Ngomong apa, sih Pak?" Aku hanya sesenggukan. Memangku kepala Ibu. "Paaaaaakkkkk!!!"
"Maafin Bapak sama Ibukmu, Nduk. Kita semua sayang, Nur...."
"Ibuk kenapa Pak? Paaakkk!!" jeritku melihat Bapak yang kini juga mulai berbusa. "Kalian ini habis......"
...જ⁀➴...
...NGIIIINGGGGG...
"Hey, hey cantikku. Hei!" Tangan kekar sedang memegang kedua pipiku. "Tenang-tenang... Kamu udah aman!"