Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEMPAT AMAN UNTUK BERSEMBUNYI
Hari ini mereka akan bersembunyi di tempat yang baru.
Bram turun dari kapal.
Bram mengulurkan tangannya pada Belinda, membantu Belinda turun dari tangga penghubung antara kapal dan dermaga.
Dia mengendong Belinda agar Belinda tidak kesusahan turun.
Belinda itu sangat ringan sehingga Bram tidak terlalu susah untuk menurunkannya.
Sesaat setelah turun di dermaga Belinda tersenyum manja, memegangi tangan Bram, mereka bergandengan tangan.
Sepuluh orang kaki tangan Bram saling menatap dan tersenyum-senyum melihat pemandangan itu.
kemana perginya bos bengis mereka yang sadis, yang dulu membunuh dengan tangan dinginnya para sandera yang tidak menurut. Bahkan dia pernah menikam seorang sandera perempuan yang berusaha mencekiknya.
Bram lalu mengajak Belinda memasuki hutan, yang terlihat agak gelap dari luar. Itu adalah Hutan Larangan. Di dalam peta hutan larangan tidak ada. Konon katanya dari pesawat atau dari helikopter Hutan Larangan itu tidak tampak dari atas.
Bram sudah tiga kali melakukan persembunyian di Hutan Larangan ini. Hutan ini cukup aman menurutnya. Ada jalan setapak yang nantinya akan mengarah ke pondok yang akan mereka tinggali. Jalan setapak itu mereka susuri. Lima jam perjalanan tanpa henti.
Kerikil yang ada membuat kaki Belinda kesakitan, dia mengaduh.
"Duhh!"
Belinda berhenti sejenak meringis.
"Kenapa?"
"sakiiitttt!"
"Ini bukan petualangan, ini membuat capek, Bram!"
"Aku capek sekali, Bram!"
"Jangan manja, kita bukan tamasya taman kanak-kanak!"
"Huh..."
Bram meminta sebotol minuman yang dipegang salah seorang kaki tangannya tadi untuk diberikan pada Belinda.
"Minumlah dulu."
Belinda meminum seteguk air dalam botol itu.
"Capeekkk!"
Belinda merengek manja pada Bram.
Bram menyerahkan botol minum tadi pada kaki tangannya.Lalu menyuruh Belinda naik ke punggungnya, yang disambut dengan jingkrakan kegirangan Belinda. Ia naik ke punggung Bram seperti anak kecil yang kegirangan mendapat lolipop dari ayahnya, lalu minta gendong.
Belinda, bergelayut mesra di punggung Bram.
"Bram punggungmu kuat sekali, besar dan lebar!"
"Iya nona, biar kamu tidak mengeluh lagi, aku pusing mendengarnya."
"Haaahaaa..."
Kaki tangan Bram ikut tertawa melihat kelucuan Belinda dan perkataan Bram tadi. Namun, hanya sesaat. Mereka kembali terdiam saat Bram melihat ke arah mereka.
Jalan menuju ke dalam Hutan Larangan semakin sulit untuk dilewati. Batunya semakin besar-besar, tanahnya makin banyak ditumbuhi rumput ilalang tinggi, ada ular melintas tadi. Pohon sekelilingnya lebat dan tinggi. Bunyi burung hantu membuat buku kuduk Belinda bergidik.
"Bram, aku takuutttt!!!!"
"Tenanglah, nanti akan sampai!"
Belinda semakin erat memegangi punggung Bram, dia mencoba memejamkan matanya. Di tengoknya ke belakang.
Pengawal itu kuat sekali tidak makan dari pagi, gumamnya.
"Heiii, kalian tidak lapar?"
Belinda berteriak pada kaki tangan Bram yang berjumlah 8 orang. Yang dua orang berjaga di kapal.
"Kenapa kalian diam saja?"
"Kaki tangan Bram bukannya tidak mau menjawab pertanyaan Belinda tapi dia takut untuk menjawab kalau tidak dapat aba-aba dari Bram.
"Kalian jawablah pertanyaannya!"
"Siap, bosss!"
"Kami tidak lapar, Nona!"
"Siap, tidak, Nona!" jawab yang lainnya.
"Jangan bohong, kalian lapar, bukan!"
"Makanlah, ada makanan di ransel hitam itu!"
"Aku membawa banyak dari rumah persembunyian pertama dan di kapal aku bawa banyak, makanlah!"
"Tidak usah, Nona!"
"Heiii, perempuanku menyuruh kalian makan, berarti itu perintah!"
"Ya, Bos!"
"Kalian makanlah!"
"Siap, Bos!"
Mereka pun menyantap makanan itu.
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆