NovelToon NovelToon
Patah Tumbuh

Patah Tumbuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Sistem / Berbaikan / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Matri

Novel ini bercerita tentang kehidupan seorang perempuan setelah berpisah dari orang yang dicintainya. Namun, takdir berkata lain karena ada kisah lain yang muncul setelah mereka berpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 29

Detak jantung Senja berdebar tidak karuan. Dia tidak percaya bahwa saat ini dia akan meminta pertolongan pada laki- laki yang sangat dia benci dan juga sangat dia cintai. Lelaki yang membuatnya trauma.

"Tuan." Sekali lagi Senja memanggil.

"Ada apa Senja? Kenapa tiba- tiba kamu ingin menemui ku? Bukannya kamu membenciku dan ingin beranggapan bahwa kita tidak pernah saling mengenal?"

"Maaf jika saya mengganggu Anda. Saya ingin meminta bantuan pada Anda." Senja memohon.

"Katakan."

"Ayah saya sedang mengalami kecelakaan. Dia harus segera dioperasi saat ini. Saya... Saya ingin meminjam uang untuk biaya operasi Ayah." Senja lantang menyampaikan maksudnya.

"Oh ya? Hmmmm." Hazel bangun dan mendekat pada Senja. Dia memegang ujung rambut Senja yang basah.

"Saya berjanji akan segera mengembalikannya."

"Berapa yang kamu butuhkan?" Hazel berdiri tepat di hadapan Senja.

"130 juta." Senja menjawab singkat.

"Hmmmm. Begitu ya?"

"Saya mohon." Senja tidak lagi menahan tangis. Dia berlutut memohon pada Hazel.

"Baiklah. Aku bisa menolong mu. Aku bahkan akan memerintahkan Dokter terbaik untuk merawat Ayahmu. Tapi.."

"Tapi apa?" Senja penasaran.

"Aku hanya akan memberikanmu satu syarat. Kamu hanya perlu setuju dengan syarat itu."

Senja terdiam. Dia sudah menduga bahwa tidak akan semudah itu Hazel memberinya bantuan.

"Apa syaratnya? " Senja melihat ke Hazel.

"Menikahlah denganku." Jelas Hazel.

Deg...

"Apa?"

"Ya. Menikahlah denganku. Pernikahan itu hanya akan menjadi pernikahan kontrak. Jika kamu setuju, kamu tidak perlu mengembalikan uangnya."

"Apakah tidak ada syarat lain? Anda bisa memberi waktu saya selama satu bulan untuk saya mengembalikan uang Anda. Saya berjanji akan mengembalikannya tepat waktu." Senja memohon lagi.

"Tidak ada lagi syarat lain. Semua tergantung padamu sekarang. Pikirlah dulu." Hazel mengejek.

Di saat Senja bingung dengan pikirannya, ponselnya berbunyi. Dia melirik. Ternyata itu adalah Ibunya.

Hatinya seperti tercabik- cabik.

"Bagaimana ini? Apa aku harus menerima syarat ini? Tapi hanya ini satu- satunya jalan agar Ayah segera dioperasi." Batin Senja.

Ponsel Senja terus bergetar.

"Ah parsetan.! " Umpatnya dalam hati.

"Baik. Saya akan menyetujui persyaratan Anda." Senja menjawab lantang. Dia tidak mau lagi berpikir yang lainnya. Saat ini Ayahnya adalah yang paling penting.

"Bagus. Kamu memilih jawaban yang tepat." Hazel merasa puas. Dia mendekati Senja dan membangunkan Senja.

"Arjun. Masuklah." Hazel memberi perintah melalui telepon.

Arjun masuk ke dalam ruangan.

"Ya Tuan?" Arjun mendengar.

"Segera kamu tangani masalah Ayah Senja yang saat ini sedang di Rumah Sakit karena kecelakaan. Kamu uruslah semuanya. Pastikan semuanya benar- benar tidak ada hambatan. Senja juga harus segera di sana. Kamu persiapkanlah segala sesuatu yang dibutuhkannya." Hazel memberi perintah.

"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi untuk melaksanakan tugas ini." Arjun mengerti dan keluar.

Senja terheran- heran. Dia tidak menyangka bahwa uang dan kekuasaan sangat berpengaruh besar.

"Pergilah Senja. Temui Ayahmu. Kamu sudah dengarkan? Arjun akan mengurus semuanya. Dan segeralah kembali agar kita selesaikan urusan kita." Bisik Hazel di telinga Senja.

Membuat Senja bergidik. Dia telah menyetujui syarat dari Hazel. Dia tidak memiliki kuasa untuk menolak. Dia menurut.

.

.

Senja baru saja tiba di Kota A. Tepatnya di Rumah Sakit terkenal di daerah itu.

Dia berlari kecil menuju ke ruangan yang telah ditunjuk oleh seorang perawat.

"Ibuuuu.." Senja berlari memeluk sang Ibu yang sedang berdiri di depan ruang operasi.

"Senja. Sayang. Kamu di sini? " Ibu memeluk Senja erat. Keduanya lama berpelukan dan menangis kecil.

Setelah lebih sedikit tenang, dia dan Ibunya duduk di bangku panjang yang ada.

"Gimana kata Dokter Bu?" Senja bertanya.

"Senja. Ini seperti sebuah keajaiban. Tiba- tiba Ayah dipindahkan ke Rumah Sakit ini dan langsung ditangani dengan baik oleh dokter dan perawat yang ada. Ibu bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kamu tahu sesuatu Nak? Ibu takut. Biaya di sini pasti lebih mahal." Ibu Senja terlihat bingung.

"Ibu tenang aja. Semua sudah Senja atasi. Senja meminta bantuan pada salah seorang teman Senja. Dia yang membantu sehingga Ayah bisa pindah ke sini. Yang penting sekarang Ayah udah ditangani dengan baik. Kita berdoa aja ya, semoga operasi Ayah berjalan lancar." Senja berbohong untuk menenangkan Ibunya.

"Benarlah Nak?"

"Iya Bu. Benar." Sekali lagi Senja berbohong.

"Maaf Bu. Senja ngga bisa bilang yang sebenarnya ke Ibu. Biar ini semua jadi bebannya Senja.

Hhhh. Setidaknya dia menepati omongannya. Dia benar- benar memberikan yang terbaik untuk Ayah. Aku harus fokus ke Ayah dulu." Gumam Senja dalam hati.

.

.

Beberapa waktu kemudian, Dokter yang melakukan operasi, keluar dari ruang operasi.

"Dokter. Gimana Ayah saya?" Senja menghampiri Dokter.

"Syukurlah. Operasi berjalan lancar. Semua ditangani dengan baik. Ayah kamu masih belum sadar karena bius. Tapi sebentar lagi akan siuman. Beliau akan dipindahkan ke ruang perawatan." Dokter menjelaskan situasi.

Senja dan Ibunya merasa sangat lega mendengar itu.

"Apa saya bisa masuk menemui suami saya sekarang?" Tanya Ibu Senja khawatir.

"Tidak perlu. Ibu sebaiknya menunggu di ruang perawatan."

"Baik Dokter. Terimakasih." Senja mengucapkan terimakasih.

Dokter tersenyum dan berlalu.

.

.

Pukul 11 malam.

Senja sedang duduk di pantry Rumah Sakit untuk menyeruput segelas kopi hangat.

Ayahnya sudah berada di kamar perawatan dan Ibunya sedang menemani sambil menunggu Ayahnya siuman.

"Nona." Arjun mendekat dan memanggil Senja.

"Pak Arjun?" Senja sedikit terkejut.

"Semua sudah saya bereskan. Setelah ini, Ayah Nona dipastikan akan mendapat perawatan dan pelayanan terbaik dari Rumah Sakit ini. Dan.. Tuan baru saja menelpon. Beliau memerintahkan saya untuk segera membawa Nona pulang. " Arjun menjelaskan situasi dan perintah.

"Apa harus sekarang Pak? Apa saya tidak bisa menunggu sampai Ayah saya siuman? Setidaknya ijinkan saya untuk melihat Ayah saya siuman." Senja memohon.

"Maaf. Saya hanya menjalankan perintah. Saya akan menunggu Nona di depan. 1 jam lagi kita akan berangkat pulang. Saya permisi." Arjun pamit tanpa mau mendengarkan permohonan Senja.

Senja merasa stres. Dia ingin melihat ayahnya siuman. Dia ingin tinggal bersama orangtuanya lebih lama. Tapi dia sadar bahwa saat ini dia hanya bisa menjalankan perintah dari Hazel.

Dengan gontai, Senja masuk ke dalam ruang inap ayahnya.

"Bu.." Senja membangunkan Ibunya yang tertidur di samping ranjang ayahnya.

"Senja. Kamu istirahat dulu Nak." Ibu Senja mengucak mata.

"Bu. Senja harus pergi sekarang. Senja ngga bisa nemenin Ibu lebih lama. Esok pagi Senja harus kerja. Kerjaan Senja ngga bisa ditinggalin." Lagi- lagi Senja berbohong.

"Tapi Nak. Kamu kan baru sampai beberapa jam lalu. Setidaknya tunggulah sampai Ayahmu siuman." Ibu Senja terlihat sedih.

"Bulan depan Senja janji bakal tengok Ibu sama Ayah ke sini lagi. Untuk semua urusan Rumah Sakit sudah Senja beresin. Ibu fokus aja jagain Ayah ya. Kalo Ayah siuman sampaikan salam Senja ke Ayah. Dan ini Bu. Buat pegangan Ibu." Senja menjelaskan dan sambil memberi sebuah amplop berisi uang tunai untuk Ibunya.

"Baiklah Nak. Kamu hati- hati ya. Kabarin kalo udah sampe. Terimakasih banyak." Ibu Senja memeluk erat tubuh anaknya.

Senja menahan tangis. Dia merasa sesak di dadanya. Dia tahu bahwa setelah ini, hidupnya tidak akan sama lagi seperti dulu.

.

.

"Mari kita berangkat." Senja memberitahu Pak Arjun.

Perjalanan memakan waktu yang akan lama karena jarak kota itu cukuplah jauh. Senja kelelahan. Baik itu fisiknya dan juga otaknya. Walaupun satu hari yang sangat berat sudah dilaluinya, dia tidak bisa menjamin bahwa hari berikutnya akan lebih mudah.

Dia tertidur di sepanjang perjalanan pulang dan sebuah mobil pengawal lainnya yang mengikuti mereka dari belakang.

.

.

Bersambung...

1
Frozen Heart
di tunggu kelanjutannya..
poeta🌸: maksih ya kak
total 1 replies
Frozen Heart
smangat ya author
Frozen Heart
Senja dan Hazel smoga langgeng
poeta🌸: makasih ya kak selalu mampir 🙏
total 1 replies
Frozen Heart
smoga mereka berdua jdian
Frozen Heart
bkn mobil mksdnya motor kli yaa
poeta🌸: mobil kak. bukan motor 😁
total 1 replies
Frozen Heart
smakin menarik ceritanya
poeta🌸: yeesss 😁😁
total 1 replies
Frozen Heart
author, ceritanya bikin penasaran ajaaa
poeta🌸: dipantau terus ya kak
total 1 replies
Frozen Heart
ѕмαηgαт уα αυтнσя..
poeta🌸: terimakasih dukungannya 🙏
total 1 replies
Frozen Heart
ѕмαηgαт уα
Frozen Heart
ѕмαηgαт уα αυтнσя
Frozen Heart
🆂🅴🅼🅰🅽🅶🅰🆃 🆈🅰 🅰🆄🆃🅷🅾🆁
Frozen Heart
𝕤𝕞𝕒𝕟𝕘𝕒𝕥 𝕪𝕒𝕒𝕒 𝕒𝕦𝕥𝕙𝕠𝕣
Frozen Heart
𝕟𝕒𝕞𝕒 𝕔𝕝𝕖𝕠 𝕜𝕖𝕓𝕖𝕥𝕦𝕝𝕒𝕟 𝕤𝕒𝕞𝕒 𝕟𝕒𝕞𝕒 𝕕𝕘 𝕜𝕜𝕢𝕦
poeta🌸: hai cleo. salam kenal 👋👋
total 1 replies
Frozen Heart
𝕔𝕖𝕣𝕚𝕥𝕒𝕟𝕪𝕒 𝕤𝕖𝕞𝕒𝕜𝕚𝕟 𝕜𝕖 𝕤𝕚𝕟𝕚 𝕤𝕖𝕞𝕒𝕜𝕚𝕟 𝕤𝕖𝕣𝕦𝕦𝕦..
poeta🌸: terus dipantau ya kak
total 1 replies
Frozen Heart
§êrµµµ jgå
Frozen Heart
seruuuuu
Frozen Heart
.•♫•♬•maaf author jarang komen, soalx keasikan bacanya•♬•♫•.
poeta🌸: ngga apa. semoga terus suka ya 🤗
total 1 replies
Frozen Heart
seeruuuu,,
Frozen Heart
tetap smangat author, smoga ep selanjutnya smakin menarik...
poeta🌸: tetap dipantau ya kak
total 1 replies
Blue Angel
nice
Blue Angel: sama sama
poeta🌸: thanks 🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!