Agnia Pricilla Dewi harus menelan pil pahit ketika sang pacar yaitu Andre,pergi meninggalkannya dengan setumpuk hutang yang ia pinjam ke lintah darat sehingga hal itu membuat kehidupan Agnia harus dikejar kejar oleh lintah darat yang menagih hutang milik Andre.
Agnia yang kesehariannya hanya bekerja sebagai pelayan disebuah restoran,merasa tidak mampu untuk melunasi hutang milik Andre.
Hingga suatu ketika, restoran tempat Agnia bekerja didatangi oleh Arkan Farrel Arganta, seorang duda kaya yang dibuat tergila gila oleh Agnia.
Arkan pun lantas menawari Agnia untuk mau menjadi teman tidurnya dengan iming iming gaji dua ratus juta.
Akankah Agnia menerima tawaran Arkan untuk menjadi teman tidurnya? Meskipun taruhannya adalah ia akan kehilangan kesuciannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Hari itu, cuaca tidak menentu.Mendung gelap menyelimuti langit,seolah mencerminkan perasaan Arkan yang campur aduk.Ia berdiri di depan Pengadilan Agama untuk menunggu saat yang telah ditunggu-tunggu selama ini.Agnia istrinya berdiri di sampingnya untuk memberikan dukungannya kepadanya.
"Semuanya akan berlalu,mas Arkan," ucap Agnia sembari menyentuh lengan Arkan.
Arkan mengangguk kedua matanya memandang ke arah pintu pengadilan.Ia tidak sabar menunggu proses perceraian ini selesai.
Setelah menunggu beberapa menit, petugas pengadilan akhirnya memanggil nama Arkan.Ia mengambil napas dalam-dalam,memegang tangan Agnia,dan memasuki ruangan sidang.
Di dalam ruangan, Maya sudah duduk sendirian, wajahnya pucat.Arkan tahu ini adalah keputusan yang tepat untuknya.
Pak Yudi pengacara Arkan,memimpin proses sidang. Ia menjelaskan alasan perceraian dan membacakan surat perceraian yang telah ditandatangani oleh Maya.Hakim yang duduk di atas podium memandang Arkan dan Maya dengan serius.
"Sidang perceraian ini secara resmi dimulai.Arkan, silakan anda jelaskan alasan Anda yang ingin menceraikan Maya." ucap hakim kepada Arkan dan membuat Arkan mengambil napas dalam-dalam sembari memandang Maya sejenak sebelum berbicara.
"Yang Mulia,saya menceraikan Maya karena pernikahan kami telah retak.Kami tidak lagi memiliki kepercayaan dan cinta yang diperlukan untuk mempertahankan rumah tangga kami.Kami sering bertengkar dan komunikasi kami semakin memburuk." ucap Arkan yang membuat Hakim mengangguk dan mencatat sesuatu di kertas.
"Apa yang membuat Anda yakin perceraian adalah solusi terbaik?" tanya hakim dan membuat Arkan berpikir sejenak.
"Saya telah mencoba memperbaiki hubungan kami, tetapi Maya tidak mau berubah. Ia terus menyalahkan saya atas kesalahan-kesalahan yang tidak pernah saya lakukan. Saya merasa lelah dan tidak bahagia dalam pernikahan ini." ucap Arkan yang membuat Maya menggelengkan kepalanya,wajahnya merah karena marah.
"Itu tidak benar yang mulia!Mas Arkan selalu menyalahkan aku!" ucap Maya di hadapan hakim dan membuat Hakim mengangkat tangannya untuk menenangkan Maya.
"Silakan, Arkan.Lanjutkan." ucap hakim yang membuat Arkan melanjutkan perkataannya.
"Saya juga merasa Maya tidak lagi mendukung saya dalam segala hal.Ia lebih memprioritaskan kepentingan pribadinya daripada kepentingan kami sebagai pasangan.Saya merasa sendirian dalam pernikahan ini." ucap Arkan dan membuat
Hakim memandang Maya dengan sekilas.
"apakah Anda bersedia melakukan mediasi untuk mencoba memperbaiki hubungan Anda dengan Maya?" tanya hakim kepada Arkan dan membuat Arkan menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Yang Mulia.Saya sudah memutuskan untuk menceraikan Maya dan tidak ingin kembali ke belakang." ucap Arkan dengan tegas dan membuat Maya melompat dari kursinya, wajahnya merah karena marah.
"Kamu tidak adil mas!Kamu tidak pernah mencoba untuk memperbaiki hubungan kita!" protes Maya dengan kesal dan membuat Hakim segera menenangkan Maya.
"Silakan duduk, Maya.Kami akan melanjutkan sidang ini." ucap hakim.
Setelah mendengar semua hal yang Arkan sampaikan,hakim pun segera meminta Maya untuk menjawab semua hal yang Arkan katakan dalam persidangan ini.
"Sekarang, giliran Anda untuk menjawab tuduhan-tuduhan yang diberikan oleh suami Anda.Apa yang dapat Anda katakan tentang tuduhan bahwa Anda tidak mendukung suami Anda dan lebih memprioritaskan kepentingan pribadi?" tanya hakim dan membuat Maya menarik napas dalam-dalam, matanya berkilat marah.
"Semua itu tidak benar,Yang Mulia.Saya selalu mendukung suami saya,tapi dia yang tidak pernah memahami saya.Dia lebih memilih untuk mendengarkan omongan orang lain daripada mendengarkan saya." ucap Maya sembari menatap Arkan dengan penuh kemarahan.
"Dia tidak pernah mencintai saya dengan tulus.Dia hanya menggunakan saya untuk memuaskan egonya.Dan sekarang,dia ingin menceraikan saya karena sudah menemukan wanita lain yang lebih menarik baginya." ucap Maya dengan penuh penekanan pada Agnia.
Agnia, yang duduk di belakang Arkan, merasa terpukul oleh kata-kata Maya.Arkan segera bangun dan membela Agnia di hadapan hakim dari semua tuduhan yang Maya berikan kepadanya.
"Yang Mulia,saya harus membela diri.Tuduhan yang diberikan oleh maya itu tidak benar.Saya menceraikan maya karena alasan yang sah,bukan karena saya sudah menemukan wanita lain." bela Arkan di hadapan hakim.
"Cukup, Arkan.Saya ingin mendengar lebih lanjut dari Maya.Silakan, lanjutkan." ucap hakim dan membuat Maya melanjutkan pembicaraannya dengan suaranya yang penuh kemarahan.
"Agnia,kau telah merebut suamiku dariku.Kau telah merusak rumah tangga kami.Aku tidak akan pernah memaafkan mu." teriak Maya.