Kisah seorang lelaki yang baik hati "Tuan Sempurna" menolong seorang wanita korban pemerkosaan yang hampir bunuh diri. Akhirnya ia menjadi suami pura-pura wanita itu untuk membohongi ibu sang wanita. Hingga akhirnya keduanya saling jatuh cinta. Namun saling mengingkari rasa. Dan setelah berbagai ujian menerpa, akhirnya mereka bisa bersatu.
Tahap Revisi
Maaf jika kurang nyambung. Saya akan segera menyelesaikannya. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amy Larahati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengunjungi Butik
"Kemarin ...." Medina menggantungkan kata-katanya.
"Iya kemarin?" tanya Zaskia dari dalam toilet.
"Kemarin apa, woi?" tanya Zaskia lagi karena tak mendapatkan jawaban dari Medina.
Medina tak jadi melanjutkan kata-katanya ketika melihat laci di bawah televisi terbuka.
"Hei, Kia.. Bagaimana bisa laci itu tak tertutup? Kamu ceroboh banget sih Kia ...," kata Medina marah.
"Eh, apa? Laci apa?" Zaskia yang baru keluar dari toilet berpura-pura tak tahu.
"Itu laci bawah televisi," kata Medina meninggikan suaranya.
"Jangan pura-pura deh! Bukannya kamu sendiri yang membukanya, Me?" goda Zaskia menahan senyum.
"Tadi kan aku bertanya Ki. Kalau aku yang membukanya aku tak akan bertanya padamu," kata Medina mendekati laci berisi cincin.
"Zaskia, Kok nggak ada cincinnya? Kia, nggak lucu deh ... kamu yang mengambilnya kan?" tanya Medina panik. Zaskia hanya mengangkat kedua bahunya cuek.
"Arhhh ... bagaimana kalau hilang? Apa yang akan aku katakan pada Mas Ray?" kata Medina gelisah. Dengan gerakan kasar, ia mengobrak-abrik laci mencari cincin.
"Bagaimana ini Ya Allah? Kemana perginya cincin itu?" gumam Medina dengan pandangan yang fokus mencari cincin.
"Sudah Me. Jangan risau. Aku sudah kembalikan pada Ray, kenapa khawatir sekali?" kata Zaskia setelah melihat Medina kalang kabut.
"Ya Allah Zaskia ... aku pikir beneran hilang. Bagaimana aku tidak khawatir? Itu kan punya orang Ki, tentu aku khawatir kalau hilang," kata Medina terbata-bata.
"Ba-baguslah kalau sudah kamu kembalikan," tambah Medina berkaca-kaca.
"Aku hanya menitipkan cincin itu pada Arif sih Me. Aku tak bertemu langsung dengan Ray. Aku menyuruh Arif untuk mengembalikannya pada Ray. Tapi kalau kamu nggak percaya padaku atau takut cincinnya nggak sampai ke tangan Ray. Coba saja kamu telepon dia," kata Zaskia tak henti memperhatikan ekspresi Medina.
"Buat apa aku meneleponnya? Aku percaya kalau Arif yang menyampaikan tentu sudah sampai ditangannya. Tak perlu aku menelepon," kata Medina meminum air putih di depannya. Menghilangkan salah tingkahnya di depan Zaskia.
"Kalau lihat ekspresimu, kelihatan kamu nggak ikhlas deh cincin itu kembali ke pemiliknya?"
"Apa sih Kia? Ngqco ...." elak Medina. Zaskia hanya tertawa melihat kegugupan sahabatnya.
"Kia," panggil Medina dengan nada serius setelah beberapa saat mereka berdua terdiam.
"Hemm," jawab Zaskia yang sedang sibuk meminum kopinya seraya membolak-balikan majalah fashion yang ada di depannya tanpa menoleh ke Medina.
"Menurutmu bagaimana kalau aku menikah
dengan Gibran?" tanya Medina tiba-tiba membuat Zaskia menghentikan kegiatannya.
"Apa? Kamu sudah gila ya, Me?"
***
Medina tengah menyusun baju-baju dalam etalase tatkala Rani sedang membawa beberapa kebaya pengantin dan meletakkan di tempatnya.
"Waah ... cantik banget," puji Medina spontan.
"Iya kan Mbak Me. Cantik banget kan? Andai aku mau menikah pasti sudah aku ambil," kata Rani dengan mata berbinar.
"Jadi cepatlah menikah Ran. Terus suruh calon suamimu belikan ini. Biar bisa pakai baju ini," canda Medina.
"Jangankan menikah, pacar pun belum punya, mbak. Mau menikah dengan siapa?" jawab Rani tersipu.
"Mbak nggak percaya gadis secantik kamu nggak punya pacar."
Mereka kemudian masih berbincang sambil tertawa.
"Me, kamu suka ya sama baju itu?" tanya Zaskia mendengar mereka berbincang.
"Ah, eng-gak. Biasa saja," elak Medina.
"Kalau kamu suka minggu depan bawa pulang ketika ada acara di rumah bundamu," kata Zaskia tersenyum.
"Aku hanya memujinya Ki, bukan berarti aku suka. Dan aku tak akan pernah memakai kebaya pengantin," tolak Medina.
Pandangan Medina teralihkan ketika melihat ada dua orang sosok manusia yang akan memasuki butik.
"Ishhhhh ...."Medina buru-buru lari ke belakang dan bersembunyi.
Zaskia yang kebetulan ada di butik segera menyambut kedua orang tersebut.
"Halo ... selamat datang di Zaskia Butik," sapa Zaskia dengan ramah.
"Halo Kia, apa kabar?" sapa Ray.
"Halo Ray, Alhamdulillah saya baik. Kamu teman Arif ya?" jawab Zaskia berbasa-basi. Takut wanita yang berada di sebelah Ray salah paham.
"Yups, betul.. Arif yang merekomendasikan butik kamu. Kata Arif, kamu punya butik jadi kami ingin mencari gaun pengantin untuk Aurel. Oh ya, kenalkan Aurel tunangan saya," jawab Ray sedikit mengeraskan suaranya. Ray seakan ingin seseorang mendengarnya. Rayga mengedarkan pandangan ke sekeliling seakan mencari sesuatu.
"Aurel."
"Zaskia." Keduanya berjabat tangan dan saling melempar senyum.
"Saya berencana ingin memakai desain baju pengantin dari butik ini untuk acara pernikahan kami nanti. Butik kamu sangat terkenal ya di Bandung?" ucap Aurel.
"Oh, benarkah? Wah ... saya senang sekali," kata Zaskia tersenyum.
"Mbak Kia, ada telepon dari pak Azam. Beliau bilang urgent," kata Laila memanggil Zaskia.
"Bilang pak Azam suruh tunggu sebentar," kata Zaskia.
Di belakang, Medina yang sedari awal mengintip menjadi panik.
"Hihh, pasti Kia sengaja." Medina menghentakkan kakinya kesal.
"Me ...."
"Medina ...."
"Datang ke depan! Ada pelanggan nih, aku ada telepon penting," teriak Zaskia memanggil Medina.
Medina berjalan dengan enggan, ia terpaksa menghampiri Ray dan Aurel. Sedangkan Zaskia kembali ruangannya untuk mengangkat telepon.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan? Nona?" tanya Medina beramah-tamah. Tak lupa Medina melempar senyum palsu.
"Kami ingin melihat-lihat kebaya pengantin," kata Aurel.
"Mari ikut saya, baju pengantin ada di sebelah sana," ajak Medina berjalan di depan diikuti Ray dan Aurel. Sesampainya disana Aurel bersemangat memilih-milih baju.
"Sudah lama kerja disini, Nona?" tanya Ray pada Medina.
"Saya masih baru Tuan, belum lama saya kerja disini," jawab Medina dengan jantung berdegup kencang. Dalam hati ia merutuki pria yang sedang berpura-pura itu.
"Wah ... cantiknya," puji Aurel setelah melihat baju yang dipasang Rani tadi.
"Nona, maaf yang itu sudah dipesan orang," kata Rani.
"Oh, baju ini belum ada yang pesan kok. Pemesannya tidak jadi menikah, sudah putus dengan pacarnya," kata Medina setelah melihat Aurel kebingungan dan kecewa.
"Cantik ya Mas?" tanya Aurel menatap Ray yang masih menatap Medina.
"Ah, iya ... cantik," kata Ray.
"Cocok nggak kalau dipakai Aurel?" tanya Aurel meletakkan baju di depan dadanya.
"Apa sih yang nggak cocok buat kamu," kata Ray membuat Aurel tersipu dan Medina memanas. Diam-diam meremas dress miliknya.
"Nona, kapan tanggal pernikahan? Biar saya buatkan nota pemesanan," tanya Aurel memecah kecanggungannya dengan Ray.
"Sebentar, soalnya tanggal pernikahan belum pasti lagi, Nona," ucap Aurel.
"Mas, tapi kalau digunakan untuk akhir tahun takut modelnya ketinggalan jaman deh," kata Aurel mengerucutkan bibir.
"Ya sudah, akhir bulan ini saja kita menikahnya," jawab Ray asal.
"What?" Aurel berteriak bahagia.
"Tapi Oma pasti tidak akan setuju," kata Aurel menggelayut manja di lengan Ray.
"Masalah oma biar Mas yang atur," jawab Ray.
"Benarkah Mas?" Aurel berjingrak kegirangan.
biar dia bs jodoh SM tuan sempurna...dn ga d kejar" ayah nya Gibran lg.