Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin dekat
Mall di pusat kota siang ini cukup ramai. Tapi, Elang memastikan mereka datang saat jam operasional baru dimulai agar suasana tidak terlalu sesak. Elang berjalan di sisi kanan, sementara Nura di sisi kiri, menjepit Kanara di tengah-tengah.
Tadi, Nura sempat ragu saat Elang mengajaknya berjalan-jalan di mall, mengingat keramaian bisa jadi pemicu kecemasan bagi Kanara. Tapi, Elang berhasil meyakinkannya. “Kita tidak akan lama. Saya hanya ingin dia melihat dunia luar lagi… bersamamu.”
Kanara awalnya mencengkram kuat erat tangan Kanara, matanya waspada menatap orang-orang yang berlalu lalang. Namun, kehadiran Elang yang tegap di sisinya memberikan rasa aman yang berbeda.
“Mau lihat toko mainan?” tanya Elang lembut. Kanara mengangguk kecil.
Di dalam toko mainan, pemandangan hangat itu terlihat sangat alami. Elang sesekali membungkuk, mensejajarkan tingginya dengan Kanara untuk menimbang mainan mana yang akan dibeli. Nura, berdiri di samping mereka, memberikan saran-saran kecil sambil sesekali membenarkan ransel kecil Kanara.
Seorang penjaga toko mendekat dengan senyum ramah. “Putrinya cantik sekali, Pak, Bu. Mirip sekali dengan ibunya,” ujar wanita itu tulus, merujuk pada Nura.
Nura tersentak. Pipinya langsung merona. “Ah, bukan… Sa–”
“Terima kasih,” potong Elang cepat, tanpa mengoreksi ucapa wanita penjaga toko itu. Ia melirik Nura dengan lengkung tipis di bibirnya.
Nura merasa jantungnya baru saja melakukan maraton. Ia pura-pura sibuk memeriksa label harga mainan, berusaha menghindari tatapan intens Elang.
Setelah puas berkeliling, mereka memutuskan untuk makan siang. Elang memilih restoran yang lebih tenang di sudut mall. Saat makanan datang, Kanara terlihat sulit memotong steak-nya. Tanpa sadar, Nura dan Elang bergerak bersamaan.
Tangan Nura yang hendak memegang garpu Kanara, bersentuhan dengan tangan Elang yang sedang melakukan hal yang sama.
Deg.
Sentuhan itu hanya berlangsung beberapa detik, namun rasanya seperti ada arus listrik yang merambat ke seluruh tubuh Nura. Elang tidak segera menarik tangannya, ia justru menatap Nura dengan dalam.
“Biar saya saja,” bisik Elang pelan. Suaranya terdengar sangat intim.
Nura menarik tangannya dengan canggung. “I-iya, Pak.”
Makan siang itu berlalu dengan percakapan yang lebih luwes. Elang bercerita tentang masa kecilnya, dan Nura berbagi cerita tentang masa kuliahnya dengan Zoya. Kanara mendengarkan, sesekali menatap dengan wajah bingung saat keduanya tertawa bersama.
Kehangatan di restoran itu berakhir begitu saja ketika suara ponsel Elang bergetar di atas meja. Getarannya tidak berhenti, meski Elang mencoba mengabaikannya.
Elang mendesah, melirik layar ponsel. Nama Rian, asistennya, berkedip-kedip.
“Ya, Rian?” suara Elang terdengar berat dan profesional, kontras dengan tawa lepasnya beberapa detik lalu.
Namun, seiring Rian berbicara di seberang sana, wajah Elang berubah drastis. Bahunya menegang, rahangnya mengeras, dan binar matanya padam seketika.
“Apa?! Bagaimana bisa audit internal melewatkan angka sebesar itu?” Elang mendesis, suaranya rendah bernada ancaman. “Siapkan semua data. Jangan biarkan siapa pun keluar dari departemen keuangan sebelum saya datang.”
Ia mematikan ponsel dengan sentakan kasar. Nura, yang sejak tadi memperhatikan, merasakan perubahan hati Elang yang tiba-tiba itu. Kanara pun tampak menyadarinya, ia bergeser mundur, menempelkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Ada masalah, Pak?” tanya Nura hati-hati.
Elang menoleh. Ia tampak seperti orang yang berbeda. “Masalah besar di kantor. Ada dugaan penggelapan dana proyek besar yang melibatkan orang dalam. Saya harus pergi sekarang. Kalian bisa pulang sendiri?”
Nura mengangguk mantap.
Ia menatap Kanara yang kini melihatnya dengan wajah cemas. Rasa bersalah membayang di wajah Elang. Ia mengusap kepala Kanara lembut.
“Nura…,” panggil Elang. “Tolong jaga Kanara. Saya tidak tahu jam berapa saya akan pulang. Situasinya… sangat kacau.”
“Pak, jangan khawatir soal Kanara. Saya ada di sini,” jawab Nura menenangkan. “Fokus saja pada urusan Bapak.”
Elang menggeser kursinya, berdiri dan menatap Nura dengan tatapan penuh arti. “Terima kasih,” bisiknya sebelum menghilang di antara kerumunan pengunjung mall.
Nura beralih pada Kanara yang masih bersandar di kursi. “Ayah sedang buru-buru. Kita doakan saja pekerjaan Ayah lancar dan cepat selesai,” ucapnya sambil menatap lembut mata Kanara, berusaha membangun kembali suasana yang sempat runtuh.
*********”
Sudah berjam-jam Elang mengurung diri di ruang kerjanya. Tumpukan berkas audit berserakan di mejanya. Matanya memerah, bukan karena kantuk, tapi karena dikhianati oleh angka-angka yang tidak masuk akal.
“Ada kebocoran proyek sebesar tiga puluh miliar di proyek infrastruktur Jawa Barat, Pak,” lapor Rian dengan suara rendah, seolah khawatir tembok punya telinga. “Dan anehnya semua dokumen memiliki tanda tangan digital Bapak.”
Elang memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. “Itu tidak mungkin Rian. Saya tidak akan menyetujui termin ketiga sebelum termin kedua selesai.”
Seorang pria masuk ke ruangan Elang. Aditya, sepupu yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri. Wajahnya tampak prihatin. “El, kamu harus istirahat.”
“Nanti… pengkhianatnya belum ketemu,” jawab Elang tanpa menoleh. Tatapannya masih fokus pada map yang tadi diberikan Rian.
Aditya menghela napas, lalu menepuk bahu Elang akrab. “Wajahmu pucat sekali. Biar aku yang urus pertemuan dengan kontraktor besok. Kamu pulanglah, temui Kanara. Dia lebih butuh kamu daripada angka-angka itu.”
“Aku tidak bisa pulang dalam keadaan seperti ini, Dit,” sahut Elang parau. “Siapa pun yang melakukannya, dia tahu persis celah di sistem kita. Dia orang dalam. Orang yang sangat dekat denganku.”
“Kita akan temukan pelakunya. Aku sendiri yang akan menyeretnya ke polisi kalau perlu,” ucap Aditya meyakinkan.
Elang mengangguk, perasaan tenang melingkupi hatinya. Dukungan sepupunya itu adalah jangkar bagi Elang tiap kali menghadapi masalah. Dalam benaknya, Aditya adalah pilar yang membentuk sosoknya sekarang. Tanpa Aditya dia tidak akan menjadi pria seperti sekarang.
**********
Pukul satu dini hari, suara raungan mesin berhenti mendadak di halaman. Nura yang tertidur dalam posisi duduk di sofa ruang tamu, tersentak bangun. Jantungnya berdebar kencang saat mendengar suara pintu mobil yang dibanting.
Tidak lama kemudian, Elang masuk melalui pintu utama. Penampilannya berantakan.
Kemejanya yang tadi pagi rapi kini kusut, dua kancing teratasnya terbuka. Rambutnya yang biasa tersisir rapi kini berantakan karena disisir terus menerus dengan jari. Namun yang paling membuat Nura ngeri adalah tatapan matanya. Matanya kosong, merah, dan penuh amarah yang terpendam.
“Pak Elang?” Nura berdiri, suaranya pelan.
Elang tidak menjawab. Ia berjalan sempoyongan, bukan karena alkohol, tapi karena kelelahan mental yang luar biasa. “Pengkhianat,” desis Elang. Suaranya serak, nyaris seperti geraman. “Berani-beraninya mereka…”
Bukk!
Ia meninju dinding di samping tangga. Nura terpekik kecil. “Jangan, Pak. Tangan Bapak bisa terluka!”
Nura memberanikan diri mendekat. Ia melihat buku jari Elang yang memerah dan bergetar hebat. Nura menyentuh lengan Elang untuk menghentikannya, pria itu berbalik cepat. Untuk sesaat, Elang menatap Nura dengan sorot mata tajam, yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
“Pak… ini saya Nura,” bisiknya lembut, berusaha mengembalikan kesadaran Elang.
Mendengar nama itu, bahu Elang yang tegang perlahan mulai mengendur. Amarahnya di matanya seketika runtuh, digantikan dengan kerapuhan yang sangat dalam. Ia menyandarkan keningnya di bahu Nura, membiarkan seluruh berat tubuhnya bertumpu pada wanita muda itu.
“Mereka menghancurkan semuanya, Nura,” lirih Elang, suaranya pecah. “Orang-orang yang saya percaya… mereka mencuri masa depan perusahaan, menghancurkan kerja kerasku selama bertahun-tahun. Semuanya sia-sia, Kanara… Tari…”
Nura terdiam, membiarkan Elang melepaskan bebannya. Ia mengabaikan debar jantungnya yang kencang karena jarak mereka yang begitu intim. Tangannya bergerak perlahan, mengusap punggung Elang dengan gerakan menenangkan, persis seperti yang sering ia lakukan pada Kanara.
“Bapak sudah berjuang. Sekarang, Bapak sudah di rumah. Di sini aman,” ucap Nura tenang.
Elang mengangkat kepalanya sedikit. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari dari wajah Nura. Dalam keremangan, napas mereka beradu. Elang menatap bibir Nura sesaat, lalu beralih ke matanya.
“Kamu kenapa masih di sini?” tanya Elang dengan suara yang sangat rendah. “Kamu seharusnya sudah tidur. Kamu tidak perlu melihat saya sekacau ini.”
“Saya menunggu Bapak,” jawab Nura jujur mengabaikan rasa panas di pipinya. “Saya khawatir.”
Elang menatap Nura lama sekali. Di tengah kehancurannya malam itu, ia menyadari satu hal. Nura adalah satu-satunya titik terang yang tersisa. Tanpa sadar, tangan Elang yang terkepal kini menyentuh pipi Nura, mengusapnya pelan dengan ibu jari.
“Terima kasih sudah menunggu,” bisik Elang.
Elang menundukkan kepalanya, tatapannya tertuju pada bibir Nura. Jarak mereka semakin terkikis. Nura bisa merasakan hembusan napas Elang di wajahnya.
“Euuhhh, euuhh….” Terdengar suara tangisan kecil dari lantai atas, membuat momen itu terputus.
“Kanara…,” gumam Nura, berlari menuju kamar gadis kecil itu.
kasian kl tiba2 histeris