Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal Modus
"Boleh ya Mina?" Akira mengerjap-ngerjapkan matanya seperti sepupunya yang perempuan kalau minta sesuatu.
Amina melihat hujan deras di luar jendela dan dia yakin, tidak akan reda dalam waktu dekat ini.
"Apa kamu tega aku kehujanan?" tanya Akira lagi.
Amina tidak menjawab tapi dia hanya berjalan menuju tempat payung. Diambilnya sebuah payung dan jas hujan yang selalu dia siapkan jika hujan.
"Pakai ini. Dijamin kamu tidak akan kehujanan," ucap Amina dengan wajah datar.
"Minaaaaaa ... Kamu tega?" rengek Akira.
"Aku tidak mau nama kamu jelek! Namaku jelek! Sudah cukup aku dibuat pusing dengan paparazi yang melihat aku di Jerman!"
Akira tertegun. "Ada yang mengenali kamu?"
Amina hanya mendengus kesal. "Apa kamu tidak sadar kalau kamu itu banyak diincar cewek?"
Akira hanya tertawa kecil. "Sadar lah. Aku cowok, tampan, cerdas, kaya raya dari pewaris dan limited edition. Kurang apa coba?"
"Kurangi modusmu! Lagipula, kamu itu kesini naik mobil!"
Akira merutuki kebodohannya karena tadi dia menjemput Amina dengan mobil dan langsung ke apartemen gadis itu.
"Bye Akira," senyum Amina penuh kemenangan dan Akira menyipitkan matanya.
"Awas kamu nanti!" gerutu Akira sebal tapi dia tetap menerima payung dan jas hujan dari Amina.
Amina mengantarkan Akira hingga ke depan pintu. Akira pun berbalik dan meletakkan payung serta jas hujan, lalu merengkuh pinggang Amina. Pria itu mencium bibir Amina panas membuat kaki gadis itu melemah hingga harus mencengkram baju Akira.
"Kalau kita bersama nanti, aku akan selalu seperti ini, Mina," bisik Akira ke Amina yang masih tidak fokus akibat efek ciuman panas itu.
"Pulanglah ... Aku tidak mau kamu dimarahi Yang Mulia ...."
Akira tersenyum. "Dasar!" Akira mencium pipi Amina. "Selamat tidur Amina. Padahal aku ingin tidur bersama kamu ..."
Amina menyipitkan mata hijaunya. "Pulang, Akira!"
"Iya ... Iya. Duh, kenapa aku bisa jatuh cinta pada gadis yang galaknya saingan sama mommy aku sih!" gerutu Akira sambil membuka pintu apartemen.
Setelah Akira pergi, Amina bersandar di pintu dengan perasaan campur aduk. Satu sisi dia senang diperlukan semesra itu oleh one of eligible bachelor di dunia. Tapi dia juga takut jika nantinya mereka bersama. Amina sangat takut jika rasa insecure dan rendah dirinya kembali.
Mau sampai kapan dirinya harus deg-degan di setiap acara di istana.
"Mina, kamu itu anak psikologi. Ayolah, jadi konselor di diri kamu sendiri!" gumamnya sambil mengunci pintu dan berjalan menuju kamar tidurnya.
***
Akira tiba di kamar hotelnya dan segera menghubungi ibunya yang pastinya belum tidur karena masih membaca. Violet dan Arsyanendra punya kebiasaan membaca buku apapun sebelum tidur, entah cerita fiksi, cerita non fiksi bahkan Arsya kadang membaca manga. Mereka memang lebih suka membaca buku fisik daripada digital karena lebih ramah di mata.
Akira pun langsung menghubungi dengan panggilan video di laptopnya. Tak lama wajah ibunya dan ayahnya tampak di layar.
"Sudah pulang kamu?" tanya Arsyanendra sambil terus membaca novel karya Fyodor Dostoevsky yang berjudul The Brothers Karamazov.
"Sudah Daddy."
"Bagaimana Amina?" tanya Violet.
"Alhamdulillah lulus," senyum Akira.
Ayahnya mendongak. "Mina lulus di UZH? Hebat!"
Akira mengangguk bangga. "Kami sebentar lagi pulang dan kembali ke Zürich pas Mina wisuda di bulan November. Bukankah lebih baik kembali ke Brussels dulu kan daripada disini lama."
"Benar juga. Eh, Kira ... Mommy kasih usulan. Bagaimana kamu ajak Mina jalan-jalan besok. Bawa Bea. Mommy tahu Mina pasti ingin refreshing ... Bawa ke Perancis atau Liechtenstein atau Italia sekalian. Terserah kamu ajak ke Turin atau Milan. Opa dan Oma kamu pastilah senang kalau kamu mampir," senyum Violet.
Akira tersenyum lebar. "Aku akan bawa ke Italia !"
"Ingat ya Kira ... No s3x before married! Daddy tidak akan ribut kalian ciuman tapi jangan kebablasan! Itu anak orang! Hargai dan hormati Amina jika kamu memang mencintainya," ucap Arsyanendra tegas.
"Iya Daddy. Aku saja tadi diusir Amina pulang padahal hujan deras di Zürich. Gagal modus deh ...."
Arsyanendra langsung mendelik. "Jangan ikutan Opamu yang raja modus!"
***
Keesokan harinya, Akira datang ke apartemen Amina dan mengajaknya untuk jalan-jalan ke Italia dengan menggunakan mobil.
"Kita mau ... Kemana?" tanya Amina sambil menyerahkan roti bakar dan segelas kopi hitam ke arah Akira yang duduk manis di meja makan.
"Italia. Dengar Mina ... kamu sudah cukup capek dengan perkuliahan kamu. Sudah waktunya kamu memanjakan diri. Ayo, kita ke Milan dulu. Kan hanya tiga jam-an naik mobil," rayu Akira.
Amina menoleh ke Bea. "Kita perlu liburan Bea?"
"Perlu Nona!" cengir Bea yang memang sudah lama ingin ke Italia tapi karena pekerjaannya, dia belum sempat kesana. Selama di Zürich, Bea lebih sering ke Jerman dan Perancis untuk berbelanja ditambah Amina tipe orang yang fokus kuliahnya serta lebih suka jadi kaum rebahan jika libur.
"Bea ikut kok Mina," timpal Akira.
Amina menghela nafas panjang. "Ya sudah. Berapa hari di Italia?"
"Seminggu!"
Kedua gadis itu melongo. "Seminggu?"
"Iyalah. Kita ke Milan dulu baru ke Turin."
Bea terbelalak karena tahu ada siapa disana!
"My Prince, apakah kita akan mampir ke Morr?" Mata biru Bea tampak berbinar.
"Kamu pasti minta diskon!" kekeh Akira.
"Saya tidak berani My Prince tapi kalau ada ya tidak nolak!" cengir Bea.
"Biar nanti aku bilang sama Oom Asher."
***
Menjelang pukul sepuluh, mereka pun bertolak ke Italia yang berada di selatan Swiss. Akira sudah menghubungi Asher Moretti, Oomnya. Asher adalah putra bungsu Sakura Park dan Alessandro Moretti, pemilik brand clothing Morr.
Tentu saja Asher senang keponakannya akan datang. Sakura pun juga senang cucunya datang karena sudah lama mereka tidak bertemu. Akira mengemudi mobilnya dengan Amina di sampingnya. Bea sendiri duduk di belakang dengan perasaan tidak enak karena Bossnya yang menyetir.
"Kita nanti menginap dimana, Akira?" tanya Amina.
"Di rumah Oma Sakura. Oh, kamu jangan kaget kalau ketemu Opa Ale ya. Dia juga tattoan seperti aku. Bisa dibilang aku ikutan Opa sih ...." Akira tersenyum manis.
"Akira, jangan tambah tattoo lagi ya. Sudah cukup kamu merajam tubuhmu. Oke?" pinta Amina.
"Baik sayang," balas Akira yang pagi ini memakai kacamata hitam membuat dirinya lebih tampan.
Bea yang duduk di belakang, merasa menjadi obat nyamuk bakar melihat keuwuan pasangan di depannya.
Nasib jadi pengawal ... Harus tabah menjadi pengamat pasangan di depan selama tiga jam ke depan - batin Bea.
***
Yuhuuuu up Pagi Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
prince Akira seperti pria-pria keturunan Pratomo lainnya
coba kalo nggak pasti bukan hanya para sesepuh yang masih hidup, tapi Kanjeng Raden Ayu The God Mother dari dunia arwah terlebih Kanjeng Raden Mas Haryo Pratomo akan turun tangan
memang sih orang tuanya berjasa buat kamu tapi si hikmah nggak bisa menempatkan diri