NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindahan

Keesokan harinya, pasangan suami istri itu berpamitan kepada orang tua Arga untuk pindah ke rumah baru yang telah dibelikan oleh Pramudya.

"Ayah, Anya pamit dulu ya," ucap Anya sambil mencium tangan Pramudya dengan hormat.

Pramudya mengusap lembut kepala Anya. "Baik-baik ya kalian berdua. Ayah hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk pernikahan kalian."

Pramudya beralih menatap putranya dengan senyum tulus. "Kamu jangan nakal ya, Nak. Jangan membuat istrimu kesulitan. Ayah akan sering datang menjenguk kalian."

Raut sedih terlihat jelas di wajah Arga, seolah ia tidak ingin berpisah dengan ayahnya. "Ayah jangan lupakan Arga! Kalau Ayah sampai lupa, Arga tidak mau anggap Ayah lagi!" ancamnya dengan wajah cemberut.

Pramudya tertawa pelan dan memeluk putranya erat-erat. "Ayah akan selalu menyayangimu, Arga. Kamu akan selalu jadi anak Ayah."

Di tengah suasana haru, Rini dan Galen juga hadir untuk melepas kepergian mereka. Rini berdiri di samping Pramudya dan berkata, "Kalau kamu merasa tidak bahagia, jangan ragu untuk bilang Tante ya, Arga. Tante akan segera menjemputmu dan membawamu kembali ke sini."

Arga hanya menatap Rini tanpa ekspresi. Sementara itu, Galen sedari tadi tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Anya.

Anya, yang merasa diperhatikan oleh Galen sedari tadi, kini membalas tatapan pria itu dengan tatapan tajam dan penuh peringatan. Ia tidak akan pernah melupakan perlakuan kurang ajar Galen semalam.

Jika Galen masih berani macam-macam dengannya atau dengan Arga, ia tidak akan ragu untuk membalas perbuatan pria itu.

"Terima kasih atas perhatiannya, Tante. Aku pasti akan berusaha membuat Arga nyaman di rumah baru," ucap Anya dengan senyum yang dipaksakan.

Rini membalas dengan senyum yang dipaksakan, senyum yang terasa hambar di mata Anya. "Semoga saja kamu bisa menepati janjimu, Anya. Tante harap kamu bisa bersabar dengan Arga, kamu pasti tahu kan bagaimana dia," ucap Rini dengan nada mengejek.

Senyum Anya semakin mengembang, namun kali ini dengan arti yang berbeda. "Terima kasih atas perhatiannya, Tante. Tapi, tanpa perlu diingatkan pun, aku selalu ingat bahwa Arga itu anak yang lugu dan masih suci, seperti kanvas kosong yang siap dilukis," balas Anya dengan sindiran.

"Sudah, sudah," Pramudya melerai keduanya. Ia tahu betul bahwa Anya dan Rini memang tidak pernah akur dan selalu saja terlibat perseteruan kecil.

"Anya, Arga, mobil kalian sudah siap," ucap Pramudya, mengakhiri percakapan yang tidak sehat itu.

Anya dan Arga berpamitan sekali lagi, lalu berjalan menuju mobil yang sudah menunggu di depan rumah. Suasana terasa canggung dan tegang. Anya bisa merasakan tatapan Galen yang terus mengikutinya. Ia berharap, ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan pria itu.

Saat mobil mulai melaju, Anya menoleh ke belakang dan melihat Rini yang tersenyum sinis ke arahnya. Ia tahu, wanita itu tidak menyukainya dan akan selalu berusaha untuk menjatuhkannya.

"Arga tidak suka dia menatap Anya seperti itu," ucap Arga tiba-tiba, memecah keheningan di dalam mobil.

Anya terkejut, ternyata Arga juga menyadari tatapan Galen sejak tadi. "Sudahlah, memang dia orang aneh. Kamu jangan ikut-ikutan aneh seperti dia," balas Anya, berusaha menenangkan Arga.

Arga bersedekap dada dan menatap Anya dengan cemberut. "Dia itu gila, Arga tidak gila. Arga tampan, dia seperti gembel," ucap Arga yang berhasil membuat Anya tertawa kecil.

"Anya tahu tidak, Arga sebenarnya tidak mau pindah dari rumah Ayah. Arga tidak mau Ayah direbut oleh orang-orang seperti mereka," ucap Arga, berusaha mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya.

Mendengar itu, Anya merasakan sedikit rasa bersalah. Ia tahu bahwa Rini dan Galen memang berusaha untuk mendekati Pramudya. Namun, ia tidak menyangka bahwa Arga merasa mereka akan merebut perhatian ayahnya.

Sebenarnya, ia ingin memiliki rumah sendiri bukan hanya untuk menjaga privasi, tetapi juga untuk melepaskan diri dari kepura-puraan mencintai Arga.

"Ayah itu cuma sayang sama anak kandungnya sendiri, bukan sama orang lain. Kamu tenang saja, jangan biarkan mereka merebut apa pun yang menjadi milikmu," ucap Anya, berusaha menenangkan Arga sekaligus membalas rasa bersalahnya.

Arga tersenyum lebar, lalu merangkul lengan Anya dan bersandar di pundaknya. "Terima kasih, Anya memang baik!"

Namun, raut wajah Anya langsung berubah masam saat Arga bersikap manja seperti itu. "Jangan bersandar," ucap Anya sambil menjauhkan kepala Arga dengan kasar.

Mobil mulai memasuki kawasan perumahan mewah. Anya tersenyum puas, merasa senang karena Pramudya telah begitu baik padanya.

Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan rumah mewah yang sudah pasti dibelikan oleh Pramudya.

"Anya suka rumahnya?" tanya Arga dengan nada penuh harap. Anya mengangguk antusias dengan senyum cerah menghiasi wajahnya.

Arga ikut tersenyum senang. "Ini Arga yang pilih lho! Kata Ayah, terserah Arga saja. Kalau Anya suka, Arga juga pasti suka," jelasnya dengan bangga. Ternyata, Pramudya pernah meminta Arga untuk memilih sendiri rumah yang akan mereka tempati, dan Arga memilih rumah ini sebagai tempat tinggalnya bersama Anya.

"Pilihan kamu bagus juga," puji Anya, membuat wajah Arga merona karena malu.

"Anya bisa saja," ucap Arga malu-malu sambil mencolek lengan Anya.

Anya merasa geli dan bergidik. "Sudah, jangan mulai, Arga. Lebih baik kamu masuk duluan," ucap Anya sambil menjauhkan diri.

Arga dengan senang hati melompat keluar dari mobil dan berlari menuju pintu utama, sementara Anya mengikutinya dengan langkah yang lebih lambat. Ia mengamati sekeliling rumah itu, sangat sepi.

Saat Anya mencapai pintu, seorang wanita paruh baya berpakaian rapi menghampirinya dengan senyum ramah. "Selamat datang di rumah baru, Nyonya," sapanya dengan sopan. "Saya Mira, pembantu yang akan membantu Anda mengurus rumah ini."

Anya sedikit terkejut dengan kehadiran Mira. Ia tidak tahu bahwa Pramudya sudah menyiapkan seorang pembantu untuknya.

Anya memberikan senyum tipis pada Mira, pembantu rumah tangga yang baru dikenalnya itu. Kelelahan yang mendera tubuhnya membuatnya ingin segera beristirahat. Ia pun memilih untuk duduk di sofa ruang depan yang empuk.

Sementara itu, Arga menghilang ke dapur, entah apa yang dilakukannya di sana. Anya tidak peduli.

"Entah apa yang dia lakukan, aku sangat pusing sekarang," gumam Anya sambil memijat pelipisnya.

Tiba-tiba, Arga muncul dari arah dapur dengan wajah berseri-seri. "Anya, lihat, Arga bawa apa buat Anya!" serunya dengan riang.

Anya membuka mata dan melihat Arga membawa sepiring buah-buahan segar yang berwarna-warni dan segelas jus dingin yang tampak menyegarkan.

Anya menatap buah dan jus itu dengan tatapan curiga. Ia tidak yakin apakah Arga benar-benar membuatnya sendiri atau mengambilnya dari kulkas. "Kamu yang buat ini?" tanyanya dengan nada menyelidik.

Arga mengangguk dengan riang. "Iya, Anya mau coba?" tawarnya dengan senyum lebar.

Mira tiba-tiba muncul dari arah dapur dan tersenyum ramah pada Anya. "Itu Tuan Arga sendiri yang buat, Nyonya," jelasnya. "Saya hanya membantu menyiapkan bahan-bahannya."

Penjelasan Mira sedikit menenangkan Anya, membuatnya mengesampingkan keraguan yang sempat muncul. Arga dengan semangat menyodorkan gelas berisi jus itu ke arah Anya.

"Ayo, Anya minum! Enak banget!" pintanya dengan nada merengek.

Anya akhirnya menerima gelas itu. Ia memang merasa sangat haus setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!