Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penemuan tak terduga
Waktu seolah membeku di kedalaman Tambang Azure. Dua hari. Hanya tersisa empat puluh delapan jam sebelum rencana pelarian massal yang telah disusun selama bertahun-tahun itu dilaksanakan. Udara di pemukiman budak terasa sangat berat, bukan hanya karena debu kristal, tetapi karena ketegangan yang merambat di setiap napas para pekerja. Semua orang tahu, namun tidak ada yang berani bicara.
Zhou Yu, merasa gelisah. Sebagai pemimpin bayangan, ia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar cangkul dan strategi untuk menghadapi tentara bayaran berpakaian besi yang menjaga gerbang utama.
Pada hari kedua sebelum pelarian, Zhou Yu ditugaskan untuk membuka jalur baru di Sektor Nol sebuah area yang dianggap terkutuk oleh para budak tua. Konon, siapa pun yang menggali terlalu dalam di sana tidak akan pernah kembali. Namun, bagi Zhou Yu, ini adalah kesempatan untuk memastikan jalur pelarian cadangan melalui celah bawah tanah.
Ia bekerja sendirian, menjauh dari pengawasan mandor yang sedang sibuk memarahi pekerja lain. Ayunan cangkulnya berirama, menghantam dinding batu yang hitam pekat dan keras seperti baja. Tiba-tiba, suara benturan logam yang berbeda terdengar.
Ting!
Suara itu tidak nyaring, melainkan rendah dan bergetar, seolah menghisap suara di sekitarnya.
Penasaran, Zhou Yu menggali lebih cepat. Dinding batu itu runtuh, menyingkap sebuah rongga kecil yang tersembunyi selama ribuan tahun. Di tengah rongga itu, tertancap sebuah benda yang membuat darah Zhou Yu berdesir hebat.Itu adalah sebuah pedang.
Pedang itu tidak bersinar. Sebaliknya, ia tampak menyerap cahaya lampu minyak Zhou Yu. Bilahnya hitam legam, terbuat dari material yang tidak dikenal, memancarkan aura kegelapan murni yang begitu pekat hingga udara di sekitarnya tampak membeku. Saat Zhou Yu mendekat, ia merasakan bisikan-bisikan tanpa suara yang merambat di tulang belakangnya.
"Siapa kau?" bisik Zhou Yu, seolah berbicara pada makhluk hidup.
Tanpa sadar, tangannya terjulur. Begitu jemarinya menyentuh hulu pedang yang berbentuk sayap naga yang melilit, sebuah gelombang energi dingin menghantam jantungnya. Penglihatan Zhou Yu menjadi gelap. Ia melihat kehancuran, peperangan kuno, dan kekuatan yang bisa membelah gunung.
Pedang itu tidak menolaknya. Ia justru haus akan tekad Zhou Yu yang murni. Dengan satu sentakan kuat, Zhou Yu menarik pedang itu keluar dari batu. Seketika, aura hitam menyelimuti lengannya, menyatu dengan nadinya. Pedang itu terasa ringan, seolah-olah merupakan perpanjangan dari jiwanya sendiri.
"Pusaka kegelapan..." gumamnya. Ia tahu, dengan pedang ini, peluang mereka untuk keluar hidup-hidup meningkat seribu persen. Namun, ia juga sadar akan harganya pedang ini meminta keberanian yang tak terbatas.
Zhou Yu menyembunyikan pedang itu di balik jubah kasarnya yang sudah compang-camping. Ia kembali ke pemukiman dengan langkah yang lebih berat namun pasti. Di depan gubuk, Da Ge sudah menunggunya dengan wajah cemas.
" Yu, kau terlambat. Pengawal mulai melakukan inspeksi mendadak ke barak-barak," bisik Da Ge. Matanya kemudian tertuju pada sesuatu yang disembunyikan Zhou Yu. "Apa itu? Kenapa kau membawa hawa sedingin ini?"
Zhou Yu menarik Da Ge ke dalam sudut gelap gubuk. Dengan gerakan sangat hati-hati, ia memperlihatkan sedikit bilah pedang hitam itu. Da Ge terkesiap, tubuh raksasanya mundur satu langkah secara refleks.
"Demi langit... aura apa ini? Itu bukan pedang biasa, Yu. Itu terasa seperti... kematian," bisik Da Ge dengan suara bergetar.
"Ini adalah tiket kita untuk keluar, Da Ge," jawab Zhou Yu tegas. "Dua hari lagi, saat gerbang itu terbuka, pedang ini yang akan membelah jalan untuk Ling'er dan semua orang. Jangan katakan pada siapa pun, bahkan pada Ling'er. Aku tidak ingin dia ketakutan."
Ling'er masuk ke gubuk membawa mangkuk berisi sup encer. Ia sempat terhenti, menatap kakaknya dengan dahi berkerut. "Kakak? Kenapa ruangan ini terasa sangat sunyi? Seolah-olah suara angin pun tidak berani masuk."
Zhou Yu segera menyembunyikan pedang itu di bawah tumpukan jerami tempat tidurnya. Ia tersenyum, mencoba menetralisir suasana. "Hanya kelelahan, Ling'er. Pekerjaan di Sektor Nol sangat menguras tenaga."
Ling'er tidak sepenuhnya percaya, namun ia mendekat dan menggenggam tangan Zhou Yu. "Dua hari lagi, kan? Nyonya Liu bilang burung-burung mulai terbang ke arah utara. Itu tandanya musim semi benar-benar tiba di atas sana."
Malam itu adalah malam terakhir mereka di Tambang Azure. Suasana di barak sangat mencekam. Para pekerja mulai mengumpulkan harta paling berharga mereka biasanya hanya berupa sisa makanan atau pakaian tambahan. Nyonya Liu telah menyiapkan kantong-kantong kecil berisi bubuk penetral debu untuk semua orang.
Zhou Yu tidak bisa tidur. Ia duduk di pojok gubuk, membelai hulu pedang hitamnya. Semakin lama ia memegangnya, semakin ia merasa terhubung dengan kegelapan di dalam pedang tersebut. Pedang itu seolah memberitahunya bahwa di balik setiap penindasan, ada kekuatan yang menunggu untuk dilepaskan.
"Aku tidak akan menjadi monster," bisik Zhou Yu pada bilah hitam itu. "Aku akan menggunakanmu hanya untuk melindungi mereka."
Tiba-tiba, terdengar suara keributan di luar. Lampu-lampu obor para pengawal menyala lebih terang dari biasanya. Suara derap sepatu besi mendekat ke arah gubuk mereka.
"Pemeriksaan terakhir! Semua keluar!" teriak seorang perwira tinggi.
Zhou Yu terperanjat. Jika pedang ini ditemukan sekarang, rencana mereka gagal total. Da Ge segera berdiri di depan pintu, tubuh besarnya menghalangi pandangan. Ling'er gemetar di samping Nyonya Liu.
Dengan kecepatan yang tidak manusiawi mungkin efek dari aura pedang itu Zhou Yu menyelipkan pedang hitamnya ke dalam sebuah rongga rahasia di bawah lantai gubuk, tepat di bawah kaki Nyonya Liu yang sedang duduk tenang.
Pintu didobrak terbuka. Tiga pengawal masuk dengan kasar, mengaduk-aduk barang-barang mereka yang malang. Salah satu pengawal mendekati tumpukan jerami tempat Zhou Yu biasa tidur, namun ia tidak menemukan apa-apa.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, budak!?" tanya perwira itu pada Zhou Yu. Ia merasa terintimidasi oleh tatapan mata Zhou Yu yang kini tampak memiliki kilatan hitam yang tajam.
"Hanya menunggu instruksi, Tuan," jawab Zhou Yu dingin.
Perwira itu meludah ke tanah, lalu berbalik pergi setelah tidak menemukan barang bukti pemberontakan. "Nikmati malam terakhirmu di sini. Besok kuota kalian naik tiga kali lipat."
Setelah mereka pergi, keheningan kembali turun. Namun kali ini, keheningan itu penuh dengan tekad. Zhou Yu menarik kembali pedang hitamnya. Aura kegelapan itu kini tampak lebih tenang, seolah telah mengakui Zhou Yu sebagai tuannya yang sah.
Kini, hanya tersisa hitungan jam. Zhou Yu, Da Ge, dan Ling'er berdiri di depan jendela kecil gubuk mereka, menatap dinding-dinding tinggi yang selama ini memenjara mereka.
Di balik baju kasarnya, pedang hitam itu seolah berdenyut seirama dengan jantung Zhou Yu. Pusaka itu bukan hanya senjata ia adalah akumulasi dari rasa sakit, penderitaan, dan harapan ribuan budak yang telah mati di tambang ini. Kegelapan pedang itu adalah kegelapan yang akan menelan kejahatan para penindas mereka.
"Besok," kata Da Ge pelan, menggenggam palu tambangnya.
"Besok," sahut Ling'er, menyentuh liontin bunga birunya.
Zhou Yu tidak berkata-kata. Ia hanya menatap jauh ke depan, ke arah gerbang besar yang dijaga ketat. Ia tahu bahwa dua hari penantian ini akan segera berakhir dengan ledakan keberanian. Pedang hitam di tangannya adalah saksi, bahwa meskipun mereka lahir di kegelapan, mereka akan bertarung menuju cahaya dengan cara yang paling mengguncang dunia.
Keajaiban tidak lagi diharapkan keajaiban itu kini ada di tangan Zhou Yu, terbungkus dalam besi hitam yang memancarkan aura kegelapan murni. Dan besok, Tambang Azure akan mengingat namanya untuk selamanya.
...Bersambung.... ...