NovelToon NovelToon
ISTRI KE 13

ISTRI KE 13

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Mimi Zee

Azimah gadis lulusan SMA yang harus berkorban demi kehormatan keluarganya. ia harus rela menjadi istri muda seorang pria kaya yang sudah kepala lima.

Dalam menjalani kehidupan poligami ia harus mengikuti serentetan peraturan yang merantai kebebasannya. Namun dengan keteguhan dan kecerdasannya ia dapat mengubah pemikiran suaminya dan para istri yang lain. Ia harus bertahan dan menunggu kebebasan dirinya datang dengan sendirinya tanpa melanggar norma-norma agama maupun hukum.

Di tengah kehidupan poligami yang menyiksa batinnya, ia bertemu dengan seorang pengacara tampan yang kemudian mendiami hatinya. Mampukah ia bersatu dengan pengacara tampan itu tanpa kata "selingkuh" ataukah ia memilih setia pada suaminya yang sah. Atau justru berlari dari kehidupan yang pelik.

Novel ini penuh dengan drama, skandal dan intrik para tokohnya. penuh misteri juga peristiwa tak terduga. Bagaimana akhir kisahnya???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Ali Khan

Subuh.

Adzan berkumandang di kejauhan bersahutan dengan suara adzan di hapeku. Aku sudah terbangun sebelum masuk waktu subuh. Aku sudah memakai mukena namun urung bermunajat. Dua hari ini aku sering melamun, kata Marni. Padahal aku tak merasa begitu. Hanya saja pikiranku menerawang jauh tertuju pada seseorang. Varun.

Adzan subuh ini membuyarkan lamunanku. Harus kuakui aku memang melamun. Tapi rasanya gengsi mengakui itu. Di daerahku, perempuan yang melamun tandanya ingin segera dikawinkan.

Doa qunut kurapalkan sebagai bagian dari sholat subuh. Jaman Rosulullah doa qunut diucapkan karena ada balak sakit panas dari para sahabat. Aku yakin qunutku bisa menyembuhkan panas di pikiranku.

"Nyonya mau teh hangat?" Tina menawarkan.

Aku baru saja menunaikan ibadah subuhku saat Tina tiba-tiba ada di belakangku.

"Boleh" Jawabku.

Mukena kulepas, dan Tina siap melipat mukenaku. Aku duduk di balkon. Langit sudah sedikit terang. Warnanya kuning oranye. Aku duduk terpekur sendirian. Sampai Marni datang membawakan teh untukku.

"Nyonya melamun lagi" Katanya sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja.

"Duduklah Marni" Perintahku.

Marni duduk di kursi sebelahku. Aku tak biasa menyuruh pelayan duduk di lantai sementara aku duduk di atas kursi. Sekali lagi, karena mereka juga manusia merdeka. Bukan budak.

"Ada apa Nyonya?"

"Apa kau bisa kupercaya? Apa kau berpihak padaku??" Tanyaku.

Marni mengernyitkan dahi memandangku. Mungkin dia merasa diragukan...sungguh dalam hatiku tak sedikitpun meragukan kesetiaannya terlebih setelah dia bercerita tentang istri pertama Romo juga tentang bibinya yang kini misterius. Itu adalah sesuatu yang sangat rahasia dan dia hanya bercerita padaku. Menurutku dia percaya padaku. Semoga juga sebaliknya. Dia bisa kupercaya.

"Kemarilah!" Katalu dambil berajak dari dudukku.

Marni mengikutiku. Kubuka laci dis e elah ranjang. Kuambil benda itu. Lalu kusodorkan pada Marni. Marni menerimanya dengan penuh tanda tanya.

"Apa ini Nyonya?"

Kami duduk di tepi ranjang.

"Ini dari Varun"

"Tuan Varun?"

Aku mengangguk.

"Kenapa tidak dibuka Nyonya?"

"Bukalah"

"Tidak Nyonya, Nyonya sendiri yang harus membukanya"

Kuambil kembali amplop biru dari tangan Marni. Bismillah, aku membukanya pelan-pelan.

Jika ini bukan istri Tuan Djani, abaikanlah. Tapi jika benar anda orangnya,. Mohon pertimbakanlah.

Aku masih menunggu...ditempat yang kuberitahukan... Jika engkau berkenan. Dan jika engkau percaya.

~V~

"Nyonya yakin ini dari Tuan Varun?" Tanya Marni.

"Tertanda V, bukankah itu Varun?"

"Saya khawatir ini jebakan, mengatasnamakan Tuan Varun Nyonya" Marni berpendidikan.

Aku menjadi ragu dengan pendapat Marni itu. Bisa jadi juga demikian. Tapi siapa yang akan menjebakku.

"Entahlah Marni, tapi sebelumnya aku bermimpi tentang surat ini, dan persis seperti ini. Di tempat yang sama persis"

Marni berpikir sejenak.

"Tanyakan pada hati Nyonya sendiri. Apakah Nyonya ingin menemuinya di tempat itu?" Tanya Marni.

Aku menunduk. Jujur jawabanku iya, tapi aku takut menjadi perempuan tidak baik jika aku mengatakannya.

"Jika Nyonya ingin kesana, aku akan menemani Nyonya" Kata Marni yang membuat kepalaku terangkat.

Aku memandangnya dengan seribu pertanyaan di benakku. Apakah ini sungguhan. Dia akan mengkhianati Tuannya jika dia membantuku. Dia benar bersedia?

***

Ampenan, Mataram, Lombok Barat.

Mobil berhenti di halaman klinik. Cukup susah mencari alamat ini. Tapi berkat Marni yang bisa bahasa sasak, kami dapat menemukannya. Lokasinya memang di pesisir. Karena klinik ini sebagian besar diperuntukkan untuk masyarakat pesisir. Begitu Marni menjelaskan.

Aku meminta Marni menunggu di halaman. Aku akan masuk sendiri. Saat aku masuk, seseorang menghampiriku.

"Nyonya Azimah?" Tanya seorang yang entah perawat atau bidan.

"Iya" Jawabku.

"Mari" Dia mengajakku.

Kami memasuki suatu ruangan yang cukup luas. Ada ranjang untuk memeriksa pasien. Ada gambar perkembangan janin, dan macam-macam alat kebidanan. Di ruangan ini, sudah ada seorang perempuan yang menurutku adalah seorang bidan. Dia berdiri menyambutku.

"Selamat pagi" Sapaku.

"Pagi, silahkan duduk" Katanya.

Kupenuhi permintaannya. Kini kami duduk berhadapan.

"Anda Nyonya Azimah?" Tanya dia.

Aku mengangguk.

"Saya Fadhiya, masih family dengan Varun"

Oh jadi Varun punya saudara di Lombok. Aku baru tahu. Aku masih diam menunggu dia berbicara.

"Yaa, kami sama-sama keturunan India, kakek buyut kami masih saudara, jadi saya dengan Varun itu saudara jauh. Klinik ini dibangun oleh Varun. Karena dia tahu saya butuh pekerjaan"

"Anda sudah lama tinggal di Lombok? Atau memang asli Lombok?"

"Oh tidak, saya lahir di Jakarta. Saya pindah ke Bali mencari pekerjaan. Gak tahunya pekerjaan kudapatkan di Lombok. Itupun karena Varun yang mencarikan"

Kulihat hidung Fadhiya yang khas India. Dia cantik.

"Saya belum lama mengenalnya, saya bertemu dengannya beberapa bulan ini" Kataku.

"Oh ya? Aku pikir kalian sudah lama berteman. Varun kelihatannya tahu banyak tentang Anda" Kata Fadhiya.

"Apa saja yang ia ceritakan?"

"Dia.... melihat sesuatu yang beda dari Anda. Saya rasa dia menyukai Anda" Kata Fadhiya.

"Sejauh mana Anda mengenal Varun? Bagaimana keluarga Varun?"

Tentang Varun. Kakek Buyutnya bernama Syaikh Mujahid Ali khan. Dia seorang guru agama. Suatu ketika di tahun 1920an beliau hijrah ke Malaysia karena urusan pekerjaan. Di sana beliau berjumpa dengan gadis keturunan India pula. Gadis itu adalah murid seorang ulama di Malaysia. Tak butuh waktu lama untuk mereka bertaaruf. Kurang dari dua bulan. Mereka pun menikah dan punya empat anak. Diantaranya Mustafa Ali Khan yang merupakan kakek Varun dan Musyarof Ali Khan yang merupakan kakek Fadhiya.

Mustafa Ali Khan menikah dengan gadis Melayu dan diberi keturunan tiga anak. Satu anak laki-laki dan dua anak perempuan. Si anak laki-laki ini kuliah kedokteran di Malaysia. Saat itulah ia mengenal seorang gadis Jawa yang mengenyam pendidikan di Malaysia. Lalu keduanya menikah dan menetap di Jakarta, rumah Hanifa.

Mereka berdua adalah orang tua Varun. Said Ali Khan dan Hanifa Sukmawati. Mereka diberi keturunan tiga orang anak yang semuanya laki-laki. Varun dan kedua adiknya. Setelah ketiganya dewasa. Mustafa Ali Khan, sang kakek meminta para cucunya untuk menjadi seorang santri dan berdakwah di India. Semua setuju kecuali Varun. Varun memilih jalannya sendiri yaitu mempelajari hukum. Semua itu bukan tanpa alasan. Varun teringat bagaimana kewarganegaraan ayahnya dipertanyakan di Indonesia. Padahal semua surat telah lengkap dan sah menurut hukum. Namun sebagian orang masih mencercanya dan keluarganya. Itulah kenapa orangtuanya setuju saat kedua adiknya diboyong kembali ke India.

Selang tiga tahun, sang ayah memboyong Ibunya kembali ke India. Kali ini bukan karena urusan hukum sang ayah, tapi karena tanggung jawab di India lebih besar. Di India, ayahanda Syaikh Mujahid Ali Khan, memiliki semacam taman pendidikan yang mendidik para penghafal Alquran. Namun sang pemimpin belum lama wafat dan tidak memiliki keturunan. Mirisnya, saudara-saudaranya dari pihak sang nenek justru hendak menjual tanah tempat berdirinya taman pendidikan itu. Padahal kedua adik Varun sudah bertempat di sana. Tinggallah Varun di Indonesia sendiri.

Untunglah ada Fadhiya dan keluarganya. Setidaknya masih memiliki tempat untuk berkeluh kesah jika dibutuhkan.

"Anda sendiri bagaimana, apakah juga sama seperti Varun?"

"Apa?"

"Apakah Anda menyukai Varun?"

"Apa Varun belum cerita ke Anda tentang status saya?"

"Oh, maksudnya? Bukannya anda mahasiswa Kebidanan?"

Aku diam. Jujur aku tidak ingin dia tahu statusku sebagai istri muda seorang pria tua uang semestinya lebih cocok menjadi ayahku. Dan tentang Varun yang menyukai istri orang, tentu sebuah hal yang tabu dimata orang awam.

"Jika Anda butuh tempat praktek, Anda bisa datang kemari, itu pesan Varun. Kami memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Kamar bersalin, ruang pemeriksaan juga laboratorium lengkap untuk ibu hamil. USG pun kami punya dengan 3 dimensi. Hanya saja dokter spesialis yang masih sistem kontrak"

Aku mengangguk. Aku bisa lihat klinik kecil ini dengan fasilitas yang cukup lengkap. Aku sudah lihat denahnya di depan. Varun bisa membangun ini??

"Dimana Varun??" Tanyaku.

"Kemarin-kemarin setiap hari dia kemari. Tapi hari ini entah kenapa dia tidak datang. Lagi ada kerjaan mungkin" Jawab Fadhiya.

Apa? Lalu untuk apa aku datang kemari? Dia memintaku datang tapi dia sendiri tak datang. Bukankah itu kurang ajar namanya. Sungguh aku jengkel. Aku merasa dia mempermainkan ku. Tahu begini aku tak menghiraukan surat itu. Aku marah namun hanya bisa mengumpat dalam hati.

"Baik kalau begitu, saya mohon diri" Kataku mengakhiri.

"Baiklah, datanglah jika Anda memerlukan sesuatu" Kata Fadhiya.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku akan sangat membutuhkan klinik ini nanti. Aku berdiri, Fadhiya mengantarku hingga pintu. Saat kubuka pintu. Deg, dia ada di depan pintu. Sumpah membuatku jantungan. Dia berdiri mematung di sana. Bagaimana bisa sikapnya setenang itu sedang aku sangat marah-marahnya padanya.

Varun. Dia berdiri di depan pintu. Menatapku. Memandangku.

***

1
Zeldaa ༼⁠✩
keren cerita nyaa
momy luqy_
keren kaka..q suka ceritanya. ngga ad yang q skip deh pokoke👍😘
momy luqy_
Luar biasa
kiwicream
ceritanya bagus banget kak. bener2 antimainstream beda dari yg lain. sampe q begadang buat dengerin ini saking penasarannya
bunda DF 💞
bagua banget ceritanya,, bukan ttg ceo,, bukan ttg bucin"an,,, ttg poligami yg ruwet,, perebutan harta,, tp dikemas dgn keren n bikin penasaran
ossy Novica
dari sana saja bandot tua itu tak sadar juga ., sudah berapa orang istrinya meninggal
ossy Novica
jangan alasan poligami sebagai sunnah Rasul. Kebajakan itu di salah gunakan . Contohnya Romo , wanita hanya sebagai budak nafsu kalo tak berguna di ceraikan tampa apa2 Dia ngak sadar , sudah banyak istri tapi susah dapat keturunan , mungkin Allah sayang sama si anak ka4na itu di ambil cepat dari pada menderita nantinya.
ossy Novica
Varun tidak bisa di percaya ,berhati hatilah Imah ....
ossy Novica
jangan nampakkan rasa tak suka ,berhati hatilah Imah
Endah Windiarti
bagus banget ceritanya
Yuyun Haryanto
Jd baper bacanya Thor. ikutan 😭😭😭
Yuyun Haryanto
azimah biarpun tdk mencintai Romo tp dia tetap baik dgn Romo. dia sll ingin mencari keadilan tanpa memanfaatkan untuk kepentingan sendiri. azimah sosok yg tulus, cerdas.
Hr sasuwe
suka ceritanya menarik
Yuyun Haryanto
ternyata Halimah licik jg
Yuyun Haryanto
iih kok jg ngeri yah. tiap mimpi JD kenyataan. dulu wkt disekap digudang jg. manggil jg datang. sprt saling terkoneksi tanpa telepon.
Yuyun Haryanto
ternyata cinta itu buta yah Varun. GK ngeri apa menghadapi Romo ?
Yuyun Haryanto
ceritanya bagus Thor. gk bisa bayangin hidup serumah dgn 4 istri.
Asinan May
kereeeennnnn
xandn.na
bagus banget
Isnay Maulani
maacih thor 🙏
cerita baguuusss...
seruuu...
sukses trs tuk karya2nya 💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!