Kisah Sofia dalam menghadapi tujuh tahun naik turun dalam pernikahannya yang penuh kesedihan.
Di awali dengan berbagai kebohongan yang dibuat oleh Suaminya sejak awal pernikahan mereka.
Evan yang telah merenggut hal paling berharga milik Sofia.
Satu persatu kebohongan terungkap, Sofia mencoba bertahan dan memaafkan Suaminya lagi dan lagi karena cintanya pada Evan, dan Sofia yang melihat ketulusan Suaminya yang menerima kelemahannya.
Namun Suaminya tidak pernah berubah, kebohongan demi kebohongan selalu dia buat, sikapnya yang perlahan berubah dan menyakitinya, dan menghacurkannya.
Ibu Mertua yang selalu mencari masalah dengannya.
Sampai akhirnya, kesabaran Sofia tiba pada batasnya.
Batas Akhir dari Cintanya Pada Evan.
Apakah dia masih sanggup bertahan?
Atau malah bisa menemukan kebahagiaannya yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za L Lucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29: Terasa Aneh
Evan yang mendengar kata-kata Hanna tentang Hanna yang dengan liciknya menyembunyikan foto-foto mereka jelas merasa kesal. Awalnya dia tidak memikirkan bahwa Hanna akan menggunakan foto mereka dengan cara seperti ini.
Karena, jika perselingkuhan mereka terbongkar apalagi foto-foto itu sampai tersebar ke publik, tidak hanya dirinya yang tamat namun juga karir Hanna.
Evan benar-benar menjadi bingung dengan sikap nekat Hanna.
"Hanna! Kamu jangan main-main denganku! Kamu tahu kan, jika kamu sampai mengirim foto-foto itu pada Sofia, karirmu akan hancur!"
"Kamu pikir Aku takut? Mari kita lihat siapa dulu yang akan hancur jika semua ini terbongkar!!"
Evan yang mendengar itu hatinya tiba-tiba dipenuhi dengan perasaan rumit.
Dia juga memiliki reputasi yang harus dijaga di depan Publik, terlebih di depan Sofia, dia tidak bisa membayangkannya jika Sofia sampai tahu.
"Baik, sekarang apa maumu?"
"Hubungan kita terus berlanjut!!"
"Hanna! Kamu bisa meminta apapun selain itu!"
"Kalau begitu bagaimana jika kamu menceraikan Sofia?"
"Jangan kurang ajar!!"
"Kalau begitu, kamu cukup datang ketika Aku memanggilmu."
Evan yang mendengar itu terdiam sebentar sedang memikirkan Apakah itu keputusan yang baik atau tidak untuk mengikutinya.
"Baik, namun ingat Hanna, Kamu mungkin memanggilku namun kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu mau!"
'Hmph, lihat saja Evan! Pada akhirnya Kamu tidak akan bisa lepas dariku karena aku memiliki anakmu. Namun sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk mengatakannya, bayiku belum stabil, bisa saja Evan melakukan hal macam-macam nantinya pada kandunganku.'
Dengan rencananya itu, Hanna lalu segera memeluk Evan.
Tanpa mereka sadari, ternyata ditempat lain ada yang memata-matai mereka.
Seorang Pria menatap kearah ponsel dimana sebuah rekaman CCTV terlihat. Dalam rekaman itu, terlihat sosok seorang pria mengenakan jaket topi dan wajah menggunakan masker memasuki sebuah ruangan apartemen.
"Sial! Apakah hanya ini yang bisa ditemukan!?"
Dia berbicara marah kepada bawahannya yang ada di ujung telepon.
'Maaf Tuan Muda. Kami sementara belum bisa menemukan bukti yang cukup konkrit.'
"Pasang kamera atau penyadap didalam!"
'Maaf Tuan Muda, itu tidak bisa karena kalau sampai ketahuan hal-hal berikutnya akan menjadi rumit dan kita bisa terkena pidana, apalagi Nona Hanna adalah Artis yang cukup populer. Kita hanya bisa mencari salinan rekaman CCTV di koridor Apartemennya.'
"Sialan, Dasar tidak berguna!"
'Tapi Tuan, sebelumnya saya sempat mendengarkan percakapan Nona Hanna di telepon yang membahas tentang foto.'
"Foto katamu?"
'Benar, sepertinya Nona Hanna memiliki Fotonya dengan Kekasih gelapnya itu.'
Bastian yang mendengarkan itu dari ujung telepon segera tersenyum.
"Kenapa tidak kamu laporkan? Hah, kalau begitu, sekarang langkah berikutnya sudah jelas kamu cepat entah bagaimana caranya, temukan foto-foto itu!"
'Baik, Tuan akan saya coba.'
Bastian segera menutup teleponnya, benar-benar siap dengan rencananya itu. Lalu dia segera mulai mengirimkan pesan pada Sofia, jujur yang paling dia cemaskan adalah keadaan Sofia sekarang.
"Bagaimana nanti jika Sofia tahu kelakuan Suaminya?"
"Namun mau bagaimanapun juga dia memang harus tahu kenyataannya. Yang namanya bau busuk tidak bisa terus disembunyikan."
####
Saat ini, Sofia sendiri sedang berada di kamarnya, mulai membereskan barang-barang bawaan yang ada di koper.
Memasukkan satu persatu barang-barang itu kembali ke koper, sekalian Sofia membereskan lemari milik Evan. Tidak ada yang berbeda ketika melihat lemari itu, hanya saja ketika membongkar baju-baju disana, ada sebuah kotak yang jatuh.
Kotak yang terlihat seperti sebuah kotak kado. Sofia terkejut ketika melihatnya, itu berisi sebuah kalung yang indah.
"Astaga, Apakah Mas Evan berniat memberiku kejutan dengan hadiah ini?"
Sofia sudah sangat senang dengan pikirannya itu. Jadi dia diam-diam saja memasukkan kotak itu kembali ke lemari milik Suaminya.
Hanya saja beberapa hari berikutnya yang tidak pernah Sofia duga, dia melihat kalung yang sama seperti yang ada didalam kotak hadiah milik Suaminya di pakai oleh Hanna.
Keduanya saat ini sedang bertemu di sebuah cafe untuk sekedar mengobrol.
"Kalung milikmu sangat indah."
Hanna yang mendengar itu tersenyum dan segera berkata dengan bangga,
"Ini sebenernya adalah hadiah dari Kekasihku."
Sofia yang mendengar itu menunjukkan ekspresi terkejutnya.
"Kekasih? Kamu memilikinya?"
"Emm, tapi Kak Sofia mau merahasiakan dulu soal ini?"
"Astaga, tentu saja Hanna. Aku hanya sedikit terkejut mendengar kamu sudah memiliki kekasih, dan dia sepertinya sangat perhatian memberikanmu hadiah seindah itu."
Hanna memegang kalung itu dengan bangga dan berkata,
"Tentu saja, Dia sangat menyayangiku."
"Wow, Kamu benar-benar sangat beruntung."
"Ini juga bukan apa-apa di bandingkan Kak Sofia, Kak Sofia sangat beruntung bisa memiliki Suami seperti Kak Evan,"
"Ahaha, kamu bisa saja. Lain kali Bagaimana jika kamu memperkenalkan kekasihmu itu padaku?"
Hanna masih memasang senyuman hangatnya itu dan berkata,
"Tentu saja Kak Sofia, aku akan memperkenalkannya padamu ketika waktunya tepat. Mungkin kamu akan terkejut ketika tahu nanti."
"Eh? Jangan bilang dia seseorang yang aku kenal?"
Hanna tidak menjawab dan hanya tersenyum.
Dia masih memegang kalung yang dimilikinya yang merupakan hadiah dari Evan. Dia hanya kebetulan melihat Evan dan Sekertarisnya sedang menyiapkan Acara Makan Malam Romantis di restoran untuk membuat kejutan untuk Sofia.
'Seperti kalung ini, aku akan benar-benar merebut Evan darimu sepenuhnya.'
Sofia tentu tidak tahu pikiran Hanna, dia hanya tiba-tiba saja menjadi tidak sabar menerima hadiah dari Suaminya.
Memang kalung itu terlihat begitu mirip dengan yang Hanna pakai, Sofia entah bagaimana memiliki perasaan tidak nyaman.
'Namun kalung jenis ini pasti tidak hanya ada satu. Lagipula apa sih hal aneh yang Aku pikirkan?'
Pada akhirnya, beberapa haripun Sofia menunggu dia tidak melihat tanda-tanda Evan akan memberikan hadiah kalung itu padanya.
Sofia yang cukup penasaran segera membuka lemari Evan, namun dia sudah tidak menemukan kotak hadiah lagi disana.
Evan yang baru saja keluar dari kamar mandi menjadi heran ketika Sofia memeriksa lemarinya itu. Rasa gugup memasuki hatinya.
'Tidak, seharusnya tidak ada hal-hal berbahaya di dalam lemariku.'
"Huh? Kamu sedang mencari apa Sofia?"
Sofia yang mendengar itu, segera berbalik dan mulai bertanya sedikit,
"Emm, Apakah kamu tidak berniat untuk memberiku sesuatu?"
Wajah Evan menjadi bertambah gugup, namun tetap mencoba menjawab dengan tenang,
"Tidak... Hmm, jika kamu mau aku akan memberikan hadiah untukmu."
Sofia tidak tahu harus berkata apa, hanya entah kenapa perasaannya terasa tidak nyaman apalagi melihat tingkah aneh Suaminya.
Hanya dalam hati dia penasaran, kalung yang dilihatnya itu....
Untuk siapa kalung itu jika bukan untuknya?
Kekhawatiran mulia muncul dihatinya.
dan akhir yg cukup memilukan bagi Evan yg terakhir ini sdh berubah lebih baik 👍😊
selamat ya bas, calon Bastian junior akan launching n licya akan jadi kakak 🤗😘
sabar ya Van, semua butuh waktu
terimakasih kakak, telah menemani emak dengan kisah mu yang cukup menguras emosi 😊
tetap semangat dan sukses selalu
so mulailah saling terima kekurangan dan kelebihan masing-masing, karena kepercayaan adalah dasar kuatnya sebuah hubungan 🤗
ayo dong Sofia jangan bikin emak n readers se-Indonesia gemas saking g tahan pada ego kalian 😚