NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ITEM SURGAWI

PEMBALASAN ITEM SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: MAKAM DEWA YANG BERHUTANG

Dingin yang menyayat tulang adalah hal pertama yang dirasakan Tian Feng saat kesadarannya kembali. Sensasi ditarik oleh tangan raksasa tadi menyisakan rasa mual yang hebat di perutnya. Ia mencoba bangkit, namun setiap sendinya terasa berderak seperti engsel pintu karatan yang dipaksa bergerak.

Feng membuka matanya dan segera menyadari bahwa ia tidak lagi berada di dunia yang ia kenal. Tidak ada lagi langit perak Puncak Awan Putih. Di atasnya, hanya ada hamparan kabut berwarna ungu pekat yang diam membeku, tanpa matahari, tanpa bintang.

Ia menunduk ke bawah dan jantungnya hampir berhenti. Ia tidak berpijak di atas tanah atau batu. Ia berdiri di atas lautan tulang belulang yang memutih, ribuan ton kerangka yang tertumpuk rapi membentuk dataran luas yang tak berujung. Bau apek kematian dan energi kuno yang membusuk memenuhi indra penciumannya.

"Makam... Dewa yang Berhutang?" gumam Feng, membaca tulisan yang terukir di gerbang batu raksasa di depannya.

Gerbang itu tingginya mungkin seratus meter, terbuat dari batu obsidian hitam yang terus-menerus meneteskan cairan berwarna emas gelap—darah para dewa yang telah mengental. Di atas gerbang itu, duduk sesosok wanita yang penampilannya sangat kontras dengan lingkungan yang mengerikan ini.

Wanita itu mengenakan gaun sutra hitam transparan yang menjuntai jatuh ke tumpukan tengkorak di bawahnya. Kulitnya sepucat rembulan, kontras dengan rambutnya yang merah menyala seperti darah segar. Ia sedang duduk santai, menyilangkan kakinya yang jenjang, sambil mengunyah apel merah dengan bunyi kriuk yang nyaring di tengah kesunyian makam.

"Kau terlambat sepuluh ribu tahun untuk makan malam, Suamiku," ucap wanita itu lagi. Suaranya merdu, namun membawa getaran yang membuat Dantian Feng berdenyut nyeri.

Feng mengerutkan kening, mencoba memproses informasi yang sama sekali tidak masuk akal ini. "Suami? Nona, saya rasa Anda salah orang. Saya bahkan belum pernah keluar dari sektor Paviliun Pengobatan selama tiga tahun terakhir, apalagi menikah dengan entitas dari dimensi lain."

Wanita itu melompat turun dari puncak gerbang. Ia melayang jatuh dengan seringan bulu, mendarat tepat di depan Feng. Aroma melati yang sangat kuat—mirip dengan aroma Lin Xuelan namun jauh lebih murni dan memabukkan—menyerbu hidung Feng.

Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Feng dengan jari-jarinya yang dingin. "Jiwa boleh berganti, raga boleh membusuk, tapi aroma hutang karma di darahmu... itu tidak bisa menipuku, Tian Feng. Atau haruskah aku memanggilmu Sang Penjamin Langit?"

Feng mundur satu langkah, wajah malasnya kini hilang sepenuhnya, digantikan oleh kewaspadaan tingkat tinggi. "Siapa kau sebenarnya? Dan di mana ini?"

"Namaku Yue Er," jawab wanita itu sambil membuang sisa apelnya ke tumpukan tulang. "Dan ini adalah The Void of Debt. Tempat di mana para dewa, raja iblis, dan penganut Tao tingkat tinggi dibuang ketika mereka gagal membayar harga atas kekuatan yang mereka pinjam dari alam semesta. Kau ditarik ke sini karena kau baru saja menggunakan 'kekuatan yang tidak sanggup kau bayar' untuk menutup retakan langit tadi."

Yue Er berjalan mengelilingi Feng, memperhatikannya seperti seorang kolektor yang sedang memeriksa barang antik yang retak.

"Kau beruntung," lanjut Yue Er. "Jika bukan karena aku yang menarikmu secara manual melalui tangan bayangan tadi, jiwa kecilmu itu sudah tercabik-cabik oleh tekanan ruang antara dimensi. Istana Karma Terlarang mengirimkan utusan tingkat rendah, tapi yang baru saja menyerangmu dari balik retakan itu adalah salah satu dari Tiga Hakim Kiamat."

Feng menarik napas dalam. "Jadi, aku adalah tawananmu sekarang?"

"Tawanan? Tidak, tidak," Yue Er tertawa, sebuah suara yang terdengar seperti denting lonceng di pemakaman. "Di tempat ini, aku adalah istrimu. Dan kau adalah pemilik sah dari tempat pembuangan sampah ini. Selamat datang kembali di rumah, Tuan Muda keluarga Tian."

Feng merasa kepalanya berdenyut. "Dengar, Yue Er. Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan soal suami atau pemilik. Aku hanya seorang pelayan medis yang tidak sengaja mewarisi sistem hutang sialan ini. Aku ingin kembali. Sekteku sedang diserang, dan Guru Lin..."

"Sekte Kunci Langit sudah aman untuk sementara," potong Yue Er. "Cahaya yang kau lepaskan tadi menyegel pintu masuk ke dimensi mereka selama tujuh hari. Tapi dalam tujuh hari itu, jika kau tidak bisa menguasai Hukum Keseimbangan Sejati di sini, kau tidak akan pernah bisa keluar. Dan saat segel itu terbuka lagi, Istana Karma akan datang dengan kekuatan penuh."

Yue Er tiba-tiba mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Feng. Mata wanita itu berkilat ungu tua. "Penyatuan Giok dan Perkamen di tubuhmu itu baru tahap awal. Itu hanya 'kuitansi'. Sekarang, kau harus mengambil kembali 'modal'-mu yang terkubur di bawah tumpukan tulang ini."

Ia menunjuk ke arah cakrawala ungu, di mana sebuah menara hitam menjulang tinggi, dikelilingi oleh ribuan pedang berkarat yang tertancap di tanah tulang.

"Itu adalah Menara Penagihan. Di sana tersimpan sisa-sisa kekuatan enam leluhurmu yang gagal. Jika kau bisa mencapai puncaknya, kau akan mendapatkan kembali otoritasmu sebagai penganut Tao yang tidak lagi diatur oleh karma, melainkan pengatur karma itu sendiri."

Feng menatap menara itu. Jaraknya terlihat sangat jauh, dan ia bisa merasakan ribuan aura jahat yang mengintai dari balik tumpukan tulang di sepanjang jalan.

"Apa imbalannya bagimu?" tanya Feng curiga. "Kenapa kau membantuku?"

Yue Er tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung kesedihan yang dalam namun tertutup oleh keangkuhan. "Karena aku sudah bosan makan apel sendirian di sini selama sepuluh milenium. Dan karena... aku ingin kau membayar hutang janjimu padaku untuk membawaku keluar dari penjara ini."

Feng terdiam. Ia melihat ke arah tangannya yang masih memancarkan cahaya keperakan redup. Ia tidak punya pilihan. Di dunia nyata, ia mungkin sudah dianggap mati. Di sini, ia ditawari kekuatan yang melampaui imajinasi, namun dengan harga yang mungkin akan mengubahnya menjadi sesuatu yang bukan manusia lagi.

"Baiklah," Feng menghela napas, aura malasnya kembali muncul sedikit demi sedikit sebagai mekanisme pertahanan mentalnya. "Tujuh hari ya? Sepertinya liburanku kali ini akan sangat melelahkan. Bisakah kau setidaknya memberiku senjata? Tangan kosong tidak terlalu bagus untuk menggali tulang."

Yue Er menjentikkan jarinya.

Seketika, tumpukan tulang di bawah kaki Feng bergetar. Sebuah pedang muncul dari dalam kerangka, namun itu bukan pedang logam. Itu adalah sebilah pedang yang terbuat dari jalinan cahaya hitam dan emas, tanpa bilah fisik, hanya aura yang sangat padat.

"Itu adalah Pedang Hutang Darah," ucap Yue Er. "Semakin banyak luka yang kau berikan pada musuhmu, semakin banyak energi mereka yang akan terhisap untuk mengisi meridianmu. Gunakan itu untuk membabat jalan ke menara."

Feng memegang gagang pedang itu. Seketika, kilasan memori tentang pertempuran besar di masa lalu menghantam pikirannya. Ia melihat pria yang mirip dengannya berdiri di atas tumpukan mayat, menantang langit dengan pedang yang sama.

"Satu hal lagi," Yue Er berbisik di telinga Feng, napasnya terasa dingin namun membakar. "Jangan pernah mendengarkan bisikan dari tulang-tulang itu. Mereka akan menjanjikanmu kekuatan tanpa harga. Di dunia ini, segala sesuatu ada harganya. Dan kau... adalah bendaharanya."

Feng mulai melangkah, meninggalkan gerbang obsidian. Setiap langkahnya menimbulkan suara krak dari tulang yang patah. Ia berjalan menuju menara hitam, sementara Yue Er kembali melayang ke atas gerbang, memetik apel merah baru entah dari mana.

Baru beberapa ratus meter berjalan, tanah tulang di depan Feng meledak. Sosok-sosok kerangka raksasa dengan baju zirah kuno yang sudah hancur mulai bangkit. Mata mereka menyala dengan api hijau—roh-roh penjaga yang tidak senang dengan kehadiran sang "bendahara".

"Baru mulai saja sudah ada komite penyambutan," gumam Feng. Ia mengangkat pedang hitam-emasnya.

Pertarungan di wilayah terlarang ini berbeda dengan di arena. Di sini, tidak ada wasit, tidak ada batasan. Feng merasakan Seni Transmutasi Sunyi-nya bergejolak. Ia tidak lagi menyerap energi untuk menstabilkan tubuh, ia menyerap energi untuk menghancurkan.

Feng melesat maju, pedangnya membelah udara dengan suara seperti tangisan jiwa. Setiap tebasannya menghancurkan sepuluh kerangka, dan energi hijau dari mata mereka tersedot masuk ke dalam bilah pedangnya, lalu mengalir ke Dantiannya.

Ia merasa semakin kuat setiap kali membunuh, namun di saat yang sama, ia merasakan bagian dari kemanusiaannya perlahan terkikis oleh rasa dingin makam ini.

Di atas gerbang, Yue Er memperhatikan dengan tatapan rindu. "Berlarilah secepat mungkin, Feng. Karena Hakim Kiamat kedua tidak akan menunggumu selama tujuh hari."

Tiba-tiba, langit ungu di atas Makam Dewa yang Berhutang terbelah sedikit. Sebuah mata raksasa berwarna merah darah muncul dari balik kabut, menatap langsung ke arah Feng yang sedang membantai pasukan kerangka.

"Ditemukan," sebuah suara bergema di seluruh dimensi hampa tersebut.

Feng berhenti bergerak. Ia mendongak, menatap mata raksasa itu dengan kebencian yang mendalam. Ia mengepalkan pedangnya, auranya meledak hingga menghancurkan tumpukan tulang di radius sepuluh meter.

"Makan siangmu akan sangat mahal, Mata Besar," tantang Feng, meskipun tubuhnya gemetar hebat. Feng terjebak di dimensi Makam Dewa yang Berhutang bersama wanita misterius bernama Yue Er. Sementara ia berusaha mencapai Menara Penagihan untuk mendapatkan kekuatan leluhurnya, salah satu Hakim Kiamat dari Istana Karma berhasil melacak keberadaannya ke dimensi tersebut. Bagaimana Feng akan bertahan di tempat di mana kematian adalah aturan utamanya?

1
Raden Saleh
Bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!